Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 46 Sepertinya Sudah Berlebihan


__ADS_3

“Apa yang akan terjadi pada mereka?” Doni menjadi gugup begitu mendengar apa yang dikatakan Williamson. Bagaimanapun, itu adalah ibu dan adik kandungnya.


Williamson diam-diam tertawa di dalam hatinya, siapa suruh mereka berani memandang rendahnya, maka harus sedikit dipermainkan.


"Aduh." Williamson menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan lembut.


Kali ini, Hanna dan Melati ketakutan.


"Hei, cepat bilang, apa yang akan terjadi pada aku dan Ibuku?"


“Cepat bilang!” melihat Williamson terdiam, Melati berteriak-teriak pada Williamson.


Minta bantuan tapi masih berani sesombong itu.


"Kalian berdua sudah melakukan terlalu banyak perbuatan jahat, jadi membuat marah dewa hantu, dan bencana akan melanda kalian. Masalah ini akan cukup sulit untuk ditangani." Williamson mengerutkan kening dan berpura-pura.


"Omong kosong, sejak kapan kami melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani!"


Williamson tiba-tiba menunjuk langit dan berkata dengan serius, "Ada atau tidak itu, Tuhan tahu!"


“Kami tidak melakukannya, jadi tidak takut sama hantu.” Hanna juga berkata di samping, tapi bagaimanapun dia tetap terlihat merasa bersalah.


"Begitu ya?" Williamson tiba-tiba menatap Hanna dan tersenyum cemberut.


"Kuberitahu kalau hantu dan dewa sudah ada di atas kepala kalian, kalau masih tidak mengakui kesalahan, maka pembalasan akan datang, saat itu bahkan aku saja tidak bisa berbuat apa-apa lagi"


“Guru, di atas kepala mereka, beneran ada dewa sekarang?” Calvin bertanya di samping, dengan ekspresi penasaran di wajahnya.


“Tepat sekali!” Williamson melirik Dilin di atas Hanna dan Melati, dan berpikir, “Hantunya memang ada.”


“Hmph, jangan menakuti kami.” Melati mendengus, tapi ekspresinya jelas sangat ketakutan.


“Tidak percaya? Cukup gampang untuk membuktikannya.” Williamson mengisyaratkan kontak mata dengan Dilin.


Dilin mengulurkan tangan dan langsung meraih masing-masing satu tangan dari Hanna dan Melati.


“Bu, aku tidak bisa menggerakkan lengan kiriku.” Melati berteriak ketakutan.


Wajah Hanna juga pucat, bibirnya terus gemetar karena menyadari lengan kanannya tidak bisa bergerak.


“Willi,  cepat selamatkan Ibu dan adikku!" Melihat ini, Doni buru-buru memohon.


Williamson maju selangkah dan berpura-pura cemas.


"Apa perbuatan jahat yang telah kamu lakukan? Cepat jujur, atau sebentar lagi kamu akan menyesal!"


"Aku akan jujur!"


"Aku juga!"


Hanna dan Melati tidak ragu, dan berebutan mengaku.


“Tenang, satu per satu! Kamu duluan!” Williamson menunjuk Melati.


"A-aku pernah mencuri kalung Kakak iparku."


"Bukan itu!"


"Waktu Nenek sakit, aku jijik karena kotor jadi memukulinya secara diam-diam."

__ADS_1


"Bukan itu juga, coba pikirkan lagi!"


……


Melati mengungkapkan lebih dari selusin hal jahat berturut-turut, yang membuat para penonton mengerutkan kening.


Setelah berbicara, Melati merasa malu sekaligus ketakutan, dan pada akhirnya menangis.


Doni yang mendengarkan di sampingnya juga merasa ini sangat memalukan nama baik.


Ini sungguh menyedihkan.


“Sudah cukup.” Williamson tidak ingin berlebihan, hanya ingin menghukumnya sedikit.


Dia mengisyaratkan mata pada Dilin, jadi Dilin melepaskan Melati.


"Lihat? Dewa sepertinya sudah memaafkanmu karena sudah jujur, coba gerakkan tanganmu."


Ketika Melati mendengar ini, dia buru-buru menggerakkan tangannya.


“Hahaha, aku bisa bergerak, aku benar-benar bisa bergerak.” Melati tertawa bahagia, seperti orang gila.


"Ingat, jangan lakukan perbuatan buruk lagi kedepannya." Williamson pura-pura memperingatkan.


“Tidak, aku tidak akan berani lagi.” Melati mengayunkan kedua tangannya dengan cepat.


“Giliranmu.” Williamson menoleh ke arah Hanna.


Ketika Hanna melihat bahwa Melati yang selesai berbicara benar-benar bisa bergerak kembali, muncul secercah harapan di hatinya.


"Waktu aku masih muda, aku pernah mengertak dan sering mencekik ibu mertuaku."


"Bukan ini, lanjutkan!"


"Tahun lalu, aku menyewa jasa pekerja migran untuk bekerja, tapi memberi mereka 20 juta lebih sedikit, begitu mereka datang meminta uangnya, aku menyuruh penjaga keamanan memukuli mereka sampai diberangkatkan ke rumah sakit."


Williamson yang berasal dari keluarga miskin bahkan lebih marah, pekerja migran itu sudah cukup sulit mencari nafkah, ini tidak hanya ditipu, tapi juga dipukul!


"Bukan yang ini, coba pikirkan lagi!"


Williamson ingin melihat berapa banyak perbuatan tidak bermoral yang telah dilakukan wanita ini.


Beberapa cerita lama terungkap, dan Williamson yang mendengarkan semakin marah, hal buruk yang dilakukan wanita ini ternyata tidak sedikit sama sekali.


"Lanjut!"


Wajah Hanna menjadi pucat dan tampak ragu-ragu.


“Cepat, atau bakal terlambat untuk diselamatkan nanti!” Williamson pura-pura melirik ke langit dan berkata dengan panik.


"Akan kubilang! Akan kubilang!"


"Aku sangat merasa bersalah pada suamiku! Semenjak menikah dengan suamiku, aku sudah melakukan lebih dari 30 perselingkuhan."


"Ditambah aku juga ada dua pria simpanan di luar, keduanya adalah mahasiswa dari Universitas Santapolis."


Pfftt! Williamson hampir kehilangan kendali, wanita tua ini jelas mencari pria muda yang masih segar.


"Selain itu, ini juga bukan!"

__ADS_1


“Me-Melati itu, anakku dengan pria lain.” Setelah berbicara, Hanna tampaknya kehilangan seluruh tenaga, ambruk ke tanah, dan mulai menangis.


"Bu, apa yang kamu katakan ..." Melati tercengang.


Begitu juga dengan Doni.


Semua orang di taman terpana.


Apa?! Bola mata Williamson hampir melotot keluar.


Ini sudah keterlaluan dan fatal!


Dia dengan cepat memberi isyarat pada Dilin untuk melepaskan Hanna.


"Uhuk uhuk..." Williamson merasa canggung dan batuk beberapa kali sebelum mengatakan,


"Sepertinya sudah tepat, dewa sudah pergi, aku senang kamu bisa mengakui kesalahan, ingat untuk tidak melakukan itu lagi di masa depan."


"Direktur Doni, pergi carikan aku sebuah tas dan membungkus kerangka ini, aku akan menggunakan metode khusus untuk membereskan masalah ini."


“Oh.” Doni melakukannya dengan putus asa.


“Penyakit Tuan besar Pattison akan sembuh malam ini, dan tidak akan menderita lagi, ingat beri makan lebih banyak untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh ya.” setelah berbicara, Williamson pergi bersama Calvin dan Smith.


Doni mengantar Williamson ke luar pintu dengan ekspresi kusam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Apa yang terjadi hari ini, terutama apa yang dikatakan adik dan ibunya, sangat membuatnya tertekan.


Dia perlu waktu sendirian untuk mencerna informasi ini.


"Apa sudah terlalu berlebihan ya?" Williamson menyesal menghukum mereka seperti ini.


Sudahlah, tidak usah dipedulikan lagi.


Lagi pula mereka sendiri yang melakukan semua, untuk apa merasa bersalah? Selain itu, dia juga sudah mengingatkan mereka untuk tidak melakukan perbuatan jahat lagi kedepannya, membuat orang lain berbuat kebajikan itu adalah perbuatan baik!


Memikirkan hal ini, Williamson merasa jauh lebih baik.


Setelah meninggalkan rumah Pattison, Smith terus menatap Williamson di dalam mobil.


"Hei, kenapa terus menatapku?" Williamson merasa tidak nyaman ditatap terus oleh orang asing berjanggut ini.


Setelah waktu yang lama, Smith membuka suara,


"Sudah kuputuskan!"


"Putuskan apa?"


"Aku ingin menjadi muridmu!"


Pfftt!


Mobil yang disetir Williamson hampir masuk selokan.


Ini tidak ada habisnya!


Si botak Giant dan Calvin sudah cukup menyebalkan, ini kenapa tambah satu lagi!


“Pergi sana, aku tidak terima!” suara Williamson hampir menjungkirbalikkan atap mobil.

__ADS_1


__ADS_2