
Tanpa lihat Williamson sudah tahu siapa itu.
"Bibi kedua."
Bagaimanapun, bibi keduanya tetaplah orang yang lebih tua, tidak peduli betapa tidak menyenangkan kata-katanya, Williamson harus mengambil inisiatif untuk menyapa.
Arya berusia 40-an, dengan pakaian yang dipakainya sudah tergolong sangat modis di pedesaan ini, keluarganya memiliki pabrik tangga, jadi sudah bisa dibilang cukup mapan.
Namun, reputasinya sangatlah buruk.
"Tsk tsk, manggil bibi kedua aja nggak ikhlas begitu, kayaknya sia-sia aku begitu menyayangimu waktu kecil."
Williamson mendengus dingin di dalam hatinya. Ketika masih kecil, bibi keduanya bahkan tidak tega membelikan es loli untuknya, menyayangi dari mana?
"Yo, kamu naik mobil ke sini? Pinjam dari teman sekelas ya? Kamu ini ya, memangnya keluarga kayak kalian itu sanggup kendarai mobil? Gimana kalau mobil orang rusak? Mau bayar pakai apa kalian?"
Arya menyalahkan dengan keras.
“Willi baru aja pulang, biarkan dia masuk rumah dulu.” Jonathan tidak sanggup terus mendengarkan lagi.
"Abang tertua." Arya tidak senang.
"Aku ini bibi kedua, wajar sedikit menceramahinya, kan? Itu untuk kebaikannya juga, lihatlah dirimu yang nggak berguna itu, lupakan aja dirimu yang yang kerja di lahan sama kakak ipar sepanjang hidup, anak ini dengan tidak mudahnya berhasil masuk universitas, yang mungkin setelah lulus nanti bisa dapat pekerjaan yang gajinya beberapa juta sebulan, tapi gimana kalau mobil orang rusak? Kalian mau bayar pakai? Jual rumah? Rumah yang kalian bangun waktu nikah ini juga udah lebih dari 20 tahun, memangnya bisa jual berapa?"
“Bisa jual berapa itu bukan urusanmu.” Jane tidak suka mendengarkannya lagi, dan membuka mulut.
"Kalian sekeluarga ini memang tak tahu yang benar, yang mana salah ya, oke oke, terserah kalian saja, aku tak peduli lagi." Arya menatap Jane dengan jijik.
Mungkin karena sudah haus, dia masuk ke rumah dan menuangkan segelas air untuk diminum, kemudian menunjuk Williamson dan berkata, "Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, tapi bibi keduamu yang duduk di sini aja kamu tak kasih segelas air, orang yang tak tahu mungkin pikir kamu sekolahnya jadi makin bodoh."
Williamson menahan amarah di hatinya dan berkata sambil tersenyum: "Bibi kedua, aku baru aja pulang, masih banyak yang mau kubicarakan dengan orang tuaku, gimana kalau kamu pulang dulu, nanti aku berkunjung ke rumah bibi."
"Apa-apaan ini? Kamu pikir aku tak paham maksudmu?” Arya membeku, dan berteriak pada Williamson dengan tangan di pinggang, “Cuma sekolah dikit aja udah sombong begini dan mau usir orang ya? Apalagi kalau lulus nanti, pasti udah nggak kenal kerabat sendiri."
“Cukup!” Jonathan tiba-tiba berdiri, pria yang telah lama diam ini akhirnya tidak tahan lagi.
"Willi baru pulang jadi kami mau bicara dulu, tolong jangan cari masalah lagi." Jonathan berkata dengan wajahnya penuh amarah.
“Untuk apa sok tegas di depanku? Kalau mampu itu ya hasilin lebih banyak uang buat anak-anakmu, apa gunanya kalau sok berkuasa di sini?!"
Arya adalah tipikal orang yang tidak menganggap serius keluarga Williamson sama sekali.
"Bibi kedua, cukup, tak perlu basa-basi lagi, kamu datang ke sini buat nagih utang, kan?"
"Willi, bukan bibi keduamu ini yang tak punya hati nurani, bibi tahu kondisi rumahmu, dan hidupmu sangat pas-pasan, tapi kamu juga tahu …”
"Cukup, hutangnya berapa?” Williamson langsung menyela.
"70 juta."
__ADS_1
"Omong kosong apa-apaan ini? Jonathan dirawat di rumah sakit tahun lalu, paman kedua Willi jelas memberiku 60 juta." Jane berdiri dengan cemas.
"Kakak ipar ngomong apa sih? Siapa yang meminjamkan uangnya secara cuma-cuma? Minjam di bank aja ada bunganya, kalau nggak udah pasti bangkrut banknya.”
"K-kamu ..." Jane marah besar sampai kehabisan kata-kata.
"Bam!" Pintu ruang belakang terbuka, dan Alicia berlari keluar dengan air mata berlinang di wajahnya.
"Ma, kembaliin aja uangnya ke bibi kedua, aku nggak mau sekolah lagi, aku kerja aja besok."
"Alicia..." Williamson merasakan sakit di hatinya saat melihat adiknya yang sedang menangis.
“Bang!” Alicia melemparkan diri ke dalam pelukan Williamson dan menangis.
“Apa gunanya Alicia sekolah? Seorang gadis itu cepat atau lambat pasti nikah ke keluarga orang lain, ngapain habisin uang sebanyak itu padanya?” Arya cemberut.
"Hhh." Williamson menghela nafas panjang, menekan amarah di dalam hatinya.
“Bibi Kedua, totalnya 70 juta, kan?” Williamson bertanya pada Arya.
"Betul."
“Oke, tunggu sebentar.” Williamson menoleh dan berjalan keluar, mengeluarkan kantong plastik hitam dari mobil.
“Tu, wa, ga, pat, ma, nam, tujuh!” Williamson mengeluarkan tujuh ikat uang dan meletakkannya di depan Arya.
"Nih 60 juta, coba hitung lagi."
Williamson mengabaikannya, mengeluarkan satu ikat lagi.
"Nih, totalnya 70 juta, betul, kan?"
“Willi, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?” Jane bertanya dengan cemas.
"Ma, nanti bahasnya, biarkan bibi kedua hitung dulu."
Arya tidak peduli dari mana uang itu berasal, dia meludahi tangan dan langsung menghitung dengan serius.
“Betul 70 juta, aku ambil ya.” Arya menemukan sebuah tas dan memasukkan uangnya ke dalam.
"Bibi kedua bisa datang duduk aja di lain hari." Williamson tidak ingin melihatnya lagi walau hanya sebentar.
“Kenapa ini? Mulai ngusir lagi? Oke oke, aku pergi kok.” Arya berbalik dan berjalan keluar.
“Willi, antar Bibi Keduamu.” Jane marah dan duduk tanpa bergerak.
“Gapapa, aku mana berani membiarkan mahasiswa kita ini yang antar.” Arya berjalan keluar dengan amarah.
“Oh ya, Willi, mobil pinjammu ini cukup besar juga ya, tapi kok nggak ada logo merek, mereknya apa?” Arya berjalan di sekitar mobil Land Rover.
__ADS_1
"Land Rover."
"Land Rover? Belum pernah dengar, mungkin cuma merek kecil, mau beli mobil itu pilih yang mereknya terkenal. Kayak mobil bibimu ini, BYD. Semua orang tahu itu." Arya dengan bangga menunjuk ke logo mobil BYD.
“Ya, B Y Dumb, sangat cocok dengan aura bibi kedua.” Williamson mengambil kesempatan untuk mengejek.
“Akhirnya kamu ngomong sesuatu yang masuk akal.” Arya melirik Williamson dengan jijik, masuk ke mobil dan pergi.
Williamson diam-diam tertawa dalam hatinya, dia mengejek tapi dibilang masuk akal.
"Jane, jangan marah, bibi kedua Willi itu memang orang seperti itu, kan?"
"Arya ini tak punya hati nurani ya, dia waktu nikah tak mampu beli furnitur, kalian berdua langsung memindahkan semua perabotan dan peralatan rumah tangga ke rumahnya tanpa mengeluh sama sekali, tapi lihatnya mereka sekarang, kebaikan dilupakan begitu saja."
"Ya, paman kedua Willi hanya terlalu jujur, waktu Jonathan sedang sekarat di rumah sakit, paman kedua Willi yang diam-diam membawa 60 juta kemari."
Begitu Arya pergi, para tetangga langsung datang untuk menghibur Jane dan Jonathan.
"Paman dan bibi sekalian, terima kasih ya udah rawat orang tuaku waktu aku lagi tak di rumah." Williamson mengeluarkan rokok, alkohol, dan berbagai kotak hadiah dari mobil dan meletakkannya di atas kang.
"Paman tua, kamu suka merokok, nih rokok parliament buat kamu."
"Paman Hugh, kamu suka minum, cobalah anggur ini."
"Kakak ipar ketiga, tolong bawa makanan ringan ini untuk keponakan kecilku ya."
…
Williamson membagi setengah dari barang-barang yang ada dibagasi mobil.
"I-ini..." Para tetangga semuanya kaget, apa yang diberikan Williamson kepada mereka tidaklah murah.
“Itu oleh-oleh dari Willi, jadi ambil aja gapapa.” Melihat para tetangga yang tidak berani menerima, Jane berdiri bangkit untuk membujuk.
“Ambil aja gapapa.” Jonathan juga membuka mulut.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak ya” Para tetangga mengucapkan terima kasih satu per satu, dan dengan senang hati menerima oleh-olehnya.
“Williamson jarang pulang, jadi kalian bicaralah, kami pamit dulu.” Mereka sangat pengertian, setelah menerima barang mereka langsung pamit, dan pergi dengan gembira satu per satu.
"Hebat ya, Willi ini memang menjanjikan."
"Betul tuh, Willi juga baik kayak ayahnya."
"Yah, Willi ini sangat baik, kita yang sebagai tetangga ini tinggal tunggu kesuksesannya."
Mendengarkan diskusi para tetangga, Jonathan tidak bisa menahan senyum.
Pria sederhana sepertinya telah bekerja keras sepanjang hidupnya, dan yang paling penting baginya hanyalah diberi muka.
__ADS_1
Ketika Williamson diterima di universitas, dia bangga selama setengah tahun, dan selalu membicarakan tentang putranya dengan penduduk desa.
Hari ini, anaknya pulang dan memberinya muka lagi di hadapan penduduk desa.