Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 35 Mencari Masalah Sendiri


__ADS_3

Batu Frank yang baru dipotong sedikit langsung muncul warna hijau.


Para penonton tiba-tiba menjadi bersemangat, seolah-olah batu itu milik mereka.


Wajah Frank sangat senang, "Cepat potong!"


Tukang pemotong batu mengambil sesendok air dan menuangkannya di atas batu tersebut, sehingga warna hijau terlihat semakin jelas.


Ethan yang menyaksikan dari samping, diam-diam merasa sayang.


Pada saat yang sama, dia melirik batu Williamson yang ketika dipotong tidak berisi apa-apa, dan itu membuatnya menggelengkan kepala.


Williamson dengan tenang menatap batu di depannya.


"Pak, tolong dipotong lagi."


"Kawan, bagaimana kalau jual batu ini seharga 200 juta padaku?"


"Sobat, jual 300 juta saja padaku, kamu bisa untung 200 juta tanpa resiko apa pun."


Para penonton sudah mulai menawar untuk membeli batu Frank.


“Tidak untuk dijual, sebesar apa pun tak akan kujual!” Mulut Frank tersenyum bahagia.


Di sisi Williamson, setelah dipotong lagi, yang muncul hanya lapisan abu-abu, tidak ada harapan yang terlihat sama sekali.


“Hijau, hijau, muncullah hijau besar!” Di sisi Frank, matanya menatap batu dengan penuh semangat.


"Clack!" Setelah batu terpotong.


“Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi!” Semua penonton tercengang.


Batu Frank tidak muncul lapisan hijau seperti yang dibayangkan semua orang, sebaliknya berwarna abu-abu.


Lapisan hijau yang terlihat sebelumnya hanya tipuan mata, ternyata hasilnya hanya setipis helaian rambut.


"Sialan, apa yang terjadi?” Frank merasa seolah tersiram air dingin, hatinya bahkan serasa membeku.


“Potong lagi!” Frank berteriak dengan enggan.


Setelah beberapa potongan, isinya masih abu-abu.


Sampai potongan terakhir mendarat, batu itu hancur dan menjadi tumpukan pecahan.


"Shh!" Kerumunan penonton tiba-tiba mencemooh.


"Astaga kupikir akan hijau besar."


"Untungnya tidak berhasil kubeli, kalau tidak rugi besar itu!"


Wajah Frank memucat, apa-apaan ini?! Jelas batu ini akan hijau besar, kenapa bisa jadi sampah?


Memutar kepalanya untuk melihat Williamson lagi, hasil potongan Williamson juga tidak jauh berbeda, tidak ada tanda-tanda hijau sama sekali.


Frank merasa jauh lebih baik.


Batunya yang berpotensi tinggi saja tidak mendapatkan hasil, jika batu si idiot itu hijau, itu akan sangat memalukan.


“Waduh, itu hijau!” Ditengah Frank sedang berpikir, sebuah suara yang muncul tiba-tiba dari belakang membuatnya kaget.


Semua orang buru-buru berkumpul untuk melihat batu Williamson.


Sialan, sepotong batu hijau besar!


Batu sampah seperti ini saja isinya bisa hijau!


"Sobat, jual saja 400 juta padaku."


"Aku beli 600 juta!"


Dua orang yang ingin membeli batu Frank sebelumnya datang menghampiri Williamson untuk membuat penawaran.


Williamson juga mulai menunjukkan senyum penuh pengertian di wajahnya.


Sebaliknya Frank marah besar.


"Hmph, jangan senang dulu."


Tidak ada yang memperhatikan Frank, perhatian semua orang sudah terfokus pada batu Williamson.


Clack!


Begitu potongan terakhir selesai, sepotong zamrud seukuran telapak tangan muncul di depan semua orang.


"Astaga ini besar sekali!"


"Bro, jual atau tidak, buka harga saja!"


"Kawan, aku dari toko perhiasaan, kami ingin membeli batu ini, harganya bisa kita bicarakan"

__ADS_1


Williamson menunjuk ke arah kerumunan sambil tersenyum, dan berkata, "Jangan terburu-buru, aku akan memilih beberapa batu lagi, nanti akan kujual semua sekaligus."


“Cih, seolah setiap batu yang dipilih bisa hijau.” Frank kesal dan berkata dengan nada menghina.


Williamson melirik Frank dan mendengus dingin dalam hati.


Williamson di sini untuk membalas dendam teman baiknya, bukankah akan rugi kalau tidak memberi Frank sedikit pelajaran?


Ethan melihat batu pecah di tanah dengan terkejut, kemudian menatap Williamson lagi.


"Willi, sepertinya kamu cukup mahir di bidang ini."


"Kak Ethan terlalu memujiku, ini pertama kaliku judi batu."


Ethan langsung memutar matanya begitu mendengar kata-kata Williamson, pertama kali? Sedang mengolok-olok aku?


Williamson mengangkat bahu, dia sudah berbicara jujur, tapi tidak ada yang percaya.


"Yuk Kak Ethan, kita pilih beberapa lagi."


Ethan juga sangat penasaran, apakah Williamson itu benar-benar mahir, atau hanya beruntung.


Setelah mendampingi Williamson, pada akhirnya ada tiga batu lagi yang terpilih.


Williamson hendak membayar tagihan, tapi dihentikan oleh Ethan.


"Sebentar Willi, biar aku yang bayar saja, kalau untung jadi milikmu, kalau rugi aku yang tanggung."


Dari tiga batu yang dipilih Williamson, Ethan kurang optimis terhadap dua di antaranya, tapi dia tetap menawarkan diri untuk membayar tagihan Williamson.


Bisa dikatakan perlakuan seperti ini sudah sangat baik bagi seorang teman yang baru saja kenal.


Bagaimana mungkin Williamson akan membiarkan Ethan terus yang bayar? Ini baru kedua kalinya dia bertemu dengan Ethan, tapi Ethan sudah sebaik ini padanya.


Melihat mata penuh tekad dari Ethan, Williamson tahu akan sulit untuk menolak.


"Begini saja Kak Ethan, kalau untung kita bagi rata, kalau rugi Kak Ethan yang tanggung."


"Hahaha, oke, sudah kita putuskan."


Setelah mengangkut tiga batu ke mesin pemotong batu, orang-orang berkumpul lagi.


"Tolong potong ini." Williamson berkata dengan ringan.


"Cih, si idiot berpikir keajaiban akan terjadi beberapa kali."


Frank mengerutkan bibirnya dan bergumam dengan jijik, tapi tetap ikut nonton.


"Yang ini muncul hijau!"


"Yang ini juga hijau!"


Setelah beberapa saat, kerumunan menjadi bersemangat.


Mulut Ethan terbuka lebar dan menatap Williamson dengan tatapan yang sudah benar-benar berbeda.


"Willi, jangan-jangan kamu lahir dari batu ya? Kenapa bisa sejago itu?!"


"Apa yang kamu bicarakan, yang lahir dari batu itu kera sakti!"


Williamson juga dalam suasana hati yang baik, bersama dengan batu hijau sebelumnya, totalnya terjual lebih dari 6 miliar.


Saat membagi rata uang, Ethan bersikeras untuk menolak, tapi di bawah paksaan Williamson, akhirnya dia terima 2 miliar.


Williamson berpikir sejenak, kemudian mentransfer masing-masing 1 miliar pada Johnson dan Daniel.


Yang menonton juga kebagian?!


Kemurahan hati Williamson membuat mata penonton menjadi memerah, mereka semua buru-buru mendekati Williamson untuk meminta kontak.


Dengan adanya teman seperti Williamson, menjadi kaya mendadak itu tidak akan sulit.


“Terima kasih, Willi!” 1 miliar bukanlah jumlah yang kecil. Meskipun Johnson itu kaya, tapi dia tetap sangat tersentuh.


Apalagi Daniel yang terus memeriksa saldo berulang kali dengan ponselnya sambil bergumam sendiri.


"Willi, Kak Ethanmu ini dapat banyak untung darimu hari ini."


"Hahaha, sudah seharusnya berbagi."


Frank yang melihat kesombongan Williamson langsung kesal total.


"Hmm?" Williamson tiba-tiba menoleh, matanya tertuju pada sebuah batu besar.


Tidak tahu mengapa, semua orang menjadi hening.


Williamson dengan cepat berjalan ke depan batu tersebut, menyentuh sana sini, kemudian wajahnya menjadi semakin bahagia.


"Pak, aku mau batu ini, kubeli dengan 1 miliar!"

__ADS_1


Apa!


Williamson hanya berkata dengan singkat, tapi semangat semua orang langsung mendidih.


Sepotong batu langsung ditawar 1 miliar? Ini belum pernah terjadi sebelumnya!


Namun, begitu mereka mengingat bahwa Williamson sudah memilih batu yang berisi hijau empat kali berturut-turut sebelumnya, semua orang langsung menyadari alasan mengapa Williamson langsung menawar batu ini dengan harga setinggi itu, karena sudah jelas ada sesuatu yang berharga di dalam batu tersebut.


“Aku beli 1,1 miliar!” Tiba-tiba seseorang tidak tahan lagi dan mulai menaikkan harganya.


"Aku 1,2 miliar!"


"Aku 1,3 miliar!"


"Dua miliar!" Williamson berteriak langsung.


Apa!


Kerumunan heboh lagi.


Mereka tidak yakin seberapa berharga barang yang ada di dalam batu, jadi semua orang tidak berani menawar lebih tinggi lagi.


Melihat tidak ada yang menawar lagi, Williamson terlihat sangat senang.


"Pak, tagihannya!"


"Tunggu!"


Frank berdiri.


"Aku beli dengan 2,2 miliar!"


Ekspresi Williamson berubah.


"2,4 miliar!"


"3 miliar!" Melihat ekspresi Williamson berubah, Frank yakin bahwa pasti ada harta karun di dalam batu ini!


"Tuan Muda Frank, boleh beri muka? Lagi pula aku yang memilih batu ini duluan." Williamson tersenyum dan memohon.


"Tidak ada yang namanya milih duluan, barang itu sudah seharusnya terjual kepada tawaran tertinggi!"


"I-ini...." Williamson menunjukkan ekspresi kesulitan, kemudian menggertakkan gigi dan seolah sudah mengambil keputusan.


"Aku beli 10 miliar!"


Woah!


Kerumunan mendidih lagi.


Isinya masih belum pasti, tapi langsung menawar 10 miliar? Isi batu ini mungkin adalah harta karun.


Frank juga tertegun sejenak, dia tidak menyangka Williamson akan menawar harga setinggi itu.


Tetapi setelah dipikir-pikir, dia semakin yakin isi batu ini adalah harta karun.


Begitu dia menggertakkan giginya, Frank maju selangkah.


"12 miliar!"


"Apa? Ini jelas sudah berlebihan!"


"Serius harga setinggi itu untuk sebuah batu yang belum dipotong?"


Setelah Frank memberi penawaran, Williamson terdiam.


Melihat ini, Ethan berpikir bahwa Williamson tidak punya cukup uang.


"Emp..." Tepat saat hendak menawar untuk Williamson, Ethan langsung ditahan oleh Williamson.


Ethan tampak bingung.


"Willi, kalau kamu tidak membawa cukup uang, aku akan tambahkan sisanya, kita tak boleh menyerahkan batu ini."


Kejadian sebelumnya membuat Ethan percaya kemampuan Williamson dalam memilih batu, jelas Williamson punya alasan tersendiri sehingga bisa begitu ingin membeli batu tersebut, jadi Ethan tidak ingin membiarkan orang lain mengambil keuntungan ini.


Williamson tidak berbicara, melainkan berkedip pada Ethan.


Ethan tertegun sejenak, lalu mengerti dan menatap Williamson dengan ekspresi aneh.


Williamson mengabaikannya, menoleh ke arah Frank dan berkata dengan ekspresi pahit, "Aku tidak membawa cukup uang, jadi terpaksa kalah pada Tuan Muda Frank."


“Hahaha, kalau begitu aku tidak segan-segan lagi.” Melihat Williamson tidak menawar lagi, Frank langsung senang.


Jika harganya terus naik, dia juga tidak akan mampu lagi.


Frank bergegas ke arah pemilik dan membayar tagihannya, kemudian berteriak pada tukang, "Kenapa diam saja? Cepat potong."


Williamson yang di samping tertawa diam-diam.

__ADS_1


Ini namanya mencari masalah sendiri.


__ADS_2