
Williamson langsung meminjam mobil Calvin dan memasukkan Nicky ke dalam mobil.
Setelah itu, Williamson bolak-balik membantu menyelesaikan prosedur pemulangan, yang membuat Jocelyn dan ibu Jocelyn tersentuh.
"Jocelyn, beritahu ibu, Willi sedang mengejarmu ya?"
“Bicara apa sih Bu.” Jocelyn menundukkan kepalanya dengan malu-malu, tetapi hatinya dipenuhi dengan rasa manis.
Jane yang melihat ekspresi putrinya seperti itu jelas sudah mengerti.
"Jocelyn, aku sudah mengamatinya akhir-akhir ini, Willi itu anak yang baik, dia sudah banyak membantu keluarga kita, jika kamu tertarik padanya, ibu akan mendukungmu.
"Aku tak tertarik padanya, dia itu penjahat besar."
“Siapa yang penjahat besar?” Williamson kebetulan datang.
"Yang tanya itu.” Jocelyn memutar mata dan melototinya.
Williamson terdiam beberapa saat dan bingung.
Begitu Williamson dan yang lainnya pergi, Lina baru muncul di tengah udara dalam rumah sakit.
“Tuan Putri!” Petugas pencabut jiwa itu buru-buru memberi hormat.
"Kamu yang diserang? Siapa pelakunya?"
"Hamba tidak tahu, awalnya hamba hanya menjalankan tugas seperti biasa, tapi tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan mementalkan hamba, dan cahaya itu menghilang lagi."
"Maksudmu, kau tak melihat apa pun selain cahaya?"
"Benar."
Setelah petuga pencabut jiwa itu pergi, Lina mencubit dagunya sendiri dan berpikir sejenak.
"Aneh, kenapa sebuah cahaya bisa muncul tanpa alasan? Dia juga tidak melihat apa pun selain itu, apa jangan-jangan ulah manusia?"
Samar-samar, Lina punya firasat bahwa cahaya ini mungkin ada hubungannya dengan orang yang menggunakan jarum emas pengembali roh.
Setelah mengitari seluruh rumah sakit dan tidak menemukan keanehan apa pun, Lina menjadi bingung.
Setelah mengantar Nicky pulang, Jane menempatkan Nicky di tempat tidur.
Jane pernah bekerja sebagai perawat di klinik swasta sebelumnya, jadi infus itu tidak menjadi masalah, dia dengan cepat menginfus larutan garam fisiologi untuk Nicky.
Williamson duduk di samping tempat tidur Nicky.
"Kenapa bisa ada dua?" Williamson pikir salah lihat, jadi menggosok mata dan melihat lagi.
Tunggu, beneran ada dua!
Apa yang sedang terjadi?
Ada dua sosok Nicky yang baring di atas tempat tidur, tetapi kedua sosok Nicky ini saling tumpang tindih.
Aneh sekali.
Tiba-tiba, Williamson teringat tentang bertemu hantu di rumah sakit sebelumnya.
Tunggu, jangan-jangan sosok ini jiwa Nicky?
__ADS_1
Bisa jadi!
Bukannya Kera Sakti dan Dewi Kelinci pernah bilang sebelumnya, bahwa manusia yang koma itu karena pemisahan raga dan jiwa, kan?
Jika dua sosok Nicky ini satu adalah raga dan satunya lagi adalah jiwa, ditambah dalam posisi tidak menyatu, bukankah ini yang disebut keadaan koma?
Untuk melihat lebih jelas, Williamson membungkuk dan bergumam: Penglihatan Surgawi, aktifkan!
Dalam sekejap, kabut biru muncul di mata Williamson.
Dan ternyata benar, satu jiwa dan satu raga!
Sekarang Williamson benar-benar bisa melihatnya.
“Williamson, kenapa menatap ayahku seperti itu?” Jocelyn masuk dan bertanya dengan bingung.
"Oh? Tidak ada, aku..."
Pffftt!
Mata Williamson langsung terbelalak, dan menelan ludah.
Ini sungguh putih dan besar sekali, serasa ingin menyentuh secara langsung!
“Hei, apa yang kamu lihat?” Melihat Williamson menatap tubuhnya, Jocelyn tersipu.
Dia mendekat dan dengan malu-malu menepuk bahu Williamson.
Williamson serasa ingin meraih dan meremas tubuh Jocelyn yang sudah di depan mata!
“Bam!” Pada saat ini, pintu terbuka, dan seorang gadis dengan kuncir kuda dan wajah yang mirip dengan Jocelyn masuk.
“Kak, Ayah sudah baik-baik saja?” Begitu gadis itu memasuki kamar tidur, dia melihat Nicky berbaring di tempat tidur, memegang tangan Jocelyn, dan bertanya dengan khawatir.
"Sudah tidak apa-apa, hanya belum bisa bangun."
"Ngomong-ngomong Williamson, ini adikku Nora, dan Nora, perkenalkan ini Williamson, panggil saja Kak Willi."
Nora menoleh sambil tersenyum dan bersiap untuk menyambut Williamson.
Tapi melihat penampilan Williamson, dia menarik kembali kata-kata yang ingin dia ucapkan.
Melihat penampilan Williamson yang menatap tubuh Jocelyn dan Nora dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar.
“Wah, ini ukurannya hampir sama!" Williamson tampak seperti orang mesum dengan air liur yang menetes.
“Kak, menurutku dia bukan orang baik!” Nora berbisik kepada Jocelyn dengan waspada.
Jocelyn juga marah, kenapa Williamson bersikap begitu tidak sopan di depan adiknya.
"Hei, sudah puas lihatnya?!"
"Belum." Williamson menjawab tanpa sadar, dan begitu baru sadar bahwa ada yang tidak beres.
Nora langsung mendengus dan berjalan keluar.
Sial, baru bertemu saja sudah menyinggung calon adik iparnya.
"Nakal!" Jocelyn memelototi Williamson dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Williamson merasa malu untuk sementara waktu, ayah mereka masih terbaring di depannya, tapi dia malah melihat seluruh isi tubuh kedua putri Nicky seperti itu, sungguh tindakan yang tidak sopan.
Tapi bersikap kurang sopan seperti ini setidaknya lebih baik daripada bersikap seperti binatang kurang ajar.
Williamson menyeringai.
Jane sudah siap memasak hidangan dan menyuruh Williamson beserta Jocelyn dan Nora untuk makan bersama.
"Huh!" Nora memandang Williamson di seberangnya, mengambil mangkuk serta sumpit, menundukkan kepala dan mulai makan.
“Willi, ini dicoba masakan tante.” Jane memberi Williamson sepotong daging dan berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih Tante, um, ini enak." Williamson melahapnya dengan senang hati.
“Makanlah yang banyak kalau enak.” Jane tanpa sadar bersikap ramah saat melihat Williamson yang makan dengan senang.
“Jika Jocelyn bisa bersama Willi, itu akan jadi pasangan yang serasi.” Jane semakin puas dengan Williamson.
Jane memang semakin puas terhadap karakter Williamson seiring berjalannya waktu.
Mulut Williamson sangat manis, dan terus memuji Jane dari waktu ke waktu, dan menceritakan lelucon yang membuat Jane tertawa.
Untuk sesaat, suasananya menjadi harmonis dan bahagia.
Jocelyn menunduk sambil makan, melihat bahwa Williamson dan ibunya sangat rukun, hatinya tentu senang.
"Huh! Mulut manis jelas punya tujuan." Hanya Nora yang tidak puas pada Williamson.
“Nora, Willi sudah banyak membantu keluarga kita” Di meja makan, Jane yang melihat bahwa Nora selalu acuh tak acuh terhadap Williamson langsung berkata.
“Hmph, tidak ada yang gratis di dunia ini, berbuat seperti itu pasti punya tujuan tersendiri!” Gadis kecil itu mendengus.
"Kenapa bicara seperti itu? Willi, Nora masih kecil, jadi jangan masukin ke hati ya."
"Hahahaha, tidak apa-apa Tante, Nora memang masih kecil." Williamson sengaja memberatkan nadanya saat mengatakan 'kecil'.
Nora mengangkat kepalanya dan melihat seringai samar di sudut mulut Williamson, dia ingat seperti apa Williamson menatap dirinya dan kakaknya tadi, jadi langsung mengerti apa yang dimaksud Williamson.
"Hah? Siapa yang kecil, aku sama sekali tidak kecil!” Nora membusungkan dadanya dengan marah.
Pfftt!
Williamson hampir menyemburkan nasi yang dikunyahnya.
Gadis kecil ini cukup menarik.
“Ada apa denganmu hari ini?” Jane bingung.
“Iya kamu tidak kecil, cuman sedikit lebih kecil dari kakakmu.” Williamson diam-diam mengangkat alisnya pada Nora.
“Mereka hanya beda tiga tahun.” Jane menyela karena tidak tahu apa yang dimaksud Williamson.
"Omong kosong, aku lebih besar dari kakakku, besar banyak!"
Pffftt!
Kata-kata Nora sangat mengejutkan dan membuat Williamson langsung menyemburkan nasi yang dikunyahnya.
Makan bersama ini jelas tidak bisa berlanjut lagi!
__ADS_1