
Yuna dan Devan berada di angkasa. Mereka melompat dari tepi awan dan melayang agak cepat menuju bawah. Devan berada di belakang Yuna sembari kedua tangannya memegang kedua bahunya.
"Kukira kita akan melewati sungai yang tadi.", ucap Devan.
"Akan lebih cepat bila kita langsung melompat dan terbang seperti ini.", ucap Yuna.
"Benar juga. Peri-peri itu bisa datang dan pergi lewat tepian awan. Lalu untuk apa dibangun jalur sungai serta gerbang putih besar di terowongan awan itu?."
"Eee... aku juga tidak tahu. Mungkin jalur sungai dan gerbang itu dibuat untuk pendatang selain peri agar bisa berkunjung ke Rayyana."
"Oh begitu. Berarti juga untuk peri-peri seperti Luna yang sayapnya belum tumbuh."
"Hmm... Yaa.", Yuna meng-iyakan.
Devan teringat pemandangan ketika ia berada di sampan tadi pagi. Di salah satu Awan Culumbus, seorang anak peri kecil yang tengah di angkat ke atas agar tangan kecilnya mampu menggapai buah di atasnya. Dan anak peri kecil itu memiliki sayap di punggungnya.
Terbesit niat hati Devan untuk bertanya. Namun ia ragu, apakah ini boleh ditanyai. Mengingat sebelumnya ia seperti di peringati oleh kakek pendayung untuk tidak bertanya hal tersebut.
"Ee...hey.", panggil Devan ragu.
"Yuna. Namaku Yuna.", tanggap Yuna dengan senyum. "Namamu?.", lanjut Yuna.
"Aku Devan."
"Hey Devan. Ternyata dirimu bukan manusia jahat, ya.", ucap Yuna ramah.
"Tentu saja aku bukan orang jahat. Apa para peri memang tidak menyukai manusia?."
"Tidak, kok. Justru kami para peri sangat menyukai manusia, bahkan beberapa ada yang kami hormati. Hanya saja, ada yang berbeda dari dirimu. Dirimu ingat?, kata kakek kami tadi. Dari awal aku melihatmu, aku seperti merasa harus mewaspadaimu bahkan menjauhimu, bahkan juga saat ini."
"Aku mengerti. Semenjak pertarungan tadi pun, aku juga mulai ragu dengan kemanusiaanku. Maaf Yuna, kehadiranku membuatmu dan para peri menjadi tidak nyaman."
"Hm, tidak masalah. Aku juga sudah tidak peduli dengan intuisi itu. Adikku Luna percaya kalau dirimu itu manusia baik. Kupikir tidak ada salahnya bila aku mengikuti intuisinya."
"Kalau dipikir-pikir, hanya Luna yang dari awal tidak mencurigai apa-apa padaku. Entah apa karena dia begitu polos?, aku merasa Luna agak sedikit berbeda dengan peri-peri yang lain."
Raut wajah Yuna sedikit tersentak setelah mendengar perkataan Devan. Yuna pun hening sejenak.
"Devan, Kita akan segera sampai ya.", ucap Luna lembut. Ia mengalihkan topik.
Setelah itu, mereka berdua tidak berbicara lagi. Yuna terbang lebih cepat menuju daratan, membuat angin di sekitar mereka bising sehingga tak memungkinkan mereka untuk saling berbicara.
Beberapa saat kemudian…
Yuna memperlambat kecepatan terbangnya. Ia pun perlahan mendarat di bumi. Kini mereka berdua sampai pada sebuah danau, tempat dimana Devan dan Luna sebelumnya mulai bersampan ke awan.
"Kita sampai.", ucap Yuna.
"Ini mungkin sepuluh kali lebih cepat daripada bersampan."
Devan pun memperhatikan sekeliling sejenak.
"Baiklah. Sepertinya aku cukup mengantarmu sampai disini."
Yuna kemudian berbalik, ia mulai menekuk kedua kakinya dan bersiap untuk lepas terbang.
"Tunggu!.", ucap Devan.
"Hm?.", Yuna kemudian berbalik, tak jadi terbang.
"Sebenarnya... aku agak Lupa jalan kembali.", ucap Devan ragu.
Yuna pun paham maksud Devan.
"Mm, baiklah. Ayo kita terbang lagi.", ucap Yuna sembari tersenyum lembut.
Mereka pun kembali terbang. Devan melihat ke bawah. Ia mengingat-ingat arah ia kembali dan memberi tahu Yuna arah mereka terbang.
"Oh tuhan. Apa yang terjadi pada hutan kecil ini.", ucap Yuna.
Devan diam. Ia membiarkan Yuna melihat dulu pemandangan kering yang ada di bawah mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka berdua terbang di atas Desa Gardum, dan melihat seluruh penduduk desa terkapar.
Yuna terkejut. Ia sontak menarik nafas seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Devan?.", panggil Yuna. Ia menolehkan kepalanya ke samping, membari isyarat pada Devan yang ada di belakang punggungnya.
"Tenang saja Yuna. Mereka tidak mati.", jawab Devan.
"Tidak mati?. Maksudmu?.", Yuna penasaran, wajahnya bimbang.
Devan hening. Ia melihat seluruh keadaan Desa dari atas. Seperti dugaannya, letak posisi penduduk yang tergeletak semuanya tak sama seperti dalam ingatannya, seluruh keadaannya berubah dibandingkan saat ia datang sebelumnya.
"Nanti, setelah kau mengantarku, Coba lah datang ke desa ini lagi, Yuna."
"Kenapa?."
"Kau akan memahami sesuatu."
"Baiklah.", ucap Yuna. Di saat yang sama ia juga merasa bingung.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka kembali mendarat. Kini mereka telah berada di dekat motor Devan berada. Mereka berbasa-basi sebentar, kemudian berpisah. Devan kembali berkendara dengan motornya, dan Yuna berbalik terbang rendah dengan sayapnya.
***
Devan berkendara laju dengan motornya. Beberapa daerah telah ia lewati. Kira-kira telah lebih empat jam Devan berkendara sejak ia berpisah pada Yuna. Matahari sudah lengser ke arah barat, namun masih jauh dari terbenam.
Devan kembali ke Avalon City menggunakan jalur yang sama seperti saat ia pergi, melewati beberapa tempat yang sebelumnya pernah ia kunjungi.
***
Setelah berkendara diwaktu yang cukup lama, Devan kemudian berhenti di depan stasiun kereta. Saat itu sudah sangat malam. Ia pun memutuskan untuk beristirahat di sana.
Malam itu mungkin sudah tengah malam. Devan melihat jalan raya tak ada satu pun kendaraan yang terhenti di tengah jalan. Ia pun memarkirkan motornya dan masuk ke dalam stasiun.
Devan menuruni tangga, berbelok satu kali, berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Tidak ada siapapun. Pada langit-langit statiun terdapat jam digital yang menunjukkan jam 23.53.
"Hampir tengah malam. Pantas tidak ada siapapun."
Devan kemudian berjalan menuju toko di dalam stasiun. Ia merasa lapar dan ingin mencari makanan, sebab seharian ia tak makan.
Devan berfikir untuk mendobrak pintunya, ia pikir pemilik tidak akan bangun sebab kedatangannya. Namun ketika ia telah mundur beberapa langkah bersiap untuk mendobrak, ia hanya diam beberapa saat.
"Ini bukan cara yang baik."
Devan pun mengurungkan niatnya. Ia lalu pergi menuju salah satu kursi panjang, kemudian duduk.
Devan merasa lapar, namun ia lebih merasa sangat lelah. Matanya pun mulai terasa berat, dan mulutnya menguap. Devan berbalik menoleh ke belakang kursi, ia melihat jam digital yang menggantung di langit-langit. 23.59. Ia kemudian membalikkan lagi posisi badannya lalu kembali dirinya menguap.
Devan mengantuk. Dalam keadaan kantuknya, ia menoleh ke samping. Ia melihat seorang lelaki tua tengah duduk termenung di kursi panjang yang terletak agak jauh dari kursi Devan dengan mengenakan pakaian ala-ala tentara, namun lusuh.
Devan hanya melihat dan mengabaikannya, kemudian merebahkan dirinya di atas kursi panjang itu dengan posisi tidur miring menghadap ke depan. Matanya sayu dan perlahan-lahan menutup.
Di depannya, terlihat seorang perempuan dengan koper yang ada di sampingnya, tengah berdiri di tepi rel kereta, dengan pakaiannya yang basah hingga air-air itu menetes ke bawah.
Kemudian Devan pun terlelap di atas kursi panjang stasiun itu.
***
Devan bangun dari tidur. Ia mengangkat tubuhnya perlahan dan duduk bersandar di kursi panjang. Ia peluk jemari kedua tangannya kemudian membentangkannya ke depan.
Ia duduk diam sejenak. Mengusap-usap wajahnya. Tak lama kemudian ia berbalik menoleh. Melihat jam sudah menunjukkan jam delapan tepat.
"Karena aku semua orang di kota ini terlambat bangun.", ucap Devan sendiri.
Setelah duduk beberapa saat, Devan pun kemudian pergi menuju toilet umum kemudian keluar menuju motornya. Ia kembali melanjutkan perjalanann.
***
Beberapa jam telah berlalu. Devan tak banyak berhenti dan singgah seperti saat pergi sebelumnya. Bahkan ia masih belum makan untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia terus melaju dan pikirnya harus segera kembali ke kota ia terbangun.
Hingga suatu ketika ia merasa harus mengisi tenaganya dengan makan dan minum. Saat itu telah siang menjelang sore, kini Devan telah berada di kota persinggahan 'Desert Miles 47'.
__ADS_1
Siang itu di sana agak ramai. Jalan raya terlihat lebih banyak beberapa mobil terhenti. Tentu saja beberapa diantaranya ada yang menabrak pembatas atau terhenti di badan trotoar.
"Kuharap tak ada yang menjadi korban sebab kedatanganku."
Ia memarkirkan kendaraannya di samping toko yang ada di situ. Kemudian masuk ke dalam toko, mengambil beberapa roti dan air minum.
Dalam toko itu ada beberapa orang tergeletak di lantai. Termasuk penjaga kasir di dekat mejanya.
Setelah devan selesai mengambil beberapa makanan itu, ia kembali berjalan keluar. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Devan kemudian mengambil sebuah pulpen dan menyobek secarik kertas yang terletak di meja kasir. Devan berjalan menuju etalase dimana ia mengambil makanan dan minuman itu.
Beberapa saat kemudian, Devan kembali menuju kasir dan meninggalkan secarik kertas berisi catatan. Ia letakkan di meja kasir dan menimpanya sesuatu di sedikit bagian kertas itu agar tak terbang tertiup angin.
Secarik kertas itu tertulis nama merek barang yang ia ambil beserta harganya, serta sebuah kalimat tertulis 'Mohon maaf. Nanti aku akan kembali, membayar apa yang aku ambil.' di bawah list itu.
Setelah itu ia keluar dari toko itu menuju motornya, dan melahap segala makanan dan minuman itu. Setelah itu, ia membawa motornya ke stasiun bahan bakar kendaraan untuk mengisi ulang bahan bakar motornya.
Devan kemudian kembali melanjutkan perjalanannya keluar dari Kota Persinggahan itu.
***
Beberapa jam kembali berlalu. Kini langit telah menunjukkan kesenjaannya. Cahaya matahari mengeluarkan sinar merah jingga. Sudah sangat tenggelam di arah barat.
Devan telah sampai di tepi Avalon City, 'kota di mana ia terbangun'. Ia berkendara dengan pemandangan serta keadaan yang pernah ia lihat. Namun kali ini ia sama sekali tak terganggu seperti sebelumnya.
Ia mulai mendekat menuju pusat kota. Gedung-gedung besar dan pencakar langit sudah ada di sekitarnya. Namun ia hanya berputar-putar tak tentu arah di dalam kota itu. Ia telah kembali, namun ia belum tahu selanjutnya bagaimana, kecuali berusaha mencari petunjuk.
Dan akhirnya, setelah baru beberapa saat Devan berputar-putar, di balik belokan itu, ia melihat ada seorang pria paruh baya berdiri tegak di tengah jalan raya.
Devan melihat dia, dan dia juga melihat Devan dari posisinya. Devan pun berhenti di tepi, kemudian turun dari motornya.
Devan pun berjalan beberapa langkah menuju pria paruh baya itu, namun devan berhenti. Devan ragu, setelah melihat lebih jelas pandangan pria paruh baya itu. Pria itu menatap Devan, namun bukan dengan tatapan ramah.
Baik Devan maupun pria paruh baya itu sama-sama berdiri diam. Namun setelah beberapa saat, pria paruh baya itu tahu-tahu sudah berada di hadapan Devan tanpa Devan melihat kapan ia melangkah.
"Siapa kau?. Ada urusan apa engkau kemari?.", ucap pria paruh baya itu dengan arogan.
***
Satu hari yang lalu, di pagi hari.....
Yuna terbang rendah, sembari memperhatikan pohon-pohon yang mati serta tanah yang menguning. Ia memandang dengan perasaan sedih dan prihatin.
Kemudian Yuna terbang agak tinggi dan pergi menuju ke Desa Gardum. Ia pun mendarat di tengah-tengah desa, melihat para penduduk yang tergeletak di atas tanah.
Ia mendekati salah satu penduduk yang terkapar. Yuna kemudian melentangkan sayapnya, dan meletakkan kedua tangannya di atas dada penduduk itu.
"Jiwanya masih terhubung dengan badannya. Dia belum mati. Tapiii...", Yuna berbicara sendiri, sekaligus bingung sendiri.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba para penduduk itu semuanya terbangun.
"Eeh?.", reaksi Yuna.
Di tengah-tengah itu, Yuna memperhatikan para penduduk Desa kembali menjalankan kegiatannya. Para penduduk itu kembali bersosial dan melakukan rutinitas mereka seperti biasa.
Namun, disitulah Yuna merasakan keanehannya. Para penduduk itu bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Mereka seperti lupa apa yang barusan terjadi pada mereka.
"Kenapa.. bisa begini?.", tanya Yuna sendiri.
Yuna kemudian terbang menuju posisi lebih tinggi agar bisa melihat lebih luas Desa Gardum. Namun, refleks nafasnya tersentak, ia tak menyangka, salah satu tangannya memegang mulutnya.
Yuna melihat tanah dan pepohonan yang ada di sekitar desa itu. semuanya menghijau. Di saat yang sama, udara yang Yuna rasakan tiba-tiba terasa lembab, dan angin sepoi berhembus sangat nyaman mengenainya.
(..... "Nanti, setelah kau mengantarku, Coba lah datang ke desa ini lagi, Yuna."
"Kenapa?."
"Kau akan memahami sesuatu." .....)
"Jadi begitu?, Devan.", ucap Yuna setelah ia mengingat perkataan Devan sebelumnya.
__ADS_1
"Segala fenomena yang kulihat disini, itu karena dirimu kah?, Devan.", Yuna bertanya sendiri, dengan perasaan kasihan terhadap Devan.
***