Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 3 Paket Hadiah Nabi Lao Zi


__ADS_3

"Pak, tolong ke Universitas Santapolis!"


Ketika semua orang terlarut dalam lagu, Williamson sudah meraih tangan Jocelyn sambil berlari keluar dari bar dan naik taksi.


Di dalam taksi, Jocelyn merasa tidak nyaman dan berusaha melepaskan tangannya dari tangan Williamson.


“Maaf karena pura-pura jadi pacarmu dan memegang tanganmu.'' Williamson tertawa canggung dan enggan melepaskan tangan Jocelyn yang lembut.


Sialan! Lembut sekali!


"Gapapa," Wajah Jocelyn memerah, "Terima kasih bantuannya.”


"Sama-sama, membantu orang lain adalah hal yang patut dilakukan." Williamson menirukan kata-kata dari karakter film seni bela diri, tidak lupa untuk berpose di taksi yang sempit.


Jocelyn tertawa saat melihat pose lucu Williamson.


'Cantiknya…' Williamson hanya bisa menatap terpesona.


"Oh ya, nyanyianmu bagus banget, aku sampai mau nangis. ”


“Tentu, aku sendiri aja tersentuh." Williamson setuju dengan sepenuh hati.”


"Mana ada orang yang muji diri sendiri seperti itu."


Setelah keluar dari taksi, Jocelyn menatap Williamson dengan aneh.


"Tunggu, gimana kamu bisa tahu aku harus pulang ke Universitas Santapolis?"


“Karena aku bisa membaca pikiran." Williamson menjawab dengan serius.


"Ada-ada aja deh." Bibir Jocelyn berkedut dan tersenyum. Semakin banyak mereka berbicara, semakin dia menyadari bahwa Williamson tidak pernah bisa serius.


Sambil tenggelam dalam pikirannya, Jocelyn tiba-tiba bertanya, “Kamu juga mahasiswa di Universitas Santapolis ya? Jadi, kamu udah kenal kan?”


"Kurasa kamu tidak bodoh juga.”


"Tunggu, kalau gitu kenapa aku nggak kenal kamu sama sekali?" Jocelyn bingung.


Sial, apa dirinya tidak punya hawa keberadaan separah itu? Williamson mengerutkan kening.


Dia sudah menghabiskan 3 tahun di universitas. Walau awal memang tidak kenal, tapi setelah bertemu beberapa kali seharusnya setidaknya punya sedikit kesan dan terasa familiar.


"Oh ya, mengapa kamu bisa nyanyi di bar?" Williamson akhirnya mengajukan pertanyaan yang telah mengganggu pikirannya sepanjang malam.


Wajah Jocelyn berubah dan suasana hatinya menurun.


“Terima kasih untuk hari ini, aku duluan ya.”


"Tunggu…biar kuantar.'' Williamson secara mental memarahi dirinya sendiri karena salah ngomong.


Setelah Jocelyn pulang, Williamson menerima telepon dari Daniel, yang terdengar sangat khawatir.


"Williamson, lo dimana? Jangan keluar, si botak lagi nyari lo!”

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku sama Jocelyn udah sampai di sekolah." Hati Williamson terasa hangat.


"Gila, cepat kali!" Daniel menghela napas lega.


“Lo hebat juga ya! Jadi pahlawan dan membodohi si botak itu, apa Jocelyn membalas kebaikan lo tadi? Oh ya, jarang dengar lo nyanyi tiap kali ke karaoke, ternyata suaramu sebagus itu, sialan, gue sampai nangis… "


Williamson segera menutup telepon, jika tidak Daniel tidak akan berhenti berbicara.


Berbaring di tempat tidur, Williamson mengingat peristiwa hari ini dan berpikir bahwa semuanya terasa seperti mimpi.


Efek Moon Palace Fairy's Song melebihi harapan Williamson dan membantu menyelamatkan dirinya dan Jocelyn.


Pada saat itu, Williamson memutuskan bahwa grup Instagram konyol itu tidak diragukan lagi terdiri dari para dewa.


Memikirkan itu, Williamson dengan cepat mengangkat teleponnya dan membuka Instagram.


Grup Perdagangan High Heaven dan Dewi Kelinci masih ada di sana.


'Ini beneran bukan mimpi!'


Williamson merasakan gelombang kegembiraan. Hidupnya pasti akan berubah.


Segera setelah itu, Daniel dan teman-temannya tiba. Secara alami, mereka berbicara tentang apa yang terjadi selanjutnya dan terus mengobrol sampai tengah malam.


Hari berikutnya .


"Eh?" Setelah berjalan ke kelas, Williamson memperhatikan bahwa Jolin sedang asyik bermain dengan tablet barunya.


Dengan seorang lelaki di samping yang memakai berbagai macam barang merek mewah, sambil mengelus paha Jolin dengan satu tangan.


Williamson tidak bisa menyangka Jolin sudah bersama pria baru setelah putus dengannya selama sehari.


"Jolin, itu pacarmu kan?" Evan mengejek ketika Williamson berjalan masuk.


"Mantan pacar, dia itu sangat miskin, siapa yang menyukainya? Gue cuma main sama dia toh gue udah campakin dia kemarin, sekarang di dalam hati gue cuma ada lo.'' Jolin berkata sambil menggosokkan tubuhnya ke arah Evan


"Haha, betul tuh, liat aja pakaian murahannya, babi betina aja nggak suka."


“Betul juga, babi betina itu kan suka yang kayak lo." Jawab Williamson saat menemukan tempat duduk.


"Ya iyalah…" Evan mengangguk dengan arogan sebelum mengakhiri kalimatnya dengan tiba-tiba.


"HAHAHA!" Para murid di kelas tertawa terbahak-bahak.


Ekspresi Jolin berubah.


Pada saat ini, guru berjalan masuk dan semua orang akhirnya menjadi tenang.


Williamson tidak terlalu tertarik dengan kelas ini. Dia membuka Instagram dan melihat bahwa High Heaven Trading Circle aktif lagi.


Raga Naga Laut Timur: Pemberitahuan barang hilang, aku kehilangan Night Pearl pada malam sebelumnya, kalau jumpa, tolong hubungi aku, terima kasih.


Dewa Erlang: Ngapain masang Pemberitahuan Barang Hilang? Kalau hilang sesuatu itu jelas si monyet yang mencurinya.

__ADS_1


Kera Sakti: @Dewa Erlang, berani-beraninya kau menuduhku? Cari mati ya!?


Dewa Erlang: Kau pikir aku takut?! Mana lo?!


Kera Sakti: Minta dipukul kau?!


Dewa Erlang: Ayo, yang nggak datang pecundang.


Dewa Erlang mengirim gambar yang sangat rumit dengan titik merah kecil di tengahnya.


Kera Sakti: Bagus, aku ke sana!


Obrolan grup menjadi tenang.


Sepertinya kedua dewa itu pergi berkelahi di lokasi yang dikirim oleh Dewa Erlang.


Ding dong!


Tidak lama kemudian, Williamson menerima pesan lain di Instagram.


Dewa Dapur (Dewa mitologi Tiongkok kuno yang bertanggung jawab atas dapur rumah tangga): Mencari pekerja magang, usia dan jenis kelamin tidak masalah, bersedia untuk dilatih, bayaran menarik. Jika tertarik, silakan datang untuk wawancara.


Dewa Penjaga Pagi (Dewa mitologi Tiongkok kuno yang berpatroli saat pagi hari untuk memantau perbuatan kebajikan dan kejahatan di dunia manusia): Mencari pekerjaan paruh waktu bertugas untuk patroli malam.


“Hahaha, ternyata para dewa ini seperti manusia biasa juga.”


Saat ini, Williamson merasa keabadian para dewa yang tampaknya tidak dapat dijangkau ini terasa ramah.


"Ahem…" Nabi Lao Zi tidak sanggup untuk terus menonton lagi.


Nabi Lao Zi: Semua orang harap dicatat, ini adalah grup perdagangan, mengobrol diperbolehkan tetapi jangan masang iklan, minta like, atau menarik suara voting.



Berbagai macam jenis iklan terus bermunculan, sehingga pemberitahuan Nabi Lao Zi langsung tenggelam dalam sekejap.


Tidak ada yang memperhatikannya sama sekali.


"Haha, ini menarik." Williamson dengan iseng menyebut @Nabi Lao Zi di grup.


Dewa kecil yang bingung: @Nabi Lao Zi (Dengan stiker ekspresi senyum)


Nabi Lao Zi: @Dewa kecil yang bingung, (Dengan stiker tiga jempol)


“Kenapa ini?” begitu di tag, Williamson baru sadar bahwa namanya di grup ternyata adalah Dewa kecil yang bingung.


Ding dong!


Tiba-tiba, sebuah paket hadiah besar muncul di layar.


Tangan Williamson langsung bergerak cepat dan terus menekan terima.


"Anda menerima paket hadiah dari Nabi Lao Zi."

__ADS_1


Dapat juga!


__ADS_2