Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 57 Rentan


__ADS_3

"Bertarung ya? Ke lantai tiga aja, di sana ada gym karate khusus." Wijaya yang ingin menonton pertarungan ini buru-buru mengajukan diri untuk memandu jalan.


"Tidak perlu." Williamson melambaikan tangannya.


"Masalah sepele tidak perlu repot-repot, di sini saja."


“Hmph, pendapatmu sesuai dengan keinginanku, dan aku juga berpikir mengalahkanmu itu hanya masalah sepele.” Matsushita Riko menunjukkan senyum sinis.


Pada saat ini, Gary dan yang lainnya merasa Williamson sudah terlalu lama, jadi pergi untuk memeriksa apa yang terjadi.


Tapi begitu meninggalkan kamar pribadi, mereka melihat Williamson berpapasan dengan Tuan Muda Brown lagi.


“Orang Jepang ini master karate sabuk hitam ke-7, aku tidak akan membiarkan Bang Willi menderita, biar aku yang hadapi saja.” setelah mengatakan itu, Gary hendak maju.


"Tunggu sebentar." Ryan menghentikan Gary, "Kurasa Bang Willi bisa menang melawan master sabuk hitam ketujuh itu.."


Gary terkejut sejenak, dan menatap Ryan dengan bingung.


Ryan tersipu, "Pada hari nyawamu diselamatkan, Bang Willi pernah mengalahkanku."


“Apa?!” mata Gary terbelalak, “Maksudmu, Bang Willi pernah mengalahkanmu? Bukan yang sebaliknya?”


Ryan langsung memberinya tatapan kosong.


“Kau itu petarung terbaik di antara kami, tapi kalah dengan Bang Willi?” Gary tidak percaya.


“Aku masih kalah.” Ryan menggelengkan kepalanya.


"Tak kusangka Bang Willi yang punya tubuh kecil merupakan seorang master, orang hebat memang tidak memamerkan kekuatan asli ya."


Williamson meregangkan tangan dan kaki, kemudian mengaitkan jari-jari untuk memprovokasi Matsushita Riko.


"Ayo cepat, aku tidak punya banyak waktu."


Mata Matsushita Riko mendingin, dia merasakan penghinaan Williamson dari lubuk hati yang tiba-tiba membuat kemarahannya melonjak.


"Mati sana!” Matsushita Riko bergerak cepat, bergegas menuju Williamson.


"Shuh!" kedua tangannya menembus udara dan meraih bahu Williamson, bersiap untuk melakukan lemparan tubuh Williamson.


Mulut Williamson berkedut, faktanya kecepatan musuh kali ini hanya sedikit lebih cepat dari Kenny yang pernah dihadapinya.


Namun ketika berhadapan dengan Kenny waktu itu, Williamson hanya memiliki energi qi dan tidak bisa teknik bertarung, jadi jelas diposisi yang tidak menguntungkan.


Tapi sekarang berbeda, karena Williamson bisa Teknik Tangan Pembagi Otot dan Tulang.


Dengan mudahnya dia menghindari tangkapan Matsushita Riko.


Williamson juga mengulurkan tangan untuk mengunci sendi siku Matsushita Riko, dan hanya dengan sedikit tenaga saja sudah membuat lengan Matsushita Riko terkilir.


Bahkan Matsushita Riko sempat berteriak kesakitan, Williamson sudah mengangkat kaki dan menendang dadanya dengan kuat.


Suara tulang retak terdengar jelas, dan Matsushita Riko langsung terpental dan jatuh.


"Beres!" Williamson bertepuk tangan, cemberut, dan berkata.

__ADS_1


"Apa?!" semua orang terkejut.


Matsushita Riko bukanlah orang biasa, tapi master karate sabuk hitam ke-7!


Tapi dikalahkan oleh Williamson hanya dengan satu gerakan?


Ini sungguh diluar dugaan.


Mata Gary yang berdiri di samping langsung berbinar.


Bang Willi sungguh luar biasa, dia belum tentu bisa menyelesaikannya dengan sesempurna itu jika dirinya berada di posisi Bang Willi.


“Sudah berakhir?” Wijaya Brown baru saja menyuruh seseorang untuk membawa kursi ke sini untuk menonton pertunjukan, dia bahkan sudah menyiapkan biji melon, rokok, air mineral, dan makanan ringan lainnya, tapi pertarungannya sudah selesai begitu saja?


“Sungguh konyol!” Wijaya sangat tidak puas dengan Matsushita Riko.


Williamson mengulurkan jari, kemudian melirik Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya.


"Ada yang tidak puas? Silakan maju!"


Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya saling memandang dengan cemas, dan tidak berani mengeluarkan suara.


"Siapa lagi!" teriak Williamson.


Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya ketakutan hingga gemetaran.


"Hanya dengan kemampuan segitu sudah berani sombong? Tidak tahu diri." Williamson menegur dengan keras.


Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya menghindari tatapan Williamson, tidak berani saling menatap dengannya.


Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya buru-buru membawa Matsushita Riko dan pergi secepat mungkin.


“Ternyata kau tidak buruk juga.” setelah Tuan Muda Lawrence dan yang lainnya pergi, Wijaya berjalan ke arah Williamson dan mengacungkan jempol.


"Kau terlalu memujiku," kata Williamson dengan ringan.


"Kalau sudah selesai, sudah saatnya giliran urusanku.” Wijaya mengalihkan pandangannya ke Vannesa lagi.


“Vannesa jangan buat onar lagi, ikutlah aku, aku ini sangat-sangat menyukaimu.” Kata-kata Wijaya membuat Williamson merinding.


“Kau ini kenapa sih? Bukannya sudah kubilang jangan ganggu wanita ini lagi?" Williamson tidak tahan lagi.


"Apa maksudmu sobat?!" Wijaya melirik Williamson, "Awalnya aku berencana untuk tidak melepaskanmu, tapi kenapa kau sekarang malah ikut campur urusanku?"


"Aku jelas mau ikut campur, memangnya apa yang bisa kau perbuat padaku?" karena sudah ikut campur, maka Williamson terpaksa menyelesaikan masalah ini sampai akhir.


“Waduh!” Wijaya seolah telah mendengar sebuah lelucon besar, jadi menunjukkan ekspresi reaksi yang berlebihan.


"Sudah lama tidak ada seorangpun di Kota Wallwin ini yang berani menantangku, hari ini serasa tidak nyata bagaikan matahari terbit dari barat, baiklah, akan kuikuti permainanmu."


Wijaya memberi isyarat mata pada sekelompok bawahan.


Para bawahan langsung mengerti, dan bergegas menuju Williamson secara bersamaan.


"Biar kuingatkan bocah, meskipun kau jago bertarung, tapi tidak mungkin bisa menang sendiri, lihatlah jumlah orang di sisiku, disisiku..." kata-kata Wijaya berhenti dipertengahan.

__ADS_1


Mulutnya terbuka lebar karena melihat semua bawahannya yang tumbang di lantai.


Mustahil!


Wijaya menggosok mata dengan kuat dan melihat lagi.


Ini nyata!


"Luar biasa." Wijaya bukannya takut, tapi malah bersemangat.


Dia mengulurkan tangan dan menjentikkan jarinya.


Seorang staf layanan di sebelahnya bergegas.


"Pergi kumpulkan semua petugas keamanan di tempat ini, aku mau mereka semua ada di sini dalam tiga menit, akan kupecat bagi yang terlambat."


Sekelompok petugas keamanan berseragam hitam berkumpul dari semua lantai dan tiba di belakang Wijaya.


“Sekitar lebih dari 200 orang.” Williamson melihat kerumunan berseragam hitam di depannya dan merasa sedikit khawatir.


“Hahaha, bukannya kau jago bertarung? Aku sudah kumpulkan semua petugas keamanan klub ini, bagaimana? Cukup untuk bermain denganmu?” Wijaya tersenyum bangga.


"Bang Gary, ayo kita ke sana!" Ryan bergegas maju ketika melihat ini. Bagaimanapun, sekuat apa pun Williamson, tapi saja mustahil untuk melawan lebih dari 200 petugas keamanan terlatih, terlebih lagi aura militer dapat dirasakan dari para petugas keamanan ini.


Setidaknya lebih dari setengah petugas keamanan ini adalah mantan militer.


Gary mengangguk, tapi begitu hendak ke sana, Williamson sudah bergerak lebih dulu.


Williamson hanya mengangkat alis dan bergerak maju dengan cepat.


Sebelum semua orang bisa bereaksi, Williamson sudah tiba di hadapan Wijaya.


Dia mengulurkan tangan dan meraih kerah Wijaya.


"Lepaskan Tuan Muda Brown!"


"Cepat lepaskan Tuan Muda Brown, atau kau akan tahu akibatnya nanti!"


Petugas keamanan bergegas maju, jadi Williamson mengangkat tubuh Wijaya.


"Jangan sampai ada yang maju lagi!"


"Ini..." para petugas keamanan saling menatap, tapi tidak berani mendekat.


"Hei hei, kau sepertinya salah, mereka yang akan melawanmu, untuk apa kau menangkapku?" Wijaya berteriak.


Williamson langsung menampar bagian belakang kepala Wijaya.


"Omong kosong, kau tak lulus sekolah ya? Tidak tahu kalau mau menang itu harus menangkap raja musuh dulu?"


"Oh, aku mengaku kalah, oke? Lepaskan aku dulu, aku tak bisa bernafas." kaki Wijaya sudah terangkat dari tanah, seluruh tubuhnya terus bergantung di udara.


“Melepaskanmu? Kau pikir aku bodoh?” Williamson menamparnya lagi.


"Aku..." Wijaya sedang berjuang untuk bertahan dan matanya tiba-tiba menyala.

__ADS_1


“Bang Gary, Bang Gary, tolong selamatkan aku!” Wijaya bertingkah seolah telah melihat sang penyelamat.


__ADS_2