Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

pagi hari nya ketika talita menghidupkan handphone nya, begitu banyak pesan WhatsApp yang masuk dari kak laila.


#litt, kak Dewi sudah melihat foto yang kau kirim tadi.


kak dewi bilang dengan sangat yakin bahwa makhluk hitam besar yang berada di belakang mu selama ini benar adalah makhluk peliharaan ipar perempuan mu#


#makhluk itu adalah makhluk peliharan keluarga wanita itu lit, turunan kata kak dewi#


#dulunya mahluk itu di gunakan oleh leluhur keluarga nya buat hal baik, seperti menolong orang sakit dan orang susah. tapi sejak beberapa tahun sejak di turunkan pada generasi bawah makhluk tersebut di gunakan untuk hal hal buruk litt.#


#menurut kak dewi dia punya niat buruk pada mu litt, saran kak dewi kau harus di bersihkan litt. besok coba kau hubungi kak dewi ya litt. ini no nya ya 0852********#


talita terperanjat setelah membaca chat WhatsApp dari kak Laila.


ternyata kak laila mengirim pesan tersebut sedari semalam pukul 23.30


dengan segera talita membalas chat WhatsApp dari kak Laila tersebut


#maaf kak litta baru on.


nanti litta balas lagi ya kak, litta mau siap siap berangkat kerja dulu #


sesampai di kantor Talita mulai gelisah teringat pesan WhatsApp dari kak laila.


litta dengan segera membalas chat kak laila.


# jadi apa yang harus Litta lakukan ya kak?#


kak laila dengan cepat membalas pesan chat litta


#coba kau telepon kak dewi, litta. bilang saja bahwa kau teman kakak yang semalam di foto itu#


#baik kak#


setelah membalas pesan kak laila, litta tenggelam dalam kekhawatiran. ingin menghubungi kak dewi namun ia ragu ragu.


ia terus meremas jari jari tangannya dengan penuh kecemasan.


kak lula dan kak elin memperhatikan litta yang sedang gelisah.


kak lula mulai membuka mulut dan bertanya pada litta.


"litta, kau kenapa? apakah kau sakit lagi? atau ada yang tidak nyaman?"

__ADS_1


litta hanya bengong dan tidak menjawab, seakan akan tidak mendengar pertanyaan kak lula.


"litt... litta..." ucap kak lula kembali sembari menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah litta.


litta tersadar akan perbuatan kak lula yang menaik turunkan telapak tangannya dengan spontan menjawab


"hmmm ....kak, litta mau ke toilet dulu kak."


dengan wajah kebingungan dan penuh rasa cemas litta berjalan kearah pintu office untuk menuju toilet.


sementara Lula dan Elin kebingungan dengan tingkah talita.


"kak lula, si litta kenapa lagi ya? kelihatannya ia sedang ada masalah." ucap elin pada lula


"entahlah el, kasihan litta. banyak sekali permasalahan hidupnya. nanti akan coba ku tanyakan kembali pada nya. kita berdoa saja bahwa litta baik baik saja." ucap kak lula


"iya kak, semoga litta tidak kembali dalam sebuah masalah lagi ya."


litta berjalan menuju arah toilet dengan wajah kosong, ia berjalan berbelok kesebuah ruangan kosong dekat toilet.


di ruangan itu ia menelepon no yang telah di berikan kak laila.


tut...tut...tut...


litta kembali mencoba menelepon lagi hingga beberapa kali.


akhirnya kak dewi mengangkat telepon Talita.


"Hhhhalllo.... ucap talita terputus putus karena binggung.


"iya, ini dengan siapa ya?" ucap dewi


"hmmm...ini dengan kak dewi kah?"


"iya, ini siapa ya?"


"ini kak, aku litta teman kak laila. kak laila meminta ku untuk menghubungi kak dewi untuk persoalan ku kak."


"oh iya, kau teman laila yang semalam di foto itu ya?"


"iya kak, jadi itu bagaimana ya kak? bisa kakak jelaskan kembali pada ku kak? jujur aku binggung sekali kak." ucap talita


"iya litta, jadi begini... kamu pernah tidak mengalami di tindih?"

__ADS_1


tanya kak dewi


"maksudnya ? maksud nya bagaimana kak?" tanya litta


"iya gini, pernah tidak kamu rasa di tindih sama makhluk hitam besar dan berbulu. nah jadi makhluk itu yang buat kamu sakit dan keguguran terus menerus litta."


ucap kak dewi


tubuh litta langsung bergetar hebat ketika mendengar perkataan kak dewi, seluruh bulu romanya berdiri terlebih lagi ia berada di ruangan kosong dan gelap tanpa cahaya.


dan tetiba talita teringat dengan sebuah kejadian yang menimpahnya beberapa waktu lalu, yaitu makhluk transparan yang berusaha memperkosanya.


"yang litta ingat itu seperti mimpi tapi juga seperti nyata kak, tapi makhluk itu putih transparan kak." jawab litta sembari berjalan keluar dari ruangan kosong itu karena merasa sangat tidak nyaman dengan bulu romanya yang terus berdiri dan membuatnya semakin merinding


cukup lama Talita berbicara dengan kak dewi di telepon.


kak dewi tahu semua yang talita alami selama ini tanpa Talita ceritakan sedikit pun.


dan tentu membuat talita semakin risau dan antara percaya dan tidak percaya. namun kenyataannya kak dewi tahu semua apa yang Talita alami selama ini.


telepon itu di akhiri dengan kesanggupan kak dewi menolong talita jarak jauh yang nanti nya akan di bantu oleh kak laila.


setelah telepon itu berakhir talita berjalan memasuki toilet, saat berada di dalam toilet tepat nya litta berdiri di depan cermin. ia terdiam penuh dengan berbagai perasaan antara bingung, takut, sedih, marah dan tidak percaya tubuhnya bergetar kepalanya tertunduk dengan kedua lengan menahan pinggir bibir wastafel ia mulai menangis seakan ketakutan yang luar biasa ia rasakan.


litta melihat kearah cermin, dan begumam sendiri.


"apa... apa... yang harus kulakukan Tuhan?" aku takut, aku binggung, selanjutnya aku harus bagaimana?"


air mata keluar dari pelupuk matanya, tubuhnya bergetar sangat dahsyat hingga gigi nya pun gemeletukan.


Talita berjalan dengan cepat ke ruang kerjanya, ia sungguh sangat ketakutan bulu romanya terus berdiri dan membuatnya semakin tidak terkendali.


brakkkk....!!


talita masuk keruangan kerjanya dengan cepat hingga tubuhnya menghantam pintu dengan cukup kuat.


lula dan elin yang sangat kaget dengan cepat berhambur ke arah talita.


lula spontan memeluk talita.


lula bisa melihat dan merasakan betapa ketakutannya talita saat ini. Tubuhnya bergetar getar penuh dengan keringat dingin, bulu romanya berdiri, giginya bergemeletukan seakan seperti orang yang sedang mengalami malaria


"kau kenapa litta?" katakanlah". ucap lula yang masih memeluk talita sembari membelai lembut kepala talita.

__ADS_1


__ADS_2