Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 19 Membuat Kesalahan


__ADS_3

“Willi, cepat jujur sama mama, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kamu nggak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, kan?" Melihat semua tetangga sudah pergi, Jane menanyakan keraguan yang ada di dalam hatinya.


“Ngomong apa sih? Masa kamu nggak paham sama karakter anakmu sendiri? Willi bukan orang kayak gitu.” Jonathan menegur.


"Tua bangka, memangnya kamu tahu uang sebanyak itu dari mana?"


“Aku tak tahu, tanya aja sama Willi.” Jonathan menoleh.


“Pa, Ma, jangan khawatir, uangnya halal kok.” Williamson bergegas maju dan berkata.


“Aku pakai 800 ribu buat beli lukisan kuno di sebuah kios jalanan Balai Kuno, tapi ternyata lukisan itu adalah karya asli Tang Bohu, jadi kujual sama seorang pak tua seharga 20 miliar."


"Apa! 20 miliar?! Ini..." Seluruh keluarga tercengang.


Ini adalah jumlah uang yang tidak dapat mereka peroleh walau bekerja seumur hidup mereka.


“S-satu lukisan terjual 20 miliar?” Jonathan sampai tergagap.


"Iya, putramu udah jadi miliarder sekarang."


"Bagus, bagus." Jonathan berjalan bolak-balik di sekitar ruangan dengan penuh semangat.


“Dasar tua bangka, cepat duduk sana, kamu buat aku pusing aja.” Sementara Jane menghela nafas lega, dia juga sangat gembira.


“Abang serius?” Alicia membuka mulutnya lebar-lebar dengan penuh kejut.


"Ya, tentu saja."


"Syukurlah, sekarang kita udah kaya, Papa dan Mama nggak perlu kerja terlalu keras lagi."


Kata-kata Alicia membuat Williamson merasa sedih.


Memang benar, demi Williamson dan Alicia, Jonathan dan Jane sudah banyak menderita.


"Pa, Ma, nggak perlu kerja lagi, biar aku yang nafkahi ke depannya."


"Mana boleh? Kamu masih harus nyimpan uangnya buat nikah nanti, kamu harus hemat, kudengar nikah di kota itu sangat mahal." Tegur Jonathan.


"Tua bangka, bisa ngomong yang lebih baik nggak? Willi, abaikan aja dia." Jane tersenyum dan menatap Jonathan dengan tatapan kosong.


Williamson tersenyum sedikit, merasa sangat hangat di hatinya.


Dia tumbuh dalam pertengkaran sehari-hari yang akrab dari kedua orang tuanya, dalam ingatannya, meskipun kehidupannya sulit, tapi benar-benar bahagia.


Williamson mengeluarkan pakaian yang dia beli untuk kedua orang tuanya dan Alicia lagi, tetapi dia tidak berani memberitahu mereka harganya, jika tidak, orang tuanya pasti akan simpan dan tidak tega untuk memakainya.


"Pa, Ma, aku mau ke restoran dan mengundang tetangga kita buat makan bersama besok, aku mau berterima kasih kepada mereka karena telah merawat keluarga kita selama ini." Setelah percakapan, Williamson bertanya kepada orang tuanya.


“Memang seharusnya begitu, kita nggak boleh lupa kebaikan mereka, aku akan memberitahu mereka.” Jonathan tidak bisa duduk diam begitu mendengar ini, dan langsung pergi untuk memberitahu para tetangga.

__ADS_1


"Tua bangka itu pasti udah pergi nyombongin diri di luar sana."


Williamson tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.


Menjadi seorang anak yang bisa membuat orang tua bangga sudah termasuk berbakti.


"Yuk Alicia, ikut abang pesan restorannya."


“Yah.” Alicia juga ingin naik mobil, dan dengan senang hati ikut Williamson ke kota.


"Willi bakal traktir kalian makan di restoran kota besok, ingat ya, akan kusuruh Willi buat antar kalian."


Jonathan mendatangi dan memberitahu para tetangga dengan senyum bangga di wajahnya, dan itu membuatnya terlihat jauh lebih muda.


Tidak butuh waktu lama bagi seluruh desa untuk mengetahui bahwa anak laki-laki dari keluarga Jonathan sudah sukses, dan akan menghabiskan banyak uang untuk traktir penduduk desa untuk makan bersama di kota.


Arya juga mendengar kabar itu di rumah, sehingga dia duduk di atas sambil marah-marah,


"Willi ini, cuma punya sedikit uang haram aja udah berani nggak anggap serius aku, sampai aku nggak diundang, apa kebaikanku untuk keluarga mereka selama ini dilupakan begitu aja? Nggak bermoral sama sekali!"


"Sejak kapan kamu memperlakukan keluarga abang tertua dengan baik?" Charles bergumam.


"Apa yang kamu gumamkan? Keponakanmu bahkan nggak ngundang kamu, tapi kamu masih bisa duduk diam di sana? Lihatlah penampilan dirimu itu, dulu aku pasti buta sampai milih kamu."


"Nggak, nggak boleh, aku harus beri mereka sedikit pelajaran, kalau nggak pasti makin jadi." Arya langsung pergi dan membuat panggilan.


"Abang pasti nggak tahu, seberapa keterlaluan bibi kedua selama ini. Bulan lalu, keponakan keluarganya merayakan usia satu bulan pertama, jadi dia mengundang mama dan bibi tertua untuk pergi dengan hadiah, tapi mama dan bibi tertua nggak terlalu akrab dengan keluarga mereka, jadi hanya kasih 400 ribu, namun, di depan semua orang, bibi kedua mempermalukan mama dan bibi tertua, kemudian maksa dikasih masing-masing 1 juta, waktu mau duduk bersama juga, dia bilang terlalu ramai, jadi nyuruh mama sama bibi tertua duduk makan bersama para pelayan, bahkan nggak ngizinin masuk, orang-orang yang di dalam itu semuanya dari keluarga mereka, mama aja marah sampai nangis waktu pulang."


Williamson mendengarkan tanpa ekspresi, merasa sedih karena derita orang tuanya sekaligus kesal karena Arya sudah keterlaluan.


"Jangan khawatir Alicia, orang kayak dia bakal kena karma suatu hari nanti."


Saat malam hari, Williamson dan kedua orang tuanya ngobrol bersama sampai larut malam sebelum tidur. Ketika tidur di atas kang rumah, Williamson merasa sangat nyaman.


Keesokan harinya, Williamson tak berhasil dapat paket hadiah lagi, yang membuatnya kesal parah sampai hampir banting ponsel.


Hari ini dia harus menjemput dan mengantar para tetangga. Awalnya, Williamson ingin menyewa bus agar bisa ke sana dengan sekali perjalanan, tetapi Jonathan bersikeras agar Williamson menyetir sendiri dan bolak-balik mengantar para tetangga.


Williamson tak bisa menolak, dan juga mengerti pikiran ayahnya, sehingga nyetir bolak-balik belasan kali.


Semua orang sudah tiba dan berkumpul di restoran, Williamson tiba-tiba teringat sesuatu.


Berjalan ke pintu, Williamson menelepon,


"Halo siapa ini?"


"Apa ini Pak Jones? Aku Willi."


"Bentar ya."

__ADS_1


"Willi ya, haha." Setelah beberapa saat, tawa hangat terdengar dari ponsel.


"Pak Jones masih di kota Metro?"


"Iya."


"Siang ini, aku bakal ada di Restoran Pearl kota, kebetulan aku undang para tetangga untuk makan bersama, kalau bisa datang duduk dan makanlah bersama kami, sebagai bentuk kewajiban dariku?"


"Oh? Hahaha, menarik sekali anak muda, oke, bentar lagi aku ke sana."


Setelah menutup telepon, James berkata kepada seorang pemuda di belakangnya, "Batalkan semua jadwal siang ini, aku mau ke Restoran Pearl."


"Ketua, ini ..."


"Apa?"


"Ketua, para pemimpin provinsi, kota dan kabupaten sudah dalam perjalanan."


“Siapa yang suruh mereka datang?” James tiba-tiba menjadi marah, yang membuat pemuda di belakangnya langsung keringatan.


"Suruh mereka pulang, kutembak mati yang datang!"


"Baik, baik.” Pemuda itu terus mengangguk dan menyeka keringat di dahi.


"Hhhh, lupakan aja." James menghela nafas, "Biarkan Noah yang sampaikan pada mereka aja."


“Terima kasih, Ketua, atas pengertian Anda.” Pemuda itu tersentuh.


Jika dia yang diminta untuk menyampaikan informasi ini, para bos besar provinsi dan kota pasti akan marah besar, dan mungkin dia akan dibuat cacat di tempat.


"Kalau gitu, Walikota Roy, temani aku ke sana, yang lain cukup lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing."


Mata Roy berbinar, "Baik, Ketua."


Di Restoran Pearl, lobi penuh dengan orang, mereka semua berbicara tentang seberapa menjanjikannya masa depan Williamson, dan betapa beruntungnya keluarga Jonathan.


Jonathan dan Jane menyapa penduduk desa dengan hangat, mereka belum pernah sebahagia ini sebelumnya.


Williamson berdiri di pintu restoran dan terus melihat sekeliling.


“Willi, orang-orang sudah lama duduk, gimana kalau mulai aja?” Setelah beberapa saat, Jonathan berjalan menghampiri Williamson.


"Pa, bentar lagi. "


"Siapa yang kamu tunggu?"


"Tamu terhormat!"


Begitu Williamson selesai berbicara, sebuah mobil polisi yang sirinenya masih berbunyi berhenti di depan Williamson.

__ADS_1


“Di sini siapa yang namanya Williamson!” Di dalam mobil seorang polisi yang berbau alkohol keluar.


Williamson terkejut, "Saya, ada apa?"


__ADS_2