
"hmmm... Danu binggung harus bagaimana menjelaskannya ke mama"
ucap kak Danu seraya mengusap wajahnya tampak seperti orang yang sedang banyak pikiran.
"tidak perlu lagi kau jelaskan bagaimana cerita awalnya, mama sudah mendengarkannya dari Dennis, sekarang yang mama tanya bagaimana keputusanmu?" tanya mama Erina
"Danu pikir Danu harus bertanggung jawab ma"
"maksudmu bertanggung jawab dengan bagaimana? membawa anaknya itu kemari dan memberi sejumlah uang pada dia dan keluarganya?" kalau itu usulmu mama setuju, karena mama tidak ingin kau menikah dengan wanita itu"
"sepertinya Danu harus menikahinya ma, usul mama itu sebelumnya sudah Danu coba bicarakan pada Ina dan keluarganya tapi mereka menolaknya dengan tegas ma. mereka bilang kalau Danu tidak menikahinya, mereka akan menghancurkan Danu dan juga keluarga kita ma, lagian benar hasil tes Dna menyatakan bayi itu anak Danu ma. awalnya mungkin akan sulit bagi Danu ma, tapi Danu sudah berjanji pada keluarganya akan menikahinya"
terang saja kak Danu tampak kacau dalam hatinya, namun dengan tenang ia berbicara dengan mama Erina demikian.
"kau yakin Danu? bukankah kau bilang statusnya masih istri sah dari suaminya? lantas di mana suaminya?"
"ya ma, jawab kak Danu seakan sedikit ragu dengan keputusannya sendiri.
"suaminya sudah lama tidak menghubunginya ma, dan tidak di ketahui keberadaannya"
sambung kak Danu kembali
mama Erina tampak sangat shock dan tidak tahu harus bagaimana,wajahnya menampakan seakan akan beliau sangat stress saat ini.
"Danu akan mengurus dulu perceraiannya dengan suaminya ma, setelah itu Danu akan menikahinya, Danu minta restu saja dari mama"
tiba tiba saja tangis mama terpecah, mama mendekati kak Danu dan memeluknya sembari berkata :
"oh Danu, anak mama yang malang, kenapa kejadian seperti ini harus menimpahmu? tidak bisakah kau tidak usah menikah dengan gadis itu, sepertinya mereka hanya ingin memeras kita nak... sungguh tidak bisakah kau berikan saja mereka sejumlah uang dan ambil bayi itu biar litta dan Dennis yang merawatnya."
sumpah aku dan Dennis tercengang mendengarkan ucapan mama Erina, dalam hati ku kenapa pula harus aku dan Dennis yang merawat anak itu, aku tidak mau sungguh, lagian kami baru saja menikah beberapa bulan dan kami tidak mandul. kenapa kami harus mengambil bayi itu dan menjadikannya anak kami. serasa darahku memanas akibat ucapan mama Erina, dengan segera aku menyenggol Dennis memberinya isyarat bahwa aku tidak setuju untuk merawat bayi itu. Dennis melihat ku dengan seksama, mengerti akan maksudku
"ma, Dennis tidak setuju kalau Dennis dan litta yang harus merawat bayi itu, kami sibuk berkerja dan kami juga memang sedang tidak terburu buru soal anak".
"sudah la ma, keputusan Danu sudah bulat, Danu akan menikahinya, Danu hanya perlu restu mama, sisanya hidup Danu tidak usah mama cemaskan" ucap kan Danu seraya melepaskan pelukan mama erina
__ADS_1
hari sudah larut malam suasana begitu menegangkan dan pada akhirnya juga tidak tahu keputusan pasti yang mereka ambil bagaimana.
esok harinya kak Danu datang kembali membawa Ina dan steve, ya Ina adalah nama wanita itu dan steve adalah bayinya yang berusia 4 bulan.
sebenarnya aku dan Dennis tidak begitu memperdulikan masalah ini, apapun keputusan kak Danu dan mama kami tidak ambil pusing selama tidak mengganggu kami.
tinggallah kak Danu, Ina dan steve di kediaman kami. tiga hari setelahnya kak Danu pamit untuk kembali ke Pontianak tapi Ina dan steve tinggal disini bersama kami.
kak Yuna dan mama erina tentu saja tidak suka dengan Ina yang kampungan.
sedangkan aku dan Dennis biasa biasa saja.
Ina adalah wanita yang pendiam menurutku, ia tidak banyak berbicara, ia lebih sering tersenyum saja dan terlihat cukup baik dari tingkahnya.
dengan tingkah laku Ina yang demikian tentu saja Talita dan Dennis tidak pernah menaruh curiga pada Ina yang ternyata diam diam mematikan, di sinilah bermula penderitaan Talita yang tidak terbatas seumur hidupnya di kediaman rumah Dennis.
sore hari ketika aku dan Dennis pulang aku melihat Ina membantu bi nem mengerjakan pekerjaan rumah, aku dan Dennis hanya tersenyum padanya dan berlalu masuk.
ya Steve memang sangat lucu dengan pipinya yang gempal tentu saja menggemaskan.
terlebih lagi aku dan Dennis sangat menyukai anak kecil.
kami berdua pun mendekati mama dan ikut bermain sebentar bersama Steve.
aku dan Dennis menggendongnya bergilir, tak lama kemudian kami berlalu meninggalkan mama dan steve menuju kamar untuk mandi dan beristrahat sebentar karena sangat lelah seharian bekerja.
makan malam pun tiba Ina mengambil begitu banyak makanan di piringnya dan melahapnya dengan sangat rakus, layaknya orang yang tidak pernah makan berapa hari.
aku dan Dennis sedikit tercenggang, tapi kami lagi lagi tidak begitu perduli.
sedangkan mama Erina dan kak Yuna memandangnya dengan sinis, namun Ina tidak memperdulikannya, ia makan dengan santainya tanpa memanggil mama ataupun kak Yuna untuk makan. ya seperti orang yang tidak punya tata Krama.
esok harinya kebetulan aku tidak berangkat kerja bersama Dennis di karenakan aku akan terbang menuju Malaysia selama 3hari untuk pekerjaanku. jadi pagi hari itu setelah Dennis berangkat kerja aku bisa melihat tindak tanduk mama erina kepada Ina.
mama menyukai dan menyayangi Steve tapi tidak dengan Ina. mama menggendong Steve sedangkan Ina ia membantu bi nem melakukan pekerjaan rumah, mama Erina memang seperti sengaja membuatnya membantu bi nem melakukan pekerjaan rumah.
aku mengepak semua barang barang ku dan siap untuk berangkat, waktuku Masih cukup panjang.
__ADS_1
aku menarik koper ku menuju teras dan duduk di sana sembari menikmati hembusan angin sepoi sepoi dan menunggu pak mike yang akan menjemputku menuju bandara.
mama keluar menggendong Steve mendekatiku,
"itu Tante mau berangkat kerja dek, adek mau ikut Tante?" ucap mama pada Steve
aku hanya tersenyum saja.
"berangkat kemana kali ini?" tanya mama Erina
"Malaysia ma, proyek di sana ada masalah" jawabku
"oh..." ucap mama Erina
" kalau kau berangkat Dennis pasti akan pulang kerja lebih malam lagi" keluh mama padaku
"nanti litta bilang sama Dennis ya ma biar pulang cepat" ucapku menenangkan mama
"iya, mama tidak tahan dengan wanita itu, dia menyebalkan tidak tahu sopan santun, Danu begitu sial" ucap mama padaku.
aku binggung harus menjawab apa, maka aku hanya tersenyum kecut pada mama.
dan tak lama pak Mike pun muncul dengan mobilnya dan aku segera pamit pada mama.
"ma, litta berangkat dulu ya ma. mama jaga diri ya, jangan telat makan dan terlalu cape"
"iya mama tahu, kamu juga hati hati di sana ya nak"
__ADS_1