
Kembali ke asrama, Daniel dan Johnson sedang bermain game.
"Ndut, kumpulkan teman-teman kita, hari ini sudah jumat, malam ini aku traktir ke Hotel King.”
Sebelum balik kampung, Williamson sudah janji akan traktir, tapi tidak sempat karena ada urusan.
Kebetulan hari ini akhir pekan, jadi bisa mengajak teman-teman baik di asrama untuk pergi keluar dan bersenang-senang bersama.
Williamson itu orang yang selalu menepati janji.
"Bagus, kupikir kamu lupa." semua orang bersorak.
“Boleh bawa keluarga?” tanya Vennes sambil mendorong kacamata di hidungnya.
"Boleh, sekalian bawa saja pacar atau menantu orang lain."
Pemberitahuan diserahkan kepada Daniel, dan Johnson bertanggung jawab untuk memesan kamar pribadi, Williamson tidak perlu repot-repot, hanya perlu bertanggung jawab atas pembayaran tagihannya nanti.
Setelah menyalakan ponsel, Williamson mengirim pesan pada Jocelyn.
"Aku ajak teman se-asramaku makan malam di Restoran King malam ini, temani aku ke sana ya."
"Ya." Jocelyn setuju.
"Oke, nanti aku jemput jam 7 malam."
"Langsung jemput aku di rumah saja, aku tidak pergi ke sekolah hari ini."
Tepat setelah mengirim pesan, panggilan dari Calvin masuk.
"Guru, Doni datang mencariku lagi hari ini, dia ingin memintamu mengobati penyakit Ayahnya."
"Aku tidak peduli!" Williamson langsung menutup telepon.
Mengobati? Itu sama saja cari mati!
Selain itu, dari sikap keluarganya, bahkan jika tidak ada hantu wanita itu, Williamson tetap akan menolak.
Sekitar pukul 6 sore, Williamson memarkir mobil di lantai bawah rumah Jocelyn.
"Jocelyn, turunlah." Williamson menelepon Jocelyn.
Setelah beberapa saat, Jocelyn berjalan keluar dari rumah.
Tapi, di belakangnya diikuti oleh nyamuk penganggu yang besar.
"Apa lihat-lihat? Aku khawatir kau macam-macam pada Kakakku, jadi aku mau melindungi Kakakku, tidak boleh ya?" Nora memutar matanya ke arah Williamson.
Mana mungkin Williamson melarang?
"Williamson, Nora bilang ujian masuk perguruan tinggi sudah mau mulai, jadi mau keluar bersantai dan mengurangi stres." Jocelyn takut Williamson tidak senang jadi buru-buru menjelaskan.
Nora tidak peduli tentang ini, sebelum kakaknya selesai berbicara, gadis kecil itu sudah membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya.
Williamson mengangkat bahu dan masuk ke mobil bersama Jocelyn.
“Hei, bajingan, ini mobil Land Rover-mu? Kudengar sangat mahal.” begitu masuk mobil, Nora melihat sekeliling dan tampak penasaran.
Wajah Williamson menjadi muram, kenapa dia tiba-tiba dipanggil bajingan?
__ADS_1
“Nora, panggil Kak Willi, kenapa jadi bajingan?” Jocelyn berkata dengan sedih.
"Kak, dia itu memang bajingan, Kakak pasti tidak sadar matanya terus menatap tubuh kita saat itu, sampai-sampai hampir meneteskan air liur."
Pfftt!
Gadis ini benar-benar blak-blakan sekali.
Wajah Jocelyn memerah, dia memelototi Williamson dengan ganas, karena juga ingat dengan apa yang terjadi hari itu.
“Kak, dia membantu Ayah kita pasti punya tujuan, kamu harus berhati-hati, jangan sampai tertipu.” Nora berkata di samping telinga Jocelyn.
Hanya saja Williamson bisa mendengar suara itu dari jauh.
"Hei bajingan, berapa banyak gadis yang sudah kamu tipu dengan mobil rongsokan ini?"
Williamson marah dan merasa gadis kecil ini seperti memiliki dendam dengannya.
Sepertinya kesan pertama memang sangat penting.
Tapi kapan Williamson pernah kalah dalam pertempuran adu mulut?
Memutar kepalanya, Williamson menunjukkan ekspresi kesal terhadap Nora.
“Apa lihat-lihat? Kendarai mobilmu!" Nora mengepalkan tinju kecilnya ke arah Williamson.
"Aku ini tampan, gagah dan berbakat. Melek, cakap dan berpengetahuan luas, satu lambaian tangan santai saja sudah ada banyak gadis yang berbaris untuk bersamaku, untuk apa aku harus pakai tipu-tipu segala?" Williamson cemberut.
"Cuh! Tidak tahu malu! Tampan dan gagah? Jelas si badut!"
"Hah? Kenapa bisa tahu panggilanku si badut? Jangan-jangan naksir aku? Kamu terlalu kecil, aku tak mau." Williamson menoleh dan melirik Nora.
"Hah? Kenapa bisa tahu aku besar atau kecil? Pernah ngintip aku ya?"
"Tak tahu malu!"
"Tidak tahu malu itu motoku, kamu bahkan sampai tahu ini, masih menyangkal tidak naksir aku?"
"Mimpi! Mana mungkin aku tertarik pada orang sepertimu!"
……
Jocelyn hampir gila, apa kedua orang di dalam mobil ini adalah musuh bebuyutan?
Williamson dan Nora saling bertarung sepanjang jalan, dan tidak berhenti sampai mereka mencapai pintu masuk Hotel King.
Setelah turun dari mobil, Johnson dan Daniel sudah menunggu di pintu.
"Yuk Willi, semuanya sudah sampai, tinggal kamu."
Daniel melirik ke belakang Williamson dengan tatapan iri.
Dia bahkan tidak punya pacar, tetapi Willi membawa dua gadis sekaligus, terlebih lagi berkualitas tinggi, ini sungguh tidak masuk akal.
"Willi, siapa ini?"
Daniel mengenal Jocelyn, tetapi ini adalah pertama kalinya bertemu Nora.
"Dia adik Jocelyn, adik iparku," kata Williamson santai.
__ADS_1
"Siapa adik iparmu, bajingan?! Kalau mau menikahi Kakakku harus lewati aku dulu."
“Sudahlah Nora, jangan ribut, ayo masuk.” Jocelyn tersipu dan menarik Nora.
Mata Daniel sampai terbelalak.
Waduh Willi ini, kakak dan adik dua-duanya mau!
Kamar pribadi berada di lantai tiga, ruangannya sangat luas dan dapat menampung puluhan orang, dekorasi emas bergaya istana kuno memang layak disebut megah di bawah sinar cahaya lampu.
Begitu Williamson masuk, semua orang berdiri.
Dikatakan bahwa menyewa kamar pribadi saja sudah 36 juta, makanannya sudah tidak perlu dijelaskan lagi harganya.
Jika bukan karena traktiran Williamson, banyak dari mereka mungkin tidak akan pernah bisa ke sini seumur hidup.
Oleh karena itu, selain berterima kasih kepada Williamson, mereka juga secara tidak sadar menunjukkan rasa hormat.
Penghormatan terhadap perbedaan identitas.
"Mari kita duduk." Williamson menyapa orang-orang untuk duduk, yang datang ternyata lumayan ramai.
Selain lima teman satu asrama, mereka masing-masing membawa pacar.
Tentu saja kecuali si gendut Daniel yang merupakan lajang kampus.
Ditambah dua orang yang dibawa Williamson, totalnya adalah 12 orang.
Pelayan membawakan menu.
"Nih, kalian mau makan apa?" Williamson menyerahkan menu kepada semua orang.
"Willi, kamu yang pesan saja."
"Iya terserah kamu mau pesan apa, kami ikut alur saja."
Beberapa teman sekamar hanya melirik harga yang tertera di menu dan terkejut.
Satu hidangan saja sudah cukup untuk menjadi biaya hidup selama sebulan.
Tanpa sadar, mereka semua menjadi sedikit berhati-hati.
“Johnson, pesanlah.” Williamson berhenti bertanya dan menyerahkan menu pada Johnson.
Johnson tersenyum, membalik-balik menu, dan memesan beberapa hidangan.
Setelah selesai, Williamson memesan beberapa hidangan panas lagi dan beberapa kotak bir.
Pelayan mundur dan pergi ke dapur untuk menyajikan hidangan.
Bisa katakan bahwa sistem kerja restoran kelas atas ini sangat efisien, setelah beberapa saat, makanan dan minuman disajikan satu per satu.
Williamson adalah orang pertama yang mengisi anggur.
Ketika semua orang melihatnya, mereka juga buru-buru mengisi gelas mereka.
"Teman-teman sekalian," Williamson mengangkat gelas anggur.
"Segelas anggur pertama ini, aku tidak akan basa-basi, hanya satu kalimat, bersulang untuk persahabatan!"
__ADS_1