
Dewa Guntur: Manik Petir, terbuat dari kumpulan 18 baut guntur dari Dewa Guntur, dijual sekarang!
Setelah memasuki obrolan grup, Williamson memperhatikan Dewa Guntur sedang tengah menjual barangnya.
Dewa Tota King: 80 poin jasa
Dewa Nezha: 180 poin jasa
Dewa Tota King: @Dewa Nezha, 280 (Stiker Emoji marah)
Dewa Nezha: 380
Dewa Tota King: @Dewa Nezha, kamu bodoh ya? Itu setara dengan harga penghasilan tahunan seluruh keluarga! (Stiker emoji marah)
Dewa Guntur: Hahaha, teruskan, cepat bayar! (Emoji tertawa)
Dewa kecil yang bingung: Dicari obat yang bisa mengobati pasien yang sedang koma.
Williamson mengirimkan pesan.
Dewa Erlang: Koma? Apa itu?
Dewi Bulan: Nggak tau juga, belum pernah dengar.
Pat kay: Soal tanaman, langsung cari profesionalnya aja @Dewa Penebang
Dewa Penebang: @Dewa kecil yang bingung, bilang aja pohon mana yang harus kuberesin? Bayarannya nanti setelah pekerjaan selesai.
Williamson: …
Orang-orang di High Heaven Trading Circle benar-benar tidak tahu apa itu koma.
Williamson: 'Oh benar! Aku berteman dengan Kera Sakti, mungkin bisa minta bantuannya?'
"Dewa Kera Sakti, apa kamu di sana? Aku butuh saran tentang sesuatu." Williamson mengirim pesan kepada Kera Sakti.
Semenit berlalu namun tidak ada jawaban.
5 menit berlalu dan masih belum ada balasan.
10 menit.
20 menit.
“Kayaknya Kera Sakti lagi sibuk deh." Williamson menyimpan ponselnya.
Merasa sedikit lapar, Williamson menuju ke gang di belakang sekolah untuk makan semangkuk mie. Setelah makan, dia memutuskan untuk berkeliling sebentar.
Saat berjalan, Williamson mendongak dan melihat si kepala botak Giant bersama dua preman kecil berpakaian bunga menuju ke arahnya.
"Sial, itu si botak Giant!" Williamson terkejut.
Sudah terlalu dekat, tidak ada waktu untuk melarikan diri lagi!
'Persetan, kupertaruhkan aja deh.' Pikir Williamson.
"Hei! Giant! Kita bertemu lagi! "Williamson melompat muncul di depan Giant, dan itu berhasil menakutinya.
"Lo gila ya! Ternyata lo … " Giant mengenali Williamson dan meraih kerahnya dengan erat.
“Keparat sialan! Beraninya mempermainkan gue di bar! Gue bunuh lo!"
"Bentar!" Teriak Williamson dengan cemas,
"Mempermainkanmu? Mana mungkin? Aku mengagumi Kak Giant!"
"Masih nggak mau ngaku?! Lagu yang lo nyanyi itu tentang perlindungan seorang ayah untuk putranya kan?" Tanya Giant dengan marah.
"Ya, kenapa?" Williamson bertindak bingung.
"Sialan, maksud lo itu gue anak lo gitu?" Teriak Giant.
"Aku seriusan nggak bermaksud seperti itu Kak Giant!" Williamson tampak sangat bersalah.
“Semua orang tahu kalau kamu itu bersedia melakukan apa saja dan berkorban untuk anak buahmu, bagaikan seorang ayah yang melindungi putranya, hanya itu yang kucoba ekspresikan." Williamson menjelaskan.
__ADS_1
"Tunggu, itu maksud lo?" Giant menatap Williamson dengan curiga.
"Iya, coba mikir, kalau aku beneran mempermainkanmu, apa reaksiku begitu bertemu denganmu?”
"Tentu lo bakal kabur! Karena aku pasti bakal hajar lo habis-habisan!" Jawab Giant.
"Nah, aku nggak kabur kan? Kalau aku beneran mempermainkanmu, mana mungkin aku datang menyapamu? Aku tidak bodoh." Williamson mengangkat bahu.
“Brengsek, lo betul juga." Kata Giant sambil menggosok kepala.
“Inilah yang sebenarnya terjadi, Kak Giant, kita ngomong dulu baik-baik, walau kamu nggak percaya padaku sekalipun, kamu seharusnya percaya sama kecerdasanmu sendiri, kan? Nggak banyak orang di planet ini yang bisa membodohi orang pintar sepertimu." Williamson terus meyakinkan Giant.
"Lo betul juga!" Giant mengangguk setuju dan melonggarkan cengkeramannya di tangan Williamson.
Giant langsung menampar 2 anak buahnya yang ada di belakang.
"Sialan, kalian hampir aja membuat gue curiga sama anak buah sendiri." Giant memarahi.
Kedua anak buah itu hanya meringkuk ketakutan, merasa sangat bersalah.
“Untung berhasil lolos.”
Williamson menghela napas lega dan dengan cepat mengubah topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong Kak Giant mau bawa anak buah ke mana?"
"Universitas Santapolis buat nyari seseorang bernama Williamson. ”
'Waduh!' Williamson hampir tersedak.
"Oh, Universitas Santapolis ada di ujung jalan, aku ada urusan, jadi duluan ya.”
"Oke, pergilah.”
Giant melambaikan tangan pada Williamson dan terus berjalan dengan orang-orangnya di belakang.
'Apa-apaan ini? Giant mencariku?' Williamson berpikir, 'Sepertinya sekolah nggak aman buat aku sementara ini.'
'Ding dong!'
Dewi Kelinci mengirim pesan.
Dewi Kelinci: Wahai Dewa hebat, aku melihatmu sedang mencari obat yang bisa menyembuhkan pasien yang sedang koma?
"Ya, kamu punya?" Williamson merasakan gelombang kebahagiaan.
"Kalau tidak keberatan aku mau numpang nanya, koma itu apa?"
Williamson tanpa sadar tercengang.
Sesuai dugaan, kalau para dewa saja tidak tahu apa itu koma, bagaimana Dewi Kelinci yang hanya seekor kelinci peliharaan bisa tahu?
“Koma itu kondisi seseorang yang masih hidup tapi tidak bisa bangun." Williamson menjelaskan dengan sederhana.
“Oh, kalau gitu kemungkinan karena pemisahan tubuh dan jiwa seseorang, aku sering membantu Nabi Lao Zi di apotek, mungkin aku bisa tanya dia tentang obat yang efektif." Dewi Kelinci menawarkan.
"Baguslah,terima kasih banyak!" Williamson sangat gembira, karena tidak menyangka Dewi Kelinci akan memiliki koneksi seluas ini.
Sepertinya tidak boleh menilai seseorang hanya dengan penampilannya.
"Oh ya, apa kamu punya sesuatu yang bisa bantu seseorang meningkatkan kekuatan fisiknya dengan sekejap?" Williamson bertanya dengan cemas saat mengingat si botak Giant yang mencari keberadaannya.
"Nggak ada, aku cuma hewan peliharaan, mana mungkin punya harta karun seperti itu." Dewi Kelinci mengirim emoji sedih.
Hhhh! Williamson menghela napas frustrasi.
“Golden Flower Boy memberiku pil ekperimennya, pil kebangkitan level dasar, tetapi nggak ada gunanya, karena efeknya sangat lemah, mungkin lebih cocok untuk manusia biasa. ”
"Apa!" Williamson melompat.
“Aku memang butuh pil untuk manusia biasa. ”
Peristiwa yang kebetulan sekali.
“Aku mau pil Kebangkitannya, kirim cepat." kata Williamson.
__ADS_1
"Dewa hebat, kenapa mau barang sampah seperti itu?" Tanya Dewi Kelinci.
“Berhenti bicara omong kosong, cepatlah.”
"Baik," Dewi Kelinci.
Ding dong!
Dewi Kelinci mengirimi Williamson satu pil Kebangkitan level dasar.
"Haha terima kasih.”
Dewi Kelinci: Dewa hebat, itu 10 poin jasa (Diikuti dengan tiga stiker emoji malu-malu)
Williamson: …
Dewi Kelinci: 5 aja deh (3 stiker emoji berlinang air mata)
Williamson: Aku 1 pun nggak ada.
Dewi Kelinci: Dewa hebat nggak boleh bully kelinci kecil (3 emoji menangis)
Williamson berkeringat dingin. Saat itu dia melihat sebuah toko sayur di sebelahnya yang menjual wortel.
Williamson: Gimana kalau wortel?
Dewi Kelinci: Apa itu wortel?
Williamson: …
Dia mengeluarkan beberapa ribu rupiah dari sakunya, kemudian membeli wortel dan terus bernegosiasi dengan Dewi Kelinci.
Williamson: Bukankah kelinci itu makan wortel ya?
Dewi Kelinci: Dewa Hebat pasti lagi bercanda, kan? Penghuni surga kan cuma makan pil dan embun, orang-orang di atas Alam Surgawi Emas juga bisa makan buah persik milik Queen Mother, aku belum pernah dengar tentang wortel.
'Ternyata High Heavens tidak punya wortel, baguslah kalau begitu!'
Williamson: "Keindahan wortel itu dapat menyaingi buah persik, aku yakin kamu pasti akan jatuh cinta sama rasanya, oh ya, ngomong-ngomong cara kirim barangnya gimana ya?"
Williamson baru menyadari belum pernah mengirim apapun.
Dewi Kelinci: Langsung scan aja, pertanyaan Dewa Hebat aneh sekali.
Williamson menemukan sudut yang sunyi dan memindai wortel menggunakan ponselnya.
Anda mengirim wortel kepada Dewi Kelinci!
Berhasil
Wortel Williamson tiba-tiba menghilang.
Williamson: Cuci dulu sebelum makan!
Dewi Kelinci: Dewa Hebat, aku tak percaya kamu kirim sesuatu yang setara dengan buah persik, aku sangat tersentuh dan pasti akan mengingat kemurahan hatimu. (Diikuti dengan serangkaian emoji menangis)
Williamson merinding.
Williamson: Tak masalah, cepat makanlah.
Williamson merasa tidak enak karena berbohong kepada kelinci.
Williamson mengklik tampilan ikon tadi dan memeriksa deskripsi Pil Kebangkitan level dasar.
Pil Kebangkitan Level Dasar: Eksperimen Nabi Lao Zi dan peracik Flower Boy, efeknya sangat lemah, manusia biasa yang mengonsumsi akan mencapai tingkat awal dewa…
Mengambil!
Pil emas berbau manis muncul di tangan Williamson.
"Williamson, berani-beraninya lo bohong sama gue! Jangan lari! ”Seseorang berteriak dengan marah.
Williamson berbalik.
"Eh, Giant udah balik?" Williamson menyeringai, "Tepat waktu sekali!"
__ADS_1