
Gary tercengang, Tuan Muda Brown ini mengenalnya?
Mereka berjalan mendekat.
“Bang Gary, aku Wijaya Brown, dulu pengikut Adrian Zibrano,” kata Wijaya dengan tergesa-gesa.
"Wijaya Brown? Tuan Muda dari Brown Group?” Gary baru ingat saat nama Adrian Zibrano disebut.
Sebelum bergabung dengan tentara, Gary dulunya juga seorang karakter yang cukup terpandang dan sangat peduli dengan pengikutnya, sehingga tuan muda di seluruh Kota Wallwin ini didominasi olehnya.
Tentu saja, yang terpenting adalah Gary itu dari keluarga Jones, yang berarti Tuan Besar Jones!
Adrian ini dulunya pengikut Gary. Gary samar-samar ingat dalam Adrian ini punya pengikut bernama Wijaya, yang merupakan tuan muda keluarga Brown.
“Ini aku, Bang Gary, ini aku, tolong selamatkan aku.” Wijaya seketika menjadi senang.
Dengan adanya Gary di sini, dia pasti akan selamat.
Dia tahu bahwa Gary adalah orang yang sangat berperasaan, dulu dia itu termasuk pengikutnya, Gary yang melihatnya dalam kesulitan pasti akan membantu.
Selama Gary mengambil tindakan, semuanya akan baik-baik saja.
Siapa itu Gary? Gary itu adalah Abang terhormat bagi generasi muda di Kota Wallwin!
Selama Gary meminta, Siapa di seluruh Kota Wallwin yang berani tidak memberi muka.
Terlebih lagi, Gary dipaksa bergabung dengan militer oleh Tuan Besar Jones dua tahun ini, jadi jelas akan lebih kuat dari sebelumnya.
Dia tidak percaya jika Gary maju si Williamson ini akan berani melawan.
Ternyata benar, sesuai tebakan Wijaya.
Gary yang sangat berperasaan dan benar-benar melangkah maju untuk memohon.
“Bang Willi, lupakan saja, dia dulu pengikutku” Gary melangkah maju dan berkata kepada Williamson.
Wijaya yang mendengar itu langsung merasa senang untuk sementara waktu, dengar? Bang Gary bilang dia itu dulu oengikutnya, jika kabar ini tersebar, pasti banyak yang iri!
Hmm? Tunggu, sepertinya ada yang tidak beres.
Wijaya baru sadar, bagaimana Bang Gary memanggil orang ini?
Bang Willi? Astaga, Bang Gary memanggil orang ini Bang Willi?
Wijaya sedikit bingung.
"Karena Gary sudah bilang begitu, pergi sana." Williamson mengusir Wijaya.
Wijaya langsung jatuh.
Begitu bangkit kembali, dia menatap Williamson dan tidak bisa berkata apa-apa.
Bang Gary memanggil orang ini Bang Willi, sedangkan orang ini memanggil Bang Gary hanya dengan sebutan Gary.
Jelas bahwa Bang Gary memiliki posisi yang lebih rendah dari orang ini.
Kenapa nama orang ini tidak pernah dengar sebelumnya?
Tak lama kemudian, sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di benak Wijaya.
__ADS_1
Jangan-jangan……
Sepertinya tidak salah lagi, kalau tidak, di seluruh Indonesia ini, siapa lagi yang bisa membuat Bang Gary memanggil seseorang dengan sebutan abang?
Wijaya segera tersenyum, dan buru-buru mendekati Williamson seperti penjilat.
"Bang Willi, kan? Oh, aku benar-benar minta maaf karena sudah menyinggungmu barusan, jadi tolong jangan permasalahan bawahan tidak penting sepertiku."
Hah? Williamson terkejut untuk sementara waktu, Wijaya ini pandai membaca situasi?
Wijaya mengeluarkan kartu emas gelap dari saku, dan menyerahkannya pada Williamson dengan kedua tangan sambil berbicara,
"Bang Willi, klub ini milik keluarga Brown, jadi pengeluaranmu hari ini anggap saja traktiranku, ini kartu VIP tertinggi dari keluarga Brown kami, yang fungsinya bisa mengratiskan semua pembelian barang di industri keluarga Brown, anggap saja hadiah dariku, tolong diterima."
Apa-apaan situasi ini? Kenapa seketika bisa menjadi seramah ini?
Jelas merupakan orang bodoh jika tidak menerima kartu VIP ini bukan?
"Kalau begitu terima kasih Tuan Muda Brown." Williamson mengulurkan tangan dan mengambil kartu itu.
"Tolong jangan panggil aku Tuan Muda Brown, itu terlalu meninggikanku, panggil saja Jaya kecil."
Sialan, kenapa menjadi merendah diri seperti itu?
Williamson sedikit tidak nyaman dengan ini. .
"Kalau begitu, Bang Willi, bagaimana kalau aku atur satu meja? Kebetulan Bang Gary juga ada di sana, aku sudah lama tidak bertemu Bang Gary, jadi sekalian kita minum-minum bersama sampai puas?"
Wijaya ini benar-benar cukup pintar bergaul dan ramah.
Namun, membahas tentang minum-minum, Williamson tidak keberatan, justru Gary dan yang lainnya tiba-tiba merasa sedikit mual.
"Lupakan saja Jaya kecil, lain kali saja."
“Bang Willi, ini sudah larut, kenapa tidak sudahi saja?” Gary bertanya pada Williamson.
"Baiklah, ayo pulang." Williamson juga tidak ingin minum lagi, karena tidak ingin merasakan perasaan tidak nyaman lagi karena kandung kemih yang penuh.
“Anu…Bang Willi, terima kasih.” Melihat Williamson hendak pergi, Vannesa membuka suara.
"Oh, tidak masalah." Williamson mengangguk dengan santai, berbalik dan pergi begitu saja.
"Hei..." Vannesa terkejut.
Semenjak menjadi artis, semua pria yang bertemu dengannya pasti berusaha bersikap sopan dalam segala hal untuk mendekatinya dengan segala cara, tapi pria ini bahkan tidak melihatnya saat hendak pergi.
"Oh iya." Williamson tiba-tiba berbalik.
Jantung Vannesa berdetak kencang, dan muncul secercah harapan dalam hati.
Apa dia ingin minta nomor telepon atau kontak lainnya?
Kalau iya, apa dia harus kasih?
Hati Vannesa tiba-tiba terasa manis, dan sudah memikirkan jawabannya.
"Jaya kecil, karena wanita ini tidak mau, jadi jangan ganggu dia lagi."
Williamson berkata pada Wijaya, lalu menoleh dan pergi.
__ADS_1
Semangat Vannesa seketika memudar.
Untuk beberapa alasan, kemarahan yang tak dapat dijelaskan muncul di hatinya.
"Bang Willi, kau mau kembali ke Kota Santapolis besok?"
"Ya, aku akan kembali besok pagi."
Williamson dan Gary mengobrol sambil berjalan.
Vannesa yang awalnya dalam suasana hati yang rendah, tiba-tiba bersemangat kembali saat mendengar itu.
Dia buru-buru mengeluarkan ponsel dan menelepon manajernya.
"Kak Winna, aku berubah pikiran, beritahu pihak Kota Santapolis kalau aku akan ikut jadi juri di kompetisi nyanyi pemuda kota bulan depan."
Williamson menginap di rumah Jones selama satu malam.
Keesokan harinya, setelah pamit kepada Tuan Besar Jones, Gary dan yang lainnya memiliki misi dan berangkat pagi, jadi Gamila yang mengantar Williamson ke stasiun.
Setelah bergaul dengan Williamson, Gamila semakin penasaran dengan Williamson.
Williamson ini memiliki keterampilan medis, jago minum-minum dan jago berkelahi, sungguh pria yang aneh.
Tidak tahu mengapa, Gamila yang menjadi semakin hati-hati dalam menjaga citra diri saat bersama Williamson.
"Gamila, kalau ada waktu jangan lupa main ke Kota Santapolis, aku pasti akan menyambutmu dengan baik."
"Yah, aku pasti akan main ke sana kalau ada waktu luang."
Williamson pun naik kereta api, sedangkan Gamila yang melihat perginya kereta api, tiba-tiba merasa sedikit rasa kehilangan di hatinya.
Seketika muncul keinginan untuk pergi ke Kota Santapolis.
Di dalam kereta api, Williamson membuka grup Heavenly Trading Circle, tapi Nabi Lao Zi masih belum ada di sana.
Williamson diam-diam merasa kesal, karena tidak ada yang membagi amplop merah kalau Nabi Lao Zi tidak ada.
Kemudian, dia mengirim pesan lain kepada Jocelyn.
"Jocelyn, aku sudah naik kereta api, kira-kira bakal sampai malam ini."
"Ya." jawaban Jocelyn sangat sederhana, dan tidak menunjukkan suasana hati apa pun.
Di dalam kereta api di sebelah Williamson.
Lina sedang duduk di rak bagasi atas, merentangkan dua betis seksinya dan bibirnya cemberut.
"Huh! Kesal sekali! Pria sialan itu benar-benar menyentuhku, menyentuhku..."
"Ayahanda lebih membuat kesal lagi, bersikeras bilang pria sialan itu punya dukungan besar di belakang, jadi menyuruhku mendekatinya untuk menyelidiki kebenarannya, buat kesal saja!"
"Hmph, aku tidak peduli lagi, lebih baik kembali ke Kota Santapolis dulu, kalau lain kali bertemu dengannya lagi, aku pasti akan memberinya pelajaran!"
"Ngomong-ngomong kereta api ini cukup mengesankan, bisa bergerak tanpa dituangkan kekuatan gaib, hanya saja kecepatannya sedikit lambat..."
Setelah turun dari kereta api, begitu Williamson baru saja keluar dari stasiun.
"Itu dia!" sebuah tatapan ganas melirik tidak jauh dari tempat Williamson berada.
__ADS_1