
Maksud dari kata-kata Tuan Hans tidak diragukan lagi adalah lukisan yang dibawa Williamson memang karya asli Tang Bohu.
"Karena Tuan Hans mau, kujual 20 miliar rupiah aja, sekalian sebagai rasa terima kasihku pada Tuan Hans karena sudah bantu identifikasi."
"Apa?! Williamson sialan, lo udah gila mikirin duit ya?! Cuma rongsokan mau lo jual 20 miliar? Jaga mulut lo, jangan ngomong yang nggak-nggak!" Ujar Jolin seolah sudah mendengar sebuah lelucon besar.
“Diam!” Evan memelototinya dengan tajam. 'Sial, kenapa gue nggak sadar kalau wanita ini bodoh dan nggak bisa liat situasi?! Malu-maluin gue aja!'
"Memang iya, kan? Itu cuma rongsokan ..." Jolin masih ingin berdebat, tetapi begitu dia sadar semua orang memandangnya seperti sedang memandang seorang idiot, kepercayaan dirinya langsung anjlok.
"Hhhh." Tuan Hans menghela nafas, "Anak muda, lukisan ini memang setara dengan 'Paviliun kuno' karya asli Tang Bohu, tapi lukisan 'Ratusan gadis Malam' ini belum pernah terekspos di dunia luar, dan teknik melukisnya juga jauh lebih rumit, jadi harganya seharusnya dua kali lipat dari lukisan 'Paviliun kuno' yang harganya 23 miliar, namun kamu cuma jual 20 miliar padaku, sungguh berbaik hati sekali.
Apa?! Bola mata Williamson terbuka leba
Seriusan ini?!
Williamson sudah memeriksa di Internet sebelumnya, 'Ratusan gadis malam' ini setara dengan 'Paviliun kuno' jadi dia pikir harga kedua lukisan ini seharusnya hampir sama.
Tapi ternyata dua kali lipat, itu benar-benar diluar dugaannya.
Williamson jelas menyesal.
Tapi kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembali, Williamson terpaksa menahan semua ini dalam hati.
"Tuan Hans jangan bilang begitu, cuma 20 miliar udah bisa menjalin hubungan yang baik denganmu itu lebih dari sepadan." Williamson langsung menyanjung.
“Haha, anak muda, kamu menarik.” Tuan Hans tampaknya sangat senang.
"Ngomong-ngomong, tolong beritahu saya nomor rekeningmu."
Williamson buru-buru memberitahu nomor rekeningnya.
Tuan Hans membuat panggilan telepon, dan setelah beberapa saat, Williamson menerima pesan teks dari pihak bank, tentang 20 miliar rupiah yang masuk.
'Aku kaya sekarang!' Williamson sangat bersemangat.
"Bajingan, kena sial lagi gue hari ini.” George mendengus dan berbalik untuk pergi dari sini.
"Bentar!" Williamson menghentikannya dan berkata dengan nada bercanda, "Tuan Muda George kenapa? Nggak sanggup kalah, jadi mau kabur lagi?"
"Siapa yang mau kabur?."
“Oh, kalau gitu, tolong tepati taruhannya.” Williamson dengan hati-hati memilih barang antik di toko.
George mengikuti jejak Williamson dan diam-diam berdoa dengan gugup, 'Tolong jangan pilih yang mahal, tolong jangan yang mahal!'
“Yang ini aja!” George menghela nafas panjang ketika Williamson memilih sebuah lukisan kuno dari sebuah sudut yang tidak mencolok.
Orang kuno tetap aja kuno, bisa-bisanya milih yang nggak mahal sama sekali.
George sudah memperkirakan dari segi letak lukisannya di toko bahwa lukisan tersebut pasti tidak bernilai banyak.
“Selera anak muda ini sepertinya cukup unik.” Tuan Hans juga terkejut untuk sementara waktu, karena tidak mengerti mengapa Williamson memilih lukisan yang tidak mencolok.
“Bos, lukisan ini berapa ya?” George langsung tanya dengan tergesa-gesa, karena takut Williamson akan berubah pikiran.
"Ini lukisan kuno waktu awal Dinasti Qing, orang yang melukisnya nggak terlalu terkenal dan lukisannya juga lumayan kasar, jadi harganya 200 juta rupiah." Boss toko yang melihat Williamson memilih lukisan itu juga ikut menghina.
“Oke, 200 juta ya.” George langsung bayar tanpa basa-basi, seolah mengambil untung besar.
"Tuan Muda George, terima kasih." Williamson mengambil lukisan itu dan mengangkat alisnya ke arah George dengan provokatif.
__ADS_1
"Selanjutnya, masih taruhan lain kan?"
Ekspresi George, Evan dan Jolin langsung berubah total.
"Williamson, jangan keterlaluan !" Teriak Jolin.
"Keterlaluan? Sejak kapan? Cuma ikut aturan taruhan aja kok." Williamson mengangkat bahu.
"Kau..." George menatap Williamson.
"Kenapa Tuan Muda George? Mau kabur kayak kemarin?"
"Kalau gue nggak mau? Memangnya lo bisa apa?
Bagaimanapun, kekalahannya sudah cukup memalukan, George hanya bisa dengan keras kepala menyangkal.
“Tuan Muda George, kayaknya ini kurang cocok deh.” Tiba-tiba, Ethan menyela.
"Tuan Muda Ethan, gue..." Wajah George tiba-tiba berubah lagi.
Ethan bahkan tidak menatapnya sama sekali, masih berdiri di tempat dengan tenang, seolah-olah tidak berbicara sama sekali.
Tetapi mereka yang mengenal Ethan tahu bahwa kalimat barusan adalah perintah yang tidak boleh ditolak.
George kebetulan adalah salah satu orang yang mengenal Ethan.
Jadi, George kesulitan sampai hampir ingin menangis.
"Sialan! Bakal gue tepati! Williamson, suatu hari nanti, gue bakal balas semua ini!"
“Oke, gue gonggong!” George menggertakkan giginya.
“Waduh! Ternyata anjing gila.” Williamson buru-buru melompat ke belakang, menepuk dadanya sendiri, dan berpura-pura ketakutan, yang membuat kerumunan tertawa lagi.
Ekspresi George menjadi muram, karena tidak bisa melampiaskan amarahnya, dia hanya bisa berteriak pada Evan dan Jolin,
"Kalian ngapain aja? Gue udah gonggong, kalian harus ikut juga!"
Evan dan Jolin menatap Williamson dengan enggan.
"Guk guk guk!"
"Guk guk guk!"
“Haha, bagus, kalian ada kemajuan, udah lebih mirip daripada yang kemarin, lain kali lebih semangat lagi ya.” Williamson mengacungkan jempol pada Evan dan Jolin.
“Lain kali? Lain kali adikmu!” Evan dan Jolin bersumpah tidak akan pernah terlibat dalam taruhan antara George dan Williamson lagi.
George dan yang lainnya pun pergi.
Tuan Hans meninggalkan nomor telepon kepada Williamson, setelah ngobrol singkat, dia meninggalkan toko bersama Ethan.
“Yuk kita pergi juga.” Williamson dan Jocelyn berjalan keluar dari Balai Kuno.
"Willi, lukisan barusan yang kamu jual itu beneran karya asli Tang Bohu?"
Sampai sekarang, Jocelyn masih tidak percaya.
"Tentu, kalau nggak, siapa yang rela habisin 20 miliar buat beli."
"Lalu dari mana kamu dapat lukisan itu?"
__ADS_1
"Warisan keluarga!" Williamson mencari alasan.
Berbicara tentang keluarga, hati Williamson menjadi lembut, sekarang dia sudah kaya, sudah saatnya bagi orang tuanya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kembali di sekolah, Williamson menemani Jocelyn berlatih vokal sebentar sebelum kembali ke asrama.
“Ada pesan?” Begitu Williamson membuka Instagram, ponselnya berdering.
Dewi Kelinci: Halo Dewa hebat, kamu di sana?
Williamson: Ada apa?
Dewi Kelinci: Udah ku tanya sama Flower Boy, sesuai dengan kondisi yang kamu ceritakan, dia bilang pil pengembali roh akan efektif sekali.
Williamson: Aku punya pil pengembali roh, tapi pasien yang mau kuobati itu manusia biasa, jadi pilnya nggak boleh dikonsumsi.
Dewi Kelinci: Hah? Untuk manusia biasa? Bukannya dunia surga dan manusia itu terpisah ya?
Dalam hati Williamson, dia tiba-tiba teringat dengan pesan Tujuh Dewi di obrolan grup yang pernah bilang bahwa dunia surga itu terpisah dengan manusia selama tiga ribu tahun.
Namun, kenapa dirinya bisa masuk obrolan grup para dewa?
Williamson bingung untuk sementara waktu, dan memiliki firasat bahwa masalah ini tampaknya tidak sesederhana itu.
Williamson: Jangan tanya sesuatu yang nggak perlu kamu tahu ketahui.
Dewi Kelinci: Hah? Baiklah.
Oh iya!
Williamson tiba-tiba teringat kalau pil kebangkitan level dasar yang ditelannya itu adalah hasil buatan Flower Boy, yang berarti Flower Boy tahu cara memproduksi pil yang bisa dikonsumsi manusia biasa, bukan?
Memikirkan hal ini, Williamson langsung bersemangat kembali.
Williamson: Coba bantu tanya Flower Boy, apa dia bisa buat pil pengembali roh yang bisa dikonsumsi manusia biasa.
Dewi Kelinci: Oke.
Setelah beberapa saat.
Dewi Kelinci: Halo Dewa hebat, Flower Boy ingin menambahmu sebagai teman di Instagram.
Ding dong!
Tepat setelah pesan Dewi Kelinci masuk, sebuah pesan dari Flower Boy yang meminta untuk ditambahkan sebagai teman masuk juga.
Terima!
Flower Boy: Halo Dewa hebat, lagi butuh pil pengembali roh untuk manusia biasa ya?
Williamson: Iya, bisa buat?
Flower Boy: Bisa.
Williamson langsung bersemangat untuk sementara waktu.
Flower Boy: Tapi ada syaratnya!
Williamson menarik napas dalam.
Williamson: Apa syaratnya?
__ADS_1