
Williamson langsung menolak, menoleh dan pergi begitu saja.
Tanpa diduga, ternyata Calvin cukup keras kepala dan terus mengikuti Williamson.
"Jika kamu tidak setuju, aku akan terus mengikutimu."
"Terserah." Williamson tidak terpengaruh akan ancaman itu.
Setelah menemukan warung makan di pinggir jalan, Williamson memesan semangkuk ramen daging sapi.
Calvin duduk di seberang Williamson dan memesan semangkuk juga, dan bahkan makan dengan santai, pada akhirnya juga menyuruh Williamson yang bayar.
Williamson sangat marah, apa maksud orang ini?
Setelah makan, Calvin benar-benar melakukan seperti yang dikatakannya, dan mengikuti Williamson tanpa henti.
Williamson tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk sementara waktu, karena Calvin ini termasuk salah satu orang yang cukup terkenal, tapi mengapa kelakuannya tidak jauh berbeda dengan si botak Giant?
Tunggu, si botak Giant!
Sebuah ide muncul di benak Williamson!
"Cari si botak Giant di rumah sakit, orang yang baru saja kuselamatkan, dia itu murid pertamaku, ceritakan saja apa yang kubilang ini dan biarkan dia yang menerimamu sebagai murid atas namaku."
“Oh, ternyata kakak seperguruan, baik guru, kalau begitu aku tidak akan mengganggu waktu guru dan pergi cari kakak seperguruan dulu." Calvin dengan senang hati berjalan pergi.
Williamson menghela nafas lega, karena akhirnya berhasil menyingkirkannya, sedangkan masalah di belakang, dia mana mungkin peduli dan cukup serahkan pada Giant.
Williamson masuk ke dalam mobil dan pulang.
“Mm?” Begitu tiba, terlihat adanya dua mobil BMW yang terparkir di depan asrama.
Setelah Williamson keluar dari mobil, ada empat pria berpakaian hitam yang turun dari setiap BMW dan menghentikan Williamson.
“Kamu Williamson?” Pria berbaju hitam yang memimpin memiliki bekas luka yang panjang dan sempit di wajahnya, bentuk bekas luka tersebut seperti cacing tanah, memanjang dari antara alis hingga bibirnya, dan tampak menakutkan.
"Iya." Williamson merasakan aura berbahaya dari pria dengan bekas luka di wajah ini.
Pria ini jelas pernah membunuh seseorang!
Williamson tanpa sadar merasa waspada.
"Ikut dengan kami."
"Siapa kalian? Mau ke mana? "
“Kau akan tahu begitu tiba nanti." Pria itu berbalik ke arah orang di belakangnya, dan tak lama kemudian dua pria berpakaian hitam maju dengan agresif.
Melihat bahwa orang-orang yang datang ini memiliki niat buruk, Williamson terpaksa membuat menyerang dulu, dan mengalahkan kedua pria berbaju hitam tersebut.
"Bajingan, berani-beraninya main kekerasan!" Pria dengan bekas luka di wajah membuka mulut dan memuntahkan puntung rokok, melesat menuju Williamson seperti sambaran petir, dan mengerahkan sebuah pukulan.
Pupil mata Williamson menyusut tiba-tiba.
Pria ini jago!
Dengan hindaran kepala yang tajam, Williamson berhasil menghindari pukulan pertama Pria dengan bekas luka di wajah itu, tepat saat hendak melawan balik, Willi tidak menyangka pria itu sudah menendang ke arahnya.
Sial!
Williamson terkejut, dan buru-buru berputar mundur.
__ADS_1
Tendangan barusan pria dengan bekas luka di wajah menghasilkan angin kencang, dan melewati depan dada Williamson.
"Hampir saja!" Williamson diam-diam merasa beruntung.
Sayangnya Williamson senang terlalu dini, tendangan pria dengan bekas luka di wajah itu berturut-turut, jadi walaupun satu tendangan meleset tapi tendangan lain menyusul dengan cepat.
"Sial, ini tidak ada habisnya!"
Melihat kaki pria itu sudah hampir mengenai dadanya, Williamson tidak tahu harus bagaimana menghindari ini.
"Anak ini berakhir sudah, tendangan Bang Kenny setidaknya akan mematahkan tiga sampai empat tulang rusuknya."
"Tiga sampai empat itu kalau beruntung, aku pernah lihat Bang Kenny menendang mati seekor kuda."
"Siapa suruh dia tidak tahu diri, kalau saja dari awal sudah menyerahkan diri pasti tidak akan begini."
Beberapa pria berpakaian hitam mencibir, dan mereka sudah mulai membayangkan situasi tragis Williamson.
"Buk!"
Dengan seringai di wajah, Kenny menendang dada Williamson dengan kuat.
Tuk tuk tuk!
Williamson mundur tiga sampai empat langkah setelah ditendang.
"Sial, ini benar-benar sakit sekali!"
Williamson menyeringai dan menggosok dadanya.
"Tunggu, kenapa bisa begitu!"
Beberapa pria berpakaian hitam yang sedang menonton tercengang.
Ini tidak masuk akal!
Ketika bereaksi dan melihat wajah Kenny, para pria berbaju hitam menjadi semakin tercengang.
Sudut mulut Bang Kenny terus berkedut, kaki kanannya juga seperti menggosok sesuatu di tanah tanpa henti.
Apa yang sedang terjadi? Apa Bang Kenny sedang memadamkan puntung rokok?
Apa ini sedang meniru pertunjukan dari Yang Kun (Seorang penyanyi-penulis lagu Tiongkok)?
Orang-orang yang melihat ini pun bingung.
Bang Kenny merasa sangat heran, dia berpikir tendangannya tadi seharusnya bisa langsung menumbangkan Williamson.
Tanpa diduga, yang tadi itu serasa seperti menendang pelat besi, Williamson baik-baik saja, sedangkan seluruh kaki Kenny terasa sakit hingga hampir mati rasa.
"Sialan, apakah bocah ini berlatih bela diri sejenis jurus tubuh besi?"
Setelah bergerak beberapa saat, kaki Kenny akhirnya pulih kembali.
Pada saat ini, sekelompok orang telah berkumpul di bawah asrama.
Melihat situasi di sini, mereka semua ikut menonton dan berbisik satu sama lain.
"Ini lagi syuting ya? Gerakan aktor dengan wajah bekas luka barusan itu bagus sekali, tendangannya cepat dan tepat."
"Mana mungkin syuting? Tidak ada kamera sama sekali di sini."
__ADS_1
"Pria itu bukannya, benar, itu raja nyanyi kita, Williamson!"
“Raja nyanyi Williamson? Kenapa belum pernah dengar sebelumnya?" Seorang laki-laki berkacamata bertanya dengan lemah.
“Tidak tahu Raja nyanyi Williamson? Itu selebriti baru kita, kamu tidak pernah main internet ya?” Bocah itu langsung mengejek.
Para gadis-gadis yang mengenali Williamson bahkan lebih tergila-gila.
"Raja nyanyi Williamson, aku penggemar beratmu!"
"Williamson, aku mencintaimu, aku mau punya bayimu!"
"Williamson, 18674852736, ini nomorku, aku akan langsung sampai kapan pun kamu butuh."
Williamson mendengar itu sambil keringatan.
Sialan, aku lagi diblokir di depan pintu asrama, kenapa situasi malah menjadi seperti ini?
Apa-apaan yang sampai kapan pun dibutuhkan, bukankah itu terlalu berlebihan?
Kalau memang penggemar beratku, kenapa tidak bantu aku singkirkan para pria yang datang entah dari mana ini?!
Kenny di sisi berlawanan sedikit mengernyit, melihat semakin banyak orang yang berkumpul, dia sepertinya menyadari bahwa tidak dapat membawa pergi Williamson hari ini.
"Bocah, anggap kau beruntung hari ini."
Kedua mobil BMW itu pun melaju pergi.
Williamson tidak berhenti di tempat, dan langsung naik ke lantai atas asrama.
“Willi, apa yang terjadi di bawah?” Begitu masuk asrama, beberapa orang dan Daniel berkumpul di sekelilingnya.
Jelas, mereka telah melihat apa yang terjadi di lantai bawah tadi dari jendela.
“Gapapa.” Asal Pria dengan bekas luka di wajah itu masih tidak diketahui, dan Williamson tidak ingin teman-temannya terlibat.
“Willi, beritahu saja aku jika ada masalah, Ayahku punya beberapa teman gangster juga.” Johnson datang dan berkata dengan serius.
“Gapapa, jangan khawatir, lakukanlah apa yang harus kalian lakukan.” Williamson sangat tersentuh, mengulurkan tangan untuk mendorong ringan Johnson dan yang lainnya kembali ke komputer.
Berbaring di tempat tidur, Williamson mengingat apa yang baru saja terjadi.
Dia sudah menebak dengan samar bahwa pria dengan bekas luka di wajah itu seharusnya berhubungan dengan George.
Dia pernah bertemu dengan George sebelumnya, dan George membawa 30 pria berpakaian hitam yang disebut dari Black Eagle Club, mereka mengenakan pakaian yang persis sama dengan para pria berpakaian hitam hari ini.
Setelah memberi George pelajaran, pria dengan bekas luka di wajah itu langsung datang ke sini, jelas datang untuk membalaskan dendam George.
"Sialan, pria dengan bekas luka itu jauh lebih kuat daripada tiga puluh pria berbaju hitam kemarin."
Williamson menggosok dadanya yang masih sakit, dan merasa dirinya terlalu santai.
Dia berpikir setelah memakan pil dan mencapai tingkat tahap awal dewa sudah tak terkalahkan di dunia, tapi tidak menyangka akan kalah dengan pria bekas luka yang entah datang dari mana itu.
Pria dengan bekas luka di wajah itu hanya menendangnya hari ini, bagaimana jika kedepannya datang dengan pisau? Jelas dia tidak akan seberuntung hari ini.
Semakin Williamson memikirkannya, semakin dia merasa takut.
Tidak, percuma jika hanya mencapai tahap awal dewa, aku harus belajar seni bela diri.
Tapi, belajar dari siapa?
__ADS_1
Williamson berpikir keras untuk beberapa saat, dan tiba-tiba teringat sesuatu!
"Astaga, bisa-bisanya aku lupa!"