
"Tuan Muda Frank, bukannya itu orang yang kita temui di tempat perjudian? Ayo kita maju dan hajar dia," kata seorang gangster berpakaian mencolok.
“Jangan ke sana.” Frank buru-buru menghentikannya.
"Saat kembali dari tempat perjudian, aku sudah menyelidiki orang ini, namanya Williamson, kuliah di Universitas Santapolis juga, dia orang yang mematahkan jari George Braus, dan jago bertarung."
“Dia orangnya? Kita biarkan dia pergi begitu saja?” berita tentang jari George yang dipatahkan sudah menyebar luas.
"Membiarkannya pergi? Mana mungkin?” Frank mencibir dan mengeluarkan ponsel.
"Tuan Muda George, ini Frank ..."
Williamson yang baru saja keluar dari stasiun, langsung melihat sosok Si Botak Giant besar di tengah kerumunan.
"Guru, di sini! Tolong minggir!" ketika Si Botak Giant melihat Williamson, dia buru-buru melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil mengusir kerumunan.
Orang-orang di sekitar jelas menjauh dan pada saat yang sama melirik Williamson dengan aneh.
Williamson seketika merasa kesal dan langsung menampar kepala botak itu.
"Kenapa teriak-teriak? Kau malah menakuti orang-orang, mereka mungkin berpikir kalau aku ini preman yang sama sepertimu, sungguh merusak citra diri."
“Guru, kita memang sama.” Si Botak Giant itu mengusap kepala botaknya sendiri.
Pfffttt!
Sama palamu!
Williamson menyesal membiarkan Si Botak Giant datang menjemputnya.
Begitu tiba di dekat mobil, Si Botak Giant buru-buru membuka pintu kursi sebelah pengemudi.
"Guru, silakan masuk mobil."
Setelah Williamson masuk ke dalam mobil, Si Botak Giant buru-buru duduk di kursi pengemudi, dan mobil langsung melaju cepat.
"Pelan-pelan setirnya." Williamson yang kaget dan hampir menabrak kaca depan, langsung menampar kepala Si Botak Giant dengan marah.
"Aku selalu setir mobil rongsokan belasan tahun, ini pertama kalinya setir mobil mewah seperti Land Rover, jadi terlalu bersemangat," kata Si Botak Giant sambil tersenyum.
Mobil melaju keluar dari stasiun dan memasuki Jalan Orchard setelah beberapa saat.
Di sekitar Jalan Orchard adalah daerah baru yang dikembangkan di Kota Santapolis, jalannya sangat lebar, tapi minim penduduk.
Di persimpangan depan, dua mobil BMW putih berhenti di sisi jalan dengan lampu berkedip ganda.
Melihat mobil Williamson mendekat, delapan pria berpakaian hitam tiba-tiba turun dari mobil, dengan pipa baja di masing-masing tangan mereka sambil berdiri di tengah jalan.
"Srettt!" Si Botak Giant menghentikan mobil.
__ADS_1
"Keluar dari mobil!" teriak seorang pria berbaju hitam dengan keras.
Si Botak Giant langsung mengunci pintu mobil.
"Guru..."
Orang-orang ini jelas datang mencari kesalahan, terlebih lagi semuanya memegang senjata, sedangkan pihaknya sendiri hanya dua orang, jadi situasinya tidak optimis.
Williamson memutar mata dan merasa prihatin lagi dengan IQ Si Botak Giant.
Apa gunanya mengunci pintu mobil? Apa menurutmu orang-orang ini tidak akan menghancurkan mobil?
"Buka pintunya, kita akan keluar" Williamson menginstruksikan.
Setelah keluar dari mobil, Si Botak Giant itu tampak waspada dan melindungi Williamson di belakangnya.
"Cukup setia ternyata." Williamson mengangguk puas.
Begitu melihat musuh, Williamson kaget karena mengenal mereka.
Orang-orang yang persis sama dibawah pimpinan Kenny, yang pernah menyerangnya di sekolah
"Ada apa ini? Belum puas bermain denganku sebelumnya?" kata Williamson sambil mengangkat alis.
“Hmph, sebelumnya kau bisa lolos berkat sekolahmu yang ramai, tapi tamat sudah riwayatmu hari ini!” Kenny mengangkat pipa baja di tangan dengan arogan.
"Guru, ini gawat, Kenny itu salah satu empat pemimpin Black Eagle Club, sangat jago bertarung, dikenal karena kaki yang mematikan, kudengar dia bisa mematahkan tiang kayu dengan satu tendangan."
Si Botak Giant itu mengepal erat tinjunya dan berbisik dengan gugup.
"Kaki yang mematikan? Akan kubuat jadi kaki yang lumpuh hari ini!"
Williamson yang pernah menderita karena tendangan Kenny sebelumnya, selalu tidak punya kesempatan untuk balas dendam, tapi tidak menyangka mangsanya akan datang sendiri
"Guru, aku akan pergi menyanjung dulu, kalau tidak mempan aku akan menahan mereka, saat itu larilah secepat yang guru bisa." kata Si Botak Giant dengan serius dan berjalan maju.
"Bukankah ini Bang Kenny dari Black Eagle Club? Aku Si Botak Giant, Bang Kenny, ini rokok." Si Botak Giant itu menyerahkan sebatang rokok dan berkata sambil tersenyum.
“Rokok kepalamu.” Kenny langsung menyingkirkan rokok itu, "Memangnya kau siapa? Menjauh dariku!”
Si Botak Giant sekilas menjadi dingin, tapi masih memaksa diri untuk menahan amarah.
"Hahaha, Bang Kenny, kita bekerja di jalan yang sama, kalau ada salah, lain kali aku minta maaf secara langsung, dan menebus kesalahan dengan traktiran besar di Hotel king, bagaimana?"
Kenny cemberut dan menepuk kepala Si Botak Giant dengan pipa baja di tangan.
"Menebus kesalahan? Kau pikir dirimu itu siapa? Memangnya layak minta maaf padaku?” nada suara Kenny sangat arogan.
Wajah Si Botak Giant juga menjadi dingin.
__ADS_1
"Bang Kenny, maksudmu masalah hari ini tidak bisa kita bicarakan baik-baik?"
Si Botak Giant menyipitkan mata, kemudian menendang ke arah Kenny tanpa peringatan.
Pada saat yang sama juga membalikkan wajah untuk berteriak pada Williamson, "Guru, cepat lari!"
Williamson menyaksikan ini dari belakang dan merasa tersentuh.
Si Botak Giant ini benar-benar cukup setia pada saat kritis!
“Sial, beraninya menendangku!” Kenny bergerak ke samping dan menghindari tendangan Si Botak Giant.
Setelah itu, pipa baja langsung menghantam ke arah kepala Si Botak Giant dengan kuat.
“Habislah!” Si Botak Giant menutup mata dengan erat, karena gerakan Kenny terlalu cepat, dia tidak bisa menghindar sama sekali.
“Hmm?” setelah menunggu lama, kepala Si Botak Giant tidak merasakan apa pun.
Tunggu, jangan-jangan pukulan tadi meleset?
Si Botak Giant membuka mata dan tertegun.
Terlihat Williamson sedang berdiri di tengah-tengah Si Botak Giant dan Kenny, dengan tangan kanan yang secara horizontal menangkap pipa baja Kenny.
Urat semakin terlihat menonjol di lengan kokoh Kenny, bekas luka di wajah Kenny juga berkedut karena terlalu memaksakan diri.
“Lepaskan!” Kenny mengerahkan seluruh tenaganya, tapi pipa baja tidak bisa ditarik kembali.
"Guru?" mata Si Botak Giant terbelalak, dia tahu Williamson jago bertarung, tapi menyangka Williamson bisa sanggup menghadapi gangster kuat setingkat Kenny.
"Beberapa anjing saja tidak bisa bereskan, memalukan sekali, mundur sana." Williamson marah.
"Baiki!” Si Botak Giant buru-buru mundur dan menonton pertunjukan.
“Lepaskan aku!” setelah waktu yang lama, Kenny menjadi cemas, dan menggunakan dua tangan untuk merebut kembali pipa bajanya.
"Sial, dasar pelit, untuk apa berusaha sekeras itu hanya demi sebuah pipa rongsokan? Ambil saja kalau mau." Williamson tersenyum dengan jijik, kemudian melepaskannya.
Seluruh tenaga Kenny sekarang digunakan untuk menarik kembali pipa baja itu.
Tapi tanpa diduga Williamson tiba-tiba melepaskannya.
Jadi karena ketidakseimbangan Kenny langsung mundur beberapa langkah dan jatuh.
"Hahaha, si idiot ini!" Si Botak Giant yang melihat di belakang tertawa terbahak-bahak.
Wajah Kenny jelas terlihat kesal, dia bangkit dari tanah dan bahkan tidak menginginkan pipa baja itu lagi.
"Aku akan menendangmu sampai menjadi sampah hari ini!"
__ADS_1