
Di tengah udara, Dilin melihat sekeliling, dengan tubuh gemetar, dan air mata berlinang.
"Haris, Dilin akan datang untuk menemuimu."
"Ayo pergi." Williamson menghela nafas, memeluk sebuah kotak penuh abu Dilin di tangan, dan berjalan keluar kota.
“Apa Haris-ku dimakamkan di sini?” Dilin membelai tanah dengan sangat lembut, seperti membelai wajah suaminya.
"Hmm?" tiba-tiba, Williamson merasakan angin yang sangat kuat.
Saat berikutnya, pupilnya seketika menyusut.
Karena seorang pemuda tiba-tiba muncul.
“Dilin, apa itu kamu?” suara pemuda itu serak.
Dilin terkejut sesaat, lalu matanya melebar.
"Haris, Haris-ku!"
"Dilin!"
Kedua jiwa itu saling berpelukan erat, serasa ingin saling menggabungkan tubuh satu sama lain.
Williamson tercengang.
Jadi, pria ini adalah suami Dilin?
Jiwanya tidak ke akhirat?
Setelah sekian lama, kedua jiwa itu akhirnya berpisah dengan enggan.
Haris membelai pipi Dilin yang penuh air mata dengan penuh kasih sayang.
"Dilin, kenapa kamu ada di sini? Jiwamu belum ke akhirat? Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Aku datang untuk menemuimu secara khusus. Setelah kamu meninggal, aku merindukanmu setiap hari, dan merasa putus asa, jadi begitu meninggal, masih tertinggal keinginanku yang mendalam di dunia ini, aku benar-benar sangat merindukanmu, Haris."
Dilin menangis lagi.
__ADS_1
"Namun, kamu tidak kunjung kembali dari pertempuran, aku juga tidak dapat menemukanmu, untungnya aku bertemu dengan Williamson membawaku ke sini, kalau tidak aku pasti sudah berubah menjadi hantu jahat yang kehilangan kesadaran."
“Dia?” Haris baru menyadari bahwa Williamson sedang melihat mereka sepanjang waktu.
"Dia bisa melihat kita?"
"Iya, dia juga bisa berkomunikasi dengan kita, kalau tidak mana mungkin aku bisa menemukanmu."
"Haris, kita bisa bertemu itu berkat Williamson ini."
Ketika Haris mendengar itu, dia langsung berlutut di depan Williamson.
Melihat ini, Dilin juga ikut berlutut.
"Bang Williamson, kebaikanmu yang luar biasa tidak akan pernah kami lupakan!"
Dong dong dong!
“Pahlawan, tolong cepat bangun!” Williamson tidak peduli kalau lawan bicaranya itu hantu atau bukan lagi, dia dengan cepat mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Tanpa diduga, ketika hendak menyentuh lengan Haris, pedang kayu persik di dadanya tiba-tiba meledakkan cahaya terang.
"Eh, maaf." Williamson tersenyum canggung.
Mengapa pedang kayu persik ini baru berfungsi sekarang?
Pada saat ini, Dilin berbicara.
"Haris, pedang kayu persik Williamson sangat kuat, bahkan kita saja hanya bisa mendekati tapi tidak bisa menyentuh Williamson."
"Oh?" Haris terkejut untuk beberapa saat, "Di dunia ini, sepertinya hanya ada sedikit hantu yang lebih kuat dari kita."
"Iya, Williamson punya pedang kayu persik ini untuk melindungi dirinya, jadi hampir tidak ada hantu yang bisa menyakitinya."
Mata Williamson terbelalak.
"Maaf kupotong, maksudmu, pedang kayu persik ini bukan sampah? Tapi berguna? Bahkan kalian tidak bisa menyentuhku?"
“Ya.” Haris dan Dilin mengangguk.
__ADS_1
"Yes!" Williamson mengepalkan tinju dengan penuh semangat. Bukankah semua ketakutan sebelumnya itu sia-sia? Ternyata hampir tidak ada hantu yang bisa menyakitinya.
Ternyata dia sudah salahpaham dengan Dewa Zhang Tianshi.
"Williamson, aku sudah bertemu Haris hari ini, jadi tidak memiliki kekhawatiran lagi, tak lama lagi aku akan menghilang, tolong bantu taburkan abuku di tanah ini, biar aku bisa bersama Haris selamanya..."
"Oke!" Williamson membuka penyimpan abu dan mengangkat tangannya.
Abunya pun beterbangan.
"Bang Williamson, alasan mengapa aku masih gentayang di dunia ini karena Dilin, tapi karena sudah bertemu Dilin hari ini, jiwaku dan Dilin akhirnya bisa kembali."
"Aku tidak bisa membalas banyak terhadap kebaikanmu, buku "Tangan Pembagi Otot dan Tulang" teknik yang kupelajari semasa masih hidup kuberikan sebagai rasa terima kasihku."
Dengan mengatakan itu, Haris mengeluarkan sebuah buku kuno berwarna biru pucat dan memberikannya kepada Williamson.
“Terima kasih, Bang Haris." Begitu Williamson hendak menerima, buku kuno tersebut langsung menghilang.
“Apa yang terjadi?" Williamson terkejut.
Kemudian, notifikasi Instagramnya berbunyi.
Williamson membuka dan melihatnya.
"Tangan Pembagi Otot dan Tulang" × 1 diterima.
Berasal dari Instagram.
Apa pun tidak masalah, asal tidak hilang saja.
"Bang Williamson, kami akan pergi, sayang sekali tidak memiliki kesempatan untuk minum dan bernyanyi bersamamu, kuharap di kehidupan berikutnya, kita bisa menjadi sahabat dan menghabiskan banyak waktu bersama!"
"Baik! Bang Haris, Kak Dilin, semoga perjalanan kalian lancar!"
"Hahahaha, selamat tinggal!"
"Selamat tinggal."
Haris dan Dilin tersenyum dan melambai tangan pada Williamson.
__ADS_1
Setelah itu, kedua jiwa perlahan berubah menjadi potongan-potongan, dan menghilang di antara langit dan bumi.