Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 11 Lukisan Ratusan Gadis Malam


__ADS_3

“Serius.” Jocelyn meraih lengan Williamson dengan penuh semangat, tangannya bahkan sedikit gemetar.


“Seharusnya begitu, bentar ya.” Williamson menghindari pandangan Jocelyn dan membuka tampilan ikon tas.


Pil Pengembali Roh: Obat untuk mengembalikan roh ke tubuh.


Deskripsinya sederhana dan singkat, tapi catatan kecil di belakang membuat Williamson hampir marah besar.


Tidak berfungsi untuk pengguna di bawah tingkat Dewa!


Ya Tuhan!


Wajah Williamson berubah.


Nabi Lao Zi ini jelas mendiskriminasi manusia biasa.


“Ada apa?” Melihat ekspresi Williamson yang tidak beres, Jocelyn bertanya dengan gugup.


"Gapapa, nyelamatin paman itu bukan urusan yang bisa selesai dalam sekejap, tapi aku udah punya solusinya, jadi nggak perlu khawatir." Williamson menghibur Jocelyn dan berkata.


"Oh." Jocelyn mengangguk patuh.


"Kera Sakti, apa ada pil pengembali roh yang bisa dikonsumsi manusia biasa?" Williamson memikirkannya, dan mengirim pesan kepada Kera Sakti.


“Nggak ada!” Kera Sakti menjawab dalam hitungan detik, tetapi isi jawabannya membuat Williamson merasa merinding.


Sialan! Bagaimana ini?


Setelah duduk sebentar, Williamson dan Jocelyn kembali ke sekolah.


Williamson berbaring di tempat tidur, memikirkannya, dan langsung tag @Nabi Lao Zi di grup.


Dewa Kecil yang Bingung: @Nabi Lao Zi, apa ada pil pengembali roh buat manusia biasa?


Nabi Lao Zi: Untuk manusia biasa? Tak akan kubuat, buang waktu aja.


Sialan!


Dewa kecil yang bingung: Tapi aku mau beli satu.


Nabi Lao Zi: Oke, gimana kalau 10.000 poin jasa.


Dewa kecil yang bingung:  …


Dewa Erlang: Kenapa pil manusia biasa bisa semahal itu? Satu pil buat dewa aja 500 poin jasa aja.


Nabi Lao Zi: @Dewa Erlang, kamu tahu apa? Aku sekali buat itu satu tungku, tapi dia cuma mau satu, mau kujual ke siapa sisanya? Kamu mau ya?


Dewa Erlang: Itu kan buat manusia, ngapain aku beli?


Tujuh Dewi: Maksud Nabi Lao Zi itu, cuma mau beli sebutir atau satu tungku itu tetap seharga 10.000, lagian buat manusia biasa, jadi pasarnya sangat kecil.


Nabi Lao Zi: @Tujuh Dewi, benar sekali!


Tujuh Dewi: Ngomong soal manusia, ingin sekali turun ke dunia manusia lagi, tapi sayangnya beda 3.000 tahun...


Williamson keluar dari Instagram, menghela nafas dalam hatinya, tidak ada gunanya beli sama Nabi Lao Zi, jangankan 10.000 poin jasa, 1 poin saja dia tidak ada, tidak mungkin dia tukar dengan wortel lagi, kan?


Keesokan harinya, Williamson membuka grup Instagram lagu, menatap layar ponsel dengan teliti, dan tidak berani berkedip untuk sementara waktu.


Karena Nabi Lao Zi pernah menyampaikan bahwa paket hadiah akan dikirim sekali setiap harinya, jadi dia tidak ingin melewatkan ini.


Nabi Lao Zi: Semua hadir? Aku akan kirim paket hadiah.


Akhirnya tiba.


Ding dong!


Sebuah paket hadiah besar muncul di layar.


Rebut!


Williamson yang sudah siap dari awal, langsung menekan layar secepat mungkin.


Anda menerima paket hadiah dari Nabi Lao Zi.


Mantap!


Segera dibuka dan memeriksa.


Pil Penjernih Hati: Obat suci penghancur iblis, tidak berfungsi untuk pengguna di bawah tingkat Dewa.


Tidak berfungsi lagi!


Williamson menjadi sangat keberatan dengan Nabi Lao Zi ini.


Dewa Perang Iblis: @Dewa kecil yang bingung halo, kamu berhasil rebut pil penjernih hati, dijual nggak?

__ADS_1


Dewa kecil yang bingung: Tentu!


Sialan, tidak berguna juga kalau cuma disimpan.


Dewa Perang Iblis: Berapa?


Dewa kecil yang bingung: Buka harga saja.


Mana mungkin dia tahu harga pasar pil penjernih hati ini.


Ding dong!


Pesan dari Kera Sakti.


"Dewa Perang Iblis ini lagi butuh pilnya, jangan jual di bawah 1.000 poin jasa."


"Makasih banyak Kera Sakti!" Williamson sangat gembira.


Dewa Perang Iblis: Bagaimana kalau 300?


Williamson langsung memutar matanya di grup.


'Untungnya Kera Sakti memberitahunya, beraninya dia membullyku yang nggak tau harga pasar!'


Dewa Perang Iblis: 500, nggak bisa lebih lagi (Emoji ekspresi berkeringat)


Dewa kecil yang bingung: kamu lagi bercanda, kan?


Dewa Perang Iblis terdiam.


'Tunggu, perdagangan ini nggak bakal berakhir kan?'


Setelah menunggu beberapa saat lagi.


Ding dong!


Dewa Perang Iblis menambahkan Anda sebagai teman.


Terima!


"Kawanku, paling banyak 600, nggak bisa lebih lagi."


“1000, kurang satu nggak kujual.” Williamson sangat yakin dengan kata-kata Kera Sakti.


"Sialan, pria tua itu cuma jual 800."


"..."


Yang terburu-buru akan kalah, Williamson dengan tenang menyaksikan obrolan grup.


“Kawanku, gimana kalau nego sebentar?” Dewa Perang Iblis akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.


"Aku cuma punya 600, 400 sisanya kubayar pakai barang lain aja boleh?"


"Ganti barang apa?"


"Aku punya teman di dunia bawah yang memberiku sebuah lukisan, boleh ganti itu aja?"


"Siapa nama temanmu?"


"Tang Bohu."


Apa!


"A-apa namanya?"


"Tang Bohu, kenapa? Kenal dia?"


Lebih hanya sekedar mengenal, siapa yang nggak tau Tang Bohu?


Sungguh, hidup ini penuh dengan kejutan.


'Tentu aja terima, hanya orang bodoh yang nggak mau!'


Namun, Williamson harus berpura-pura menjawab dengan sangat enggan.


Williamson: Belum pernah dengar, kayaknya cuma pelukis biasa.


Dewa Perang Iblis: Kalau gitu mau? Aku beneran lagi butuh pil penjernih hati.


Williamson: Baiklah, lagian kamu lagi kesulitan juga, untuk kali ini aku terima, siapa suruh aku berhati lembut.


Dewa Perang Iblis: Serius? Makasih kawan, makasih banyak!


Dewa Perang Iblis berterima kasih dengan tulus.


Ding dong!

__ADS_1


Dewa Perang Iblis akan mentransfer 600 poin jasa kepada Anda.


Dewa Perang Iblis mengirimi Anda "Seratus Wanita Malam" Karya asli Tang Bohu.


Dewa Perang Iblis: Hei kawan, aku jamin kamu pasti puas dengan lukisannya (diikuti dengan emoji 'Lo tahu la')


Apa?! Ketika Williamson mendengar nama lukisan itu, dia langsung kaget.


Nama lukisannya erotis dan romansa sekali, Tang Bohu memang beda.


Seorang lelaki tua berjanggut seperti Dewa Perang Iblis berteman dengan orang bakat romantis seperti Tang Bohu? Ternyata mereka berdua punya minat yang sama dalam aspek tertentu.


Setelah mengirim pil penjernih hati kepada Dewa Perang Iblis, Dewa Perang Iblis berterima kasih lagi.


Williamson menemukan tempat yang sepi dan mengeluarkan ponselnya.


Ekstrak!


“Bom!” Sebuah kotak dengan aroma kayu cendana muncul di tangannya.


'Gede banget!'


Kotak ini panjangnya lebih dari satu meter.


Begitu membuka kotaknya, terdapat sebuah gulungan kuno di dalamnya, dapat dilihat dari warna kertasnya bahwa lukisan ini sudah berumur.


Dengan hati-hati membuka untuk melihat isinya, Williamson tiba-tiba merasakan suatu gelombang panas yang naik dan bereaksi di perut bagian bawahnya.


Astaga! Ini luar biasa!


Adegan dalam lukisan terlihat sangat hidup, dan itu membuat orang yang melihatnya merasa adanya perasaan yang mendalam.


'Karya asli Tang Bohu memang nggak mengecewakan!'


“Bakal kujual!” Williamson tidak tertarik pada kaligrafi dan lukisan, uang adalah segalanya.


Setelah selesai menikmati lukisan itu, dia menemukan kantong hitam besar untuk membungkusnya, dan menelepon Johnson.


“John, tau di mana tempat yang bisa jual kaligrafi dan lukisan antik?” Di lingkaran pertemanan Williamson, hanya keluarga Johnson yang merupakan keluarga kaya, jadi seharusnya Johnson punya pengetahuan tentang pasar antik.


"Balai kuno."


"Berapa harga lukisan Tang Bohu?"


"Gue nggak tau harga pasarnya sih, tapi seharusnya nggak murah."


"Kamu di mana, ikutlah aku ke sana.” Johnson punya mobil, jadi Williamson tidak mau bawa secara terang-terangan di jalan.


Setelah beberapa saat, sebuah mobil Audi A4 putih berhenti di lantai bawah asrama.


Williamson baru saja masuk ke dalam mobil dan Instagramnya tiba-tiba berbunyi.


“Williamson, aku tadi lihat kamu dari lantai atas, mau ke mana?” Pesan dari Jocelyn.


"Balai Kuno, mau ikut?"


"Iya, tunggu bentar, kebetulan aku nggak ada kelas."


“Kita jemput Jocelyn di asrama putri.” Williamson berkata kepada Johnson.


“Serius lo? Lo beneran dapat si Jocelyn itu?” Johnson berbalik dengan ekspresi iri.


“Woi! Setir baik-baik!” Ketika Johnson berbalik, mobilnya hampir menabrak trotoar.


Sialan, bisa-bisanya dia nyesal baik mobil ini.


Setelah menjemput Jocelyn, mereka tiba di Balai Kuno dalam sepuluh menit.


Dalam perjalanan, Williamson sudah periksa di Internet, di Balai Kuno terdapat toko kaligrafi dan lukisan antik terbesar di Kota Santapolis yang sudah memiliki sejarah hampir 100 tahun.


Johnson masih punya urusan, jadi dia meninggalkan Williamson dan Jocelyn di pintu toko.


Begitu mereka masuk pintu, seorang pria muda buru-buru datang menyambut, tetapi setelah melihat penampilan Williamson dan Jocelyn dari atas ke bawah, wajahnya langsung menjadi dingin.


“Beli lukisan ya?” Terdapat acuh tak acuh dalam nada suaranya.


“Jual lukisan!” Williamson marah dalam hati, 'Dasar orang yang mandang rendah orang lain.'


“Jual lukisan?” Lelaki itu tersenyum dingin, “Kalau mau jual lukisan ke tempat lain aja, toko kami nggak nerima rongsokan.”


“Lukisan Tang Bohu terima nggak?” Wajah Williamson sedikit dingin.


“Tang Bohu?” Pria itu tertegun sejenak, lalu memandang Williamson seperti orang idiot, “Karya asli Tang Bohu itu udah tersebar dan berada di tangan keluarga kaya, mau nipu aku ya? Cepat pergi sana!”


Pria itu melambaikan tangan dan mulai mengusir.


Williamson langsung melepas kantong hitam dan meletakkan kotak cendana di atas meja.

__ADS_1


"Minggir dan suruh bosmu keluar!"


__ADS_2