Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 20 Percaya Tidak Kubunuh Kau


__ADS_3

Begitu polisi itu selesai berbicara, Jonathan langsung panik.


"Pak polisi, Willi kami ini anak jujur, mungkin ada sedikit kesalahan laporan?” Jonathan mengeluarkan sebatang rokok dan ingin memberikannya sambil berkata dengan senyum di wajahnya.


Orang-orang di aula juga menyadari kejadian di pintu, begitu mendengar polisi datang untuk menangkap Williamson, mereka langsung heboh dan mulai bisik satu sama lain.


“Mau salah atau nggak, ikut aku kembali ke kantor polisi dulu.” Polisi itu langsung mendekat untuk menangkap Williamson.


"Tunggu sebentar," Jane bergegas keluar.


"Oh, kamu paman Jimmy, kan?"


Jimmy disebut Jane adalah putra Arya, Williamson mulai mengerti ketika mendengar ini.


"Arya itu bibi keduanya Willi, aku juga hadiri acara putramu yang merayakan umur satu bulan penuh, kamu tidak ingat?"


Jane buru-buru mendekat.


Edmund mendengus dingin di dalam hati, karena memang Arya yang menyuruhnya datang ke sini.


"Aku nggak peduli kau itu siapa, aku tetap akan tangkap orang yang melanggar hukum."


"I-ini ..." Jane benar-benar panik.


"Tunggu sebentar, aku telepon Arya dulu."


Setelah mengatakan itu, Jane mengeluarkan ponselnya dengan panik.


"Arya, tolong telepon adikmu, dia lagi di depan pintu restoran Pearl kota buat nangkap Willi."


Arya memegang ponsel dengan senang.


"Edmund sekarang itu polisi, aku mana mungkin bisa ikut campur urusan polisi."


Arya langsung menutup telepon dengan cemberut, itulah akibat dari tidak mengundangnya, punya sedikit uang aja udah begitu sombong! Rasain itu!


“Arya, kamu suruh Edmund nangkap Willi? A-apa yang kamu lakukan?” Charles menghentakkan kakinya dengan cemas di samping.


“Memangnya kenapa? Siapa suruh mereka berani nggak nganggap aku!” Arya memelototi Charles.


"Tidak, aku harus pergi ke sana juga."


Setelah duduk di sana dan berpikir sebentar, Arya keluar, masuk ke dalam mobil dan mau langsung pergi ke kota.


“Arya, cepat kasih tahu Edmund, jangan sampai sesuatu terjadi pada Willi.” Charles buru-buru mengejar dan berteriak.


“Jangan sampai sesuatu terjadi padanya.” Arya mendengus dingin.


'Kau pikir aku ke sana buat nyelamatin dia?


'Aku justru pikir ini kesempatan bagus buat balas kembali.'


"Nggak usah basa-basi lagi, cepat masuk mobil."


Di pintu masuk restoran, Edmund mendesak Williamson dengan tidak sabar.


"Mau nangkap aku juga setidaknya kasih tahu aku salah apa?"


"Kami menduga kau terkait dengan kasus perampokan di Kota Central, karena jumlah yang terlibat sangat besar, jadi kami akan membawamu kembali ke kantor polisi untuk penyelidikan."


Williamson tertawa marah, benar-benar fitnah total.


“Oke, aku akan ikut denganmu.” Karena tidak melakukan kesalahan apapun, Williamson tidak takut sama sekali.


"Tapi aku mau nelpon temanku dulu.” Sebelum pergi, dia harus berbicara dengan James.


“Hahaha Willi, aku udah di perjalanan ke sana.” Tawa hangat James terdengar setelah panggilan tersambung.


"Pak Jones, maaf, mungkin tak bisa menyambutmu kali ini, polisi curiga aku melakukan perampokan, jadi aku harus pergi bersama mereka."

__ADS_1


Telepon langsung menjadi hening.


Tidak lama kemudian.


“Tunggu aku, paling lama sepuluh menit!” Suara Pak Jones penuh amarah.


"Walikota Roy, antar aku ke Restoran Pearl dalam sepuluh menit!"


“Baik!” Roy juga merasakan kemarahan James, jadi dia tidak berani bertanya lebih banyak, dan mendesak supir untuk mempercepat.


“Cit!” Sebuah mobil BYD berhenti di depan restoran.


"Arya udah datang." Jane sangat senang, berpikir karena kerabat sendiri, Arya bilang tidak peduli, tapi akhirnya datang membantu juga.


Ketika Arya turun dari mobil, Jane bergegas menemuinya.


"Arya, tolong ngomong sama Edmund..."


"Edmund, kamu sebagai petugas polisi harus taat aturan hukum, gapapa nggak pedulikan aku, tapi Willi itu keponakanku, tolong sebisa mungkin kurangi waktu pengurungannya di penjara."


Arya langsung berjalan melewati Jane berjalan tanpa menoleh ke arah Jane sama sekali.


“Apa? Harus dipenjara?” Jonathan juga kaget.


Hati Williamson tiba-tiba menjadi dingin.


Sampai sekarang, dia sudah tahu jelas bahwa Arya yang sedang mencelakainya.


"Ini adalah terakhir kalinya aku memanggilmu bibi kedua, mulai sekarang, keluarga kami nggak berhubungan denganmu lagi."


"Willi, apa yang kamu bicarakan!" Jane buru-buru menghentikan Williamson.


Sekarang, mereka harus memohon pada Arya.


“Oh begitu ya Willi, kuliah bentar di kota aja udah pandai nggak nganggap kerabat sendiri ya?” Arya bersemangat.


"Kalian semua udah dengar sendiri, kan? Tadi aku udah minta belas kasihan pada adikku karena bagaimanapun Willi itu masih keponakanku, aku ini orang yang berperasaan, tapi Willi malah nggak anggap aku sebagai bibi keduanya."


Setelah Arya selesai berbicara, dia berdiri di samping dan tampak senang dengan seringai di wajah.


"Arya, Willi masih kecil, tolong beri kakak iparmu ini muka, jangan marah padanya." Jane melangkah maju dan memohon.


"Memberimu muka? Putramu yang hebat aja nggak nganggap aku sebagai bibi keduanya, mana mungkin aku anggap kamu itu kakak iparku? Karena kamu bukan kakak iparku, untuk apa aku beri muka?"


Wajah Jane marah sampai memerah.


"Ma, nggak usah dilayani, semakin kamu mohon, dia bakal makin sombong."


Karena sekarang sudah dipuncak masalah, Williamson tidak sungkan lagi.


"Tapi……"


"Jangan khawatir Ma, aku nggak melakukan apa pun, jadi nggak usah takut sama mereka."


"Naif sekali, kayaknya makin bodoh dia sekolahnya."


“Nggak usah basa-basi lagi, bawa pergi aja!” Arya mengisyaratkan matanya pada Edmund, dan Edmund langsung meraih Williamson.


“Lepaskan, aku bisa jalan sendiri!” Williamson melepaskan diri, dan hampir membuat Edmund jatuh.


"Brengsek, beraninya kau menyerang polisi, percaya atau tidak kubunuh kau sekarang juga!"


"Willi, sepertinya kudengar ada yang mau bunuh kamu ya?"


Sebuah mobil Passat hitam berhenti di tepi jalan, James berjalan keluar, diikuti oleh Roy dan Noah.


“Pak Jones, bisa kamu lihat, kayaknya traktir hari ini nggak jadi deh.” Williamson mengangkat bahu, dan pada saat yang sama hatinya merasa lega.


Williamson sudah menebak identitas James, dan saat meneleponnya barusan, dia tidak bermaksud meminta bantuan.

__ADS_1


"Kenapa bisa tak jadi? Ayuk, temani aku masuk, siapa yang berani menghentikanku?"


Setelah mengatakan itu, James mengajak Williamson masuk ke dalam.


“Tua bangka sialan! Kau tak lihat polisi lagi nangani kasus? Kalau tak mau terlibat masalah, main jauh-jauh sana!” Edmund langsung kesal begitu melihat James berani mengabaikannya.


Noah melotot, dan hendak bergegas maju, tetapi dihentikan oleh James.


“Kamu baru saja manggil aku tua bangka?” James tampak terkejut.


“Hahahaha, hei Roy, polisi ini manggil aku tua bangka.” James tertawa marah.


Keringat dingin di tubuh Roy pun terus mengalir keluar.


Marah sampai cemberut, Roy menunjuk Edmund dan berteriak, "S-siapa namamu!"


Sebelum Edmund sempat berbicara, Arya membuka mulut duluan.


"Memangnya kamu siapa? Berani teriak-teriak sama polisi, mau masuk penjara ya?"


"Kurang ajar!” Roy hampir marah.


Edmund awalnya memandang Roy dengan arogan, tetapi entah kenapa, semakin melihat, Edmund merasa Roy terlihat sangat familiar.


Waktu secara tidak sengaja melirik mobil Passat yang baru saja berhenti itu, dan melirik nomor platnya, Edmund langsung terpana di tempat, dan mengangkat kepalanya,


"Tunggu!"


Kepala Edmund berteriak, dan langsung tersadar penuh dari sisa mabuknya.


Pada saat ini, Arya masih memberi pelajaran pada Roy sambil menaruh tangan di pinggang.


"Kamu pikir nyetir mobil rusak ini aja udah boleh sombong sama polisi ya? Aku itu cuma butuh satu kata buat beresin kamu, di kota Metro ini enggak ada yang berani provokasi adikku, kantor polisi itu udah kayak punyaku, sesuka hatiku mau penjarain kamu berapa lama!"


“Kak, tolong hentikan.” Edmund ketakutan sampai hampir saja kencing celana, dia mengulurkan tangan dan menarik-narik pakaian Arya.


"Kenapa tarik-tarik? Edmund, kamu itu harus sedikit lebih kejam lagi kalau hadapi pembangkangan semacam ini, penjarakan mereka beberapa hari baru mereka takut dan patuh."


Edmund serasa ingin menyumbat mulut kakaknya, begitu melihat ekspresi Roy sudah muram, hatinya berteriak ketakutan.


"Sial, berakhir sudah."


Begitu dia menggertakkan giginya, Edmund langsung berlutut.


“Edmund, ngapain berlutut?” Arya tampak bingung.


"Walikota Roy, saya salah, saya beneran tahu kesalahan saya, tolong lepaskan saya."


“Walikota Roy?” Arya tercengang, lalu bereaksi kembali.


"K-kamu itu walikota?"


Tanpa menunggu Roy berbicara, James tersenyum dingin, "Roy, pengelolaan kota Metro ini lumayan bagus ya, kayaknya kamu layak dipilih satu periode lagi."


"Tuan Jones..." Ketika Roy mendengar ini, keringat dingin mengalir di wajahnya, dan hatinya setengah dingin.


"Hhh!


James bahkan tidak melihatnya, dan langsung menoleh ke arah Williamson sambil berkata dengan senyuman, "Willi, yuk kita masuk, aku tak akan terlewat dengan traktiranmu, hahahaha."


Ditinggalkan di tempat oleh James, Roy tahu bahwa akan sulit baginya untuk melangkah lebih jauh dalam jabatannya lagi.


Beralih untuk melihat Arya dan Edmund, Roy serasa sudah tidak sabar untuk menelan mereka berdua hidup-hidup, dia mengeluarkan ponsel, dan menelepon.


“Siapa sih?” Ricky yang merupakan direktur kantor polisi, sedang asik bergoyang di atas tubuh mulus seorang polwan baru, dia kesal total dengan panggilan telepon yang berdering tidak pada waktunya.


"Ricky!" Teriak Roy.


Berpikir kemungkinan besar karirnya akan segera berakhir, walikota yang selalu dikenal karena keanggunannya, tidak lagi peduli dengan sikapnya.

__ADS_1


“Siapa sih?” Ricky juga marah besar karena suasananya jadi rusak.


"Brengsek kau!"


__ADS_2