Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 33 Penglihatan Surgawi Naik Level


__ADS_3

Karena tidak diberi muka sama sekali oleh Williamson, Doni menjadi marah.


Dirinya seorang kepala Biro Keamanan Publik, siapa yang berani tidak hormat padanya di seluruh Kota Central ini?


Dirinya hanya sekedar datang pada waktu yang tidak tepat? Apa harus sampai tidak toleransi seperti itu?


Setelah berpikir sejenak, Doni melangkah maju dan hendak mengetuk jendela mobil lagi.


"Vroom!"


Tanpa diduga, Williamson langsung menyalakan mobil dan melaju pergi begitu saja.


“Dasar bajingan!” Doni yang hampir jatuh langsung marah dengan keras.


“Willi, mengapa bersikap kasar kepada Kepala Doni?” Doni datang untuk menangkap Kelvin sebelumnya, jadi Jocelyn juga tahu Doni itu seorang kepala Biro Keamanan Publik.


Williamson mendengus dingin, "Sialan itu merusak suasana baikku, sudah cukup sopan aku tidak memukulnya."


"Mesum!" Pipi Jocelyn langsung tersipu, tentu saja dia mengerti suasana baik yang dimaksud Williamson.


"Ngomong-ngomong, Jocelyn, aku sudah menyimpan ciuman pertamaku selama lebih dari 20 tahun, tapi dengan dominasinya diambil begitu saja olehmu, kamu harus tanggung jawab."


"Tak tahu malu!" Jocelyn memukul Williamson dengan marah.


Setelah memarkir mobil di tepi jalan, Williamson memeluk Jocelyn.


“Jocelyn, lihatlah mulutku yang kaku ini, berilah aku kesempatan untuk praktek lagi?” Williamsons memelototi bibir seksi Jocelyn sambil berkata.


"Kaku? Mulutmu jelas sangat mahir, pandai berbicara..." Di tengah pembicaraan, Jocelyn berhenti tiba-tiba.


"Jahat, tak tahu malu!" Jocelyn yang baru sadar, dengan ringan memukul dada Williamson dengan tangan kecilnya.


Williamson meraih tangan kecil Jocelyn dan langsung mencium mulut Jocelyn.


“Beep beep beep!” Terdengar klakson suara mobil di belakang.


Sialan!


Williamson tidak peduli lagi.


Ketika Jocelyn mendengar klakson mobil, dia juga berjuang untuk mendorong Williamson, tapi terus dipaksa oleh Williamson.


"Tuk tuk tuk!"


Terdengar ketukan cepat di jendela mobil.


“Dasar bajingan!” Williamson hampir mengamuk.


Mengapa selalu ada orang yang mengetuk jendela mobil begitu dia sedang berciuman?!


Setelah membuka pintu mobil, Williamson melompat turun.


"Jalan raya itu punya keluargamu ya?! Tahu..." Williamson turun dari mobil dan pria di mobil belakang langsung marah-marah.


Tapi di pertengahan marah-marah, dia tiba-tiba terdiam.


"Kak Willi, ternyata kamu."


Wajah Evan yang barusan arogan langsung berubah menjadi pahit.


"Dasar brengsek!" Williamson langsung menendang Evan, lalu terus memukulnya!


Keterlaluan!


Kau pikir mudah untuk mendapatkan ciuman?!

__ADS_1


Lupakan saja jika kepala keamanan publik yang datang membuat masalah, tapi tidak perlu sampai ikut ke sini untuk membuat masalah juga!


Melihat ini, Jolin buru-buru berlari turun dari mobil BMW.


"Willi hentikan!"


Williamson mengabaikannya,dan memukul beberapa kali lagi sebelum berhenti.


Untungnya, Williamson tidak menggunakan energinya penuh, jika tidak, Evan pasti sudah cedera serius.


Setelah beberapa saat, Evan bangkit dari tanah dan mendekati Williamson.


"Kak Willi, maafkan aku, aku salah, aku tidak tahu itu mobilmu."


Sekarang Evan tidak berani menyinggung Williamson lagi.


Cerita patah tulang dan jari George telah menyebar di kalangan mereka.


Orang lain mungkin tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi Evan yakin ini pasti ulah Williamson.


“Sialan, pergi!” Setelah Williamson memukul Evan, dia sangat marah dan melambai pada Evan seperti mengusir lalat.


"Baik, aku akan pergi sekarang.” Evan mengangguk dan membungkuk lagi, dan berjalan pergi bersama Jolin.


Di dalam mobil BMW, Jolin menyaksikan Williamson mengendarai mobil Land Rover dengan Jocelyn di samping, dan pria yang disenanginya ini justru tidak berani macam-macam di depan Williamson, jadi merasa kesal dalam hati.


Sementara kesal, penyesalan yang tak bisa dijelaskan muncul di hatinya.


Kembali ke mobil, Williamson ingin lanjut melakukan sesuatu yang dia sukai, tapi Jocelyn bersikeras menolak.


Ini membuat Williamson tertekan untuk sementara waktu, serasa ingin menangkap dan memukul Evan lagi!


Setelah mengantar Jocelyn kembali ke asrama, Williamson membuka Instagram.


Williamson tahu bahwa itu adalah notifikasi Cheat yang berhasil merebut amplop merah berikan Nabi Lao Zi.


Namun, dalam situasi barusan, jangankan amplop merah, bahkan Nabi Lao Zi mengirim seluruh tungku obatnya sekali pun Williamson tidak akan terganggu.


Setelah membuka tas, pil obat biru muda muncul.


Pil Pengalaman: Menambahkan 10.000 poin pengalaman pada skill apa pun.


Pil Pengalaman? Williamson sedikit bingung, apa dirinya sedang dalam sebuah game?


Melihat bahwa tidak ada persyaratan ranah di deskripsi, Williamson langsung mengekstraknya terlebih dahulu!


Gunakan atau tidak?


Gunakan!


Silakan pilih skill: 1. Moon Palace Fairy Song 2. Penglihatan Surgawi.


Apa! Pengalaman Moon Palace Fairy Dong bisa ditingkatkan? Bukankah itu berarti bisa naik level juga?


Williamson ingat bahwa setelah mempelajari Moon Palace Fairy Song, jelas tidak ada tampilan level.


Berbeda dengan Penglihatan Surgawi yang memang muncul sebuah pesan di benaknya, yang menandakan bahwa level Penglihatan Surgawi saat ini adalah level 1.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Williamson tidak mengerti tapi terlalu malas untuk memikirkannya.


Pilihan 2.


Tidak ada alasan untuk ragu, Williamson langsung memilih menggunakan Pil Pengalaman pada Penglihatan Surgawi.

__ADS_1


Penglihatan Surgawi merupakan keahlian Dewa Erlang, yang jelas pasti lebih berguna daripada Moon Palace Fairy Song!


Pil pengalaman menghilang begitu saja, dan pada saat yang sama, sebuah pesan muncul di benak Williamson.


Poin pengalaman Penglihatan Surgawi meningkat 10.000 poin.


Level Penglihatan Surgawi telah naik ke level 2.


Astaga, benar-benar naik level!


Williamson merasa segar!


Penasaran efeknya akan seperti apa setelah peningkatan.


Williamson diam-diam melafalkan: Penglihatan Surgawi, aktif!


Setelah itu, dia melihat di sekitar kampus.


Pffttt!


Di depan Williamson kebetulan adalah kamar mandi perempuan.


Di dalam kamar mandi, beberapa gadis sedang bermain dan tertawa bersama di bawah pancuran, itu membuat Williamson hampir mimisan.


Astaga, ini mengagumkan sekali!


Tepat ketika hendak melihat sedikit lebih lama, ponselnya berdering.


Ternyata Calvin yang menelepon dan Williamson mengangkat teleponnya.


"Guru, ada kabar dari Biro Keamanan Umum bahwa Kelvin ini diperintahkan untuk membunuh Nicky."


Williamson tertegun sejenak, jelas ini percobaan pembunuhan yang terencana


"Siapa dalangnya?"


"Kelvin sendiri juga tidak tahu dengan jelas, sesuai yang dikatakannya, ketika hendak pulang kerja tadi malam, seseorang mengirim 200 juta ke rekeningnya, kemudian disusul dengan sebuah pesan teks yang menyuruhnya untuk mencelakai Nicky."


"Aku mengerti." Williamson punya firasat, dia telah menyinggung George, jadi George mungkin menargetkan Jocelyn.


"Ngomong-ngomong, guru..." Calvin ragu-ragu.


"Ada apa? Bilang saja."


Williamson masih memiliki kesan yang baik tentang Calvin ini, mau itu mengenai anggota keluarga pasien yang datang untuk berterima kasih kepada Calvin secara langsung, atau tanggung jawab Calvin untuk tidak menyerah dalam menyelamatkan Nicky di rumah sakit sampai saat terakhir, semua itu membuat Williamson merasa bahwa Calvin adalah seorang pria terhormat.


"Apa Doni pergi mencarimu sebelumnya?"


"Iya." Ketika berbicara tentang Doni, Williamson langsung kesal, tapi Williamson juga tahu Doni tidak bermaksud mengganggu dan merusak suasana itu.


“Kalau begitu, apa boleh meluangkan sedikit waktu untuk bantu memeriksa ayahnya? Ayahnya dan aku itu teman lama.” Suara Calvin sedikit sedih, jelas merupakan orang yang sangat berperasaan.


“Apa penyakit yang diderita ayahnya? Bahkan kamu tidak mampu menyembuhkannya?” Williamson sedikit terkejut. Jika bahkan Calvin saja tidak berdaya, maka penyakitnya tidak akan sederhana


“Bukan tidak mampu menyembuhkan, tapi penyakit yang diderita tidak bisa ditemukan.” Calvin menghela nafas melalui telepon.


Williamson berpikir sejenak, "Oke, aku akan ke sana kalau ada waktu."


Calvin sangat senang, "Lalu kira-kira kapan ada waktu luangnya?"


"Lalu..." Tepat saat Williamson hendak berbicara, matanya seketika terbelalak!


"Aku punya urusan, nanti akan kuberitahu!"


Setelah menutup telepon, mata Williamson menjadi dingin!

__ADS_1


__ADS_2