
Wajah Kenny penuh amarah, dan bergegas dengan agresif.
Dia tidak peduli lagi mau sakit atau tidak, dan melakukan tendangan berturut-turut ke arah dada Williamson dengan cepat dan kejam.
“Tidak tahu diri!" Williamson menghindari tendangan pertama.
Ketika tendangan kedua Kenny mengenai sasaran, Williamson tiba-tiba mengulurkan tangan untuk meraih pergelangan kaki dan sendi lutut Kenny.
"Krakk!"
Kenny mengeluarkan teriakan menyedihkan, kaki tersebut langsung kehilangan tenaga.
Tapi Kenny cukup tangguh, menahan rasa sakit dan meninju Williamson.
Williamson tidak terburu-buru, menoleh lalu meraih lengan Kenny lagi, dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya!
"Krak!"
Suara tulang retak terdengar lagi!
Lengan Kenny yang patah tidak berfungsi lagi.
Karena satu lengan dan satu kaki patah, tubuh Kenny kehilangan keseimbangan dan jatuh.
“Maju semua! Hajar dia!” Kenny yang jatuh menahan rasa sakit dan memberi perintah.
Tujuh pria berbaju hitam memainkan pipa baja di tangan dan bergegas maju.
Williamson mencibir, mengalahkan keroco-keroco ini hanyalah masalah sepele.
Setelah beberapa saat, semua pria berpakaian hitam tumbang.
Williamson menepuk tangan dan berjalan ke arah Kenny.
"Kaki lumpuh."
"Sial, julukanku kaki mematikan."
“Kau jelas kaki lumpuh sekarang.” Williamson langsung menamparnya.
"Katakan, siapa yang mengutus kalian melakukan ini?!"
"Hmph." Kenny mendengus dingin dan membuang muka.
"Aku tahu pelakunya George tanpa menunggu kau membocorkannya." kata Williamson dengan ringan.
"George membawa 30 anggota Black Eagle Club juga ke hutan sebelumnya, aku tidak tahu apa hubungan antara George dan Black Eagle Club, tapi kusaran jangan cari masalah denganku lagi, karena kalian tidak akan sanggup menanggung konsekuensinya."
Setelah berbicara, Williamson berbalik dan kembali ke dalam mobil.
"Guru keren sekali, bahkan Bang Kenny yang terkenal sebagai kaki mematikan saja kalah, ini ..."
“Turun dari mobil!” sebelum Si Botak Giant selesai berbicara, Williamson langsung memotong.
"T-Turun? Guru, aku..." Si Botak Giant mengira Williamson tidak puas jadi sedikit panik.
Williamson memutar mata dan menampar kepala Si Botak Giant.
"Bukannya kau sendiri yang bilang sudah setir mobil rongsokan selama lebih belasan tahun? Tidak mau mobil mewah ya?"
Williamson menunjuk ke arah dua buah mobil BMW yang terparkir di sisi jalan.
"Pilih satu, bawa pulang saja mana yang kau suka."
“Serius?” Si Botak Giant sedikit bingung.
"Turun dan bawa pulang kalau mau, atau kita berangkat sekarang." Williamson tampak tidak sabar.
“Mau, jelas aku mau!” Si Botak Giant sangat senang hingga buru-buru melompat keluar dari mobil dan masuk ke salah satu mobil BMW tersebut.
Kedua mobil pun melaju ke kota.
Si Botak Giant yang duduk di dalam mobil BMW yang mewah tersenyum kegirangan, dia benar-benar tidak menyangka akan tiba hari di mana dia bisa punya mobil semewah ini.
"Kedepannya harus ikuti Guru dan lebih keras!"
__ADS_1
Di markas Black Eagle Club, ketiga anggota keluarga menatap Kenny dengan kemarahan di wajah mereka.
"Sial, ini belum berakhir, aku akan membawa beberapa orang untuk membalaskan dendam adik keempat."
"Adik ketiga, kembali ke sini! Musuh kali ini jago, jangan gegabah, biarkan abang keduamu menyambung kembali tangan dan kaki adik keempat yang patah dulu"
Yanto, sang saudara kedua, memasang wajah cemberut.
"Cih, hanya terkilir saja itu, bukan masalah besar."
Begitu Yanto mengatakan itu, yang lainnya langsung menarik napas lega.
Yanto ini sangat bagus dalam bergulat dan bertarung, serta ahli dalam mematahkan tangan dan kaki orang lain, jadi karena Yanto sudah bilang begitu, maka tangan dan kaki adik keempat pasti bisa disembuhkan.
Yanto berjalan mendekat dan meraih lengan Kenny.
"Adik keempat, ini akan sedikit sakit, tahanlah."
"Jangan khawatir Abang kedua, akan kutahan."
Yanto mengangguk, lalu melakukan gerakan mendorong dan menarik tulang Kenny!
"Ukh!" Kenny mengerang kesakitan.
"Krakk!"
“Sudah.” Yanto melepaskan lengan Kenny.
"Utak-atik tulang orang itu sudah spesialisku, bagiku ini tidaklah seberapa..."
"Krakk!"
"Um?"
"Abang kedua, sepertinya sedikit kita beres dan lepas lagi."
Kata Kenny sambil menggertakkan giginya untuk menahan rasa sakit.
Ekspresi Yanto langsung berubah, kemudian mengulurkan tangan untuk meraih lengan Kenny.
"Tak masalah, akan kuperbaiki lagi."
"Krakk!"
"Huh!"
"Sudah."
Kali ini, Yanto sangat yakin dan memeriksa secara khusus.
"Urut tulang ini bisa disebut teknis juga, susah-susah gampang..."
"Krakk!"
"Huh!"
"Bang kedua, sepertinya lepas lagi!"
Yanto langsung tersipu, dan ekspresinya berubah lagi.
"Sini kulihat."
"Sialan, beneran lepas ini."
“Krakk!” Yanto mengulang sekali lagi.
Kali ini, Yanto sudah periksa dengan ekstra hati-hati dan yakin 100% sudah tersambung.
"Kali ini jangan khawatir, aku jamin dengan kepribadianku kalau ini tidak akan..."
"Krakk!"
"Huh!"
Ekspresi Yanto berubah total!
__ADS_1
Dia langsung meraih lengan Kenny tanpa peduli Kenny akan kesakitan atau tidak lagi.
"Krakk!"
"Huh!"
tersambung.
Kurang dari semenit.
"Krakk!"
"Huh!"
Lepas lagi.
Yanto menyambung kembali!
Dalam waktu kurang dari satu menit, itu lepas lagi!
Yanto tidak percaya dan menyambung kembali!
Dalam waktu kurang dari satu menit, lepas lagi!
'Sialan, akan kusambung sampai bisa!'
Lepas lagi!
'Kusambung!'
Lepas lagi!
'Kusambung!'
Lepas lagi!
……
Wajah Yanto sampai pucat, dan merasa dendam dengan lengan Kenny.
Kenny menderita setengah hati, dengan ekspresi menyedihkan yang hampir menangis dan akhirnya tidak tahan lagi.
"Abang kedua, sudah, sudah, jangan sambung lagi, kupikir ini tidak buruk juga, lihatlah bisa putar 360 derajat, cukup bagus kok."
Jika ini terus berlanjut, Kenny pasti akan mati duluan sebelum lengannya sembuh.
Setelah Williamson tiba, dia langsung ke rumah Jocelyn untuk melihat kondisi Nicky.
Williamson menyerahkan pil pengembali roh versi manusia kepada Jocelyn dan memerintahkannya untuk menyuap Nicky.
Williamson membuka penglihatan surgawi dan menemukan bahwa jarak antara sosok jiwa dan tubuh Nicky yang tumpang tindih semakin dekat, dilihat dari efek ini, jika dua pil sisanya dikonsumsi, sepertinya bisa bergabung kembali.
Begitu kedua sosok bergabung kembali, maka Nicky mungkin bisa bangun.
Selama periode tersebut, Calvin menelepon Williamson dan memberitahu Williamson bahwa ayah Doni telah pulih, jadi sesuai perjanjian sebelumnya, Doni sudah mentransfer 10 miliar ke rekening Calvin.
Williamson menyuruh Calvin untuk mentransfer uang itu ke rekeningnya, begitu uangnya masuk, Williamson diam-diam senang, "Bagus!"
“Guru, kamu di mana?” Si Botak Giant menelepon.
"Ada apa?"
"Bukankah kamu menyuruhku cari rumah? Sekarang ada rumah yang dijual dengan harga murah, sekitar 10% lebih rendah dari harga pasar, diskon yang cukup bagus"
"Di mana kau, aku akan segera ke sana."
Williamson merasa sedikit bersemangat dalam hati, apakah akhirnya bisa memiliki rumah sendiri?
Setelah masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju ke pinggiran selatan bersama Si Botak Giant.
Saat mengemudi, Williamson merasa tempatnya sangat akrab.
Begitu sampai, Williamson langsung tertawa lepas.
Kebetulan sekali!
__ADS_1