
saat talita terbangun, mama hanna telah menyiapkan semangkuk bubur hangat agar talita bisa segera makan dan meminum obatnya. harapan mama hannna hanya lah ingin talita putri nya segera sembuh.
"mmm... ma
ucap talita dengan susah payah, begitu halus suara talita karena ia saat ini benar benar begitu lemah.
"ya sayang, apa kau sudah mau makan? mama telah menyiapkan semua di meja hanya rasanya masih cukup panas."
dalam hati mama hanna begitu sedih melihat kondisi talita. kesedihan itu terpancar sangat jelas si wajahnya. terang saja Talita mengetahui itu.
"eh em...
Talita hanya begumam demikian pada mama hanna menandakan iya.
Talita bergerak, berusaha untuk turun dari ranjang kasurnya, namun ternyata ia tidak bisa. mama hanna mengetahuinya dan segera membantu talita untuk turun dan bejalan menuju meja makan.
mama hanna memapah Talita, ternyata Talita benar benar begitu tidak bertenaga sehingga mama hanna harus menopang berat beban tubuh litta untuk menuju meja makan.
mama hanna mengarahkan litta untuk duduk.
Talita duduk terkulai di kursi meja makan.
talita merasakan lambung nya begitu perih, asam lambung nya naik, seperti gejala sakit maag yang biasa ia rasakan di kala sakit nya itu kambuh. tapi kali ini sakitnya lebih kerasa seperti luka dalam yang membuat ia tidak berdaya.
mama hanna memberikan talita air dengan sebuah sedotan, karena begitu banyak luka di bibir talita, bagaimana ia bisa menegak minum dan makan. mama hanna sungguh sangat khawatir dengan keadaan putrinya itu.
talita sangat haus dan ia berusaha meminum air yang sudah di sediakan dengan sedotan tersebut, terasa sedikit perih di bagian kerongkongan nya, ia masih bisa menahannya.
namun saat ia akan memakan bubur, ia membuka mulutnya dah bibir kering nya yang penuh luka itu seperti tertarik tarik dan kembali mengeluarkan darah darah segar yang cukup banyak.
mama hanna tentu saja sangat sedih melihat talita begitu, sedangkan talita seperti orang yang sudah tidak punya hasrat hidup.
__ADS_1
tatapan matanya kosong, ia bahkan tidak panik ataupun mengeluh dengan sakitnya itu.
ya seakan akan seperti itu yang terlihat dari wajah Talita.
ketika talita telah berhasil menelan beberapa sendok bubur, tiba tiba saja talita ingin muntah.
lambung nya sakit seperti di remas remas dan terasa begitu perih.
mama hanna yang sudah melihat mimik muka talita ada yang aneh langsung bertanya.
"kenapa litta? kau kenapa sayang?"
namun talita tidak menjawab, ia hanya menutup mulutnya dan seperti berusaha bergerak, seperti itu yang mama hanna lihat.
"kau ingin muntah ya?"
talita mengedipkan matanya menandakan iya pada mama hanna.
mama hanna segera memapah talita menuju ke kamar mandi, talita lalu mendorong mama hanna dan ia menjatuh kan dirinya didepan closet duduk dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
talita terus memuntah muntahkan isi perutnya. begitu lama ia di depan closet, mama terus dengan setia menepuk nepuk punggung nya.
"sudah enakan belum sayang?"
talita lagi lagi tidak menggubris mama, ia terus saja muntah muntah.
tiba tiba saja mama melihat bola mata talita yang hitam seperti tertarik ke atas seakan akan talita akan pingsan kembali.
dan benar saja talita pingsan lagi.
"litt... litta... kau kenapa nak?! bangun nak... bangun...!!" mama hanna sembari menepuk nepuk pipi talita guna menyadarkan talita.
__ADS_1
tentu saja mama hanna tidak berteriak ataupun histeris karena papa talita punya riwayat sakit jantung. dan mama tidak ingin membuat papa kaget. mama hanna berusaha tenang sembari berusaha menyadarkan talita.
mama hanna terus menepuk kedua bagian siku lengan atas talita berharap talita segera sadar.
cukup lama mama hanna menepuk bagian itu, talita sempat membuka matanya dan menatap mama.
mulut talita bergerak pelan seakan akan berusaha mengatakan sesuatu.
"nak, kau dengar mama? kau kenapa nak?"
"aku tidak apa apa ma, aku hanya lemas. aku mau tidur ma. tolong papah aku untuk berbaring ma, aku sangat lelah." bisik talita dengan suara sangat sangat pelan.
untuk mendengar kannya saja mama harus berada sangat dekat dengan talita.
karena talita hanya berbisik bisik pelan.
"iya sayang, mama papah ya. kau berjanji lah pada mama nak, bahwa kau tidak akan kenapa kenapa!"
ucap mama hanna dengan mata berkaca kaca.
lagi lagi talita tidak menjawab, matanya begitu sayu seperti mata orang yang mengantuk.
mama hanna memapah talita sampai ke ranjung tempat tidur.
talita berbaring dan mejamkan mata.
mama hanna duduk di samping talita sembari memegang tangan talita.
dalam hati beliau berdoa semoga talita putrinya tidak apa apa dan segera sehat seperti sedia kala. tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi mam hanna.
mama hanna cukup terpukul melihat kondisi talita.
__ADS_1
belum lagi beberapa waktu yang lalu suaminya yang adalah papa talita mendadak di vonis memiliki sakit jantung koroner.
tentu saja hati beliau begitu hancur, namun beliau harus kuat demi orang orang yang ia sayangi