Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 53 Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Williamson membantu Gary berdiri.


“Bukannya kamu.” Ryan yang ada di belakang langsung menyadari Williamson.


"Bang Gary, dia yang menyelamatkanmu."


Gary tertegun sejenak dan saat hendak berbicara, Williamson justru mendorongnya.


Setelah menoleh, Williamson melirik wanita itu.


"Sungguh sial sekali, kenapa kau lagi." Williamson membuat ekspresi jijik.


Wanita itu juga tercengang, karena tidak ingat pernah melihat Williamson.


"Di kereta api, aku hanya tahu kau itu gadis jelek, tapi setelah melihat kelakuanmu hari ini, ternyata hatimu juga busuk."


“Siapa yang kau sebut jelek?!” wanita itu langsung kesal.


Williamson bahkan mengabaikannya.


Ketika tidak ada yang memperhatikan, Williamson tiba-tiba menampar wajah Tuan Muda Lawrence.


"Kau cukup arogan ya Tuan Muda Lawrence!"


Tamparan ini membuat Tuan Muda Lawrence tertegun, dan tidak bereaksi untuk waktu yang lama.


"Bagus, tamparan bagus!"


Sontak sorakan sorak-sorai dari kerumunan.


"Kau……"


Plak!


Williamson menampar lagi.


"Mulutmu bau, jadi tutup saja!"


"Bagaimana kau..."


Plak!


Sebuah tamparan lagi!


"Tidak paham apa yang aku bilang ya? "


 "Aku……"


Plak!


Tuan Muda Lawrence baru saja membuka mulutnya, tapi sebelum sempat mengatakan apa-apa, Williamson sudah menamparnya.


“Hahaha!” para penonton tiba-tiba tertawa.

__ADS_1


Benar-benar memuaskan!


Setelah empat tamparan, Tuan Muda Lawrence bahkan sampai gemetar karena marah, tapi tidak berani berbicara sama sekali.


Dia tidak punya pilihan selain menoleh dan menatap wanita itu dengan marah.


"Berani-beraninya kau memukul Tuan Muda Lawrence, keluarga Lawrence itu sangat kaya, membunuhmu itu hanya masalah sepele!"


Wanita itu berteriak pada Williamson dengan marah.


"Bisa membunuhku karena kaya? Ayo coba sini!"


“Bro, biarkan saja, tak usah pedulikan mereka.” Gary juga takut Williamson mendapat masalah, jadi berbisik kepada Williamson dari belakang.


"Biarkan saja?" Williamson menjadi marah ketika mendengarnya.


"Kau itu seorang tentara, aku mengerti kau sabar untuk menjaga seluruh timmu, tapi aku hanya warga biasa, aku tidak peduli! Ini belum berakhir!"


Williamson yang berbicara langsung menendang Tuan Muda Lawrence sampai jatuh.


Kemudian menginjak wajah Tuan Muda Lawrence.


"Tuan Muda Lawrence, bukannya keluargamu itu kaya? Bukannya mau bunuh aku?"


"Ayo sini bunuh aku sekarang, kutunggu di sini!"


Williamson merendahkan dengan ekspresi arogan di wajahnya.


Wajah Tuan Muda Lawrence menempel ke tanah dengan tatapan mata yang penuh kebencian, kepalanya tidak bisa terangkat tidak peduli seberapa keras dia mencoba.


Williamson mengulurkan tangan dan mendorong jatuh wanita itu.


“Aku tidak pukul wanita, kecuali yang jelek! Jangan coba-coba mendekatiku kalau tak mau mati! Cih, jijik.” setelah selesai berbicara, Williamson mengayunkan tangannya.


"Kau!" Williamson menunjuk ke arah gangster kecil.


Gangster kecil yang ditunjuk gemetar ketakutan dan kaget, karena tidak tahu alasan mengapa Williamson menunjuknya.


“Lepaskan sepatunya!” Williamson menunjuk sepatu di kaki Tuan Muda Lawrence yang diinjak Gary.


Gangster kecil itu biasanya mengikuti Tuan Muda Lawrence untuk menggertak yang lemah, tapi ketika bertemu dengan karakter kejam seperti Williamson, dia hanya bisa ketakutan.


Williamson memindahkan kakinya yang menginjak wajah Tuan Muda Lawrence ke dada Tuan Muda Lawrence.


"Bersihkan kotoran sepatunya dengan wajah Tuan Muda Lawrence kalian!"


"Hah?" Gangster kecil itu ragu-ragu.


"Cepat!" Williamson mengayunkan tinju di depannya.


Pria itu ketakutan sehingga buru-buru bergegas ke hadapan Tuan Muda Lawrence dan berjongkok.


"Tuan Muda Lawrence, dia yang memaksaku," gangster itu berkata dengan penuh kesulitan.

__ADS_1


“Kau berani?!” Tuan Muda Lawrence menggertakkan giginya dan berkata dengan kejam.


“Cepat bersihkan!” Williamson yang di belakang langsung menendang gangster kecil itu.


Gangster kecil itu pada akhirnya mengambil keputusan, memungut sepatu itu, dan menggosokkannya ke wajah Tuan Muda Lawrence.


Tuan Muda Lawrence memasang ekspresi menyakitkan di wajah dan menutup kedua mata karena malu.


"Lanjutkan, jangan berhenti!" Williamson memerintah sambil menyalakan sebatang rokok dan mulai merokok.


Setelah sampai sebatang rokok habis, Williamson meludahkan puntung rokoknya ke arah Tuan Muda Lawrence.


"Cukup." begitu Williamson berbicara, gangster kecil itu baru berani berhenti.


Melihat wajah Tuan Muda Lawrence lagi, ternyata sudah sangat merah.


Gangster kecil ini pandai membaca situasi, Williamson cukup puas!


Dia mengangkat kaki dan menendang Tuan Muda Lawrence ke samping.


“Ingat, dunia ini belum damai, kita hanya beruntung hidup di negara yang damai, nontonlah sedikit berita saat ada waktu luang, sejak kapan ada hari di mana tidak ada peperangan di dunia ini? Jika tidak adanya para tentara yang terhormat ini, mana mungkin kita bisa hidup dengan damai?"


"Perilakumu sangat menyedihkan!"


Kata-kata Williamson sangat lantang, tidak hanya Gary dan para tentara yang bersemangat ketika mereka mendengar itu, tapi juga membangkitkan rasa patriotisme dan nasionalisme dalam hati para penonton di sekitar.


“Tolong beri jalan! Tolong beri jalan!” tiba-tiba, ada keributan di luar kerumunan.


Williamson mendongak, ternyata beberapa polisi yang datang.


“Siapa yang menelepon polisi?” seorang petugas polisi dengan bertanya ke arah kerumunan.


“Aku, aku yang telepon polisi!” seorang gangster kecil yang diperintah oleh Tuan Muda Lawrence sebelumnya berjalan maju.


"Ada apa?" tanya polisi itu dengan serius.


Ketika wanita itu melihat polisi datang, dia langsung menjadi sombong lagi.


"Kenapa lambat sekali datangnya? Lihatlah Tuan Muda Lawrence sudah dipukul! Aku akan komplain tentang kinerja kalian."


Petugas polisi itu mengerutkan kening dan berkata dengan ringan,


"Kami langsung berangkat setelah mendapat informasinya, jadi tidak bersalah, kalau kamu masih bersikeras mau komplain, silakan saja."


"Cepat jelaskan, ada yang terjadi?"


“Kamu tuli ya? Bukannya sudah kubilang tadi?” wanita itu menjadi sombong lagi.


Setelah itu dia menunjuk Williamson, Gary dan yang lainnya sambil berkata dengan muram.


"Tuan Muda Lawrence dipukul oleh orang ini dan beberapa tentara ini, cepat tangkap mereka!"


"Omong kosong!" para penonton di sekitarsekitar langsung tidak puas.

__ADS_1


“Pak polisi, jangan dengarkan omong kosong dia, kejadiannya sama sekali tidak seperti itu.” di antara kerumunan, beberapa ibu-ibu dengan berkata dengan marah.


__ADS_2