Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 9 Bertemu Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Williamson menelan Pil Kebangkitan level dasar Tanpa tergesa-gesa.


Saat pil itu ditelan, dia sudah bisa merasakan kehangatan luar biasa yang mengalir di nadinya. Setiap inci tubuhnya merasa nyaman, begitu juga dengan tubuh Williamson yang mengalami perubahan besar.


Hanya dalam beberapa detik saja, indera Williamson berubah menjadi sangat sensitif. Aliran angin dan gemerisik rumput di sekelilingnya tampaknya berada di bawah kendalinya, dia bisa merasakan belaian angin yang lembut, seolah menyambut perubahan besar ini di sekitar Williamson.


Sedangkan untuk tubuh, Williamson merasa bahwa tubuhnya serasa sekuat lembu, penuh dengan kekuatan tak ada habisnya, bahkan sampai percaya diri dengan kekuatan barunya ini, dia sanggup meninju tumbang sebuah tembok.


'Menjadi manusia super dalam sekejap!' Williamson berpikir dengan terkejut.


“Sialan! Hajar dia! "Giant mendekati Williamson dan hendak mengulurkan tangannya.


"Sebentar!" Seorang pria berjalan keluar dari kerumunan anak buah Giant.


"Evan?" Kata Williamson dengan mata menyipit, dia juga memperhatikan Jolin yang tersenyum dingin di sisi Evan.


"Kak Giant, di sini terlalu ramai…" Evan melirik sekeliling.


"Oh ya gue nggak sadar…" Giant menggaruk kepala dan memerintah, "Bawa dia pergi." Bahkan Giant sendiri tidak berani bertindak terlalu arogan di depan tempat yang ramai seperti ini.


"Mau bawa aku ke mana?" Gumam Williamson sambil pura-pura takut.


"Lo bakal tahu begitu sampai nanti! " Anak buah Giant langsung mendorong Williamson.


Sepuluh menit kemudian, Williamson dibawa ke tempat terpencil oleh Giant.


"Hampir aja dibodohi, untungnya, pacar Evan nunjukin foto lo!” Giant menunjuk Williamson dan meraung.


'Lagi-lagi Jolin, kenapa wanita ini selalu melawanku?'


Hati Williamson berubah dingin, dengan sedikit rasa sakit mengenang.


Pada saat ini, Evan tertawa bangga, mengeluarkan sebatang rokok, dan berjalan menghampiri Williamson, sementara itu, Jolin memegangi lengannya dengan sombong.


"Huu." Evan membuka mulutnya dan menghembuskan asap rokok ke wajah Williamson dengan sombong, "Berani juga ya lo! Sampai berpikir buat gue gonggong kayak anjing."' Evan berkata sambil mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke arah wajah Williamson.


Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, 'Pat!' Williamson meraih pergelangan tangan Evan dan memutarnya.


"Ahh! Sakit! Sakit tahu!" Evan langsung membungkuk dan berteriak kesakitan.


Ekspresi wajah Jolin dengan cepat berubah menjadi dingin Dan berteriak, "Williamson, lepaskan Kak Evan!"


Williamson melirik Jolin, dengan mata acuh tak acuh, dikosongkan dari emosi yang dia miliki sebelumnya.


"Lepaskan Tuan Muda Evan," Giant juga cemas, karena Evan sedang digenggaman Williamson, dia tidak berani langsung bergegas mendekat.


Williamson tertawa kecil seperti Giant, “Kalau masih sayang tanganmu ini, gonggong tiga kali lagi.”


"Williamson, dasar keparat…"


"Hah?" Tiba-tiba, Williamson menambahkan sedikit kekuatan ke tangannya, "Gonggong nggak?”


"Brengsek!" Evan berteriak, "Oke! Gue bakal gonggong!”


"Guk guk guk!"


“Wah, mirip juga ya ternyata." Williamson menyindir dan dengan cepat menoleh ke arah Jolin," Dia juga. ”


Williamson telah memutuskan untuk tidak membiarkannya pergi, 'Wanita ini bukan cuma nggak berperasaan, tapi juga selalu mencelakainya begitu ada kesempatan."


"Williamson! Lo udah gila ya?!" Jolin berteriak dengan panik.

__ADS_1


“Nggak mau ya? Hmm? … "Williamson mengangguk dan memberi lebih banyak kekuatan di tangannya.


“Jalang sialan! Cepat gonggong! '' Evan kesakitan sampai hampir terbaring di tanah.


"Guk guk guk!"


Jolin tidak berani mengabaikan kata-kata Evan, memelototi Williamson dengan kejam, menghentakkan kaki dengan marah dan menggonggong tiga kali.


“Bagus." Williamson mengulurkan tangan dan menepuk wajah Evan yang masih memasang ekspresi kesakitan.


“Ingat, tanpa kekuatan, jangan sok kuat!” Setelah berbicara, dia mendorong Evan hingga jatuh ke tanah.


“Brengsek, hajar dia!” Evan bangkit dari tanah dan buru-buru bersembunyi di balik si botak Giant.


Seorang pria pirang sangat ingin tampil, jadi dia bergegas dan langsung meninju ke arah Williamson, tinjunya sangat cepat, jelas seorang veteran.


Jika itu adalah orang biasa, dia sudah pasti akan dirobohkan oleh pukulan ini, tapi sayangnya, di mata Williamson, gerakan si pirang tidak berbeda dengan gerakan lambat seperti di film.


Mulut Williamson berkedut, tidak menghindar sama sekali dan ikut meninju di pirang.


“Crack!” Suara tulang retak terdengar, tubuh si pirang terpental lebih dari tiga meter jauhnya, dan jatuh pingsan di tanah.


"Sial! Belum bisa kendalikan kekuatannya, maaf ya." Williamson melambaikan tangannya sambil meminta maaf.


"Ini……"


Semua orang terkejut dengan adegan ini.


“Ayo maju semua aja sekaligus!” Para gangster yang bereaksi bergegas bersama.


Satu demi satu, jeritan tidak ada habisnya, dalam waktu kurang dari satu menit, semua preman sudah dikalahkan dan jatuh ke tanah sambil berteriak kesakitan, masing-masing dengan jejak kaki di dada mereka.


Ini menakjubkan!


Mengangkat kepalanya tajam, tatapan tegas Williamson tertuju pada Giant.


“Wah, seni bela diri kuno!" Bukannya takut, Giant justru bersemangat.


“Bela diri kuno bapakmu!” Williamson memutar matanya, bela diri dari mana? Dia hanya bergerak lebih cepat.


“Kak Willi, terimalah gue jadi murid lo." Giant tiba-tiba mengambil dua langkah maju dan berlutut.


"Apa?!" Williamson terkejut, "Si botak ini aneh!"


“Kak Willi, gue udah suka seni bela diri sejak kecil, tolong, terimalah gue.” Kepala botak itu memandang Williamson dengan penuh harapan.


“Kita bicarakan nanti!” Itu terlalu tiba-tiba, dan Williamson sedikit bingung.


Mengangkat kepalanya, Williamson mengalihkan perhatiannya ke arah Evan, yang baru saja melarikan diri.


Evan sudah tercengang dengan adegan di depannya. Melihat Williamson menatapnya, dia gemetar ketakutan.


"Williamson, j-jangan pukul aku, aku salah."


Williamson tidak mengatakan sepatah kata pun dan berjalan lurus ke arah Evan.


Evan panik, ketika menoleh, dia kebetulan melihat Jolin yang juga ketakutan.


Seolah menemukan penyelamat, Evan menarik Jolin dan mendorongnya ke arah Williamson.


"Kak Willi, si ****** ini provokatornya, cari aja dia, jangan nyari gue, nih kubalikin."

__ADS_1


Williamson mengulurkan tangannya dan menyingkirkan Jolin, melangkah maju dan meraih Evan.


“Kak Willi, gue salah, tolong maafin gue.” Evan mengangkat kakinya dari tanah, wajahnya memerah, dan masih terus berjuang.


"Memaafkanmu?" Williamson tersenyum acuh tak acuh.


"Aku baru saja melepaskanmu, tapi kau malah bangkit dan langsung suruh orang-orang ini buat hajar aku."


Melihat senyum yang tidak berbahaya di wajah Williamson, Evan merasa Williamson lebih menakutkan daripada iblis.


"Kak Willi, gue beneran tahu kesalahan gue, i-ini semua perintah dari Tuan Muda George."


"George?" Williamson mencibir, "Sampaikan pesanku padanya, jangan main licik mulu, nggak lakik banget!"


“Oke oke, gue pasti bakal sampaikan.” Evan hampir kehabisan napas.


“Pergilah." Melempar Evan ke tanah, Williamson melambai pada Evan seperti mengusir seekor lalat.


“Makasih, makasih banyak Kak Willi." Evan mengangguk dan membungkuk, lalu melarikan diri dengan Jolin.


"Guru!" Kepala botak itu berteriak dari belakang.


"Jangan panggil aku guru dulu." Williamson menoleh dan menatap.


"Baik guru." Si botak Giant menjawab dengan hormat.


“Tunggu, udah kubilang jangan panggil dulu.” Williamson menampar kepala si botak itu.


'Sial, terima nggak ya?' Williamson ragu.


Bagaimanapun, sebagai seorang pemuda, Williamson juga memiliki hati nurani.


'Tapi IQ orang ini memprihatinkan sekali, dia bahkan tertipu dua kali olehku.'


'Mereka yang IQ-nya rendah tidak dapat dituntut, dan bakal merusak nama baik guru."


"Betul! Sama sekali nggak boleh diterima!"


Williamson sudah mengambil keputusan.


“Kita nggak ada nasib guru dan murid jadi turun gunung saja sana.” Williamson berbicara seperti di acara TV seni bela diri kuno.


“Turun gunung? Guru, kita kan nggak lagi di atas gunung?” Giant tampak bingung.


“Sialan! Maksudnya kau pergi dari sini!” Williamson tidak bisa menahan marah.


"Oh, jadi guru, sekte kita itu sebut turun gunung maksud lain dari pergi dari sini?"


"Sial, itu artinya kau nggak diterima!"


"Oh, gitu ya guru."


"Jangan panggil aku Guru."


"Oke, Guru."


"Sial, jangan panggil!"


"Nggak akan kupanggil lagi, Guru."


Pfft!

__ADS_1


Williamson merasa dirinya serasa telah bertemu dengan musuh bebuyutannya.


__ADS_2