Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

ketika pulang talita berusaha keras mengingat no pin atm nya.


tapi sayang sekeras apapun talita berusaha talita bahkan tidak bisa mengingatnya.


talita sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang berlaku pada dirinya.


beberapa bulan setelah nya Dennis mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai kecil di sebuah perkantoran yang cukup jauh, kiranya untuk sampai kesana membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam bila jalanan mulus tanpa ada kemacetan.


akibat dari hal itu mengharuskan talita bangun lebih pagi tepatnya subuh hari untuk mempersiapakan sarapan dan segala kebutuhan dennis, dan oleh sebab inipun Talita harus berangkat kerja sendiri untuk kedepannya.


waktu demi waktu, hari demi hari tidak terasa Dennis telah bekerja selama 3 bulan.


talita mulai terbiasa tanpa dennis yang menemaninya sehari hari.


setiap tekanan yang di berikan mama erin, tanpa sadar telah membuat sebuah luka hati yang semakin hari semakin dalam.


ya Talita sendiri tidak pernah menyadarinya, ia selalu berusaha bertahan dan bertahan, kesabaran demi kesabaran yang ia pupuk tidak pernah di anggap ataupun membuat mama erin tersentuh.


kepahitan kepahitan hidup yang di alami Talita harus ia telan bulat bulat bagaikan pil obat. waktu terus bergulir hingga tak terasa dennis bekerja di Perusahaan tersebut telah 1 tahun lamanya.


dan talita hamil kembali.


kalian tahu betapa bahagianya talita dan dennis.


"den, aku bahagia den. akhirnya yang di tunggu tunggu datang den!" ucap talita penuh bahagia.


dennis tersenyum dan memeluk talita.


satu bulan usia kandungan talita, dennis di tugaskan ke tempat yang lebih jauh. sehingga jarak memisahkan mereka.


saat suatu pagi talita bangun seperti biasanya untuk membereskan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat bekerja. rutinitas ini memang sudah biasa talita lakukan.


"lita, duduk dan makan la, mama sudah menyiapkan sarapan untukmu". ucap mama erin


tentu saja perlakuan itu membuat hati talita tersentuh sekaligus kaget, sebab biasa mama erin sangat kasar pada nya.


dalam hati talita bersyukur dengan perubahan mama erin.


"terimakasih Tuhan, semoga mama erin terus seperti ini, sehingga keluarga kecilku bahagia". gumam talita


setelah semua nya siap talita pun berangkat ke kantor, saat akan menaiki tangga menuju ruang kerja Talita merasakan tubuhnya tiba tiba saja bergetar seperti kehilangan tenaga.


sampai di ruangan kepala talita mulai pusing dan brakkk... Talita terjatuh dan pingsan.


teman kerja talita kak Elin sangat kanget segera memapah talita, melakukan pijatan pada pundak leher dan kepala talita. memberikan aroma pada hidung talita agar talita sadar.


beberapa menit talita sadar.


"kak, tolong aku, aku pusing sekali kak. dan aku sedang hamil".


ucap talita dengan mata sayu sembari tertutup kembali.


Kak Elin cukup panik karena talita berkata bahwa ia hamil.

__ADS_1


kak elin dengan segera menyuruh rekan kerja lainnya untuk menghubungi rumah sakit. dan mereka dengan sigap membawa Talita ke rumah sakit.


di sana talita di bawa ke UGD, kak Elin menjelaskan bahwa talita sedang hamil tiba tiba pingsan.


perawat dan dokter segera menangani.


talita sadar dan melihat ada kak tora dan kak aleandro. rupanya kedua kakaknya ini hadir sebab Elin yang menghubungi mereka.


aleandro mendekati Talita yang sedang terbaring dengan alat bantu pernapasan dan beberapa alat medis lainnya.


"kak... panggil talita sembari menggerakkan tangannya seakan ingin menggapai sesuatu.


"iya lita, kakak di sini dengan kak tora. ucap aleandro menggapai tangan talita


"kak, lita takut kak... lita takut anak lita kenapa kenapa".


"ssttt... jangan bicara sembarangan lita, kau baik baik saja dengan bayimu. jangan takut ya sayang" ucap kak aleandro menenangkan talita


"trinnggggg......


ponsel kak aleandro berdering, kak aleandro mengangkat telepon tersebut dan mengkode ku lalu ia berjalan menjauh dariku.


kak tora masih di samping ku, ya kak tora memang orang yang pendiam ia tidak banyak bicara, ia hanya melihat ku dengan mata penuh perhatian.


dokter yang menangani ku datang dan berbicara pada kak tora dan aku.


menyatakan bahwa aku baik baik saja. aku pingsan karena pembawaan dari janinku.


dan dokter menyarankan ku untuk bedrest.


di sana aku beristirahat, dan tidak lupa aku mengabari dennis tentang apa yang telah berlaku hari ini.


dennis kaget dan sangat mengkhawatirkan ku dan anaknya.


aku juga menghubungi mama erin, memberitahu dan meminta izin pada nya untuk beristirahat di rumah mama orang tua kandung ku terlebih dahulu.


3 hari aku berada di rumah mama dan semua baik baik saja, malam itu dennis datang k rumah mama ku.


"lita, kita pulang ya malam ini, mama menyuruhku untuk membawa mu pulang".


aku hanya diam, jujur aku masih takut bila harus bedrest di rumah itu.


walaupun terakhir sebelum kejadian ini semua mama erin bersikap baik padaku.


"tapi den...


belum sempat aku menyelesaikan pembicaraan ku, dennis memotong


"litta, ayo lah... mama tidak akan berbuat hal buruk, bukan kah saat inj kau sedang mengandung cucu nya" ucap Dennis menatapku dengan tatapan yang cukup meyakinkan


malam itu aku pun pulang bersama dennis.


sebelum pulang kami memutuskan untuk kembali memeriksa kandunganku.

__ADS_1


semua baik baik saja dan kami pulang.


dennis menceritakan pada ku bahwa 3 hari saat aku tidak ada di rumah Ina datang bersama kak danu dan steve. dan kabar nya Ina juga sedang mengandung dan usia kehamilannya sudah 4 bulan.


aku saat itu tidak begitu perduli, aku hanya memikirkan bayi yang ku kandung sendiri saat ini. aku merasa bahagia.


esok pagi dennis berangkat bekerja, sebelum meninggalkan ku ia berpesan padaku.


"sayang, aku berangkat ya, baik baik di rumah. kau berbaring saja. jangan melakukan perkerjaan apapun."


dan ya aku memang hanya berbaring karena aku merasa sangat lemas dan tidak nyaman.


pukul 10.00 mama erin masuk ke kamarku, memanggilku untuk sarapan pagi, aku hanya menjawab : " ya, nanti saja ma. aku belum ingin makan".


ia berjalan berlalu meninggalkan ku dengan muka masam.


aku sungguh merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhku saat ini, sungguh tidak bertenaga dan sangat pusing.


beberapa menit kemudian mama erin kembali memanggilku untuk makan dengan omelan.


"lita!!! makan, jangan hanya untuk makan saja kau harus di suruh terus menerus!" bentaknya pada ku.


aku hanya menjawab " iya ma".


aku sungguh sangat tidak enak saat ini, tubuhku benar lemas dan bergetar seakan tidak memiliki tenaga.


aku paksa tubuh ku untuk berdiri dan keluar dari kamar agar mama erin tidak lagi marah padaku.


aku berjalan menuju dapur dan mengambil sedikit nasi dan makan di meja makan. mama erin juga duduk di sana menatapku dengan tajam.


kalian tahu bagaimana perasaan ku saat ini. sungguh sangat tertekan.


aku menahan sakit di bagian perut ku, dengan tubuh bergetar aku berusaha secepat mungkin untuk menghabiskan makananku.


namun sayang aku mual dan memuntahkan semua.


dan kalian tahu, mama erin bukan simpati padaku melainkan memaki ku.


"halah... makan saja kau pilih pilih, kau lihat ina, ia juga sedang hamil. tapi ia tidak seperti kau!!" ucap nya dengan wajah yang sangat busuk


diam diam aku meneteskan airmata, perih hatiku, sakit hatiku, pikiranku kacau.


aku masuk kembali ke kamar ku.


aku mengirim sebuah chat WhatsApp pada dennis menceritakan ibunya.


dennis membalas pesanku dan menyuruh ku untuk bersabar.


sedangkan aku di sini berlinangan air mata.


entah kenapa aku seperti berada di puncak stress.


tubuh ku semakin tidak nyaman.

__ADS_1


tiba tiba aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari **** ku


__ADS_2