Semua Hanya Karena Iri

Semua Hanya Karena Iri
talita


__ADS_3

saat berada di kantor Talita terus memikirkan apa sebenarnya yang terjadi dalam hidupnya.


kenapa ia harus kembali mengalami semua hal buruk setelah menikah, bukan merasakan bahagia melainkan menderita bahkan saat ini ia ketakutan karena terus melihat makhluk makhluk astral.


mike yang sedari tadi memperhatikan talita terbengong, merasa talita makin aneh sejak sembuh dari sakitnya.


wajah talita tidak lagi seceria dulu, wajahnya lebih terlihat seperti orang yang merasa tertekan, seperti mengalami sebuah trauma.


ketika di tegur talita akan kaget seperti orang yang habis melakukan kesalahan.


"litta... lit.. litta... talita..."


panggil mike yang tidak menyadarkan talita dari lamunannya.


"hei, litta...!!"


panggil mike kembali sambil mengayunkan tangannya di depan wajah talita.


"ya...ya pak..."


jawab talita kaget dan gelagap


"kau kenapa litta?"


"apa kau sakit lagi?"


"tidak pak, litta baik baik saja."


"apa kau yakin kau baik baik saja?"


"ya pak, aku baik baik saja kok."


walaupun talita menjawab demikian tetap saja terlihat jelas di wajah talita ada sesuatu yang ia sembunyikan


"baguslah bila kau baik baik saja. setelah ini akan ada proyek lagi yang harus kita tangani dan ku harap kau bisa bekerja dengan baik litta."


"ya pak."


mike pun pergi meninggalkan ruangan manager controller itu.


setelah mike pergi talita berkerja seperti biasanya, namun sesekali ia berhenti dan melamun.


"kak..." panggil zenna memecahkan lamunan talita

__ADS_1


talita melihat ke arah zenna dengan raut wajah yang tidak biasa zenna lihat


"ya zen"


"kakak kenapa? zenna lihat kakak terlihat tidak baik. apa kakak ada masalah lagi?"


"tidak ada masalah kok zen." jawab talita


"kakak yakin? lalu kenapa kakak belakangan ini terlihat terus melamun? ceritakan saja kak, akan lebih baik bila kakak ceritakan daripada kakak simpan sendiri."


talita diam dan berpikir, akankah ada orang yang percaya dengan ceritanya nanti? sedangkan dennis saja tidak percaya.


semua orang akan bilang kalau ia gila nantinya.


sehingga pada akhirnya talita pun tidak menceritakannya pada siapapun. bahkan soal yang pak haslan bicarakan dengannya tempo hari, tidak ia ceritakan pada siapapun di kantornya kecuali bu daniar mantan karyawan di kantornya.


"benar zen, kakak tidak apa apa."


seperti biasa talita bertugas di luar kantor dan kali ini tidak di temani supir kantor ataupun zenna, ia mengendarai sendiri mobil pribadinya.


setelah semua urusan pekerjaan nya selesai ia melihat masih ada waktu yang cukup panjang untuknya. maka ia memutuskan untuk mampir ke rumah orang tua nya.


"ma..."


"tok..tok...tok...


dan mama hanna pun keluar membukakan pintu


"hai sayang, kau baik baik saja kan?


bagaimana apakah sudah sehat total?"


tanya mama hanna yang mengkhawatirkan anak perempuan nya.


"ya ma, litta baik baik saja kok. mama tidak perlu khawatir ya. maaf tempo hari telah membuat kalian semua repot dan khawatir".


"apa yang kau bicarakan Litta, kami tidak merasa di repotkan oleh mu sayang".


"terimakasih ya ma". ucap litta sambil memeluk mama, dan litta menitikan airmata terharu dengan kasih sayang dari keluarga nya


"bodoh, kenapa menangis. bukankah kita semua saat ini baik baik saja".


"tidak apa apa ma, litta hanya terharu. bukankah mama tahu bahwa litta ini memang manusia yang mudah menitikkan airmata" ucap litta sembari tersenyum dan menghapus airmatanya

__ADS_1


"ya ya, apa yang mama tidak tahu tentang anak anak mama. mama yang merawat dari kecil hingga sebesar ini kan". ucap mama tersenyum sambil menunjuk ke arah litta


"ya ma". balas litta dengan senyum


hati litta terasa sejuk bila bertemu dengan mama hana dan keluarganya


"litta hanya sebentar saja ma mampir kemari. ini masih jam kantor. hanya saja sudah selesai apa yang menjadi kewajiban litta dan waktu masih panjang maka litta kemari saja".


"iya tidak apa nak, asal yang menjadi tanggung jawab mu telah kau selesaikan. kami tidak pernah melarang mu untuk kemari. pintu rumah ini terbuka lebar untuk mu sayang."


setelah berbicara panjang lebar dengan mama akhirnya talita menceritakan pada mama hanna tentang apa yang ia lihat di rumah dennis belakangan ini.


mulai dari bayangan hitam dan pocong yang ia lihat di jendela. serta tidak lupa litta ceritakan mimpinya tentang makhluk transparan yang menindih nya jauh sebelum ia jatuh sakit dan juga tentang pak haslan.


mama menasihati Talita, menyuruh talita untuk rajin berdoa sebab segala sesuatu nya adalah ciptaan Tuhan yang maha esa.


setelah bercerita dengan mama, talita sedikit lega.


waktu pun mengharuskan talita kembali ke kantor. talita pamit dengan orang tua nya dan kembali ke kantor.


sore hari ketika talita dan dennis pulang, ya tentu saat akan masuk ke kamar talita kembali lagi melihat bayangan hitam besar.


kali ini talita tidak lagi begitu Panik tapi ia meredam rasa takutnya dalam hati.


saat membuka pintu kamar talita melihat ada seekor cicak yang cukup besar di dinding kamar nya. awalnya talita tidak begitu perduli dengan cicak itu. karena pasti hal biasa ketika kita melihat cicak, bukan kah begitu?


namun beberapa saat kemudian talita mulai merasa gelisah ketika melihat ke arah cicak itu, Talita merasa mata dari hewan kecil itu terus memperhatikannya dan terus mengikuti setiap gerak geriknya.


namun talita kembali berpikir secara rasional tidak mungkin kan hewan vertebrata bisa demikian.


talita mulai merasa akan kehilangan akal sehatnya. ia melihat dengan seksama cicak itu. ya memang sangat jelas matanya berbeda dari cicak cicak yang selama ini ia lihat. kedua bola mata cicak ini benar benar sedang memperhatikan gerak geriknya.


dan tentu saja membuat talita merinding.


talita ingin segera katakan pada dennis tentang hal ini. namun ia hentikan karena takut dennis tidak percaya lagi dan malah akan beranggapan bahwa ia telah gila.


lalu ia memikirkan cara lain untuk memberitahu dennis tentang cicak ini.


"den, tolong kau usir cicak ini. aku takut sekali dengan cicak". ucap Talita dengan alasan bohongnya


dennis yang melihat talita merengek demikian segera mengambil sebuah tongkat panjang untuk mengusir cicak itu keluar dari kamar.


hampir sejam dennis berusaha mengusirnya. namun bukan malah keluar cicak itu malah berlari makin ke dalam dan bersembunyi di balik lemari pakaian mereka.

__ADS_1


ya tentu saja talita kecewa karena tidak berhasil mengusir hewan kecil itu keluar.


namun ia tidak mungkin lagi untuk memaksa Dennis sebab cicak itu telah bersembunyi di balik lemari pakaian dan tidak mungkin untuk dijangkau. karena akan sangat merepotkan bila harus menggeser lemari itu dan lagi pula mama erin pasti akan marah besar pada nya bila dennis melakukan itu. maka talita pun membiarkannya saja.


__ADS_2