Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 29 Dua Badut


__ADS_3

“Kamu bisa ukur sendiri seberapa dalam." Kata-kata Bella menjadi semakin ambigu.


"Oh." Williamson menjawab dengan ringan, "Maaf, tapi aku tidak naik bus umum."


Jocelyn tertegun sejenak dan masih belum menyadarinya.


Ekspresi wajah Bella langsung berubah total.


"Diberi muka tapi tidak mau!” Meninggalkan kalimat itu, Bella pergi dengan marah.


“Mengapa dia begitu marah ketika kamu mengatakan kamu tidak akan naik bus?” Setelah Bella pergi, Jocelyn bertanya dengan polos.


Emm……


Williamson menatap Jocelyn dengan heran, "Kamu tak paham?"


Jocelyn menggelengkan kepalanya.


Tidak heran Jocelyn dikenal sebagai primadona polos.


Williamson mendekat ke arah telinga Jocelyn dan membisikkan sesuatu.


Wajah Jocelyn langsung memerah.


"Dasar mesum!"


Ini dianggap mesum juga? Williamson kehabisan kata-kata untuk sesaat.


"Lalu, aku ini termasuk kendaraan apa?"


Pffttt!


Uhuk, uhuk, uhuk...


Kata-kata Jocelyn serasa hampir mencekik Williamson sampai mati.


"Kamu itu mobil pribadi, mobil pribadi yang tidak boleh dikendarai siapa pun selain aku."


Di wajah Jocelyn langsung tersipu.


Setelah mengantar Jocelyn pulang, begitu Williamson hendak berjalan ke asrama, ponselnya berdering.


Yang menelepon ternyata adalah si botak Giant.


"Giant, bagaimana kabarmu, sudah jauh lebih baik?"


"Guru, aku baik-baik saja, tapi ada orang gila yang terus menggangguku."


"Orang gila? Orang gila apa?"


"Seorang lelaki tua yang mengaku sebagai adik seperguruanku, dia ini seperti lalat yang terus mengganggu dan memanggilku kakak seperguruan, apa orang ini idiot?"


Pfftt!


"Hahahaha……"


Williamson langsung tertawa.


Calvin ini beneran pergi mencari Giant, sungguh lucu sekali.


"Tunggu aku, aku akan ke sana sebentar lagi."


Setelah menutup telepon, Williamson masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit.


Begitu memasuki bangsal, Williamson tertawa terbahak-bahak lagi.


Adegan di dalam begitu menggembirakan.


"Kakak seperguruan, beneran guru yang menyuruhku untuk datang mencarimu!"

__ADS_1


"Kau ini Pat Kay (Salah satu dari ketiga pengawal biksu Tong, kakak kedua setelah Kera Sakti dalam mitologi Tiongkok) ya?"


"Aku Calvin."


"Lalu kenapa mencariku?"


"Aku mencarimu untuk belajar jarum emas."


"Aku tidak tahu jarum emas, mau belajar tongkat sakti?"


"Kakak seperguruan, tolong jangan bercanda, guru yang menyuruhku mencarimu."


"Kau Pat Kay ya?"


"Aku Calvin."


……


Astaga, kedua badut ini.


Melihat mereka berdua terus mengulangi kata-kata di atas dengan serius, Williamson merasa jika dia benar-benar menerima dua murid seperti ini, cepat atau lambat dia pasti akan mati karena tertawa.


“Guru akhirnya datang.” Melihat Williamson sudah datang, mata Calvin langsung berbinar.


Dia menghampiri Williamson dengan lari kecil dan meraih lengannya.


"Cepat beritahu kakak seperguruan kalau aku ingin belajar jarum emas dengannya, tetapi dia bersikeras ingin mengajariku tongkat sakti, apa karena cedera yang belum sembuh jadi dia bertindak idiot dan mengaku diri sebagai Kera Sakti?"


“Tunggu, aku tertawa bentar.” Melihat wajah serius Calvin, Williamson menekan perut sendiri dan tertawa terbahak-bahak.


“Guru kenal lelaki tua ini?” Giant menggosok kepala dan bertanya dengan ragu.


"Dia kepala rumah sakit ini," Williamson menjelaskan.


"Dan juga murid guru." Calvin buru-buru menambahkan.


“Oh ya guru, ngomong-ngomong siapa namamu?” Calvin menggosok kedua tangannya sambil bertanya dengan malu-malu.


Ini cukup aneh.


“Nama Guru itu Williamson, dan aku Si botak Giant.” Sebelum Williamson sempat menjawab, Si botak Giant buru-buru berkata.


"Si botak Giant? Yang nebang pohon itu?"


Williamson: ...


"Oke, izinkan aku menyatakan sebelumnya bahwa aku belum secara resmi setuju menerima kalian berdua sebagai murid, jadi jangan asal panggil guru."


Williamson merasa bahwa dia harus menjauhkan diri dari kedua orang ini.


"Apa? Guru, orang ini bukan murid resmimu?"


Calvin tertegun sejenak, lalu buru-buru bertanya, "Kalau begitu, apa dia bisa pakai jarum emas juga?"


Williamson memutar matanya.


"Dia ingin belajar tendangan tanpa bayangan, bukan jarum emas pengembali roh."


"Astaga, selama ini ternyata dia tidak tahu cara jarum emas dan bukan murid resmi? Membohongiku dan membuatku terus memanggilnya kakak seperguruan saja."


Calvin sangat kesal hingga janggutnya terangkat.


"Siapa yang bohongi? Jelas kau sendiri yang manggil, tapi kau tidak salah juga, karena aku yang duluan menjadi muridnya guru, jadi posisi kakak seperguruan otomatis punyaku."


"Berhenti omong kosong di sini, umurku saja sudah cukup tua untuk menjadi ayahmu, tapi kamu justru ingin menjadi kakak seperguruanku? Posisi kakak seperguruan ini jelas punyaku."


"Aku yang masuk lebih dulu, jadi aku kakak seperguruan!"


"Aku lebih tua darimu, jadi aku kakak seperguruan."

__ADS_1


"Aku kakak seperguruan!"


"Aku!"


"Tua bangka, percaya tidak, kutonjok kau!"


"Ayo sini, kau pikir aku takut?!"


Williamson menutup wajah, sungguh memalukan, dia tidak tahan lagi untuk melihat ini.


Si botak Giant masih dapat dimaklumi karena IQ yang lumayan rendah, tapi Calvin ini ...


Williamson mulai berpikir tentang bagaimana Calvin ini bisa menjadi Kepala RS.


"Kepala RS ..." Seorang perawat kecil bergegas masuk, tapi ketika melihat situasi ini, dia langsung terpana.


“Uhuk, ada apa?” Calvin bertanya dengan wajah serius.


Ketika Williamson melihat ini, dagunya hampir jatuh ke lantai, bukankah perubahan ekspresi ini terlalu cepat?


"Kepala RS, banyak anggota keluarga pasien yang berkumpul di pintu masuk rumah sakit begitu mendengar kabar kepulanganmu"


"Oh?" Calvin terkejut, "Ayo pergi lihat."


Williamson tanpa sadar ikut keluar.


"Kepala RS sudah keluar."


Di ruang terbuka yang ada di depan gedung rumah sakit, sekelompok anggota keluarga pasien segera mengepung Calvin.


"Kepala RS, terima kasih banyak, jika bukan karenamu, hidupku pasti sudah berakhir."


"Kepala RS, orang tuaku memintaku untuk secara khusus memberimu sebuah kain sintetis dengan kata-kata selamat sebagai rasa terima kasih keluarga kami padamu."


"Kepala RS, terima kasih sudah menyelamatkan hidup putriku, ini telur yang kubawa dari kampung halaman, silakan bawa pulang untuk dicoba nanti."


"Kepala RS, terima kasih sudah menyelamatkan ayahku, keluarga kami miskin jadi tidak bisa memberikan apa-apa, aku akan gantikan dengan sujud saja."


……


"Terima kasih, sudah merupakan tugas setiap dokter untuk menyelamatkan nyawa orang lain, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, kalian beneran tidak perlu sampai begitu."


Calvin meraih tangan para anggota keluarga pasien, tersenyum ramah, dan menginstruksikan satu per satu cara merawat pasien. Penampilannya benar-benar berbeda dari sebelumnya yang berdebat dengan si botak Giant.


Williamson yang melihat adegan di depannya, merasakan sebuah perasaan aneh yang menghantam hatinya.


Tanpa diduga, Calvin ternyata cukup terkenal, sepertinya dia adalah seorang dokter yang baik dengan keterampilan medis yang luar biasa dan etika medis yang mulia.


Setelah mengirim keluarga pasien pergi, Calvin bergegas kembali ke sisi Williamson lagi.


"Guru, bagaimana? Semua anggota keluarga ini datang untuk bertemu denganku, sungguh memberi muka sekali."


Pfftt!


Kesan Williamson tentang Calvin yang tadinya sudah sedikit berubah kembali ke kesan semula lagi.


Melihat wajah tersenyum Calvin, Williamson benar-benar tak berdaya.


Kalau merasa diberi muka juga tidak perlu dikatakan secara langsung.


Ck ck ck, kecerdasan emosional ini benar-benar tidak ada batasnya.


Williamson tiba-tiba merasa hidupnya sangat menderita.


Lihatlah baik-baik kedua orang yang ingin menjadi muridnya ini?


Satu kecerdasan emosional rendah, satunya lagi IQ rendah.


Apa aku hanya bisa bergaul di antara dua kelompok orang seperti ini?

__ADS_1


Sungguh menyedihkan.


__ADS_2