
Dalam perjalanan kembali, Jocelyn mencoba membuka mulutnya untuk berbicara tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
"Kenapa? Mau ngomong sesuatu?" Tanya Williamson.
"Aku … tidak ada apa-apa. '' Jocelyn menjawab dengan suram.
'Baru saja mengenal Williamson selama sehari …mana mungkin aku bisa minjam uang darinya?' Jocelyn menggigit bibir dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk berhenti.
"Oh ya! Untuk 200 juta yang kita menangkan, kita bagi dua aja! masing-masing 100 juta.'' Williamson mengetuk kepalanya sendiri dan melanjutkan, “Hampir aja lupa.”
"Apa?!" Jocelyn menoleh dan menatap dengan mulut menganga pada pria di sampingnya.
"Williamson, aku minta maaf, tapi kurasa aku tidak bisa menyembunyikannya darimu, aku lagi butuh uang sekarang, anggap aja 100 juta ini kupinjam darimu, oke?” Jocelyn berkata dengan suara yang sedih.
"Boleh beritahu aku kenapa?"
Setelah bergaul sehari, Williamson kurang lebih tahu kalau Jocelyn ini adalah seorang gadis yang memegang prinsip nilai-nilai tradisional, jika bukan karena membutuhkan uang, dia tidak akan pernah nyanyi di bar.
Karena Williamson sudah mengetahui hal ini, dia mengambil inisiatif untuk mengusulkan membagi rata 200 juta ini dengan Jocelyn.
"Aku kekurangan uang karena …"
Saat berbicara, ponsel Jocelyn berdering.
"Celyn, kamu di mana? Mereka mau usir ayahmu keluar dari rumah sakit." Suara seorang wanita menangis terdengar dari ponsel.
"Apa?! Bu, jangan khawatir! Aku akan tiba di sana sebentar lagi!” Jocelyn dengan cemas, berlari ke tepi jalan untuk menghentikan taksi.
"Kutemani." Meskipun Williamson tidak tahu apa yang terjadi, dia tahu ada sesuatu yang salah jadi bergegas naik taksi bersama Jocelyn.
Rumah Sakit Rakyat Kota Santapolis di bangsal Departemen Neurologi,
"Dok, kumohon, kasih dua hari lagi! Kami janji akan bayar." Jane menarik lengan dokter setengah baya dan memohon dengan pahit.
"Dua hari lagi? Kamu sudah berutang lebih dari 20 juta ke rumah sakit! Kalau bukan karena aku, kalian pasti sudah diusir sekarang! Pokoknya hari ini harus lunas, kalau tidak silakan keluar!" Kelvin mendorong Jane.
"Bu!" Pintu bangsal didorong terbuka dan Jocelyn bergegas masuk.
"Celyn! Tolong bantu mohon pada Dokter, perawatan ayahmu tak boleh dihentikan sekarang, dia tidak akan bisa bertahan hidup.'' Jane menangis ketika melihat Jocelyn.
"Celyn, bukan aku kejam, tapi hutang kalian terlalu banyak, aku juga tak berdaya."' Kelvin berkata sambil melirik tubuh Jocelyn.
“Aku akan bayar." Jocelyn mengerutkan kening.
"Kamu mau bayar? Pakai apa? Beberapa bulan ini kamu pasti sudah minjam dari semua kerabat dan temanmu, bahkan aku tahu keluargamu sudah di ujung tali, apa kamu mampu bayar? "Kelvin berkata dengan jijik kemudian mengubah nadanya. “Tapi aku ini masih murah hati, aku tidak akan membiarkan ayahmu yang ini, gimana kalau kamu datang ke kamarku malam ini, mungkin kita bisa diskusi solusi yang baik untuk masalah ini. “
__ADS_1
"Mikir solusi otakmu!" Williamson tidak sanggup terus mendengar omong kosong dokter ini lagi dan mulai marah.
Jocelyn telah berjanji untuk menjadi pacarnya,, bukankah ini tidak ada bedanya dengan membiarkan pacarnya jual diri dan hanya tinggal diam saja?
Kelvin juga memperhatikan Williamson yang datang bersama Jocelyn, namun, Williamson berpakaian sebagai seorang mahasiswa, sehingga Kelvin mengabaikannya karena menganggapnya sebagai teman sekelas Jocelyn.
Tapi, di luar dugaannya, anak ini berani memarahinya secara terang-terangan seperti ini.
"Nak, ibumu tak mengajarimu sopan santun?" Kelvin menegur.
"Persetan ibumu!" Williamson mendengus.
Kelvin, “Kamu siapa?! Keluar dari sini!"
Williamson: "Keluar ibumu!"
Kelvin tidak tahan lagi dengan bocah ini dan memberikan peringatan terakhir. "Nak, kau cari mati ya?!”
"Cari mati bapakmu!" Williamson mengutuk.
Kelvin, tidak tahan lagi dan berteriak, "Cukup! Petugas keamanan! Keamanan!"
Kelvin, tidak bisa menahan amarahnya, menggigit bibir dan marah besar.
'Plak!' Williamson melemparkan kartu bank langsung ke wajah Kelvin.
Kelvin terkejut, dan hanya bisa bergumam, "Ini … ini…"
'Bagaimana mungkin? 200 juta sesantai ini? Siapa sebenarnya bocah ini?' Kelvin terpana, 'Sialan, Jangan-jangan anak orang kaya yang dicari Jocelyn?'
"200 juta itu cuma cukup buat sebulan! Sebulan nanti jangan salahkan aku karena tidak sopan! ”Kelvin akhirnya mengerti situasi yang sedang dihadapi dan memberikan peringatan.
Tentu saja, dia tahu Williamson ada di sini, jadi tidak ingin menyebabkan lebih banyak masalah, dia tidak berani tinggal lebih lama lagi, dan menyelinap pergi dengan kartunya.
Jane lega bahwa suaminya bisa tinggal di sini sedikit lebih lama, mengeluarkan suara hati-hati tapi penasaran,
"Celyn ini?"
Setelah melihat bagaimana Williamson dengan santai mengeluarkan 200 juta, dia menebak kalau identitas Williamson ini pasti tidak biasa.
"D-dia teman sekelasku, Williamson." Jocelyn ragu-ragu sejenak dan berkata.
Williamson merasa sedih, 'Tunggu, kupikir aku bakal disebut sebagai pacarnya... '
“Willi, tante harus berterima kasih, untuk uangnya, kami pasti akan kembalikan. '' Jane membungkuk dengan wajah penuh rasa terima kasih.
__ADS_1
Williamson: "Tante jangan bilang begitu, uangku itu uang Jocelyn juga.”
"Hah?"
Setelah mereka menyelesaikan masalah dengan ayah Jocelyn, mereka mengucapkan selamat tinggal kepada ibu Jocelyn sebelum pergi. Dalam perjalanan kembali ke sekolah, Jocelyn dan Williamson memutuskan untuk tidak naik taksi dan berjalan kaki.
"Jocelyn, ada apa?" Tanya Williamson, sedikit khawatir setelah melihat Jocelyn menundukkan kepalanya dan terlihat seperti menangis.
“Aku tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang sejak kecil, orang tuaku menyayangiku dan aku selalu bahagia. Tapi, semenjak tahun lalu, semuanya berubah … ”Jocelyn berkata, dengan suara pelan tapi berat, seolah-olah mengutarakan beban besar yang selama ini dia tahan.
Ternyata Jocelyn ikut Kompetisi Bernyanyi Pemuda kota tahun lalu, Ayahnya yang baru saja menyelesaikan shift malam tidak tega membiarkan putrinya naik ke panggung sendirian, jadi dia ngebut ke tempat kompetisinya untuk memberi semangat pada putrinya.
Tapi … kecelakaan terjadi … karena disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan, sehingga ayahnya kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan, sekarang ayahnya hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan perawatan rumah sakit.
"Sepanjang tahun lalu, semua penghasilan dan tabungan keluarga kami telah dihabiskan, kami juga meminjam uang dari semua kerabat atau orang terdekat yang bisa kami pinjam…"
“Karena tak ada cara lain lagi, aku harus bekerja di bar untuk membayar biaya pengobatan ayahku, tapi dengan upahku, kami masih berutang 20 juta pada rumah sakit… ”
"Saat ayahku bangun, dia hanya mau mendengar nyanyianku…" Jocelyn berkata dengan suara lembut dan pecah. "Harapan terbesarnya adalah agar aku bisa memenangkan kompetisi Bernyanyi Pemuda Kota."
Williamson memberi tisu pada Jocelyn. “Jocelyn, jangan khawatir, aku yakin kamu pasti bisa menang”
"Terima kasih, Williamson, untuk ayahku, aku harus memenangkan kompetisinya!" Kata Jocelyn tanpa sedikitpun kelemahan.
Namun, suasana hatinya berubah sekali lagi.
“Tetapi apa gunanya setelah aku menangkan kejuaraan? Ayah tidak akan bisa melihatnya sama sekali." Wajah Jocelyn tiba-tiba bersandar di bahu Williamson dan air matanya sekali lagi mengalir keluar.
"Jocelyn…" Williamson mengulurkan tangan dan menepuk punggung Jocelyn.
'Ternyata gadis polos seperti Jocelyn telah menanggung beban yang begitu besar selama ini' Williamson menghela nafas.
"Mungkin aku bisa membangunkan ayahmu.'' Williamson tiba-tiba membuka mulutnya dan menyebutkan pemikiran ini.
"Apa?" Jocelyn terkejut dan meraih tangan Williamson, "Kamu punya cara? Beneran? ”
"Aku nggak yakin, tapi beri aku sedikit waktu, akan kupikirkan sematang mungkin."
"Williamson, selama ayahku bisa bangun, aku akan melakukan apa pun …" Jocelyn tiba-tiba menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara rendah.
"Gadis bodoh, yang harus kamu lakukan itu cuma fokus latihan vokal yang kuajari dan menangkan Kompetisi nyanyinya." Williamson membelai kepala Jocelyn.
"Iya, tentu.'' Jocelyn berkata dengan penuh harapan.
Setelah mengantar Jocelyn, Williamson buru-buru membuka Instagram begitu tiba di asrama.
__ADS_1
Apakah bisa menyelamatkan ayah Jocelyn atau tidak, semuanya akan tergantung pada para dewa ini!