
“Ada apa?” Williamson mendekati Johnson dan Daniel.
“Willi, Frank sudah keterlaluan!” Daniel dan Johnson berkata dengan marah kepada Williamson.
Ternyata Daniel bersama Johnson ke Jalan Antik dan melewati tempat perjudian batu judi, dan mereka berdua masuk untuk melihat-lihat karena penasaran.
Saat itu, ada sebuah batu yang laku keras dan Johnson kebetulan memiliki sedikit uang, jadi ingin mencoba keberuntungan.
Tanpa diduga, Frank yang juga mahasiswa Universitas Santapolis kebetulan tertarik dengan batu tersebut, karena Johnson mau, jadi dia bersaing untuk menawar yang lebih tinggi beberapa kali.
Begitu merasakan tatapan tajam Frank, Johnson yang menyadari situasi tidak beres buru-buru menyerah.
Frank bersama dengan Ethan, Derek, dan George, disebut sebagai Keempat Tuan Muda dari Universitas Santapolis, dan bukanlah orang yang mampu disinggung oleh Johnson.
Batu itu berhasil dibeli oleh Frank, tapi begitu dipotong, ternyata dalamnya tidak berisi apa-apa, hanya tumpukan batu yang tidak berguna.
Frank yang marah merasa Johnson sengaja merebut batu dengannya, yang membuatnya kehilangan banyak uang secara cuma-cuma, jadi dia langsung menyuruh orang-orangnya untuk mengeroyok Johnson dan Daniel.
Johnson dan Daniel tidak berani berbicara, dan hanya bisa menahan amarah sampai pulang.
Setelah Williamson mendengar ini, hatinya menjadi dingin.
Daniel dan Johnson adalah teman baiknya, terutama Johnson, yang sudah membantu Willi melewati kesulitan masalah keluarga selama tiga tahun ini, setiap kali Johnson membeli makan atau pakaian, dia tidak akan lupa untuk memberi Willi, bahkan selalu memberi hadiah selama liburan musim dingin dan musim panas agar Willi bisa membawa pulang hadiah tersebut untuk kedua orang tuanya.
Williamson tidak mengatakannya, tapi mengingat semua itu dalam hati.
Dulu, jika teman baiknya dibully, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi sekarang sudah berbeda, kali ini Williamson akan bertindak!
“Ayo kita ke tempat perjudian batu!” Nada bicara Williamson mengandung sedikit permusuhan!
"Tempat perjudian batu? Untuk apa ke sana?"
"Cari panggung!"
Johnson dan Daniel masuk ke dalam mobil Williamson dengan tatapan bingung.
Tempat perjudian batu berada di bagian terdalam Jalan Antik
Halaman yang luas dipenuhi dengan batu-batu dengan warna, bentuk, dan ukuran yang bermacam-macam.
Beberapa pria, wanita dari muda hingga tua sedang memilih batu dengan teliti.
Di sebelah mesin pemotong batu, sekelompok orang berkumpul.
“Naik! Naik! Naik!” Seorang pria paruh baya berjongkok sambil menatap mesin pemotong batu dengan mata memerah, mengepalkan tinjunya dengan gugup, dan terus berteriak.
“Whoa!” Begitu batu pecah, ternyata tidak berisi apa-apa.
“Berakhir sudah!” Pria gemuk pendek itu kehilangan tenaga hingga terduduk di tanah dan pingsan.
Di sebelah mesin pemotong batu lainnya.
“Hahahaha, hijau! Tak kusangka aku akan kaya seperti ini!!” Pria tua yang baru saja mendapat batu berisi zamrud besar itu sedang menari dengan gembira.
Begitu Williamson memasuki tempat perjudian batu ini, dia sudah melihat dua adegan yang benar-benar berlawanan itu dan tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
Tidak heran dalam beberapa novel menceritakan bahwa perjudian batu itu memiliki sisi surga dan sisi neraka.
__ADS_1
Saat ini, bukankah adegan-adegan ini contoh yang nyata?
“Willi, Frank masih di sana.” Mata Daniel tajam, dan menemukan Frank yang duduk tidak jauh.
"Mm?” Williamson juga melihat Frank, tapi yang tidak tak terduga adalah dia juga bertemu dengan seorang kenalan di sini.
Alasan mengapa disebut sebagai kenalan, itu karena Williamson dan orang ini tidak terlalu akrab satu sama lain, terlebih lagi hanya kenalan sepihak.
Begitu sedang ragu untuk menyapa, pihak lain justru berinisiatif datang lebih dulu.
“Saudara Williamson, kebetulan sekali, datang judi batu juga?” Ethan menyapa Williamson sambil tersenyum.
Williamson masih memiliki kesan yang baik tentang Ethan. Bagaimanapun, Ethan yang membantunya saat George kalah taruhan dan mengingkari janji.
“Tuan Muda Clark ternyata juga ada di sini.” Williamson tidak tahu nama Ethan, karena George memanggilnya Tuan Muda Clark, jadi dia hanya ikut.
“Tidak perlu memanggilku seperti itu, aku lebih tua darimu, bagaimana kalau Kak Ethan saja, aku akan memanggilmu Willi.” Ethan berkata sambil bergerak ke arah tempat duduk kosong di sebelahnya.
“Baiklah, Kak Ethan!” Williamson tidak segan-segan juga dan menyapa Johnson dan Daniel untuk duduk bersama.
"Tuan Muda Frank, Johnson dan Daniel sudah balik, apa mau beri pelajaran lagi?” Seorang pengikut berkata kepada Frank.
“Hah?” Frank menoleh dan melihat Williamson dan yang lainnya sedang duduk di samping Ethan.
"Mengapa mereka bisa duduk dengan Tuan Muda Clark?" Frank tertegun, "Jangan ke sana dulu, kita bicarakan saja nanti."
"Willi, Tuan Hans sangat menyukai lukisanmu, kudengar begitu beliau kembali ke Kota Wallwin, beliau akan menikmati dan mempelajari karya lukisan tersebut setiap malam," kata Ethan.
Pfftt!
Williamson baru saja menyesap air saat duduk, tapi hampir menyembur keluar begitu mendengar itu.
“Baguslah kalau suka, sepertinya Tuan Hans masih cukup aktif ya.” Williamson menatap Ethan dengan tatapan 'kita para lelaki mengerti', tapi dalam hati kaget dengan pria tua ini.
Pria tua itu beneran membuka lukisan tersebut setiap malam untuk dipelajari? Sepertinya pria tua itu juga orang yang sok suci, tidaklah polos seperti yang terlihat.
"Hah? Hahahaha..." Ethan tertawa terbahak-bahak saat mengerti apa yang dikatakan Williamson.
Dengan begitu, keduanya tampak semakin dekat.
“Ayo Willi, temani Kak Ethan mu ini pilih batu.” Setelah mengobrol sebentar, Ethan menyapa Williamson dan berjalan menuju tumpukan batu di halaman.
"Yang ini sepertinya tidak buruk." Setelah beberapa saat, Ethan mengambil sebuah batu yang sangat menarik.
“Willi, ini adalah pertemuan yang langka, anggap saja aku kasih batu ini sebagai hadiah, bagaimana?” Ethan berkata dengan riang.
Williamson tertegun sejenak, walaupun tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Ethan, tapi Ethan justru begitu murah hati padanya.
Oleh karena itu, kesan Ethan di mata Williamson untuk meningkat banyak.
Williamson melirik batu itu, dan sebuah ide muncul.
Dia akan mencoba efek dari penglihatan surgawi.
Diam-diam dia melafalkan: Penglihatan Surgawi, Aktif!
Dalam sekejap, mata Williamson tertutup kabut biru yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa.
“Kalau Kak Ethan beneran ingin memberiku sebuah batu, mengapa tidak membiarkanku pilih sendiri?” Williamson menoleh dan berkata sambil tersenyum pada Ethan.
__ADS_1
“Hahahaa, tentu saja tidak ada masalah, tapi jangan hemat-hemat ya.” Ethan mengira Williamson takut batu yang dipegangnya ini terlalu mahal, lagi pula dilihat dari segi penampilan, sepertinya tidak ada batu lain di seluruh halaman ini yang lebih mahal dari yang dipilihnya ini.
Dia tanpa sadar mengagumi sifat Williamson yang begitu bijaksana dan tidak serakah.
Williamson mengangguk sedikit, dan dengan penglihatan surgawinya, dia melirik beberapa batu di sekitar.
"Yang ini saja." Williamson menghampiri sebuah batu yang kasar dan kecil.
Ethan tertegun sejenak, kemudian tertawa: "Willi, sudah kubilang untuk jangan segan padaku, hemat juga tidak sampai sejauh ini, kan?"
Williamson menggelengkan kepalanya, "Kak Ethan, jangan khawatir, batu ini jauh lebih berharga daripada yang baru saja kamu pilih itu."
"Oh?" Ethan sedikit bingung saat melihat ekspresi percaya diri Williamson.
“Huh, idiot!” Frank yang tidak jauh tersenyum menghina dan berjalan mendekat.
"Kalau Tuan Muda Clark tidak menginginkan batu ini, maka akan kubeli."
Saat Ethan hendak berbicara, Williamson buru-buru memasang ekspresi menyanjung dan berkata, "Karena Tuan Muda Frank tertarik, maka kami akan mengalah saja."
"Huh!" Frank merasa terhina dalam hati, "Kalau begitu, terima kasih."
"Willi, ini..." Setelah Frank pergi, Ethan menatap Williamson dengan heran.
Awalnya, Ethan ingin beli untuk dirinya sendiri kalau Williamson mau.
Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam berjudi batu, Ethan dengan sekilas tahu bahwa potensi batu itu akan lebih tinggi.
Ini jelas bagaikan memungut uang yang tidak berkepemilikan.
"Kamu akan tahu nanti." Williamson menunjukkan ekspresi yang tak terduga.
Setelah memilih batu, Ethan membayar untuk Williamson.
Batu yang dipilih oleh Williamson seharga 12 juta, sedangkan yang Fank seharga 96 juta.
“Ayo, kita pergi potong.” Ethan juga ingin melihat apa sebenarnya isi batu yang dipilih Williamson.
Batu Williamson dan Frank diangkut ke dua mesin pemotong batu secara bersamaan.
“Potong." Frank melirik batu jelek Williamson dengan jijik, dan berkata kepada tukang pemotong.
“Tolong potong ini.” Williamson tidak mau kalah.
Melihat ada orang yang memotong batu lagi, orang-orang mulai berkumpul.
"Oh, batu ini kemungkinan isinya hijau itu hampir 100%!"
"Itu benar, dari penampilan saja sudah jelas, isi ********** sama sekali tidak kecil."
"Kawan, boleh jual batu ini padaku? Aku beli dengan 100 juta."
Orang-orang yang melihat ini langsung berkumpul di sekitar Frank, dan menatap batu Frank sambil membicarakannya.
Beberapa orang bahkan ingin membeli dengan harga tinggi.
Mendengarkan obrolan semua orang, Frank merasa bangga, memiringkan kepalanya dan melirik batu di Williamson.
Selain Williamson, Daniel, Johnson dan Ethan, disekitar mereka bahkan tidak ada satu penonton pun.
__ADS_1
“Hmph, idiot!” Frank mendengus dingin di dalam hatinya.
"Ini hijau!" Seseorang berteriak, dan semua orang memusatkan perhatian mereka pada batu Frank.