
Williamson tercengang.
Dia tidak percaya bahwa Jocelyn benar-benar menganggap leluconnya serius.
Tentu saja, Williamson sangat senang jika Jocelyn benar-benar setuju untuk menjadi pacarnya.
Lagipula, tidak ada anak laki-laki yang akan menolak kesempatan untuk menjadi pacar bunga sekolah.
Jelas Jocelyn dalam masalah.
'Sialan! Kalau begini bukankah dirinya menjadi seorang bajingan yang mengambil keuntungan dari mereka yang membutuhkan bantuan?’
Pikiran Williamson menjadi kacau.
Ding dong!'
Seseorang menambahkan Anda sebagai teman.
Williamson mengklik notifikasi. 'Tunggu! Ini Kera Sakti!]
Williamson sangat bersemangat karena dia tumbuh besar menonton Journey to The West dan sangat menyukai Kera Sakti.
Terima!
“Kau baru saja dapat pil menghilang, kan? Kenapa tak jual padaku aja?" Kera Sakti mengirim pesan ini tepat setelah permintaan temannya diterima.
"Haha, cuma pil kok, kasih kamu aja?" Williamson kemudian mengirim pil menghilang kepada Kera Sakti.
Karena pil tersebut tidak bisa digunakan oleh Williamson, jadi dia pikir lebih baik memberikannya kepada Kera Sakti, sekaligus dapat utang budi darinya.
"Ah, makasih, makasih banyak!" Kera Sakti mengirim emoji yang hormat.
“Aku menyukaimu, aku pasti akan membayarmu di masa depan. ”
Ruang Latihan Musik.
Evan berdiri di depan seorang pria muda dan membuai dirinya.
“George, ini pacarku, Jolin, Jolin ayo sapa Kak George. ”
"Senang bertemu denganmu, Kak George.”
George menyilangkan kakinya dan melirik Jolin dari sudut mata.
"Maksud gue Evan, lo ganti pacar itu cepat sekali ya, tapi kualitasnya kok agak rendah?”
Wajah Jolin segera memerah.
Evan tertawa canggung.
"Kak George kan temenan sama Tuan Muda Jordan, jadi apa bisa bantu bicara dengannya tentang Kompetisi Bernyanyi Pemuda Kota bulan depan? Jolin bermaksud untuk … "
"Jocelyn!" Sebelum Evan bahkan menyelesaikan kalimatnya, George berdiri dan berjalan menuju pintu.
Evan merasa malu. Dia baru saja akan meminta bantuan George tetapi menahan kata-katanya lagi.
“Celyn, udah datang ya.”
__ADS_1
Jocelyn mengerutkan kening.
"Udah kukasih tau berapa kali, kita nggak sedekat itu, jadi tolong jangan panggil aku seolah kita itu akrab.”
“Celyn, gue udah ngomong sama Tuan Muda Jordan, kalau lo setuju jadi pacar gue, lo bakal jadi juara kompetisi Bernyanyi Pemuda Kota bulan depan.'' George menepis sikap Jocelyn dan berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih tapi tidak, aku udah punya pacar dan lebih suka mengandalkan kemampuanku sendiri untuk menang. ”
"Lo udah punya pacar?" Wajah George berubah.
"Nggak mungkin, cepat bilang, siapa itu? ”
"Jocelyn." Secara kebetulan, Williamson tiba tepat waktu.
"Siapa dia?" George menatap Williamson.
“Kan udah kubilang? Dia pacarku.'' Jocelyn menjawab sambil berjalan menuju Williamson.
"Sial!" Menonton adegan di depannya, Williamson segera mengerti apa yang perlu dia lakukan.
Dia bahkan belum sempat menjadi pacar Jocelyn tetapi sudah dijadikan tameng, tapi untuk saat ini dia tetap melakukannya.
“Halo, aku pacar Jocelyn.'' Williamson menjulurkan tangan kanannya saat memegang pinggang Jocelyn yang lembut dan ramping dengan tangan lain.
Karena dijadikan tameng, Williamson memutuskan untuk menikmati momen ini ketika masih berlangsung.
Setelah merasakan kehangatan di pinggangnya, tubuh Jocelyn menegang dan dia menoleh untuk menatap Williamson.
"Perkenalkan, ini pacarku Williamson. ”
Wajah George menjadi muram.
Jocelyn gemetar, tampaknya memenangkan kompetisi ini sangat penting baginya.
“Aku bakal berjuang untuk gelar juara, dengan bimbingan pacarku, aku sangat percaya diri untuk menang. ”
“Hahaha, dia membimbing lo? Lucu sekali." Jolin dan Evan berjalan untuk bergabung dengan mereka.
"George, Williamson itu cuma anak miskin, nada nyanyi aja gak teratur, apalagi membimbing orang lain.”
Jolin, yang ingin membuat George terkesan, mulai menghina Williamson.
Williamson mengerutkan kening. 'Wanita ini … Bagaimanapun, kita pernah menghabiskan satu tahun bersama, kenapa harus terus menyerangku?'
"Celyn, masih berani bilang semua ini bukan untuk tipu gue?" Setelah mendengar apa yang dikatakan Jolin, George tertawa dingin dan bahkan lebih yakin bahwa Williamson hanyalah tameng sekali pakai.
Williamson dan Jocelyn mengabaikan George dan mulai membahas teknik vokalisasi.
"Ya, jaga udara di antara tulang rusuk ketiga dan keempatmu, lalu manfaatkan 2 tulang rusuk ini untuk bernyanyi.”
"Hahaha, lelucon apa-apaan itu?" Jolin berlebihan melebih-lebihkan tawanya.
“Meskipun gue bukan penyanyi profesional, tapi gue masih tau kalau nyanyi pakai paru-paru dan diafragma, mana ada yang pakai 2 tulang rusuk.”
“Masalahnya, kalau menjaga udara di antara tulang rusuk, malah sesak jadinya." Evan setuju.
“Baiklah, Jocelyn, sudah cukup.'' Teriak George.
__ADS_1
“Begini ya maksudmu? A~ Ah~ ”Jocelyn mengikuti instruksi Williamson dan mulai bernyanyi.
"Ya, begitu." Jocelyn sangat berbakat dalam bernyanyi, dan sudah dapat menemukan posisi vokal yang tepat hanya dalam beberapa detik.
"Jocelyn, George memperlakukan lo setulus hati, seharusnya lo merasa terhormat, ngapain nyari cowok yang entah dari mana ini? Dan mempermalukan diri lo sendiri?" Tiba-tiba, seorang anak lelaki tampan berjalan mendekat.
"Hanest, jangan ikut campur di sini." Anak laki-laki ini yang bernama Hanest ini adalah seorang mahasiswa musik, yang memiliki wajah tampan dan pandai bernyanyi.
Semua orang di fakultas musik berpikir bahwa Hanest dan Jocelyn adalah pasangan yang serasi, lagipula Hanest juga pernah mengejar Jocelyn sebelumnya.
Namun, Jocelyn selalu bersikap dingin padanya, menyebabkan dia menyerah, terutama semenjak George mulai menargetkan Jocelyn juga.
Hanest awalnya sedang menjalani hubungan dengan seorang adik kelas, tetapi setelah melihat Jocelyn bergaul dengan Williamson, yang jelas-jelas merupakan amatir, untuk membuat George jijik, ia memutuskan untuk datang dan membantu George sebagai gantinya.
Bagaimanapun, Hanest berencana untuk berpartisipasi dalam Kompetisi Bernyanyi Pemuda Kota juga, begitu mengetahui persahabatan George dengan Tuan Muda Jordan, Hanest berpikir untuk mendapat keuntungan memiliki hubungan baik dengan George.
“Jocelyn, dengarkan aku, jangan buat George marah lagi dan suruh sampah ini keluar saja."
Williamson, tidak bahagia karena diejek: "Sampah siapa yang kamu suruh pergi?"
"Sampah, suruh lo pergi!"
"Pftt!"
"Aku tidak percaya kamu kena tipuan yang begitu ketinggalan zaman, IQ-mu memprihatinkan sekali." Williamson menggelengkan kepalanya dengan merendahkan.
"Lo..." Wajah Hanest memerah sambil mengutuk dalam hatinya.
"Oke, kita ngomong soal bakat, karena lo bilang kamu bisa nyanyi, berani nggak duel nyanyi sama gue sekarang? Biarkan gue liat lo punya kemampuan nggak buat latih Jocelyn. ”
"Boleh." Williamson tertawa, Hanest ini jelas menggali kuburan sendiri.
Hanest tidak bisa menahan tawa, dia tidak menyangka Williamson benar-benar setuju.
"Teman-teman sekalian!" Hanest berbalik dan mengumumkan kepada siswa di ruang latihan.
“Ada orang yang nggak tahu dari mana ini berani duel nyanyi dengan gue, jadi gue, Hanest, mau minta tolong sama kalian semua yang ada di sini buat jadi juri kami.”
"Oke! Hanest, aku cinta kamu dan aku akan mendukungmu! "
"Hanest, aku penggemar beratmu, semangat ya! Hancurkan dia!” Beberapa siswa perempuan yang terpesona berteriak dengan kuat.
Hanest dengan bangga berbalik dan menyeringai ke arah Williamson, namun Williamson justru sedang berbisik satu sama lain pada Jocelyn, mereka tidak memperdulikan Hanest sama sekali.
"Oi, jadi duel nggak?" Hanest membenci Williamson.
“Oh, duluan aja.'' Williamson melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh dan terus berbisik dengan Jocelyn, sesekali tertawa juga.
Wajah Hanest menjadi gelap.
Langkah ini menunjukkan Williamson secara terang-terangan mengabaikan Hanest.
Hanest mengutuk, 'Tunggu saja dan lihat saja!'
"Baiklah, kalau gitu, gue nyanyi duluan, begitu gue selesai, lo pasti sampai nggak berani naik ke atas panggung.”
"Bentar!" George tiba-tiba berdiri.
__ADS_1
"Apa gunanya kalau cuma duel doang? Kenapa nggak sekalian taruhan aja?"
Setelah mendengar ide George, Williamson, yang masih berbisik dan tertawa, menatap George.