
Universitas Santapolis, para siswa-siswi yang berlalu lalang melihat dengan penasaran pada pemandangan aneh di depan mereka.
Adegan seorang siswa yang dikejar iikuti seorang pria botak yang tampak ganas.
"Jangan ikuti aku!"
“Baik, guru.” Kepala botak itu setuju sambil terus mengikuti, dan semakin mendekat.
"Aku mau balik ke asrama dulu."
"Oke, Guru."
"Udah kubilang berapa kali? Aku bukan gurumu."
"Oh, kalau gitu, Guru."
"Kau udah gila ya?"
"Gue sehat walafiat, Guru."
Williamson hampir menjadi gila.
“Kau mau apa?” Williamson berbalik dan menendang kepala botak itu dengan kuat, dan bertanya dengan marah.
"Belajar bela diri dengan guru."
“Belajar bapakmu!” Williamson menggaruk rambut, 'Sial, si botak ini tidak hanya keterbelakangan mental, tapi juga keras kepala.
"Oke, dengar baik-baik." Williamson benar-benar tidak punya pilihan, "Jadilah anak buahku dulu, dan tunggu masa pengangkatan selama tiga bulan, setelah tiga bulan, kalau kau lulus, aku akan mengajarimu, kalau kau gagal, pergi sejauh mungkin dariku!"
"Akhirnya guru setuju juga, baguslah!” Giant tampak bersemangat.
"Sekarang, bakal aku beri tugas pertama, tinggalkan sekolah dan jangan ikuti aku!"
"Oke!" Kepala botak itu menoleh dan pergi tanpa ragu-ragu.
"Pergi gitu saja?” Kepala botak itu pergi sangking cepat sampai Williamson terpana.
Bagaimanapun, aku akhirnya bebas.
"Willi udah balik."
"Willi, kau jadi terkenal"
Begitu kembali ke asrama, Daniel dan yang lainnya langsung mengepung Williamson.
“Apanya yang terkenal?” Williamson tampak bingung.
"Lo belum tahu? Lihat posting sekolah kita di Internet!"
Johnson membuka posting dari ponselnya dan menunjukkannya kepada Williamson.
"Terlahirnya Raja nyanyi bernama Williamson, bersama Dewi Jocelyn yang menemukan cinta sejati!"
"Apa?"
Williamson buru-buru mengambil ponsel itu.
Waduh, siapa yang memposting video adegan di ruang latihan musik ke Internet?
Komentarnya sudah hampir lebih dari seribu dan masih terus bertambah.
Williamson membaca sekilas, terdapat berbagai macam pendapat dari netizen, tetapi kebanyakan dari mereka mengungkapkan kekaguman.
Ada juga beberapa komentar negatif, tapi komentar negatif tersebut langsung dibanjiri kritik verbal dari netizen.
Beberapa orang bahkan menggali masa lalu tentang Williamson dan Jolin, dan Jolin tiba-tiba menjadi sasaran kritik publik dan dikritik habis-habisan seperti sampah.
Mengenai komentar Jocelyn, netizen sangat rasional, kebanyakan orang berpikir bahwa dia telah menemukan cinta sejati, dan mereka semua mendoakan yang terbaik untuknya. Bagaimanapun, Jocelyn dikenal karena kepolosannya, dan reputasinya di sekolah memang sangat baik.
George, Evan, dan Hanest adalah tiga orang yang menjadi sasaran kritik netizen, sama seperti Jolin.
"Wah, secara nggak disengaja aku jadi selebriti internet." Williamson sedikit bangga.
Ding dong!
Pesan dari Jocelyn.
"Udah liat postingnya?"
"Udah."
__ADS_1
"Selamat kepada Raja nyanyi kita, Williamson!"
Williamson tersenyum kecil, "Selamat kepada Dewi Jocelyn kita, bunga yang menemukan cinta sejatinya!"
"Ada-ada aja deh, ngomong-ngomong datanglah ke rumahku jam 8 malam nanti."
"Apa harus secepat itu, diriku belum siap loh." Williamson menambahkan tiga emoji malu-malu.
“Jangan pikir yang aneh-aneh, ibuku mau mengundangmu makan malam!” Jocelyn menambahkan tiga emoji memukul kepala.
"Ternyata ibu mertua mau undang makan bersama, menantu ini tentu akan ke sana tepat waktu!"
"Akan kutunggu kamu jam 7:30 di gerbang sekolah, kita balik sama-sama."
Rumah Jocelyn berada di area keluarga Pabrik Baja Santapolis, tepatnya di gedung apartemen di dekat sana.
“Willi, ayo silakan duduk.” Begitu dia memasuki rumah Jocelyn, Williamson buru-buru disapa dengan ramah oleh Jane.
"Halo, Tante" Williamson mengangguk dengan sopan.
“Duduklah dan ngobrol sama Celyn dulu, masakannya bentar lagi siap.” Setelah Jane selesai berbicara, dia balik ke dapur lagi.
"Tunggu." Williamson tiba-tiba bertanya kepada Jocelyn, "Kalau kamu dan Tante lagi di rumah, siapa yang rawat paman di rumah sakit?"
"Ibuku mau berterima kasih padamu, jadi menyuruh adikku buat jaga di rumah sakit sementara waktu."
“Kamu punya adik perempuan?” Mata Williamson melebar.
“Kenapa nggak boleh ada adik ya?" Jocelyn memutar matanya ke arah Williamson.
“Haha, bukan, baguslah kalau punya adik.” Williamson menyeringai sebentar.
Sial, untung besar ini, nggak cuma dapat istri, tapi juga bonus satu adik ipar.
Jocelyn menatap Williamson dengan curiga, "Kenapa senyum-senyum?"
"Oh, gapapa." Williamson dengan cepat membuang senyumnya yang aneh.
Persiapan makanannya cukup sederhana, enam lauk dan satu sup, tapi rasanya cukup enak.
"Willi, kami sangat berterima kasih, seharusnya aku mengundangmu makan di restoran besar, tapi kondisi rumah kami lagi kurang bagus..."
Williamson menghabiskan nasi dalam sekejap, dan bersendawa pada akhirnya.
"Pfft." Jocelyn tertawa.
"Jangan buru-buru." Jocelyn mengulurkan tangannya dan mengeluarkan tisu untuk menyeka sebutir nasi di mulut Williamson.
Williamson menatap Jocelyn, hatinya merasa hangat.
“Kalian ngobrol dulu ya, aku mau turun jalan-jalan.” Jane itu wanita berpengalaman, setelah sedikit beres-beres, dia langsung pergi dengan sedikit alasan.
Begitu Jane pergi, suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi ambigu.
“Minumlah dulu.” Jocelyn menuangkan segelas air untuk Williamson, lalu duduk di sofa, menundukkan kepalanya dan mengutak-atik sudut pakaiannya dengan wajah yang merah merona.
"Ya." Jantung kecil Williamson juga berdegup kencang.
Ada keheningan lagi.
“Kusiapkan buah dulu.” Jocelyn tidak bisa duduk diam, bangkit dan pergi ke dapur.
"Hhhh." Begitu Jocelyn pergi, Williamson menghela nafas lega, "Sial, kenapa bisa segugup ini?"
Ding dong!
Notifikasi dari Instagram.
Williamson membukanya, dan langsung kaget!
Kera Sakti membalas pesannya.
Buru-buru buka.
Kera Sakti: Kau nyari aku?
Sebelum Williamson sempat menjawab, pesan masuk lagi.
Kera Sakti: Aku makan pil menghilang dan keliling surga, ponselku kumatikan, maaf ya.
Pfft!
__ADS_1
Astaga, ternyata si monyet ini maling barang, dan ponselnya dimatikan, tidak heran pesannya tak dibalas.
Williamson: Gimana hasilnya?
Williamson mengirim stiker emoji 'Lo tahu la.'
Kera Sakti: Oh lumayan, lumayan.
Ding dong!
Kera Sakti telah memberi Anda Penglihatan Surgawi ×1
Wah, penglihatan surgawi!
Williamson buru-buru menerima.
Kera Sakti: Ini kuambil dari Dewa Erlang, kasih kau aja, makasih banyak pil menghilangnya.
Williamson: Makasih juga Kera Sakti.
Williamson buru-buru membuka tampilan isi tas, sebuah buku emas yang memancarkan suasana kuno muncul.
Ekstrak!
Mempelajari!
Williamson merasakan kilatan cahaya di matanya, kemudian sebuah pesan muncul di benaknya:
Penglihatan surgawi berhasil dipelajari, level 1 saat ini.
“Hah? Nggak ada istimewanya.” Williamson mengambil gelas air dan mulai minum.
“Ini buahnya.” Jocelyn membawa buah kemari.
"Makasih ... Pfft!" Williamson mengangkat kepalanya, dan semua air yang baru saja diminumnya tersembur keluar.
"Waduh! Apa-apaan ini?"
Jocelyn ternyata cuma pakai pakaian dalam hitam seksi dan berdiri di depannya.
Hanya saja pakaian dalam tersebut tidak sepenuhnya menutupi tubuh montoknya itu sama sekali.
“Ada apa?” Jocelyn tampak bingung.
"Oh, gapapa, tersedak air aja."
Williamson menggosok mata, menatap Jocelyn lagi, dan semuanya kembali menjadi normal, Jocelyn masih memakai pakaian yang sama seperti sebelumnya.
Ternyata ini penglihatan surgawi! Luar biasa sekali!
Williamson langsung menyadari apa yang sedang terjadi.
“Minum air bisa tersedak juga ya?” Jocelyn merasa Williamson sangat aneh.
Ding dong!
Kera Sakti: Kau nyari aku, kan?
Pesan Kera Sakti masuk lagi.
'Astaga, hampir saja lupa.' Williamson buru-buru membalas pesan Kera Sakti.
Williamson: Aku mau minta saran, aku punya teman yang jiwanya mungkin terpisah dari raganya, tapi dia masih hidup, cuma nggak bisa bangun, nggak tahu apakah ada cara untuk menyelamatkannya.
Kera Sakti: Oh kalau gitu gampang aja, tinggal makan pil pengembalian roh Nabi Lao Zi.
Ding dong!
Kera Sakti memberi Anda pil pengembalian roh.
Kera Sakti: Kebetulan aku curi satu dari orang tua itu, kasih kau aja.
Williamson: Makasih banyak Kera Sakti!
Williamson sangat bersemangat, ternyata pil menghilangnya tidak sia-sia.
"Jocelyn"
"Iya?"
"Ayahmu mungkin bisa diselamatkan."
__ADS_1