Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

talita tertidur dengan sangat nyenyak, mama hanna terus memperhatikan talita beberapa menit sekali ia akan melihat talita yang sedang tidur di kamar.


mama hanna terkadang memegang denyut nadi talita memastikan bahwa talita tidak kenapa kenapa.


aku merasakan sangat lemah, tubuh ku begitu berat, rasa tidak nyaman di seluruh tubuh ku tidak dapat aku ungkapkan dengan kata kata. terkadang aku hanya merasakan sakit dan tubuh ku terasa begitu ringan seakan seperti sedang melayang.


aku seperti sadar tapi seperti tidak sadar antara nyata dan tidak nyata, entah apa yang ku lihat. aku seperti entah berada di mana.


samar samar kulihat putih namun sebentar berubah menjadi hitam dan kembali lagi menjadi putih, aku mendengarkan banyak suara suara layaknya orang ramai yang sedang berbincang bincang. namun tiada wujud yang kutampak.


sesekali ketika ada cahaya maka aku akan melihat warna putih dan tampak mama yang sedang memandang Mandangiku, tersirat kekhawatiran di wajahnya. seperti itu yang kulihat, namun semua itu yang kulihat layaknya tidak nyata, aku sadar bahwa aku bukan di dunia manusia.


bukan di mana tempat biasa aku berada.


seperti nya saat ini aku sedang bermimpi pikirku.


"litta... litta... litta, nak... teman teman kantormu datang nak!" ucap mama hanna


tampaknya talita tertidur sangat nyenyak, lagi lagi mama hanna memeriksa denyut nadi dan napas talita.


sungguh mama hanna sangat khawatir kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"talita tertidur nyenyak tampaknya efek dari obat dokter". ucap mama hanna pada teman teman kantor talita


"ya tidak apa apa ibu"


tampak ramai di ruang tamu rekan rekan kerja talita yang datang menjenguk.


ada pak mike, zenna, dan rekan lainnya.

__ADS_1


pak mike dan bu Danniela yang merupakan kepala accounting di perusahaan tempat Talita bekerja sedang berbincang bincang dengan papa talita mengenai sakit talita.


tampak di wajah mike ia sangat khawatir dan juga geram dengan hal yang menimpah talita.


namun ia berusaha bersikap tenang.


"boleh kita lihat talita bu?" tanya ibu danniela pada kedua orang tua talita


"ya tentu boleh bu, mari..." ucap mama hanna seraya menuntun mereka masuk menuju kamar tempat talita beristirahat.


"masuk bu masuk, hanya saja talitanya sedang tidur bu." ucap mama hanna kembali


"iya tidak apa apa bu, tidak perlu di bangunkan kita hanya ingin menjenguk saja." ucap bu danniela


"wah, pucat dan kurus sekali kak litta saat ini." ucap zenna sedikit kaget


"iya zen, padahal baru 5 harian kita tidak melihat talita ya."


"iya nak zen, litta tidak bisa makan selama ini. kemarin saat opname ada dipasang selang NGT. sebenarnya belum saatnya untuk keluar dari rumah sakit. hanya saja karena talita memaksa dan bersikeras dokter mengizinkan, karena menurut dokter kalau di paksa opname sedangkan talita tidak bersedia hanya akan memperlambat proses penyembuhan. sebab itu la litta sekarang di rawat di rumah saja." ucap mama hanna menjelaskan


"ternyata parah juga ya kalau alergy obat, lihat luka luka di bibir talita cukup parah loh ya." ucap bu danniela


perlahan talita membuka matanya. mama hanna segera mendekatinya.


"litta, ini teman teman kantormu datang menjenguk mu sayang."


Talita hanya membuka matanya yang terlihat sangat sayu dengan wajah tanpa ekspresi bak mayat hidup yang cukup membuat orang orang takut menatapnya.


tidak lama mereka berada di kamar talita.

__ADS_1


bu daniella mengajak mereka semua untuk segera keluar dan membiarkan talita istrahat.


saat telah berada di ruang tamu, bu danniela mendekati mama hanna,


"bu maaf beribu maaf sebelumnya ya." ucap bu danniela pada mama hanna.


"iya tidak apa apa bu, ada apa katakan lah" tampak nya mama hanna telah mengetahui apa yang akan di bicarakan oleh ibu danniela


"seperti ini bu, maaf loh ya... saya lihat talita sedikit aneh, apa ibu percaya hal hal gaib?"


coba tanyakan pada orang yang mengerti bu soal Talita."


"bukan tidak percaya bu, saya sebenarnya juga binggung sekali melihat kondisi talita saat ini."


cukup lama mereka berbincang bincang dan karena hari sudah cukup siang mereka rekan kerja talita pamit untuk kembali bekerja di kantor.


setelah mereka semua pulang. tentu saja mama hanna memikir kan ucapan ibu danniela pada nya.


namun beliau masih binggung pada siapa ia harus berdiskusi.


hari pun mulai sore, mama hanna kembali memeriksa keadaan talita. saat memasuki kamar mama melihat talita sudah bangun tidak dalam keadaan tertidur lagi.


"nak, bagaimana keadaan mu?"


talita tampak nya ingin berbicara, maka mama hanna mendekatkan diri pada talita. sebab mama tahu bahwa talita sulit untuk berbicara dengan bibir yg penuh luka.


talita berbisik pada mama.


"ma, maaf in litta ya. talita minta maaf sudah buat mama susah" bisik talita dengan nada lirih dan sangat pelan dengan mata berkaca kaca. untuk bisa mendengarkannya mama hanna harus mendekatkan telinganya dengan bibir talita.

__ADS_1


"tidak apa nak, tidak apa, talita tidak buat mama susah kok nak. mama sayang sama litta, litta cepat sembuh ya." ucap mama sambil mengusap kepala talita, dan mata mama hanna pun berkaca kaca


__ADS_2