
talita pulang bersama dennis dan bertemu dengan ina yang sedang menggendong steve.
talita berusaha bersikap biasa seakan tidak terjadi apa apa.
"kak ina..." sapa ku
"ya.." balas ina
aku segera memasuki kamar tidur ku mengikuti dennis.
"den, apakah kau lihat ekspresi wajah ina? ia seperti orang yang tertangkap basah..." ucapku pada dennis
"ya, sudah lah sayang biarkan saja. anggap saja tidak terjadi apapun di antara kita semua, dengan begitu semua baru bisa aman." ucap dennis membalasku
"huh..." gumamku dalam hati.
jujur aku kesal dengan perbuatan ina pada ku. dan juga cukup takut serta gelisah.
esok nya saat di kantor aku berpikir bagaimana yang terbaik untuk diri ku.
aku memutuskan untuk pindah saja, mungkin dengan mengontrak lebih baik dan membiarkan ina menguasai isi rumah itu.
malam hari aku mengutarakan isi hati ku pada dennis soal keinginan ku pisah rumah dari mertua.
dennis tampak berpikir keras memikirkan keputusan yang di lontarkan Talita.
"ya baiklah sayang bila ini yang terbaik kita pindah saja". ucap dennis
setelah mendengarkan ucapan dennis, Talita pun lebih tenang.
__ADS_1
talita mulai mempersiapkan mencari rumah kontrakan, dengan bantuan kak aleandro Talita dengan mudah menemukan rumah kontrakan sederhana yang cukup nyaman untuk di tempati bersama dennis.
namun sayang, lagi lagi Talita mendapatkan cobaan.
Dennis merubah niat nya untuk keluar dari rumah peninggalan orang tua nya.
sebab mama Erin terus menangis membujuk Dennis untuk tidak mengikuti kemauan talita.
talita dan dennis sempat bertengkar hebat karena permasalahan ini.
"Den, aku sudah tidak sanggup bila harus tinggal di rumah ini lagi...!" ucap talita desak isak tangis nya.
"iya, tapi aku minta kau bersabar lita, mama sudah tua. bagaimana mungkin kita meninggalkan nya sendiri tinggal di rumah ini?" ucap dennis berusaha membujuk talita
talita dalam tangis dan kekalutan nya berpikir apa yang harus ia lakukan.
akhirnya terlintas di benak nya untuk bercerai saja.
"apakah kau menyayangiku? mencintai ku?"
tanya talita
"iya tentu saja sayang, kenapa kau harus bertanya demikian" ucap dennis
"ya, baik lah den. bila begitu, siapa yang kau pilih ibu mu atau aku istrimu?" ucap talita kembali pada dennis
tentu saya itu pertanyaan yang berat bagi dennis.
di satu sisi mama erin adalah wanita yang telah melahirkan nya, di satu sisi talita adalah wanita yang dia cintai dan telah menjadi istri nya.
__ADS_1
dennis terdiam sesaat.
belum sempat dennis menjawab talita kembali meluncurkan kata kata. sebab talita sudah tahu akan berat bagi dennis menjawab pertanyaan nya.
"baiklah den, aku tahu berat bagimu untuk memilih di antara kami. aku tidak akan memaksa. selama ini aku bukan tidak bersabar dan tidak bertahan. bagi ku sudah cukup aku bertahan 4 tahun hidup di rumah ini. penuh dengan siksaan batin dan raga. aku berusaha terus menjadi yang terbaik bagi mu dan keluarga mu. tapi apa? apa yang aku dapat den?" ucap talita sambil berlinang air mata
dennis hanya diam sambil menatap kebawah, tampak dennis sedang kebingungan.
aku lelah, Tuhan... apa yang harus ku lakukan? batin talita menjerit
"den, aku rasa lebih baik kita bercerai saja. aku sudah tidak mampu lagi bila harus tinggal di rumah ini." ucap talita pada dennis yang masih terdiam sejak tadi
namun begitu mendengar ucapan talita yang mengatakan akan bercerai.
tentu saja membuat dennis naik pitam
"ucapan apa itu!!" apakah pantas kau sebut kata cerai?! ucap dennis dengan nada yang sedikit meninggi
"iya, karena aku sudah tidak sanggup lagi den! bayangkan 4tahun aku bertahan hidup dalam siksaan ini." dimana kamu selama ini?!" tangis talita
"iya, namun apakah pantas kau sebut kata cerai!?" tanya dennis
"ya, apapun itu bila tinggal di rumah ini aku sudah tidak sanggup. bila kau tidak mau bercerai, hanya ada 2 pilihan."
"pertama kita bercerai, kita akhiri semua ini cukup sampai di sini."
"kedua, kita berpisah tanpa bercerai. aku akan angkat kaki dari rumah ini menjalani hidupku sendiri. kita tetap bisa bertemu dan saling menghubungi."
ucap talita pada dennis
__ADS_1
"pilihan macam apa itu!" ucap dennis
talita hanya mampu menangis