
“Kenapa berisik sekali?” Suara yang agak agung terdengar.
Di lantai dua, seorang lelaki tua berusia lima puluhan sampai enam puluhan perlahan-lahan berjalan ke lantai bawah.
“Bos, ada anak muda yang datang mengacau, saya lagi coba atasi.” Pria itu buru-buru membungkuk hormat dan menjawab.
“Datang mengacau?” Mata lelaki tua itu menyipit, “Anak muda, kau salah tempat nak.”
"Hah?"
Williamson sedikit tidak senang.
"Kau langsung percaya omongannya? Kalau begitu cara kalian memperlakukan pelanggan, toko ini nggak lama lagi bakal tutup."
“Jocelyn, yuk kita pergi, nggak perlu takut lukisan Tang Bohu itu nggak laku.” Williamson menarik tangan Jocelyn dan hendak pergi.
"Bentar.” Pria tua itu menghentikan Williamson, “Maksudmu, kau mau jual lukisan Tang Bohu?”
Sebelum Williamson sempat menjawab, pelayan itu menyela, "Bos, semua lukisan Tang Bohu sudah lama di tangan para keluarga kata, tapi anak ini tiba-tiba datang buat jual lukisan Tang Bohu? Udah jelas cuman mau mengacau, atau mungkin mau nipu."
Wajah lelaki tua itu juga menjadi muram.
"Anak muda, kau masih muda, kenapa harus mengambil jalan seperti ini? Kau pikir tempat ini mudah ditipu?"
Williamson tertawa cemas, menarik sekali, lukisannya saja belum dikeluarkan, tapi sudah disebut penipu.
"Betul, dia itu cuma penipu."
Pada saat ini, beberapa suara terdengar dari luar pintu.
Orang yang masuk adalah George yang diikuti oleh Evan dan Jolin.
“Williamson, ngapain kayak gitu? Lo itu mau ngapain tetap aja miskin, terima aja nasib lo." Mata Jolin penuh dengan penghinaan.
“Oh, ternyata tuan muda George.” Ketika pria itu melihat George masuk, dia buru-buru membungkuk dan menyapa dengan hormat, perlakuannya benar-benar berbeda saat Williamson datang.
"Celyn juga ada di sini ya.” George mengabaikan pria itu dan berjalan menuju Jocelyn.
“Memangnya kita dekat?” Wajah Jocelyn juga menjadi dingin, begitu banyak orang yang menuduh Williamson seorang penipu, tentu dia secara alami tidak senang.
“Yuk kita pergi aja.” Jocelyn tak ingin tinggal lagi, dia langsung berjalan pergi sambil memegang lengan Williamson.
"Jangan buru-buru pergi." George mengulurkan tangan untuk menghentikannya, "Bukannya ke sini buat jual lukisan? Karya asli Tang Bohu, kan? Itu mengagumkan, kenapa nggak tunjukin aja, biar kita semua bisa liat, gimana?
George berkata dengan sinis.
Pada saat ini, sudah ada beberapa orang yang menonton di luar toko, orang-orang langsung heboh begitu mendengar bahwa Williamson datang ke sini untuk menjual karya asli Tang Bohu.
"Ya Tuhan, anak muda zaman sekarang memang sesombong itu ya?"
"Hei, kalau mau nipu itu periksa informasinya dulu dong, semua karya asli Tang Bohu itu udah di tangan orang kaya."
"Bisa-bisanya anak muda itu datang nipu di sini."
George mendengarkan diskusi semua orang dan tersenyum bangga, "Kenapa? Nggak berani ya?"
__ADS_1
Williamson melirik George dengan dingin, 'Sialan, kayaknya sedikit pelajaran di ruang latihan musik kemarin masih belum cukup.'
"Bakal aku tunjukan, tapi gimana kalau ini asli?"
"Hahahaha ..." George tertawa terbahak-bahak, "Lihatlah dia, sampai begitu serius, seolah lukisan yang dipegangnya itu karya asli."
Semua orang juga tertawa, jelas, tidak ada yang percaya lukisan yang dibawa Williamson itu karya asli.
“Cukup basa-basinya, kalau asli gimana?” Williamson menatap George dan berkata.
"Hah?! Kalau asli aku ikut margamu!"
"Tolong jangan." Williamson buru-buru melambaikan tangannya, "Kalau aku punya anak kurang ajar kayak kau, mungkin para leluhurku bakal bangkit dari kuburan buat nyekik aku."
"Hahaha!" Para penonton tertawa terbahak-bahak
Wajah George memucat karena marah.
"Sialan, kalau itu asli, lo pilih aja salah satu barang antik di sini, gue yang bayar!"
"Oke, selain itu, aku juga mau nambah taruhannya lagi, sama kayak kemarin, kalian bertiga harus gonggong tiga kali, jangan kabur ya kali ini," kata Williamson dengan nada bercanda.
"Oke! Kalau itu palsu, lo harus ninggalin Celyn dan merangkak keluar dari sini kayak anjing!"
"Sepakat!" Williamson menjentikkan jarinya dan berjalan ke arah meja panjang di tengah ruangan dengan kotak lukisan.
"Apa ada yang mempelajari kaligrafi dan lukisan Tang Bohu sebelumnya? Biar bisa bantu identifikasi?" Williamson bertanya kepada para penonton.
"Bos tempat ini seorang ahli juga, biar dia yang periksa aja!" Seseorang berteriak.
"Hmm." Williamson tersenyum menghina, "Aku percaya aja sama kemampuan Bos."
“Kalau gitu, silakan dikeluarkan lukisannya.” Bos itu melirik Williamson dengan tidak sabar.
"Tapi," Williamson berhenti sejenak, "Aku sedikit ragu dengan karakter Bos."
"Kau!" Bos itu gemetar karena marah, "Oke, kalau hasilnya ini palsu, akan ku keluarkan kau dari sini!"
"Tsk tsk tsk." Williamson mengabaikannya, setelah menelan pil kebangkitan level dasar, memangnya dia takut?
"Apa ada yang bisa bantu identifikasi?" Williamson berkata kepada kerumunan lagi
“Biar saya saja.” Sebuah suara datang dari luar pintu.
"Tunggu, bukannya dia Tuan Hans?"
"Baguslah kalau Tuan Hans yang periksa, sama sekali tidak mungkin buat karya palsu atau replika untuk lolos."
"Betul, tingkat penilaian Tuan Hans itu salah satu yang terbaik di dalam negeri ini."
Williamson menoleh, seorang lelaki tua bersemangat berusia tujuh puluhan berjalan masuk, diikuti oleh seorang pemuda berusia tiga puluhan.
“Ternyata Tuan Muda Ethan juga ada di sini.” Tepat ketika semua orang mulai memuji Tuan Hans, George berlari dan datang ke sisi pemuda itu, bertingkah seperti penjilat, tersenyum malu-malu dan menyapa dengan penuh hormat.
“Halo, Tuan Muda George.” Ethan mengangguk kepada George dengan anggun, tetapi George merasa tersanjung untuk beberapa saat, dan senyum di wajahnya menjadi lebih rendah hati.
__ADS_1
“Tuan Hans, aku senang kamu datang mengunjungi toko kami.” Begitu Tuan Hans masuk, Boss itu merendahkan kesombongannya dan mengambil inisiatif untuk menyapa.
Jelas identitas Tuan Hans ini tidak biasa.
Tuan Hans menyapa semua orang dengan sopan, kemudian tersenyum pada Williamson.
"Anak muda, perlihatkanlah lukisannya, saya sendiri punya sedikit pengalaman dalam mengidentifikasi karya asli Tang Bohu."
“Boleh perkenalkan diri dulu?” Nada bicara Tuan Hans sopan, tentu Williamson juga akan menunjukkan rasa hormat.
"Tuan Hans itu wakil ketua Asosiasi Kaligrafi dan Pelukis di negara ini, di antara karya Tang Bohu yang masih ada, tiga di antaranya pernah diidentifikasi oleh Tuan Hans." Sebelum Tuan Hans sempat berbicara, Ethan yang berada di sebelahnya langsung memperkenalkannya kepada Williamson.
'Waduh! Orang tua ini luar biasa, sampai pernah identifikasi tiga lukisan asli Tang Bohu.' Williamson merasa lega.
“Kalau gitu, Tuan Hans, tolong diperiksa.” Setelah berbicara, Williamson membuka kotak kayu, mengeluarkan lukisan, dan meletakkannya di atas meja panjang dengan sangat hati-hati.
Semua orang juga terdiam, menjulurkan kepala untuk melihat ke meja.
“Pfft! Hahaha, ini yang lo sebut karya asli Tang Bohu? Ini jelas cuma lukisan erotis.” Tawa Evan terdengar lebih dulu.
"I-ini keterlaluan."
"Anak muda zaman sekarang vulgar sekali ya."
Jocelyn juga menonton dengan serius, dia 100% mempercayai Williamson, yakin Williamson tidak akan menipu orang lain dengan lukisan palsu.
Tetapi begitu melihat isi lukisan itu, wajah Jocelyn memerah.
“Williamson ini keterlaluan.” Tangan kecil Jocelyn mencubit lengan Williamson dengan kuat.
Tuan Hans sama sekali tidak terganggu oleh pendapat atau kebisingan kerumunan, dia memakai kacamata, mengidentifikasi dengan teliti, dan sangking dekatnya, hampir seluruh wajahnya menempel pada lukisan itu.
Namun, bagi mereka yang memperhatikan, ekspresi Tuan Hans terus berubah, menjadi semakin terkejut.
Setelah waktu yang lama, Tuan Hans perlahan menegakkan tubuh dan melepas kacamata.
"Tuan Hans, tolong jangan marah, anak muda sekarang memang begitu, nggak tahu mana yang baik dan buruk, selalu salah ambil jalan dan mau jadi kaya dalam sekejap."
"Betul, maklumin saja, biarkan Bos yang usir dia."
Semua orang sepertinya yakin bahwa lukisan tersebut palsu.
"Hei Williamson, apalagi yang mau lo bilang? Siap-siap aja merangkak keluar dari sini, hahaha ..." George dan Evan tertawa terbahak-bahak, Jolin juga memasang senyum sinis di wajahnya.
Boss itu terus memperhatikan Tuan Hans, begitu Tuan Hans membuka mulut dan menyatakan bahwa lukisan tersebut palsu, dia akan langsung menyuruh orang untuk mengusir Williamson.
Williamson menutup telinga tentang pendapat orang-orang, dan memandang Tuan Hans sambil tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Hhhh.” Setelah waktu yang lama, Tuan Hans menghela nafas, dan semua orang menjadi hening.
"Anak muda, langsung buka harga aja, saya mau lukisan ini."
“Apa?!” Kata-kata Tuan Hans menghebohkan dan mengejutkan semua orang.
"Tuan Hans, kamu..."
__ADS_1
"Saya bilang, saya mau lukisan ini!"