Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
batin yang tersiksa 2


__ADS_3

Satu Minggu berhasil kulalui dengan berat dan tersiksa.


Setiap pagi aku sarapan sedikit bahkan terkadang aku tidak sarapan, aku memilih untuk jajan diluar saja.


Begitu juga dengan makan malam, sebelum pulang kerja aku akan makan dulu atau membeli dulu makanan dan memakan nya di kamar seperti yang ku lakukan di hari pertama saat keberangkatan Dennis ke luar kota.


Dan tentunya selama satu Minggu begitu banyak sindiran dari mama Erina dan juga jebakan jebakan lainnya dari kak Ina.



Aku terus berusaha bersabar dan tidak menceritakannya pada orang tuaku.


Aku merasakan sakit di dalam hatiku dengan semua yang aku alami belakangan ini, aku merasa cukup menderita tapi aku tetap berusaha kuat dan kuat berharap semua segera berlalu.



Sore ini ketika akan pulang kerja, aku merasa kurang fit. Seperti masuk angin dan maagku perih, bahkan nafsu makan ku hampir tidak ada.


Ku pikir aku begini karena sedang tertekan dan stress, selama tujuh hari aku juga tidak tidur nyenyak karena bermimpi tentang kak Ina yang terus melakukan sesuatu yang jahat padaku.



"Kak, kau baik baik saja?" Wajahmu begitu pucat kak". Tanya zenna mengkhawatirkan ku



"Oh ya?" Kakak memang merasa kurang enak sedari tadi, mungkin karena stress dan terlalu lelah saja Zen".



Di perjalanan pulang aku mampir ke toko obat membeli obat anti depresan, serta obat maag ku. Tentu saja obat anti depresan ku dapatkan dengan mudah di apotik langgananku.



Ketika aku pulang seperti biasa mama Erina dan kak Ina sedang duduk di teras depan rumah seakan akan mereka sedang menungguku dan bersama untuk membully ku.


Batinku rasanya sangat tertekan ketika harus berhadapan dengan mereka.


Namun aku berusaha seperti biasanya menyapa mereka dan berlaku sopan, ya tentu saja mama Erina terus melontarkan kata kata menyindir yang menyakitkan hatiku, tapi aku tidak memperdulikannya


Aku pun berlalu menuju kamarku.



Saat akan membuka pintu kamarku "aaaauuu... aku jatuh terpleset. Bokong ku menghantam lantai dengan keras, dan tenyata ada genangan air di sana.


Aku tahu ini pasti ulah kak Ina, karena tidak akan mungkin ada air di sini kalau bukan di sengaja.



Tentu saja cukup sakit yang kurasa saat ini di bagian bokongku, jantungku rasa seperti akan copot saat terhempas jatuh tadi. Aku berdiri perlahan lahan, mengambil beberapa helai tisu dari dalam tas ku lalu menyeka lantai yang basah tersebut dan berlalu masuk menutup pintu kamarku.



Aku mandi, entah kenapa aku menangis di kamar mandi. Aku merasa sangat down saat ini.


Pikiran ku kacau tak mampu aku jelaskan apa yang aku rasa saat ini.


Aku hanya bisa menangis untuk mengurangi beban di dalam batinku.



Tak terasa jam makan malam pun tiba, aku terpaksa harus keluar untuk makan malam bersama mereka.



"Hei!" Saat ini bi nem pulang kampung, jadi mulai hari ini kau bantu bantu pekerjaan rumah ya!" Ucap kak Ina.



Aku tidak begitu menghiraukannya, aku hanya diam tidak memperdulikannya.

__ADS_1


Muncul mama Erina yang mengiyakan ucapan Ina.



"Yang Ina katakan itu benar, bi nem tidak ada jadi kau harus membantu pekerjaan rumah, ini kebetulan dispenser sedang rusak angkat panci berisi air itu ke atas tungku kompor dan masak air itu!" Perintah mama Erina.



Astaga...dalam hatiku: besar sekali panci ini, airnya di isi penuh pula.


Tinggi panci itu kira kira 55cm dengan diameter kira kira 35cm.


Mereka meletakkan panci yang penuh air itu di lantai dan aku harus mengangkatnya ke atas kompor yang tingginya sekitar 1,5meter.



Aku rasa aku tidak akan sanggup mengangkat panci itu dalam kondisi tubuh seperti ini.


Tapi mama Erina menatap ku dengan tajam aku terpaksa melakukannya. Dengan tubuh kecilku aku berusaha mengangkat panci yang begitu berat itu dan ya berhasil, namun aku merasakan sedikit sakit di bagian perut bawahku, mungkin karena tubuh ku yang tidak sanggup menahan beban seberat itu.


Sekujur tubuh ku mengeluarkan keringat dingin dan kaki ku sedikit bergetar seperti kesemutan.



Dan mama Erina mulai lagi dengan omelannya : "kenapa kau?" Mengangkat Panci segitu saja kau keringatan!" Jangan pura pura kau!" dasar manja!"



Kak Ina dengan wajah liciknya menertawaiku.


Aku hanya diam tidak menjawab ucapan mama Erina dan berlalu untuk makan malam, aku hanya mengambil sedikit dan segera menghabiskannya dengan secepat mungkin agar bisa masuk kamar dan tidak melihat mereka lagi.



Namun sebelum aku pergi ke kamar, mama erina langsung berbicara.


"Hei, kau jaga air yang kau masak itu jangan sampai kejadian seperti tempo hari, mengerti kau!"




Setelah aku mencuci piring bekas makan ku, dan membereskan semua aku berlalu ke kamar. Sesekali aku akan keluar untuk melihat apakah air tersebut sudah mendidih. aku merasakan tubuhku semakin tidak nyaman, layaknya orang yang sedang tidak fit.



setelah beberapa kali keluar masuk melihat air tersebut, akhirnya air tersebut didih juga, kubiarkan beberapa saat lalu ku matikan kompor tersebut.


aku kembali ke kamarku.


beberapa saat kemudian aku ke kamar mandi yang berada di kamarku untuk pipis dan aku melihat ada sedikit darah di celana dalamku.



sepertinya aku haid, pikirku.


aku segera memakai pembalut dan berbaring, namun tak lama aku merasakan bagian perutku seperti kram dan sakit.


semakin lama semakin sakit, bahkan sakit tersebut tak tertahan kan. hingga airmata menetes dari pelupuk mataku.


sangat luar biasa sakit yang kurasakan.


aku sendiri tidak tahu penyebabnya.



cepat ku raih ponselku dan menghubungi Dennis.



Tut..Tut..Tut...

__ADS_1


tidak ada jawaban.



namun aku sungguh kesakitan saat ini. aku berusaha mengumpulkan tenaga ku membuka pintu dan mencari mama erina.


aku berteriak teriak memanggil mereka, namun tidak ada yang menjawab.



aku sangat kesakitan, aku binggung harus memanggil siapa untuk menolongku.


aku kembali kekamar meminum obat anti nyeri yang aku miliki.


aku berbaring kembali berharap rasa sakit di bagian perut bawahku bisa segera hilang.


aku berusaha keras untuk tidur dan menenangkan diri, berharap rasa sakit ini berkurang.



namun dari jam ke jam rasa sakit ini tidak juga kunjung berkurang, tentu saja aku tidak tertidur sedetikpun.


aku lihat jam dinding telah menunjukan pukul 05.30 aku dengan tertatih tatih menahan sakit, aku bersiap siap untuk pergi ke dokter saja.



tapi aku rasa kondisiku sangat tidak mungkin untuk menyetir.


sungguh harus pada siapa aku meminta pertolongan. aku rasa ingin menangis saja di dalam kesakitan ini.


setelah cukup lama berpikir akhirnya ku telepon Mike.


Mike dengan cepat mengangkat teleponku.



"hallo mike, tolong aku mike..." ucapku dengan payah karena sudah cukup lama aku menahan sakit ini.



"kau kenapa litta?"



"tolong jemput aku di rumah ya Mike, antar aku ke dokter, aku sakit... sakit sekali Mike... tolonggg..."


ucapku sembari memegangi perutku.



"baiklah, aku segera sampai. kau tunggu aku ya!" ucap Mike tergesa gesa



kuraih tas ku dan berjalan perlahan lahan dengan menahan sakit menuju teras rumah.


saat itu keadaan rumah sepi. aku tidak tahu di mana Meraka semua berada. aku tidak perduli lagi.



yang aku tahu hanya saat ini perut bagian bawahku begitu sakit.


tidak dapat lagi ku ungkapkan bagaimana rasa sakit itu. keringat bercucuran di sekujur tubuhku. bahkan begitu angin menghembusku bulu Roma ku bisa berdiri.


aku hanya berdoa ya Tuhan... cepatlah Mike tiba, aku sudah tidak kuat menahan sakit ini.




__ADS_1



__ADS_2