
"Bakal kuikuti taruhan apa pun, lebih besar akan lebih baik, jangan pelit, malu-maluin aja nanti."
Peluang ini begitu besar sehingga Williamson pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Sementara itu, George jadi sangat marah, karena sejak kapan diirinya yang merupakan salah satu dari empat Tuan Muda di Universitas Santapolis dipanggil pelit?
“Kalau gitu 200." George memeluk dada dengan kedua tangan dan berkata dengan arogan.
"200? 200 apaan? Willliamson tertegun.
“200 juta dasar kuno.'' Evan berkata dengan menghina di sampingnya.
“Ah, tak masalah, tak masalah.'' Willliamson mengangguk seperti ayam yang mematuk jagung.
Willliamson: '200 juta? Gila!'
"Kak George jangan tertipu, dia itu orang miskin yang 20 juta aja nggak mampu bayar apalagi 200 juta." Jolin memperingatkan
“Nggak mampu bayar?” George menyeringai dan matanya melotot tajam. “Ada banyak cara buat dia bayar. ”
"Ayo kita mulai." George mengedip pada Hanest.
"Bentar." Willliamson dengan cepat menghentikannya.
“Kenapa? Takut ya? Berubah pikiran?”
“Aku mau nambah taruhannya."
Willliamson melirik Evan, Jolin dan Hanest, lalu berkata pada George, "Kalau aku menang, kalian harus menggonggong seperti anjing tiga kali"
"Siapa yang lo panggil anjing?" Kata Evan akan bergegas ke Willliamson, tapi George menghentikannya.
"Kalau lo kalah?"
Willliamson mengangkat bahu, "Akan kulakukan hal yang sama. ”
“Huh, cuma mempermalukan diri lo sendiri aja, ayo mulai. ”
"Teman-teman sekalian, lagu 'One Plum Blossom' untuk kupersembahkan untuk kalian."
"'One Plum Blossom'? Apa-apaan? Apa dia mau jadi seorang kasim? Apa yang salah dengan otaknya?”
Setelah mendengar kata-kata Willliamson, Hanest, yang baru saja mengatur napas, hampir kehilangan napas.
Jocelyn tertawa terbahak-bahak dan melirik Willliamson, "Berhenti bercanda."
"Cinta sejati sama seperti padang rumput luas …"
Bisa dikatakan bahwa keterampilan menyanyi Hanest masih sangat solid, pelafalannya benar, penuh emosi, karya adik lelaki kecil ini (julukan Penyanyi) ditafsirkan olehnya dengan benar.
"Hanest, kami mencintaimu!"
"Hanest, hebat sekali, bahkan lebih baik dari Penyanyi aslinya!"
Para siswa yang menonton bersorak keras, tampaknya telah ditaklukkan oleh nyanyian Hanest.
Setelah lagu itu selesai, Hanest puas dengan penampilannya sendiri, secara provokatif mendengus pada Willliamson.
Willliamson: "Tak heran si, ternyata seorang banci.”
'Pftt!'
Hanest sangat marah sampai mau muntah darah.
"Cukup sarkasnya, lo bakal nangis nanti, udah giliranmu!"
"Ada lagu bagus apa ya?" Willliamson berjalan ke tengah kerumunan, mencubit dagu dan mengerutkan kening sambil bergumam.
__ADS_1
"Ini aja deh." Willliamson bertepuk tangan, "Akan kunyanyikan lagu 'Rainbow' untuk kalian.”
Ketika kamu telah jatuh cinta, jangan menyangkalnya. Ketika cinta hidupmu bergerak tanpamu, jangan merasa sedih.
Apapun yang terjadi di masa depan, dirimu harus tetap kuat.
Jika hatimu masih berkeliaran tentang hari esok.
Aku bersedia menanggung cinta yang kamu miliki ini dan menemanimu membangun dunia yang baru.
Ketika duniaku memilikimu, setiap hari terasa seperti di film.
Mau romantis atau aneh, protagonisnya adalah dirimu.
Ketika duniaku memilikimu, terkadang terasa cerah, terkadang juga hujan.
Pada hari berawan, aku akan memberitahumu bahwa aku mencintaimu yang bahkan lebih cantik daripada pelangi.
Ketika Willliamson membuka mulutnya, seluruh ruang pelatihan menjadi hening.
Tidak ada yang berbicara atau bersorak.
Semua orang terlarut dalam nyanyian Williamson.
Setiap orang memasang senyum bahagia di wajah, seolah-olah kekasih dalam lagu yang bersedia menanggung segalanya dan membangun dunia bersama ada di sisi mereka, membisikkan butir-butir cinta kepada mereka.
Jocelyn merasakan kehangatan lembut di dalam hatinya. Melihat Willliamson, dia tanpa sadar tertegun dan wajahnya yang dipenuhi dengan kebahagiaan yang manis.
"Apa nyanyian itu untukku?"
"Woahh!" Ruang musik mulai heboh.
“Luar biasa, aku tak pernah dengar lagu seindah ini.”
“Setelah dengar lagunya aku ingin sekali punya satu kekasih yang selalu ada di sisiku.”
“Tak tahan lagi, aku mau jatuh cinta!”
“Karena lagunya udah habis, ayo kita mulai voting." Willliamson mengangkat bahu.
"Ini…" Hanest ragu, dia beneran tidak menyangka Willliamson bisa bernyanyi dengan baik, sehingga bahkan kepercayaan dirinya terguncang dan tanpa sadar menatap Jolin,
'Ini yang lo sebut nada aja nggak tepat?!'
Willliamson: "Kenapa? Nggak bisa hadapi kenyataan kalau aku lebih baik dari kamu?"
Willliamson berkata kepada para siswa, "Teman-teman sekalian, udah saatnya mengumumkan hasil, kalau kalian mendukung Hanest, tolong angkat tangan!"
Hanest menatap gugup ke kerumunan, hanya ada tiga atau empat dari puluhan yang mengangkat tangan mereka, ditambah George, Evan dan Jolin, itu hanya menambah hingga enam atau tujuh suara.
'Brengsek … aku kalah?!' Hanest merasa jantungnya hampir copot dan tubuhnya lemas selama sedetik.
Willliamson, "Baiklah, selanjutnya, yang mendukungku, silakan angkat tangan!"
'Whoa!' Willliamson berseru saat melihat kerumunan mengangkat tangan mereka sambil memandang Willliamson dengan kekaguman di wajah mereka.
"Wah, terima kasih semuanya," kata Willliamson.
“Hasilnya udah jelas, saatnya membayar taruhan." Willliamson mengangkat bahu ke arah George.
"Hah! Lo pikir gue bakal lari?! 200 juta doang, ini mungkin jumlah yang besar buat seseorang yang miskin seperti lo, tapi nggak seberapa bagi gue!"
"Plak!" Sebuah kartu bank dilemparkan ke Willliamson.“ Kata sandi adalah 000 000. ”
"Terima kasih!" Willliamson menangkapnya dan mengangkat kartu tersebut di udara dengan bangga.
"Kita pergi!" Kata George, tidak tahan melihat wajah menyeringai Willliamson lagi.
__ADS_1
"Eh bentar!" Willliamson tiba-tiba maju dan menghentikan George.
“Sepertinya masih ada taruhan lain yang belum terpenuhi.'' Ketika suara Willliamson turun, wajah George berubah dengan kasar.
"Oh iya, masih belum gonggong."
Willliamson: "Yup, cepat dan gonggong!"
Mendengar ini, penonton mulai saling berbisik.
"Jangan keterlaluan!" Mata George berubah bagaikan belati tajam yang menusuk saat berbicara dengan suara dingin.
“Kalah taruhan itu harus bayar, kenapa? Mau kabur?'' Willliamson tidak menghindar dan kembali ke George.
"Oke! Gue akui keberanian lo!'' George mengangguk setelah waktu yang lama.
"Ayo kalian bertiga, gonggong!"
"Kak George, kami…"
"Kak George…. ”
Ekspresi ketiga orang itu berubah.
"Cepat!" George meraung.
"Liat aja nanti Willliamson!" Evan dengan kejam berkata kepada Willliamson, dan kemudian …
"Guk guk guk!"
"Guk guk guk!"
"Guk guk guk!"
Dengan wajah memerah, mereka tidak berani melawan dan menggonggong, masing-masing merasa sangat malu.
"Hahaha!" Para siswa berkumpul di sekitar tertawa keras lagi.
"Gue tandai muka lo!" George, dengan tatapan sengit di matanya, siap untuk pergi.
"Tunggu!" Willliamson maju lagi dan menghentikannya. “Kamu kan belum gonggong?"
"Lo..." Mata George serasa hampir berdarah.
“Sialan, tau batasnya! Lo tau nggak gue itu siapa?”
"Aku nggak peduli kamu itu siapa, yang kutahu cuma kamu belum gonggong. ”
Lagian sudah menyinggung sampai sejauh ini, tidak memaksa George mengonggong sekalipun, George tetap menyimpan dendam, jadi lebih baik begini saja.
"Bagus! Sangat bagus!" Ujar George.
"Memangnya gue peduli!" George mendorong Willliamson dan berjalan menuju pintu.
Evan dan yang lainnya juga ikut pergi bersama George dengan kepala tertunduk malu.
Willliamson mengarahkan jari tengahnya ke arah punggung George, “Kalau takut kalah jangan taruhan!"
Setelah George pergi, Willliamson melambaikan tangan kepada para siswa, “Terima kasih ya semuanya.”
"Willliamson, Raja nyanyi!"
"Willliamson, Raja nyanyi!"
"Willliamson, Raja nyanyi!"
Willliamson tidak tahu siapa yang memimpin, tetapi tiba-tiba ruang pelatihan penuh dengan sorak-sorai.
__ADS_1
'Kenapa tiba-tiba dijuluki Raja nyanyi?' Willliamson menggosok hidung dengan malu-malu.
"Si botak!" Di luar ruang pelatihan, George memanggil dengan wajah muram, "Beresin seseorang buat gue!"