Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 16 Lelaki Tua Misterius


__ADS_3

Kata-kata si botak Giant yang terlalu berlebihan membuat Williamson merasa canggung untuk sementara waktu, begitu juga dengan Jocelyn yang tersipu malu.


"Guru sama Istri Guru mau ke mana? Biar gue antar aja." Giant juga tampaknya menyadari bahwa kata-katanya sedikit berlebihan, jadi dia buru-buru mengganti topik pembicaraan, dan membantu Jocelyn membawa barang belanja, sambil menyuruh anak buahnya membantu Williamson membawa barang lainnya.


Williamson memikirkan hal ini, memang merepotkan membawa pulang barang sebanyak ini.


"Oke, antar kami ke sekolah."


Giant menyuruh anak buahnya pergi, kemudian mengantar Williamson dan Jocelyn ke Universitas Santapolis dengan mobil van.


“Ada kenalan yang jual mobil nggak?” Williamson bertanya secara terang-terangan setelah mengantar Jocelyn ke lantai atas.


"Guru mau mobil baru atau bekas?"


"Mobil bekas aja." Williamson memikirkan hal ini, jika dia membeli mobil baru, dia harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan plat nomornya, tapi dia harus pulang kampung besok, jadi akan lebih baik mobil bekas.


"Gue punya kenalan yang jual mobil bekas, biar gue antar Guru ke sana."


Tiba di Dealer mobil bekas.


"Bang Giant." Begitu Giant turun dari mobil, seorang pria dengan mulut yang agak runcing datang menyambut.


"Vincent, ada mobil bagus nggak baru-baru ini, tunjukin sama Guru gue."


“Guru?” Vincent tercengang, “Oke oke, tolong ikut denganku.”


Vincent ini sangat pintar, si botak Giant  adalah preman di daerah ini, mereka yang berbisnis memang harus menyenangkan para preman, melihat Giant memanggil Williamson dengan sebutan Guru, sikap Vincent otomatis juga hormat.


"Bang Giant, sama bos, semua mobil ini adalah harta di toko ini, kalau bukan karena Bang Giant, aku tidak mungkin tega keluarkan."


Vincent membawa Williamson dan si kepala botak ke halaman kecil di belakang, dan menunjuk ke deretan mobil di depannya.


Williamson melirik semuanya, Mercedes-Benz, BMW, Land Rover, Audi... semuanya adalah mobil mewah.


“Land Rover ini berapa?” Williamson langsung jatuh cinta dengan Land Rover Evoque putih di tengah.


“Bos punya selera yang bagus, Land Rover ini mobil yang masih baru, cuma pernah menempuh 20.000 kilometer dalam waktu kurang dari dua tahun, performanya luar biasa dalam semua aspek, kalau bukan karena mendesak butuh uang, pemilik aslinya tak mungkin menjualnya."


“Langsung bilang aja berapa.” Williamson terlalu malas untuk mendengarkan kata-kata Vincent yang bertele-tele.


"Kalau bos mau, 5,2 miliar rupiah."


“Lo gila ya? Guru gue lo juga berani ambil untung banyak!" Giant melangkah maju dan mendorong Vincent sampai terhuyung-huyung.


"Bang Giant, ini sudah sangat murah," Kata Vincent.


"Nggak, turun lagi."


Vincent menggertakkan giginya, "5 miliar, tidak bisa kurang lagi."


Williamson memutar matanya, angka ini terlalu gede!


"4,4 miliar, langsung sepakat." Kata Williamson.


"I-ini..." Monyet itu sedikit malu.


“Sialan! Udah beri muka, kan?!” Giant hendak bergegas maju lagi, tetapi dihentikan oleh Williamson.


“Bos, tambahkan 200 juta lagi, 4,6 miliar langsung bawa pulang.” Vincent juga tidak berani menyinggung Giant, jadi dia hanya bisa untung sedikit.

__ADS_1


Setelah membayar uang, Williamson langsung mengendarai mobilnya, sedangkan untuk berbagai prosedur yang harus dilakukan, ada si botak Giant yang urus, jadi dia tidak perlu khawatir sama sekali.


Mengemudi mobil, merasakan lingkungan yang nyaman dan interior mobil yang mewah, Williamson menghela nafas, dia tidak pernah berpikir bisa mengendarai mobil mewah seperti ini.


Di tengah jalan, Williamson pergi ke supermarket WalMart lagi, membeli banyak survernir dan anggur terkenal, dan mengisi penuh bagasi Land Rover yang luas.


"Woah! itu Land Rover!"


"Anak mana itu? Kayaknya datang sini buat rayu cewek deh."


"Sialan, kalau gua bisa punya mobil seperti itu, mati sekalipun gua udah tenang."


Begitu Williamson memasuki kampus, semua orang iri padanya.


Begitu memarkir mobil di lantai bawah, tepat saat Williamson memasuki asrama, Daniel langsung bergegas mendekat.


“Jangan nempel-nempel!” Williamson menggunakan banyak sekali tenaga untuk mendorong tubuh Daniel yang gemuk.


"Willi, gue lihat lo balik pakai Land Rover."


"Iya." Williamson juga seorang anak muda, jadi alisnya terangkat, dan wajahnya sombong.


"Tunggu, seriusan?"


"Willi, pinjam Land Rover punya siapa itu?"


Ketika yang lain di asrama mendengar ini, mereka semua berkumpul dan terus bertanya.


Williamson memutar matanya, "Siapa yang minjam? Aku beli sendiri"


“Nggak mungkin.” Mereka sudah menjadi teman dekat selama tiga tahun, orang-orang ini tahu segalanya tentang kondisi keluarga Williamson.


"Iya, terjual 20 miliar!" Williamson tidak menyembunyikan apapun pada teman dekatnya.


“Waduh! Ini gila!” Mata Johnson terbuka lebar.


Begitu mendengar ini, yang lainnya langsung buru-buru tanya pada Johnson apa yang sebenarnya terjadi, dan Johnson pun menceritakan kejadian di mana Williamson dan Jocelyn pergi ke Balai Kuno waktu itu.


Semua orang kaget.


"Sialan, cuma sehari nggak ketemu, Wilii udah jadi orang kaya."


"Pinjam dong dua hari."


"Kusarankan mobilnya jadi mobil khusus cari cewek untuk asrama no. 301 kita ini aja!"


"Kita harus makan besar! Willi yang traktir!"


Setelah terkejut, mereka mengepung Williamson lagi.


"Aku harus pulang kampung besok, aku traktir waktu balik ke sini lagi."


Williamson melambaikan tangannya, dia tidak pernah pelit terhadap teman dekatnya.


"Oke!" Kata-kata Williamson segera membuat mereka heboh lagi.


“Aku pulang kampung besok.” Williamson mengirim pesan kepada Jocelyn.


"Oh."

__ADS_1


"Kayaknya sekitar seminggu, kamu latih aja teknik vokal sesuai metode yang kuajari."


"Oh."


"Kenapa cuma oh? Nggak tega aku pergi ya?"


"Jangan mikir yang nggak nggak, hati-hati di jalan."


Setelah duduk di tempat tidur, Jocelyn merasakan kekosongan di hatinya, apa jangan-jangan dia benar-benar enggan terhadap kepergian Williamson?


Kampung halaman Williamson itu jaraknya lebih dari 300 kilometer dari Kota Santapolis. Pagi-pagi sekali, Williamson sudah berangkat.


Pagi hari adalah jam kerja, dan butuh waktu hampir satu jam hanya untuk keluar kota.


Williamson memarkir mobil di pintu masuk jalan tol.


Kemudian mengeluarkan ponsel, membuka grup High Heaven Trading Circle, dan terus menatap layar dengan fokus.


Sudah hampir waktunya bagi Nabi Lao Zi untuk mengirim paket hadiah.


Ternyata memang benar, tidak sampai lima menit berlalu.


Ding dong!


Sebuah paket hadiah besar muncul di layar.


Rebut!


Tangan Anda lambat, paket hadiah telah habis direbut!


Sial! Williamson menepuk setir dengan marah.


Karena tidak dapat paket hadiah, dia hanya bisa terus mengemudi di jalan.


Di jalan raya lumayan sepi, jadi Williamson langsung ngebut sampai 150 km/jam, mobil masih melaju dengan baik.


Williamson tidak bisa menahan diri dan menghela nafas, mobil bagus memang berbeda.


“Eh?” Saat di tengah jalan, Williamson melihat sebuah mobil Audi A8 hitam diparkir di sabuk parkir darurat tidak jauh di depan.


Seorang pria muda dengan wajah khawatir melambaikan tangannya ke mobil-mobil di jalan.


Hanya saja mobil-mobil di jalan itu hanya lewat begitu saja tanpa berhenti sama sekali.


"Kayaknya habis minyak atau rusak deh." Williamson melambat.


Kalau ada seseorang yang sedang kesulitan, dia akan membantu sebisanya, ini adalah pemikiran Williamson.


“Ada apa?” Memarkir mobil di zona darurat, Williamson turun dari mobil dan bertanya.


"Oh, halo, ada yang tidak beres dengan mobil saya, Bos kami lagi buru-buru mau ke Kota Metro tepatnya Kabupaten Kranji, apa boleh..."


Sebelum pemuda itu selesai berbicara, pintu belakang mobil Audi terbuka, seorang lelaki tua berusia awal tujuh puluhan dengan semangat yang kuat berjalan keluar.


"Anak muda, bisa bantu antar aku?"


Ketika Williamson mengangkat kepalanya, tubuhnya bergetar hebat!


Kemudian, cahaya biru yang tidak terlihat oleh orang biasa muncul di pupil matanya.

__ADS_1


Penglihatan Surgawi aktif secara otomatis!


__ADS_2