
"Pelanggan yang terhormat, selamat datang di ICBS Telephone Bank..."
Ekspresi Williamson sangat dingin, di depan pramuniaga, dia menyalakan pengeras suara sambil menelepon nomor layanan pelanggan Bank ICBS.
"Saldo Anda saat ini adalah 20 miliar 1 juta 94 ribu rupiah."
“Cukup buat beli bajunya?” Williamson berkata dengan dingin.
Pramuniaga itu terpana, dia tidak menyangka orang yang terlihat seperti seorang mahasiswa biasa di depannya ini ternyata adalah seorang miliarder.
“Tuan, saya minta maaf, saya benar-benar minta maaf.” Pramuniaga meminta maaf berulang kali dan buru-buru menurunkan baju itu untuk Jocelyn.
"Nona, silakan dilihat, beli atau tidak itu bukan masalah."
Jocelyn tidak terima, berbalik untuk menatap Williamson.
“Liat yang itu, kurasa yang itu nggak buruk juga.” Williamson mengerutkan bibirnya.
Ketika pramuniaga mendengar ini, wajahnya langsung tersenyum.
"Nona mau beli baju buat orang tua ya? Oh, ternyata Anda tidak hanya cantik, tapi sangat berbakti juga ya, baju kami ini murni buatan Italia ..."
Pramuniaga terus memperkenalkan bajunya seolah sangat bagus dan akan rugi jika terlewatkan.
“Yah, bagus, baju ini sempurna.” Williamson mengangguk dengan serius, dengan ekspresi yang sangat puas di wajahnya.
“Kalau gitu mau saya bungkus untuk Anda?” Pramuniaga itu tampak penuh harap.
"Bungkus."
"Baik."
Pramuniaga sangat gembira, dan pada saat yang sama memarahi dirinya sendiri, karena hampir saja mengusir seorang miliarder, jika penjualan baju ini berhasil, dia setidaknya akan dapat komisi sebesar 6 juta rupiah, yang setara dengan gaji pekerja biasa selama sebulan.
"Liat, yang ini lumayan juga."
"Ini juga, dan yang itu di sana..."
Williamson memilih baju di toko dengan serius, begitu juga dengan wajah pramuniaga yang senyumnya semakin lebar, setiap kali Williamson mengambil satu baju, hati pramuniaga itu bergetar, bahkan tangan yang membungkus baju juga sedikit gemetar karena terlalu senang.
Setelah memilih selama setengah jam, Williamson berhenti.
"Williamson." Jocelyn menarik-narik sudut pakaian Williamson, dia merasa Williamson sudah berlebihan, karena memilih lebih dari 20 baju.
Williamson mengedipkan mata padanya, dan memasang senyum main-main.
"Tuan, sudah saya bungkus semuanya, totalnya adalah 1 miliar 35 juta 800 ribu rupiah, saya bulatkan untuk Anda, jadi Anda hanya perlu bayar 1 miliar 35 juta rupiah."
Pramuniaga itu menyerahkan tiket kepada Williamson, dan senyum di wajahnya bahkan lebih ramah daripada saat bertemu ayahnya sendiri.
Tentu harus bersikap baik, jika semua ini terjual, dia akan mendapat komisi sebesar 140 sampai 160 juta, yang setara dengan gaji setengah tahun.
Jika bukan karena kehadiran Jocelyn, dia mungkin sudah minta nomor telepon Williamson.
Hanya saja kata-kata Williamson membuat senyumnya langsung membeku.
“Kenapa kasih aku tiket? Siapa bilang aku mau beli?” Williamson tampak terkejut.
"Tuan ..." Pramuniaga itu tertegun dan belum bereaksi untuk sementara waktu
"Bukannya Anda suruh saya bungkus semuanya?” Kata pramuniaga dengan senyum kering.
__ADS_1
“Ya, memang.” Williamson mengangguk dengan bingung.
"Terus Anda..."
"Tapi bukankah kau bilang beli atau nggak itu tak masalah?" Williamson menatapnya dengan aneh.
Ketika Jocelyn mendengar ini, dia tidak bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak.
“Tuan, tolong berhenti bercanda, Anda mau bayar pakai tunai atau kartu?” Pramuniaga itu memaksakan senyum, tetapi senyum itu lebih mirip seperti menangis.
Dia masih menaruh harapan dan ilusi di hatinya.
Tapi ilusi ini segera hancur.
"Kau pikir aku lagi bercanda?" Nada bicara Williamson agak dingin.
"Diliat dari sikapmu waktu awal tadi, kau pikir aku akan beli barang-barangmu? Cukup kau yang bodoh aja, jangan anggap orang lain itu bodoh juga."
“Kau bahkan nggak sadar aku sebenarnya lagi mempermainkanmu, sungguh bodoh sekali.” Williamson menoleh dan berjalan keluar sambil mengobrol dan tertawa dengan Jocelyn.
Untuk waktu yang lama, pramuniaga itu baru sadar dan berteriak dengan marah.
Dia mengeluarkan ponselnya dan membuat panggilan.
"Bang Giant, aku dibully, wua...hua..."
“Willi jahat banget.” Berjalan keluar, Jocelyn menutup mulutnya dan terus tersenyum.
"Siapa suruh dia mandang rendah orang lain." Ujar Williamson.
Setelah berjalan-jalan selama hampir satu jam, Williamson membeli masing-masing sepasang pakaian untuk orang tua dan saudara perempuannya, yang harganya lebih dari 200 juta.
Sebelum perubahan ini, Williamson bahkan tidak berani memikirkan belanja sesantai ini.
"Oke, selanjutnya kita beli punya kita sendiri, yuk punyamu dulu aja."
“Ah, nggak nggak, pakaian di sini terlalu mahal, aku nggak mau.” Jocelyn melambaikan tangannya, tapi hatinya merasa senang.
"Mana boleh nggak? Yuk, pacarmu memang kekurangan segalanya, tapi nggak kekurangan uang."
“Siapa bilang kamu itu pacarku?” Jocelyn menggigit bibirnya sendiri dan menundukkan kepala.
Perasaannya saat ini pada Williamson sangat rumit.
Pada awalnya, dia setuju menjadi pacar Williamson karena terpaksa, demi mempelajari teknik vokal untuk memenangkan Kompetisi Beryanyi Pemuda Kota dan memenuhi keinginan ayahnya.
Tapi selanjutnya, Williamson tidak hanya mengajarinya, tapi juga bantu membayar biaya pengobatan ayahnya, dan bahkan punya cara untuk membangunkan ayahnya.
Selain itu, Williamson juga pernah menyelamatkannya di bar, dan muncul di ruang latihan musik sebagai pacarnya untuk mengusir George.
Setelah semua ini, Jocelyn sangat tersentuh, terutama setelah jalan-jalan bersama Williamson selama beberapa hari, dia bahkan tanpa sadar menganggap Williamson sebagai pacarnya.
Hanya saja waktu bersama Williamson masih terlalu sedikit, dan masih belum terlalu mengenal satu sama lain, jadi alam bawah sadarnya masih belum bisa Terima sepenuhnya.
"Hah? Kamu udah janji loh, tolong ditepati ya seperti seorang pria terhormat." Kata Williamson.
“Aku bukan pria terhormat, aku hanya seorang wanita kecil.” Mulut kecil Jocelyn meringkuk dengan bangga, memperlihatkan dua lesung pipit yang dalam.
Setelah pemilihan dengan cermat, penampilan Williamson dan Jocelyn saat berjalan keluar dari Beverly Plaza sudah sangat berbeda.
"Gimana? Setelah pakai pakaian kasual Armani ini, sudah seperti manusia berpenampilan anjing, kan?"
__ADS_1
Williamson berjalan dengan bangga.
“Mana ada orang yang bilang diri sendiri begitu.” Jocelyn memilih gaun biru aqua untuk dirinya sendiri, membuat wajahnya yang sudah cantik semakin menawan, dan secara tidak sengaja menjadi pemandangan indah tersendiri di pusat perbelanjaan.
“Abang Giant, mereka udah keluar, bajingan itu.” Begitu mereka meninggalkan pintu, teriakan keras seorang wanita terdengar.
Begitu Williamson mengerutkan kening, dia melihat pramuniaga sebelumnya yang berdiri tidak jauh sambil menatap kemari dengan galak.
Di sampingnya ada seorang pria berkepala botak licin yang sangat menyilaukan.
"Tunggu, bukannya itu Giant?"
"Kita pergi!" Williamson berkata dengan lembut, jika dia terlihat oleh Giant, dia pasti akan diikuti terus sambil dipanggil Guru.
“Berhenti!” Pramuniaga itu bergegas maju untuk menghentikan Williamson dan Jocelyn.
"Udah nyinggung aku tapi mau kabur ya?! Kau pikir punya sedikit uang udah boleh sesuka hati? Akan kubuat kau dihajar sampai minta ampun hari ini."
"Siapa bakal kau suruh buat hajar aku?" Karena tidak bisa melarikan diri lagi, Williamson hanya melipat kedua tangan di dada dan berkata pada pramuniaga itu.
"Hmph, kalau kau minta maaf, mungkin suasana hatiku bakal membaik, dan bakal kusuruh Abang Giant ampuni, kalau nggak ..." Pramuniaga itu melirik Giant dan terkejut.
Giant berlari kecil kemari sambil memasang senyum di wajah, seperti seorang cucu yang melihat kakeknya.
Anak buah di belakangnya bahkan lebih parah lagi, ekspresi mereka ketakutan, bahkan ada beberapa yang kakinya mulai gemetar.
Mustahil untuk tidak takut, mereka sudah dipukuli habis-habisan sebelumnya, terutama si pirang yang maju duluan, tulang rusuknya patah 5 dan masih terbaring di rumah sakit.
"Abang Giant, kamu..." Pramuniaga itu sedikit terkejut.
"Diam!"
“G-guru, jangan marah, gue nggak tahu kalau itu lo.” Giant sampai keringatan.
“Oh Giant, apa hubungan kalian?” Williamson mengangkat dagunya ke arah pramuniaga itu.
"Ini Jessica, kami dekat."
“Kalian dekat?” Williamson tertawa terbahak-bahak, dunia ini penuh kejutan sekali, bisa-bisanya si botak Giant dekat dengan wanita juga.
Senyum Williamson membuat Giant salah paham.
"Kalau guru suka, gue kasih pinjam main dua hari, jangan lihat bentuk badan Jessica ini biasa-biasa aja, tapi dia itu jago loh, muridmu ini nggak bakal bohong.
Giant menepuk dada dengan kuat.
Plak!
Williamson langsung menampar kepala si botak Giant.
"Omong kosong apa sih!" Giant ini benar-benar aneh.
Giant tersenyum kesakitan, kemudian merasa familiar setelah melihat adanya Jocelyn yang berdiri di belakang Williamson.
Tiba-tiba, mata Giant berbinar dan dia teringat sesuatu.
Setelah itu, dia menggosok kepala botaknya sendiri dan tersenyum canggung, "Ternyata Istri Guru ada di sini juga ya, Istri Guru begitu cantik, jadi udah pasti lebih bagus, tentu Guru nggak bakal tertarik sama Jessica, Guru beruntung sekali ya."
Pfft!
Williamson langsung kaget.
__ADS_1
"Udah cukup, pergi sana!"