
"Pill menghilang?"
Williamson dengan cepat mengklik ikon tas untuk memeriksa deskripsi.
Pill menghilang : Dengan mengonsumsi pill ini dapat mendapatkan kemampuan untuk menghilang tanpa jejak, berlangsung hingga 4 jam.
"Sial, bukannya teknik tembus pandang yang legendaris kan?"
Williamson terkejut.
"Sialan, kalau Daniel tahu tentang ini, dia pasti bakal langsung telan dan menerobos ke ruang ganti perempuan untuk menonton mereka mandi.”
"Eh? Masih ada catatan kecil di bawah: Tidak berefek jika dikonsumsi oleh siapa pun di bawah Alam Surgawi Emas."
Bajingan! Williamson merasa berkecil hati.
Jelas, sebagai manusia biasa, pil ini tidak akan berefek pada tubuh Williamson. Sehingga Williamson sudah terlalu malas dan menutup tas.
Kelas kedua adalah belajar mandiri.
Williamson sedang bermain dengan ponselnya ketika tiba-tiba para siswa di sekitarnya mulai berdengung penuh semangat.
Mengangkat kepala ke atas, Williamson melihat Jocelyn yang sedang berdiri di pintu sambil melihat sekeliling.
Setelah melihat Williamson, Jocelyn tersenyum manis dan berjalan mendekatinya.
"Woah! Itu Jocelyn! Apa yang dia lakukan di kelas kita? Menurut lo siapa yang dia cari?”
“Mungkin dia naksir sama gue jadi ke sini buat nembak gue.”
"Mimpi! Sadar diri sama muka kodokmu itu, masih mending nembak gue.”
Para siswa laki-laki mulai ngiler melihat pemandangan indah bunga sekolah.
Evan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya, terutama setelah melihat Jocelyn berjalan ke arahnya dengan senyum manis di wajah.
"Haha, Jocelyn jelas ke sini buat nyari gua!"
“Maksudku, masuk akal, selain gua, ruangan ini penuh dengan gelandangan, mana ada yang cocok dengan Jocelyn.”
"Ayo, cantik, datang ke pelukan gue!"
Jolin memelototi Jocelyn dan wajahnya menjadi murka.
Jocelyn mengenakan kemeja sifon putih dan celana pendek denim biru yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan sempurna. Dia memiliki aura polos dan cantik di sekitarnya saat dia bergerak, itu sangat menggoda sekali.
Tentu saja, ini tidak masalah bagi Jolin.
Yang membuat Jolin benar-benar marah adalah dia mengenakan baju yang sama persis dengannya!
__ADS_1
Benar, baju yang sama!
Penampilan Jolin dianggap lebih baik daripada rata-rata. Tetapi dengan pakaiannya yang modis, dia tampak lebih muda dan cantik.
Namun, dibandingkan dengan Jocelyn yang mengenakan pakaian yang sama, sosok Jolin langsung terlihat biasa-biasa saja.
Ketika beberapa siswa mulai bolak-balik antara dia dan Jocelyn, Jolin mulai merasa dirinya seperti badut dan berharap dia bisa bersembunyi.
"Jocelyn …" Ketika Jocelyn berada beberapa langkah lagi, Evan berdiri, tersenyum dan melambai padanya.
Tindakan Evan hampir membuat Jolin meledak marah. Berani-beraninya dia mencoba mendekati gadis lain di depannya.
Namun, Jolin tidak berani mengungkapkan amarahnya dan hanya bisa menahan diri dalam diam. Dia takut jika dia berdebat dengan Evan, dia akan dicampakkan oleh Evan.
Jocelyn mengabaikan dan berjalan melewati Evan, kemudian duduk di sebelah Williamson.
"Apa-apaan ini?"
“Jocelyn ke sini buat nyari Williamson? Ini nggak masuk akal … "
"Sebelumnya, Jolin bilang dia yang mencampakkan Williamson, sepertinya bukan itu yang sebenarnya terjadi. ”
“Williamson udah punya Jocelyn, jadi ngapain peduli tentang Jolin? Sepertinya dia yang dicampakan.”
“Kalian sadar nggak, Jolin sama Jocelyn pakai baju yang sama persis? Pasti ada cerita di antara semua ini."
Jolin terkejut bahwa Jocelyn sebenarnya di sini untuk bertemu Williamson.
Kemudian, Jolin merasakan rasa malu yang tidak bisa dijelaskan.
Setelah mendengar apa yang orang lain katakan tentang dirinya, Jolin berdiri. Dia tidak tahan tinggal di kelas lagi.
Evan memelototi Williamson dan ikut keluar dari ruang kelas juga.
"Kenapa ke sini?" Williamson sangat terkejut.
"Boleh minta bantu?" Jocelyn bertanya dengan malu-malu.
“Langsung bilang aja, aku bisa menyebrang lautan dan mendaki gunung untukmu, mau jual diri sekalipun, aku nggak bakal ngeluh." Williamson memproklamirkan dengan benar.
“Berhentilah bercanda.'' Jocelyn tertawa dan berkata, ''Aku banyak mikir tentang kejadian tadi malam, lalu menyadari kalau alasan mengapa nyanyianmu itu enak didengar itu pasti karena teknik vokalisasimu yang unik. ”
Pftttt!
Williamson hampir jatuh dari kursinya.
'Sial, bagaimana dia bisa mengetahuinya? Memang pantas seorang mahasiswa musik, langsung bisa tahu letak kunci nyanyiannya hanya dengan sekali dengar saja'
“Iya memang karena teknik vokalisasi yang unik."
__ADS_1
"Kalau gitu, boleh ajarin aku?" Jocelyn bertanya dengan antisipasi.
"Apa kamu bilang?" Williamson bertanya dengan marah, "Aku seorang pria sejati, rela jual diri, tapi tidak dengan seniku!"
“Jangan menyebalkan, cepat, jawab aku! "
"Baik!"
"Serius?"
“Tapi aku punya satu syarat. ”
"Syarat apa?"
"Jadilah pacarku.”
"Berhenti!" Jocelyn meninju Williamson dengan lembut.
"Sialan, liat itu, udah saling bisik, sekarang saling menggoda, kayaknya Jocelyn beneran ditaklukkan oleh Williamson deh.”
Tindakan intim keduanya menyebabkan imajinasi teman-teman sekelas menjadi liar.
"Serius dong, boleh ajarin aku?"
"Apa untungnya bagiku?"
"Apa yang kamu mau?"
"Udah kukasih tau tadi.”
Jocelyn menggigit bibirnya sendiri dan menatap Williamson.
Williamson menyadari kalau candaannya sudah kelewatan, jika masih dilanjutkan, Jocelyn akan benar-benar menjadi kesal.
Tapi sebelum Williamson bisa mengatakan apa-apa, Jocelyn langsung menjawab,
"Baiklah, sepakat!"
"Apa?!" Williamson tercengang.
"Kamu rela korbanin tubuh demi ilmu?"
Jocelyn tidak menjawab tetapi matanya perlahan memerah.
"Apa-apaan ini?" Williamson panik, "Aku hanya bercanda! Akan kuajari tanpa syarat”
“Kutunggu dirimu di Ruang Latihan Musik malam ini jam 7.”
Tanpa menunggu jawaban Williamson, Jocelyn berdiri dan meninggalkan ruang kelas.
__ADS_1