Semua Teman Instagramku Adalah Dewa

Semua Teman Instagramku Adalah Dewa
Bab 56 Bertemu Tuan Muda Lawrence Lagi


__ADS_3

Williamson minum-minum sambil membawa sikap tidak mau kalah.


Oleh karena itu, dia tidak pergi ke toilet sama sekali, dan memaksa menampung semua anggurnya di kandung kemih.


Kantung kemih tidaklah besar, jadi jelas sudah penuh.


Begitu Williamson bergerak pindah, rasanya sedikit tidak tertahankan.


“Permisi!” Gamila duduk di sebelah Williamson.


Gamila buru-buru berdiri dengan cepat, jadi Williamson tidak sengaja menyenggol pinggang Gamila.


“Jahat!” Gamila marah dalam hatinya.


Tapi dia juga tahu bahwa Williamson itu tidak sengaja melakukannya, jadi dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan tersipu.


“Hahaha, ayo pergi bersama.” Gary dan yang lainnya saling menopang satu sama lain, dan pergi ke toilet sambil terhuyung-huyung.


Setelah mereka semua buang air kecil, mereka menunggu Williamson di luar pintu.


Tapi setelah lewat dua sampai tiga menit, Williamson tidak kunjung keluar.


Ryan melihat sekeliling.


Astaga, lama sekali.


Williamson masih belum selesai buang air kecil daritadi.


“Kalian duluan saja, tak perlu tunggu aku lagi.” Williamson juga sedikit malu.


“Bang Willi, kami tidak hanya kagum dengan kemampuan minummu, tapi juga durasi buang air kecil, hahaha.” terdengar tawaan bersama di luar pintu toilet.


Setelah dua atau tiga menit, Williamson akhirnya selesai.


"Nyaman sekali, tadi benar-benar hampir tak tahan lagi."


Williamson memakai celana dan berjalan keluar.


Begitu keluar dari toilet, dia melihat seorang wanita muda dan cantik yang berusia awal dua puluhan berjalan cepat ke arahnya dengan panik.


Williamson tidak ingin mendapat masalah, jadi bersiap untuk pergi.


Tanpa diduga, wanita itu buru-buru maju dan meraih lengan Williamson.


"Kak, tolong aku." wanita itu memohon dengan wajah sedih.


"Hah?" Williamson merasa wanita ini sangat familiar, seperti pernah lihat sebelumnya, tapi tidak bisa mengingatnya.


Tepat ketika ingin bertanya, seorang pria paruh baya berusia 40-an keluar dari lorong depan dan melihat sekeliling, kemudian menemukan wanita ini.


“Vannesa, berhenti buat onar, sini kembali bersamaku, Tuan Muda Brown masih menunggumu.” pria paruh baya itu berjalan mendekat dan berkata dengan cemberut.

__ADS_1


"Tuan Anton, hubungan antara aku dan Tuan Muda Brown itu tidak mungkin."


Wajah pria paruh baya itu tiba-tiba muram.


"Ada apa ini? Sudah berani tidak patuh karena dapat sedikit ketenaran itu?! Biar kuingatkan dirimu Vannesa, aku, Anton, yang membuatmu populer, bisa menghancurkanmu juga!"


“Vannesa?” Williamson langsung mengingat nama itu.


Pantas saja terlihat sangat familiar, bukankah wanita ini penyanyi terpopuler saat ini?


Tahun lalu, hanya dengan satu lagu "I Have You in My Dreams", Vannesa ini berhasil menjadi populer dalam negeri, bahkan adiknya adalah penggemar wanita ini.


“Tuan Anton, tolong jangan paksa aku.” Vannesa memohon.


Pada saat ini, sekelompok orang datang dari arah Anton datang.


Anton yang melihat ini buru-buru lari ke sana.


"Tuan Muda Brown, Vannesa masih muda jadi kurang paham situasi, aku akan membujuknya."


Anton berkata sambil tersenyum kepada pemuda itu.


“Vannesa tidak paham situasi? Kau berani bilang Vannesa-ku tidak paham situasi?” Wijaya Brown langsung mengamuk dan menendang Anton.


Setelah itu, dia berjalan ke arah Vannesa dengan senyum di wajah.


"Vannesa, jangan buat onar, yuk kita minum-minum."


Wajah Wijaya tiba-tiba berubah menjadi pahit.


"Vannesa, apa yang kamu tidak suka dariku? Aku bisa merubahnya."


Vannesa hampir menangis.


"Tuan Muda Brown, apa yang kamu suka dariku? Aku juga bisa merubah itu."


Pffttt!


Williamson yang mendengar itu jelas tidak bisa menahan diri dan tertawa.


Williamson tertawa kecil tanpa ragu, dan itu membuat Wijaya tersinggung.


"Apa yang kau tertawakan? Tunggu, kenapa kamu begitu dekat dengan Vannesa? Siapa kau?"


Williamson tidak tahan lagi.


"Maksudku menyerah saja sobat, dia tidak menyukaimu, jadi untuk apa terus menganggunya?"


"Siapa kau, berani ikut campur urusanku? Percaya tidak kubuat kau tak bisa keluar dari tempat ini!"


Wijaya berkata dengan arogan dengan bangga diri.

__ADS_1


"Tidak masalah siapa aku, yang penting aku tak mau melihatmu sekarang, jadi pergi sana selagi aku belum marah!" Williamson berkata dengan dingin.


"Beri pria ini pelajaran!"


Begitu suara Wijaya keluar, beberapa bawahan di belakangnya mulai maju.


"Tunggu sebentar!" suara seorang wanita terdengar.


Kemudian, sekelompok orang datang dengan gaya yang perkasa.


Williamson yang melihat ini langsung kesal, bukankah itu wanita yang bersama Tuan Muda Lawrence siang tadi?


Sudah dibebaskan secepat itu?


"Tuan Muda Brown, Tuan Muda Lawrence kami punya sedikit dendam dengan pria ini, jadi apa boleh izin menyelesaikannya terlebih dahulu?" wanita jelek itu meminta kepada Wijaya.


"Oh Begitu? Kalau begitu kalian duluan." Wijaya melangkah ke samping, melipat kedua tangan di depan dada dan tampak bersemangat dengan penuh minat.


Tuan Muda Lawrence melirik Williamson dengan mata jahat, kemudian menunjuk ke arah seorang pria paruh baya tinggi di sebelahnya.


"Ini temanku, seorang master karate Jepang, siap-siaplah menderita!"


Sudut mulut Williamson berkedut, dia melompat tanpa peringatan dan dalam sekejap mata sampai di hadapan Tuan Muda Lawrence.


Plak!


Wajah Tuan Muda Lawrence ditampar dengan kuat.


"Sudah kubilang mulutmu bau, sudah dihajar tapi masih tak ingat, dasar otak udang."


Tindakan Williamson terlalu mendadak, dan membuat semua orang tercengang.


Setelah bereaksi kembali, Tuan Muda Lawrence langsung memelototi Williamson dengan marah, dan hendak berteriak.


Plak!


Namun sebelum kata-kata keluar dari mulut, Williamson menamparnya lagi.


"Buka mulutmu lagi kalau berani!" Williamson menunjuk Tuan Muda Lawrence dengan ekspresi arogan.


“Huh!” tiba-tiba, pria paruh baya di sebelah Tuan Muda Lawrence maju selangkah dan berdiri di depan Williamson dengan wajah provokatif.


"Kenapa kau tinggi sekali?" Williamson baru menyadari bahwa master Jepang ini satu kepala lebih tinggi darinya, kira-kira setinggi 1,9 meter.


"Ini teman Tuan Muda Lawrence, Tuan Matsushita Riko, master sabuk hitam ketujuh karate, bisa sekaligus mengalahkan sepuluh orang sepertimu!"


“Berani bertarung denganku?” Matsushita Riko berkata dengan dingin dan wajah muram.


"Bertarung?" Williamson menggelengkan kepala, "Kau tidak layak!"


Matsushita Riko mencibir, tepat ketika mencibir dan hendak mengejek Williamson karena tidak berani bertarung, Williamson berbicara lagi,

__ADS_1


"Tapi, aku akan dengan senang hati ingin memberi master karate sepertimu sedikit pelajaran!"


__ADS_2