
Pak Jones langsung meminum anggurnya!
“Kakek, pelan-pelan!” Gamila buru-buru menghentikan Pak Jones, sambil tidak lupa menatap Williamson dengan tegas.
"Hahaha, anggur bagus, enak sekali, ini pertama kalinya aku minum anggur sebagus ini!"
Setelah beberapa teguk anggur, Pak Jones tiba-tiba merasakan rasa segar dan lega yang mengalir ke seluruh tubuhnya, seolah-olah tubuhnya terasa jauh lebih muda.
Depresi yang disebabkan oleh masalah Gary juga tersapu begitu saja.
“Noah, kemarilah.”
Noah yang mendengar itu buru-buru mendekat.
Pak Jones menutup tutup labu botol dan menyerahkannya kepada Noah dengan sangat serius.
"Ingat, anggur ini tidak boleh berkurang sama sekali, simpan baik-baik, aku ingin nikmati secara perlahan!"
Karena diminta oleh Pak Jones, jadi Williamson menginap satu malam di Kota Wallwin.
Ketika mobil memasuki halaman kuno tempat Pak Jones tinggal, Williamson merasakan perasaan yang tidak dapat dijelaskan di dalam hatinya.
Perasaan suasana khusus di sini terasa sangat akrab dan familiar, tapi tidak bisa dijelaskan.
Malam yang hening pun berlalu. Keesokan harinya, saat Williamson sedang mengobrol dengan Pak Jones, dan Gamila bergegas masuk.
"Kakek, kakek, gawat!"
“Kenapa teriak-teriak? Tidak takut Willi menertawakanmu?” tegur Pak Jones.
Williamson menyentuh hidung sendiri, mana mungkin dia bisa tertawa di situasi seperti ini.
Tunggu, sepertinya ada yang tidak beres, apa maksud dari tatapan Pak Jones?
Melihat bahwa mata Pak Jones terus beralih antara dia dan Gamila, itu sangat mirip dengan tatapan Jane yang melihatnya dengan Jocelyn.
Sial, jangan-jangan lelaki tua ini ingin menjodohkannya?
Williamson memandang Gamila yang mengenakan seragam militer.
Sebenarnya wanita ini tidak buruk.
“Duduk dulu dan bicara perlahan!” Pak Jones menunjuk ke bangku di sebelahnya.
"Kakek, serpihan peluru baru saja dikeluarkan dari tubuh Kakak kemarin, tapi sekarang dia sudah kabur, pihak rumah sakit menelepon tadi..."
“Cukup, aku mengerti, biarkan saja dia.” Pak Jones memotong kata-kata Gamila secara langsung.
"Dulu Kakekmu ini pernah tertembak tapi masih bisa bertempur di medan perang dengan musuh selama sehari penuh, hal yang dilakukan Kakakmu itu tidaklah seberapa, selama tidak meninggal, biarkan saja dia lakukan apa pun yang dia suka."
"Tapi……"
“Tidak ada tapi!” James melambaikan tangannya, “Ngomong-ngomong, tidak mudah bagi Willi untuk berkunjung ke Kota Wallwin, jadi temanilah Willi jalan-jalan dan keliling.”
"Huh!" Gamila cemberut dan mendengus.
Tapi dia tidak berani mengabaikan perintah Pak Jones.
Setelah dia memasuki ruang belakang dan keluar dengan pakaian kasual, mata Williamson langsung terbelalak!
Gamila mengenakan kaos putih dan jeans biru, dengan rambut yang diikat satu kepang, penampilannya terlihat sangat muda seperti gadis-gadis kota umumnya yang ceria, benar-benar bertolak belakang dengan penampilan tentara wanita yang heroik seperti sebelumnya.
"Ayo pergi." keduanya berjalan keluar dari halaman.
Mungkin karena Williamson menyelamatkan Gary, jadi Gamila cukup ramah dengan Williamson, dan memperkenalkan setiap tempat yang mereka lalui.
__ADS_1
Keduanya mengobrol santai dan suasananya cukup harmonis.
"Hmm?" tidak jauh di depan, terlihat adanya kerumunan yang berkumpul.
Williamson mendongak, dan melihat ada sekelompok tentara yang sedang berdebat dengan seseorang.
“Ayo kita lihat.” Williamson memanggil Gamila dan berjalan mendekat.
Di kerumunan, Gary, Ryan, dan yang lainnya saling memandang dingin dengan sekelompok pemuda gangster kecil.
“Dasar tentara sialan, ini adalah putra Boss Lawrence dari Pabrik Baja West, jaga sopan santun kalian!” suara seorang wanita muda terdengar.
Namun dalam situasi ini suara tersebut justru terdengar sangat menusuk telinga.
“Aku hanya tidak sengaja menginjak kakinya, dan aku sudah minta maaf!” Gary melirik wanita itu dengan dingin.
"Kau pikir masalah bisa selesai hanya dengan minta maaf? Sepatu Tuan muda Lawrence ini lebih dari 20 juta, memangnya kalian bisa ganti rugi karena diinjak kotor?"
Di sisi lain, Tuan Muda Lawrence berkata dengan dagu yang diangkat tinggi dan membanggakan diri,
"Aku cukup sibuk jadi tidak akan mempersulitmu, cukup berlutut dan bersihkan sepatuku dengan seragam militermu, maka kuanggap masalah ini selesai!"
“Tak dengar apa yang dibilang Tuan Muda Lawrence?! Cepat bersihkan!” wanita muda itu berteriak.
"Mustahil!"
"Persetan denganmu!"
"Mana boleh seragam militer direndahkan seperti itu!"
Begitu kata-kata ini keluar, para tentara yang telah bersabar sebelumnya menjadi semakin marah!
Apa itu seragam militer? Itu adalah martabat sebuah negara dan tentara, jadi mana mungkin digunakan untuk menyemir sepatu!
"Itu keterlaluan, jangan lupa siapa yang mempertahankan negara ini di medan perang!"
"Jangan berlebihan pada tentara!"
"Tanpa tentara yang membela tanah air dan negara, mana mungkin kalian bisa hidup sebebas itu!"
Pada saat ini, para penonton menjadi tidak puas dan mulai berkomentar.
"Apa yang kalian ributkan? Ini bukan urusan kalian, tapi urusan putra Boss Lawrence, keluarga yang memiliki kekayaan dan kekuasaan, tutup mulut kalian kalau tidak mau berakhir menyedihkan."
Wanita itu juga sedikit panik, dan buru-buru mengancam dengan wajah garang.
"Punya kekayaan boleh bertindak seenaknya?!"
"Kami tidak setuju kalian merendahkan tentara seperti itu!"
"Sialan, pukul saja mereka!"
Penonton mulai berteriak dengan marah, dan mulai ada yang bergegas ke depan seolah ingin memukul orang.
Ketika Tuan Muda Lawrence melihat bahwa situasinya menjadi sedikit tidak terkendali, dia juga sedikit takut, tapi masih tetap ditahannya dan berkata dengan arogan,
"Cukup! Diam semuanya!"
"Karena kau seorang tentara, maka akan kuberi keringanan, cukup bersihkan sepatuku dengan tanganmu, itu saja!"
"Kenapa masih diam saja?! Aku ini sangat sibuk tahu!"
Gary dan yang lainnya mengepalkan erat tangan mereka dengan kemarahan yang melonjak di dada.
"Bang Gary, persetan dengannya!"
__ADS_1
"Benar, kita cukup hajar lalu kabur!"
Gary menatap Tuan Muda Lawrence di depannya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tuan Muda Lawrence mengangkat dagu dengan tinggi, dengan seringai di sudut mulut dan wajah penuh dengan penghinaan.
"Jangan tak tahu diri."
"Kalau masih tidak bersihkan, aku akan mengadu pada atasanmu!"
Ketika Gary mendengar ini, hatinya tiba-tiba terpengaruh.
Meskipun dia tidak takut diadukan ke atasan, tapi sekelompok gangster ini memblokir pintu tentara dan membuat onar, yang mungkin akan dimanfaatkan oleh orang yang ingin mencelakai mereka untuk diunggah ke internet dengan berita yang dibuat-buat.
Dengan begitu, itu akan menimbulkan masalah bagi pasukan tentara mereka.
Demi kepentingan seluruh pasukan tentara, bersabarlah!
“Bilang padanya, aku setuju!” kata-kata Gary sangat dingin hingga menusuk tulang.
"Apa?! Bang Gary, jangan setuju!"
"Bang Gary, persetan dengannya, hajar saja!"
Para penonton justru ikut marah,
"Kakak tentara, tak usah bersihkan sepatunya!"
"Itu jelas membully!"
"Mana harga diri kalian? Tunjukkan martabat kalian dasar tidak berguna!"
"Itu benar, persetan dengan mereka!"
Dengan senyum jahat di sudut mulut Tuan Muda Lawrence, dia mengulurkan sepatu kotor itu.
“Cepat, waktu Tuan Muda Lawrence sangat berharga!” wanita itu mengangkat kepalanya dengan bangga di samping dan mendesak.
Gary mengepalkan tinjunya dan mengambil langkah maju yang sulit.
"Jangan!"
"Tak usah!"
"Abang-abang tentara, kami mendukung kalian, pukul saja mereka, kami akan berurusan dengan siapa pun yang berani menangkap kalian!"
Suasana di sisi para penonton mulai mendidih.
Gary berbalik untuk melihat kerumunan yang marah, dan tidak bisa menahan perasaan lega.
Ternyata di hari masyarakat masih ada rasa keadilan, bagaimanapun, pemuda seperti Tuan Muda Lawrence adalah sampah masyarakat!
"Aku sangat berterima kasih pada dukungan kalian semua, tapi, sebagai seorang tentara, kami hanya akan melakukan kekerasan pada musuh di medan perang."
"Bagaimanapun mereka juga warga negara ini, jadi tidak masalah kami sedikit bersabar!"
Setelah berbicara, Gary yang kemarin baru saja berhasil selamat dari ambang kematian, pria yang baru saja dioperasi untuk mengeluarkan biji peluru dari tubuh, perlahan membungkuk.
"Aduh!" Ryan mengayunkan tinju dengan marah, memalingkan wajah dan tidak sanggup melihat lagi.
Pria tangguh yang lengannya dicegat oleh Williamson kemarin juga tidak mengatakan sepatah kata pun, karena saat ini matanya berlinang air mata.
Tepat ketika Gary hendak berjongkok.
“Plak!” sebuah tangan terulur dan menarik Gary.
__ADS_1