
Williamson sangat terkejut.
Ini pertama kalinya penglihatan Surgawi aktif sendiri semenjak berhasil dipelajari.
Orang tua di depannya ini sama sekali tidak biasa.
Melihat ke atas, tentu saja, seluruh tubuh lelaki tua itu dikelilingi oleh dua jenis cahaya, satu merah dan satu putih.
"Aura kejam!"
"Dan Aura keadilan!"
Nama dari dua jenis sinar cahaya tiba-tiba muncul di pikiran, seolah Williamson mengetahui kedua jenis cahaya tersebut.
'Aura kejam orang ini sangat kuat, pasti ada ribuan nyawa yang mati di tangannya.' Williamson tidak bisa menahan diri.
Namun, meskipun aura kejamnya kuat, aura keadilannya bahkan lebih kuat lagi, membuat aura kejam terbungkus rapat, sehingga tidak membocorkan jejak sama sekali.
Dengan aura keadilan yang begitu kuat, jelas bahwa lelaki tua ini bukan orang jahat, tapi kebesaran aura kejamnya membuat hati Williamson terpengaruh, identitas lelaki tua ini sudah terungkap.
Tanpa sadar rasa hormat dari hati naik.
"Sungguh suatu kehormatan bagiku untuk sejalan dengan senior, silakan naik mobilku."
Williamson membuka pintu barisan belakang Land Rover dan mempersilahkan dengan hormat pada lelaki tua itu.
"Haha, anak muda ini menarik, kalau gitu aku numpang ya."
"Tuan, biar saya periksa dulu ..." Di belakang lelaki tua itu, seorang pria muda dengan tubuh tegak berkata.
"Nggak perlu, anak muda ini orang baik.” Lelaki tua itu memotong kata-kata pemuda itu dan langsung duduk di dalam mobil.
Melihat hal ini, pemuda itu buru-buru membuka pintu di sebelah pengemudi, duduk di dalam dan melirik sekeliling dengan tatapan waspada.
“Liam, kamu nunggu di sini aja buat antar mobilnya nanti, cukup Noah yang pergi denganku.” Pria tua itu menjelaskan kepada sopir dan memberi isyarat kepada Williamson untuk mengemudi.
“Tuan, duduk yang benar ya.” Begitu Williamson menginjak pedal gas, mobil mulai melaju dengan mulus.
"Anak muda, kamu mau ke mana? Kami tak menunda perjalananmu, kan?"
"Kebetulan rumahku ada di Kota Metro kabupaten Kranji juga, jadi sejalan."
Williamson berkata sambil mengemudi.
“Oh?” Pria tua itu tertegun sejenak, kemudian bertanya dengan penuh semangat, “Kalau begitu, mau numpang nanya, di sana ada yang namanya Michael tidak?”
"Michael?" Williamson menggelengkan kepalanya.
“Gitu ya.” Pria tua itu menghela nafas, tampak sedikit kecewa.
"Ngomong-ngomong, boleh tahu namamu?"
"Namaku Williamson Davis, panggil aja Willi."
“Nama belakangmu Davis juga?” Orang tua itu tercengang, “Margaku Jones, panggil aku Pak Jones aja.”
Sepanjang jalan, saat mengobrol dengan Pak Jones, Williamson tidak kesepian, dan tanpa sadar mobil sudah tiba di Kota Metro.
__ADS_1
"Anak muda, turunkan kami di alun-alun di depan sana aja."
"Oke."
Pak Jones keluar dari mobil dan menyerahkan kartu nama kepada Williamson.
Williamson melihatnya, 'James Jones' tertulis di atas, diikuti dengan nomor telepon, sangat ringkas sekali.
"Willi, terima kasih banyak ya, kalau ada kesempatan datanglah ke Kota Wallwin dan telepon pak tua ini ya."
"Tentu!"
Ding dong!
Instagram berdering.
Williamson membukanya, dan terkaget.
"Menolong orang yang mengalami kesulitan, Anda mendapatkan 100 poin jasa!"
Apa?! Poin jasa!
"Baguslah!" Williamson yang bereaksi, melambaikan tinjunya dengan gembira.
Meskipun 100 poin jas itu tidak banyak, tapi ini bukan masalah jumlah poin bagi Williamson, yang membuatnya paling bahagia adalah, dia akhirnya tahu cara mendapatkan poin jasa yang digunakan sebagai mata uang di High Heaven Trading Circle.
Rumah Williamson berada di desa yang jaraknya sekitar 10 mil jauhnya dari kota Metro.
Melihat pemandangan yang akrab di kedua sisi jalan, Williamson merasa sedikit bersemangat, dia belum pulang selama hampir setengah tahun, dia sudah tidak sabar untuk melihat orang tua dan adik perempuannya.
Begitu Williamson memasuki desa, dia melihat beberapa petani berusia 40-an sampai 50-an yang membawa cangkul sambil mengobrol dan berjalan di jalan tanah desa.
Tampaknya mereka mendengar suara mobil di belakang, beberapa petani itu menoleh satu per satu, kemudian berinisiatif untuk memberi jalan.
“Cit!" Sebuah mobil Land Rover berhenti di samping beberapa petani.
“Paman Robert, mau pulang ya?” Williamson menurunkan jendela mobil dan berteriak pada seorang pria dengan rambut yang berantakan.
Pria itu bernama Robert, dia tinggal di dekat rumah Williamson, dan sering bermain dengan Williamson sejak kecil, saat kedua orang tua Williamson tidak di rumah, dia juga sering pergi ke rumahnya untuk makan malam bersama.
Robert tertegun sejenak, melirik Williamson, kemudian berkata dengan tidak percaya: "Ini Willi, kan? Kamu ..."
“Aku pulang buat lihat orang tua.” Williamson turun dari mobil dan menyapa penduduk desa lainnya, meskipun tidak terlalu kenal, tapi mereka juga satu desa, jadi pasti pernah bertemu satu sama lain.
“Willi, kamu tidak sekolah? Kenapa bisa balik pakai mobil? Mobil ini setidaknya 200 juta, kan?” Robert memandang Land Rover di sebelahnya dengan iri.
"Hehe, aku bekerja paruh waktu sambil sekolah jadi menghasilkan sedikit uang."
"Willi ini, udah kutahu dia itu punya masa depan yang menjanjikan sejak kecil."
"Iya, Jonathan dan istrinya diberkati."
"Alangkah baiknya kalau bocah di keluarga kami itu punya setengah pengetahuan dari Willi, aku sudah sangat senang sekali."
Penduduk desa terus menatap Land Rover dengan tatapan iri dan terus memuji Williamson, yang membuat Williamson jadi malu-malu.
"Paman Robert, naiklah, biar kuantar pulang."
__ADS_1
"Gapapa, aku jalan kaki aja, lagian nggak jauh juga."
"Masuk aja, toh sejalan juga."
Robert ragu-ragu, dia juga ingin duduk mobil yang tampak sangat mendominasi ini.
Tapi melihat lumpur yang ada di tubuhnya sendiri, Robert menggelengkan kepalanya.
"Gapapa, aku abis kerja di lahan tadi, takutnya mobilmu kotor nanti."
"Gapapa, kalau kotor tinggal cuci"
Williamson membuka pintu dan menaikkan Robert ke dalam mobil.
"Cangkulku ..." Robert duduk di dalam mobil dan cangkulnya terlalu panjang sehingga pintunya tidak bisa tertutup.
“Malvin, numpang taruh rumahmu dulu ya, sekalian bawa waktu lanjut kerja sore nanti." Robert hanya melemparkan cangkulnya kepada Malvin.
Mobil melaju pergi di mata iri penduduk desa.
Robert yang duduk di dalam mobil tidak bisa menahan diri, dan terus melihat sekeliling dia bahkan tidak berani bergerak, karena takut merusak atau mengotorinya.
"Willi, mobilmu ini bagus ya, aku pernah lihat BYD S6 bibi keduamu sebelumnya, tapi kayaknya tak sebagus ini deh," kata Robert.
"BYD S6?" Williamson menggelengkan kepalanya, kalau dia mengganti mobilnya ini dengan BYD S6, jumlahnya bisa saja memacetkan jalan desa ini.
“Paman Robert, berkunjung ke rumahku kalau luang ya.” Robert keluar dari mobil, dan Williamson mengeluarkan sebungkus rokok Parliament dari bagasi dan melemparkannya kepada Robert.
"I-ini ..." Robert mengambil rokok itu dan terkejut begitu melihat nama rokoknya
Tanpa sadar menghela nafas dalam hati, sepertinya Willi memang sangat menjanjikan.
Begitu sampai di rumah, Williamson melihat BYD S6 spek rendah berwarna perak diparkir di halaman.
Tanpa sadar, Williamson merasa dingin di hatinya.
Orang-orang di rumah juga sepertinya mendengar suara mobil, dan mengira ada tamu yang datang.
“Willi?” Seorang wanita berusia lima puluhan dengan rambut abu-abu keluar dari ruangan, dia melihat Williamson, kemudian menatap mobil dengan ekspresi terkejut.
“Ma, aku pulang.” Untuk beberapa saat, suara Williamson sedikit tersendat.
Sudah belum bertemu satu sama lain selama beberapa bulan, tapi kerutan di wajah ibunya sudah banyak bertambah, rambut putih di kepalanya juga menjadi semakin jelas.
"Willi udah pulang." Di sebelah Jane, terdapat seorang lelaki tua yang agak bungkuk dengan kulit gelap, begitu melihat Williamson, wajahnya yang berkerut tersenyum bahagia.
"Pa!" Williamson menangis.
Ayahnya, Jonathan, baru berusia awal 50-an, tetapi justru terlihat seperti orang tua berusia 60-an.
Williamson tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi dia tahu dalam hatinya bahwa lelaki tua yang tidak pandai berbicara ini telah menanggung tanggung jawab dan beban yang berat selama ini, dan sudah menderita banyak demi dirinya dan adik perempuannya.
“Kenapa nangis, Nak?” Jane menepuk Williamson dengan ringan, “Masuklah, bibi keduamu dan yang lainnya juga ada di dalam”
Mendengar adanya bibi kedua, hati Williamson tiba-tiba menjadi dingin.
“Yo, bukannya ini mahasiswa dari desa kita?” Sebelum memasuki rumah, sebuah suara familiar sudah memasuki telinga Williamson.
__ADS_1