Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 14 Memandang Rendah Orang Lain


__ADS_3

Flower Boy: I-ini...agak sulit buat dijelasin (Dikuti dengan emoji canggung)


Sulit buat dijelasin? Hal seperti apa yang bakal sulit dijelasin?


Seolah memikirkan sesuatu, Williamson langsung terkejut.


Tunggu, jangan-jangan mau aku jual diri?


Dewa kecil yang bingung: Maaf ya, tapi orientasi seksualku masih normal.


Flower Boy: Apa yang Dewa hebat hebat bicarakan? Orientasi seksual itu apa?


Pfft! Tidak mengerti ini?


Baguslah kalau tidak paham, karena itu menandakan kondisinya bukan seperti ini.


Dewa Kecil yang Bingung: Masalah orientasi seksual terlalu pribadi, biasanya aku diskusikan bareng Dewi Bulan, Dewi Sembilan Hari, sama Tujuh Dewi, dijelasin juga kamu nggak bakal ngerti, langsung bilang aja syaratnya.


Flower Boy: Baiklah kalau begitu. (Diikuti emoji ekspresi berkeringat dingin)


Dewa kecil yang bingung: Bilang aja.


Flower Boy: Baiklah, apa aku boleh minta wortel juga? (Diikuti dengan emoji menangis)


Pfft!


"Haha, astaga, kamu bikin aku gugup aja, ternyata cuma demi sebuah wortel? Kamu pikir kamu itu kelinci ya?"


Seolah takut Williamson tidak senang, Flower Boy buru-buru mengirim pesan lagi.


Flower Boy: Dewa hebat, aku tahu wortel itu barang bagus yang setara dengan buah persik, jadi setengah juga gapapa.


Hahahaha, lucu sekali, pasti Dewi Kelinci yang membual dengan bocah ini.


Dewa Kecil yang Bingung: Kamu kira aku siapa, kasih setengah cuma bakal mempermalukan identitasku sendiri, jangan khawatir, bakal kukasih satu!


Flower Boy: Terima kasih, terima kasih banyak Dewa hebat!


Flower Boy bersyukur untuk sementara waktu.


Dewa Kecil yang Bingung: Jangan terima kasih dulu, aku nggak bakal kasih kalau nggak berhasil, kamu seberapa yakin dengan produksi pilnya?


Flower Boy: 10%!


Pfft!


Apa?! Ini nggak ada bedanya dengan taruhan beresiko tinggi!


Dewa Kecil yang Bingung: Kamu mempermainkanku ya?


Flower Boy: Gimana ya jelasinnya? Tubuh manusia biasa itu rapuh, jadi nggak mampu menahan efek obat mujarab, jadi membuat pil untuk manusia itu butuh kontrol kekuatan obat yang sangat teliti, 10% itu udah nggak rendah.


Dewa Kecil yang Bingung: Apa gak ada cara lain? Yang tingkat keberhasilannya lebih tinggi.


Williamson menundukkan kepalanya dengan putus asa dan mengajukan pertanyaan lain dengan penuh harapan.


"Ada!"


Seriusan ini?! Baguslah!


"Kalau Dewa hebat bisa dapat pil pengembali roh, aku bisa uraikan dan encerkan sampai mencapai efek yang dapat diterima tubuh manusia biasa, sekaligus bisa ningkatin peluang berhasilnya, tapi pil pengembali roh cukup mahal."


Haha, ini kabar baik!


Untuk apa khawatir kalau udah punya satu pil pengembali roh.


Kebetulan sekali!


"Kalau ini seberapa yakin?"


"Lima puluh persen."


"Oke!" Williamson menampar pahanya sendiri, dia berani bertaruh untuk kepastian setinggi 50%.


"Untuk menguraikan pil pengembali roh itu perlu esensi es berumur ribuan tahun, kamu bisa beli sama Raja Naga Laut Timur, harganya 600 poin jasa."


Williamson: ...

__ADS_1


Williamson: Kamu dekat dengan Dewa Perang Iblis ya?


Flower Boy: Dewa hebat jangan bercanda dong, aku cuma seorang bocah, mana mungkin dekat dengan dewa tinggi seperti itu.


'Sialan, kalau tidak, kenapa ini serasa seperti sudah terencana, aku dengan nggak mudahnya dapat 600 poin jasa, sekarang satupun nggak tersisa.'


"Bentar." Williamson membuka grup High Heaven Trading Circle dan langsung tag @Raja Naga Laut Timur.


Dewa Kecil yang Bingung: @Raja Naga Laut Timur, mau beli esensi es ribuan tahun dong.


Raja Naga Laut Timur: 600 poin jasa.


Dewa Kecil yang Bingung: Sepakat!


Ding dong!


Raja Naga Laut Timur Menambahkan Anda sebagai teman.


Terima!


Setelah diterima, Raja Naga Laut Timur langsung mengirim Esensi es.


Anda mentransfer 600 poin jasa kepada Raja Naga Laut Timur.


Setelah transaksi, Williamson mentransfer Pil pengembali roh dan Esensi Es kepada Flower Boy.


Pada akhirnya kosong lagi, satu poin pun tidak tersisa.


Williamson tersenyum pahit.


Flower Boy: Jangan khawatir Dewa hebat, paling lama setengah bulan, paling cepat sebulan, akan ada hasilnya.


Dewa Kecil yang Bingung: Semoga berhasil, aku akan kirim wortel.


Flower Boy: Makasih!


Williamson menghela nafas panjang, solusi masalah ini akan tergantung pada Flower Boy.


Melihat orang-orang di asrama belum kembali, Williamson mengeluarkan lukisan yang dia bawa dari toko antik.


Williamson menatap mata gadis di lukisan itu dengan teliti, dan pada saat yang sama berkata dalam hati: Aktifkan Penglihatan Surgawi!


Dalam sekejap, mata Williamson bersinar dengan cahaya biru, tetapi orang biasa tidak bisa melihatnya.


"Aneh, waktu di toko antik aku lihat gadis ini berkedip, tapi sekarang kok nggak kedip lagi?"


Setelah menatap selama lima menit, Williamson tidak menemukan sesuatu yang aneh.


'Apa aku salah liat?'


Setelah menatap selama lima sampai enam menit, Williamson merasa pusing untuk sementara waktu.


Sepertinya penglihatan surgawi itu ada batasnya juga.


Sambil menggelengkan kepala, Williamson mengesampingkan lukisan itu dulu, hanya bisa dipelajari secara perlahan ke depannya.


“Apa semuanya hadir? Aku mulai kirim paket hadiah ya.” Keesokan paginya, Nabi Lao Zi muncul di grup tepat waktu.


Williamson sudah membuka Instagram dan menunggu daritadi.


Dia sedang miskin sekarang, dan berharap bisa berhasil rebutan paket hadiah dari Nabi Lao Zi tiap hari.


Walau berhasil dapat tapi nggak berguna, barangnya tetap bisa dijual.


Ding dong!


Sebuah paket hadiah besar muncul di layar.


Kurebut!


Tangan Anda lambat, paket hadiah telah habis direbut!


Sialan! Tidak!


Ini adalah pertama kalinya dia tidak berhasil rebutan paket hadiah di obrolan grup.


Setelah mengklik untuk melihat deskripsi ternyata 20 paket hadiah yang dibagikan Nabi Lao Zi sudah direbut habis dalam 0,9 detik.

__ADS_1


Tampaknya para Dewa juga sudah menunggu sejak awal.


Williamson merasa tertekan untuk sementara waktu, dirinya hanya seorang manusia biasa, sudah pasti akan kalah dengan reaksi para Dewa, kalau para Dewa juga menunggu sejak awal untuk rebutan paket hadiah Nabi Lao Zi setiap hari ke depannya, dia sudah pasti tidak akan dapat apa-apa.


Melihat obrolan grup untuk sementara waktu, ponselnya tiba-tiba berdering.


"Ke mana perginya waktu, masih belum sempat merasakan masa muda tapi sudah tua aja ..."


Ini adalah nada dering khusus ketika orang tuanya telepon, jadi Williamson buru-buru mengangkatnya.


“Ma, ada apa?” Hati Williamson menegang.


Orang tua Williamson biasanya tidak menelepon kecuali saat akhir pekan.


"Nak, kamu bisa ambil cuti buat balik gak? Ini udah mau ujian masuk perguruan tinggi, Alicia tak mau pergi ke sekolah lagi, kalian berdua dekat sejak kecil, pulang dan bujuklah dia."


Suara Emily dipenuhi dengan kesedihan.


“Apa karena bibi kedua ke sana lagi?” Suara Williamson sedikit dingin.


"Hhhh." Emily menghela nafas, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, Williamson sudah mengerti semuanya.


"Ma, aku bakal balik besok."


Williamson menutup telepon dan sudah mengambil keputusan.


Besok, dia tidak hanya pulang saja, tapi juga ingin orang tuanya yang sudah bekerja keras selama ini bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.


Pada saat yang sama, dia juga ingin menunjukkan pada beberapa orang tertentu bahwa dia itu mampu.


Setelah memikirkannya, Williamson mengirim pesan kepada Jocelyn.


"Jocelyn, sibuk nggak?"


"Pagi ini kelas apresiasi seni, nggak pengen ikut kelas."


"Turunlah, temani aku jalan-jalan.


Beverly Plaza adalah pusat perbelanjaan paling mewah di Kota Santapolis, orang-orang yang datang belanja di sini adalah orang kelas atas dan kaya, dekorasi mewah tempat ini membuat orang biasa tidak berani masuk.


“Williamson, kenapa bawa aku ke sini?” Begitu Jocelyn masuk, dia merasakan beberapa tatapan aneh, jadi dia merasa tidak nyaman.


"Beli baju." Williamson menghela nafas lega, meskipun punya 20 miliar rupiah, tapi ini pertama kalinya dia memasuki tempat kelas atas seperti ini.


“Ah, tapi baju di sini mahal semua.” Jocelyn mengerutkan kening.


“Jangan takut, kita orang kaya juga!” Williamson mengeluarkan kartu banknya dan mengayunkannya di depan Jocelyn.


“Berhenti candaannya." Jocelyn meninju Williamson dengan pelan, mulutnya sedikit terangkat, dan hatinya merasa manis.


“Jocelyn, bantu aku pilih gaya mana yang lebih cocok untuk orang berusia lima puluhan.” Williamson membawa Jocelyn ke area pakaian kelas atas.


"Untuk orang tua?"


"Ya, buat orang tuaku, aku nggak terlalu paham gaya baju, jadi mohon bantuannya ya."


“Oh.” Jocelyn merasa sedikit kecewa, tetapi pulih dengan cepat dan melirik pakaian di toko satu per satu.


“Gaya bunga itu lumayan juga, seharusnya cocok buat Tante.” Jocelyn hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh pakaian tersebut.


"Baju itu 39,6 juta!" Sebuah suara tidak sabar terdengar dari samping.


Williamson menoleh ke sumber suara, terlihat seorang wanita muda mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan riasan tebal yang sambil merawat kukunya sedang memandang kemari dengan jijik.


Tangan Jocelyn hanya terulur setengah dan ditarik kembali lagi.


Williamson mengerutkan kening, 'Apa-apaan ini? Kenapa orang yang memandang rendah orang lain ada di mana-mana.'


"Jocelyn, gapapa ambil aja." Williamson mengabaikan pramuniaga itu.


“Ya.” Jocelyn mengulurkan tangannya lagi.


"Kalian ini kenapa sih? Kan udah kubilang itu 39,6 juta, kalau nggak mau beli, jangan sembarangan sentuh."


Pramuniaga itu berjalan kemari, menatap Williamson dan Jocelyn dengan tatapan merendahkan dan mengulurkan tangan untuk menepuk baju tersebut, seolah bajunya telah kotor sebelum sempat disentuh Jocelyn.


Amarah Williamson langsung naik.

__ADS_1


__ADS_2