Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

kak aleandro yang mulai berbicara dengan mbah Ijan.


aku hanya diam di sampingnya.


aku merasa cukup kacau dengan apa yang terjadi dalam hidupku.


"bla...bla...bla... jadi begitu mbah, apakah benar adik saya ini ada yang berniat jahat pada nya? dan apakah benar yang malakukannya adalah saudara iparnya sendiri?" tanya kak aleandro pada mbah Ijan.


mbah Ijan menutup matanya beberapa saat lalu ketika membuka matanya ia melihat kearahku


"hmmm...."


gumam mbah Ijan yang tampak tidak ingin membeberkan apa yang ia tahu seperti itu yang kulihat


"ya begitu lah nak, manusia itu rambut sama hitam hatinya kita tidak tahu." begitu ucap mbah Ijan setelah berdehem tadi


"jadi benar ya mbah, adik saya ini di kerjain sama iparnya." lagi lagi begitu tanya kak aleandro


"ah hem... ya begitu la nak, namanya orang iri apapun dia buat." ucap mbah Ijan


lalu mbah Ijan memintaku untuk memberikan tangan ku padanya, ia ingin melihat kuku jempol jariku.


"insyaallah tidak apa apa ya nak". ucap mbah ijan

__ADS_1


lalu mbah ijan memejamkan matanya kembali , lalu ia memanggil istrinya.


"asma..... kemari, berikan kalung yang kau pakai itu dulu. anak ini lebih membutuhkan nya saat ini. malam ini ada yang menginginkan nyawanya, bahaya." ucapnya begitu pada istrinya


tentu saja aku dan kak aleandro cukup kaget dengan apa yang kami dengar.


"jadi begini nak, ini kalung istri saya sudah saya isi dahulunya untuk menjaga istri saya. tapi saat ini kau lebih membutuhkan nya."


ucap mbah Ijan


aku hanya mengangguk kan kepalaku


"siapa namamu nak?" tanya mbah Ijan


tampak lah mbah Ijan membacakan suatu doa ke dalam kalung tersebut.


lalu ia memberikannya padaku.


"pakai kalung ini nak, malam nanti kau celup kalung ini di bak kamar mandimu. karena di situlah ia menaruh barang gaib tersebut.


biar dengan kalung ini nantinya menetralisir energy jahat itu."


begitu pesan mbah Ijan padaku

__ADS_1


setelah bercerita cukup lama dan hari mulai sore maka kami pun pamit untuk pulang.


aku segera menelepon dennis menceritakan bahwa kami baru saja dari tempat sesepuh bang Gus teman kak aleandro.


di tengah kekacauan ini aku yang sedang gusar memutuskan untuk pulang ke rumah keluarga ku saja.


setelah beberapa jam di rumah orangtuaku, dennis menelepon ku.


ia mengatakan bahwa ia sudah pulang dan tentu saja di rumah sudah ada Ina dan steve namun tidak ada kak danu.


aku cukup kaget dengan info yang dennis sampaikan padaku.


seakan akan kedatangan Ina menyatakan bahwa benar apa yang ia perbuat padaku selama ini. aku cukup kalut dan takut saat ini.


"den, aku harus bagaimana den? aku takut, aku rasa aku tidak sanggup untuk bertatap muka dengan nya." ucapku ketakutan dan tak terasa air mataku menetes


"tidak apa sayang, pulang dan ketika bertatap muka dengannya biasa saja. anggap saja kita tidak mengetahui apa yang ia perbuat pada kita selama ini." ucap dennis menasehati


"iya baiklah denn, aku akan berusaha seakan akan tidak ada yang terjadi." ucapku


"dan oh ya jam berapa kau akan menjemput ku?" tanyaku kembali


"sebentar lagi ya sayang, aku akan menjemputmu. tenangkan hatimu, bawa doa semua akan baik baik saja." ucap dennis kembali menasehati

__ADS_1


__ADS_2