Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 24: Morgan & Julian Melawan Ireena


__ADS_3

Dini hari, di bibir Lembah Sei Roja….


Ireena baru saja kembali pada kelompoknya setelah sendirian ia memasuki lembah Sei Roja.


Dua fallen angel yang kebetulan berdiri paling depan seketika tegang tubuh serta raut wajahnya ketika Ireena datang di belakangnya. Mereka langsung melompat ke belakang menjaga jarak seraya berbalik dan menyadari yang datang adalah Ireena.


Ireena maju beberapa Langkah, namun beberapa fallen angel di depannya bergerak mundur. Ireena pun langsung sadar dan segera menghentikan langkahnya dan mundur selangkah.


Ireena memandang kelompoknya yang memandang dirinya dengan tatapan tak suka akan kedatangannya. Kecuali Reydan yang berdiri dan memandangnya datar, namun sebenarnya Reydan berusaha seakan ia baik-baik saja.


“Apa kau menemukan sesuatu di depan sana, Ireena?”, tanya Reydan.


“Aku tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan tujuan kita.”


“Oh, maksudmu kau menemukan sesuatu yang lain.”


“Sesuatu yang tak ingin kalian tahu.”


“Ooh..Tadi kami melihat awan hitam di sana mendadak tenang. Apa yang sebenarnya terjadi?”


Ireena hanya diam. Sesaat kemudian ia kembali berbicara.


“Bagaimana denganmu?, bukankah sudah saatnya kau beritahu kami apa yang kau lihat. Ku harap aku tidak terlambat.”


Reydan pun terdiam sesaat, ia menyadari Ireena mengalihkan pembicaraan. Ia memejamkan mata sesaat berusaha mengendalikan rasa takutnya. Kemudian lanjut bicara.


“Tidak. Aku memang menunggumu.”


“Oh ya?, baguslah.”, Ireena hanya menanggapnya dingin.


Reydan pun memberitahu segala yang ia lihat dengan magusnya kepada seluruh fallen angel yang ada bersamanya.


Beberapa saat kemudian…..


“Morgan, Julian. Jadi Devan pergi ke sana bersama mereka.”, ucap Ireena.


“Ireena. Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya.”, Reydan mengubah topik pembicaraan.


“Apa?”


“Di sana tadi cuaca sempat mendadak tenang. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Kau yakin ingin tahu?”


Reydan hanya diam, Ireena pun paham ia menunggu jawaban darinya.


“Disana aku berhadapan dengan seorang malaikat.”


“Apa??”, Reydan terkejut mendengar jawaban Ireena.


“Jadi, awan hitam…serta cuaca disini…”, lanjutnya terbata-bata.


“Hmm, benar. Itu ulah si malaikat.”


Reydan dan fallen angel lainnya tampak kecewa mendengar hal itu.


“Reydan, kalau begitu kita sudah tidak bisa maju lagi.” ucap fallen angel lain yang berada di dekatnya.


“Sebaiknya kita kembali dulu, Reydan.”, saran fallen angel yang lain.


Reydan menundukkan kepalanya, seraya berfikir.


“Kau tidak berbohong kan, Ireena?”


“Percuma berbohong di hadapan magusmu.”


Reydan diam merenung sejenak. Dahinya mengerut.


(“Aku merasa dia tak mungkin berbohong. Lagipula aku cukup Lelah menggunakan magusku.”, Reydan membathin.)


“Baiklah. Tidak ada pilihan. Kita harus kembali Selanjutnya biar Istan yang memikirkan jalan keluarnya.”, ucap Reydan.


Semua fallen angel pun bersiap-siap dan mengeluarkan sayapnya untuk kembali menuju Delbora.


“Aku akan tinggal.”, ucap Ireena tiba-tiba.


Seketika semua fallen angel menatapnya curiga, termasuk Reydan. Ireena yang menyadarinya berusaha menjelaskannya.


“Serahkan saja sisanya padaku. Setelah itu aku sendiri yang akan melapor pada Istan. Kalau kau tak percaya, nanti kau bisa gunakan magusmu untuk memeriksa kebenarannya.”


“Kenapa tidak kami semua tinggal saja?”


“Maaf saja, Kalian hanya akan membebaniku.”


Beberapa fallen angel tampak kesal dengan pernyataan Ireena.


(“Justru karena keberadaan kau lah kami semua terbebani.”, Reydan membathin.)


Reydan pun merasa ia tak bisa berlama bersama Ireena sambil menahan perasaannya yang tertekan. Begitupun yang lainnya. Ia dan yang lainnya pun memutuskan untuk kembali dan meninggalkan Ireena sendirian di lembah itu.


“Terserah kau saja!.”, ucapan terakhir Reydan sebelum akhirnya mereka terbang meninggalkan Ireena.


Mereka pun kemudian pergi terbang menuju Delbora. Setelah beberapa jarak barulah mereka bernafas lega lepas dari tekanan rasa takut yang di bawa Ireena.


“Hey, Reydan. Kenapa kau mau membiarkan Ireena mengikuti perjalanan kita?.”, keluh fallen angel lain yang terbang bersama Reydan.


“Sebenarnya aku juga berat. Namun, karena Istan yang minta, tidak mungkin aku tolak.”


“Sebenarnya, aku tak menyukai Ireena bergabung ke tim kita.”, keluh fallen angel lain kepada Reydan.

__ADS_1


Reydan pun hanya bisa mendengarnya saja, tanpa tanggapan apa-apa.


Sementara Ireena, memandang mereka dari bawah menjauh hingga perlahan menghilang dari pandangannya.


“Huh!, segitunya kah kalian tidak menyukaiku.”, ucap Ireena bernada ketus. Ia pun kembali berjalan, tidak lagi menoleh ke langit setelah Reydan dan lainnya hilang dari pandangan.


Selanjutnya Ireena berjalan menyusuri jalan. Ia seakan tahu arah kemana ia akan tuju. Hingga tak lama kemudian, dia menemukan sebuah mobil tengah terparkir menepi di ujung jalan menuju lembah.


“Dugaanku benar.”, ucap Ireena.


“Ternyata hal ini masih bisa luput dari pandangan Reydan.”, lanjut Ireena.


Ireena pun duduk di atas bemper mobil, seraya menunggu si pengendara datang.


***


Pagi harinya, di jalan masuk Lembah Sei Roja…


…..


Ireena melangkah mendekati Devan dan Julian, dan mendekatkan kepalanya diantara kepala mereka seraya berbisik.


“Kalian…tadi Bersama Devan, kan?”


Seketika Morgan menarik kerah baju belakang Julian seraya melompat menariknya ke belakang, barulah mereka merasa lega. Tampak Ireena membeku dihenti-lambatkan waktu oleh magus Morgan.


“Kenapa kita tadi?”, tanya Morgan.


“Pasti ulah magus perempuan itu. Setelah kita mundur rasanya lega. Kita harus jaga jarak, Morgan.”, ucap Julian.


“Seperti apa elemen magusnya?”


“Entahlah, karena itu jenis kekuatan kita jangan terungkap duluan.”


Sayap mereka pun langsung mengembang.


Waktu kemudian kembali normal…


Sementara dari sudut pandang Ireena, tiba-tiba Morgan dan Julian sudah berada jauh di depannya. Ireena cukup terkejut melihat kepindahan mereka yang menurutnya sangat cepat dan tiba-tiba.


Tatapan Ireena serius memandang mereka.


(“Mereka….Bagaimana cara mereka melakukannya?”, tanya Ireena dalam hati.)


Ireena memandangi Julian dan Morgan bergiliran.


(“Dan itu magusnya siapa?”, lanjut batin Ireena.)


“Hebat juga kalian.”, puji Ireena.


“Ooh…jadi daritadi kau meremehkan kami?”, jawab Morgan dengan intonasi ketus.


“Ya. Sekarang pun aku meremehkan kalian.”


Secepat angin Ireena bergerak ke arah mereka, kemudian mengarahkan tinju kirinya dari bawah mengarah dagu Julian yang kebetulan berada di depan Morgan.


Refleks Julian menghindar memundurkan kepalanya ke belakang. Dan seketika setelah itu…


“Dump!!”, tinju kanan Ireena menghantam perut Julian membuatnya terpental ke belakang. Namun…


Julian mengaktifkan magusnya, ia memundurkan waktu dua detik ke belakang, kejadian pun terulang….


Ireena mengarahkan tinju kirinya ke arah dagu Julian, kemudian, “Tas!!”, tangan kanan Julian dengan tepat menangkapnya seraya menghempas arah tinjuan itu ke arah kanan dirinya.


Seketika setelah itu…


“Bump!!!”, lutut kanan Ireena justru naik menghempas perut Julian. Tangkisan telapak tangan kiri Julian yang sempat ia siapkan untuk menghalau pukulan tangan kanan Ireena pun pecah, tak mampu membendung serangan itu.


(“Pola serangannya…berubah.”, bathin Julian.).


Julian pun terhempas ke belakang.


Sesaat setelahnya Ireena langsung mengarah ke Morgan, tangan kanannya laju mengincar leher Morgan. Dimata Morgan Ireena seperti sedang kesetanan, membuat raut wajahnya tegang ketakutan.


Ia tak bisa berfikir, hanya mengandalkan refleks dirinya membuat ia hanya melakukan Gerakan sederhana. Ia melompat mundur dan lebih jauh berkat dorongan angin yang di buat oleh sayapnya.


Ireena tak kehabisan cara. Tangan kanannya yang tak sampai cengkeramannya ke Morgan ia genggam, kemudian ia tarik tangan kanannya hingga ke belakang dirinya.


“Wuuuss…..”, angin yang sebelumnya mendorong Morgan ke belakang justru seketika berubah mendorongnya mendekat menuju Ireena.


Ireena pun menangkap leher Morgan dengan tangan kirinya dan “Bumb!.”, dihempaskannya ke tanah, cengkeraman Ireena tak lepas, dan lutut kiri Ireena menimpa dada Morgan.


“Checkmate!”, ucap Ireena, setelah mengunci Gerakan Morgan.


Morgan panik, ia berusaha melawan melepaskan diri dari Ireena. Morgan menarik tangan kanan Ireena dan berusaha mendorong lutut Ireena, namun usahanya sia-sia.


“Jangan melawan!, percuma.”


Morgan pun akhirnya berhenti, tak kuat menahan tekanan mental yang di bawa Ireena serta rasa sakit akibat cengkeramannya.


Sementara Julian hanya bisa melihat, matanya melebar. Ia terkejut melihat Morgan disudutkan tak bergerak.


“Aku tidak peduli yang lain, aku hanya ingin tahu apa yang sedang dilakukan Devan disini?. Apa tujuannya?”, tanya Ireena sembari menatap tajam Morgan.


“Dia….sedang…”, Morgan yang dalam tekanan mental pun terdorong untuk menjawab.


“Morgan!”, teriak Julian.


Morgan pun terkejut, hingga membuatnya diam.

__ADS_1


“Cih!”, misuh Ireena. Ia pun menatap tajam Julian, namun karena diluar jangkauan anginnya, Julian tak merasa takut terhadap Ireena.


Ireena mengangkat tangan kanannya, lalu ia kepalkan. Dan seketika…


“PUM!!!”, tinjuan Ireena menghantam wajah Morgan.


“Kalau kau tak jawab, aku akan memukulmu setiap dua detik. Tenang saja, kau akan terus beregenerasi, jadi tak mungkin mudah mati.”


Julian yang melihat itu mulai tak tenang, ia memandang kiri-kanan mencari sesuatu.


(“Apa yang bisa aku lakukan?”, pikir Julian.)


“Jangan pikir temanmu yang disana bisa menolong, sejengkalpun ia takkan berani mendekatiku.”


“PUM!!!”, pukulan Ireena mendarat lagi di wajah Morgan.


Sementara Julian, ia merasa geram, tangannnya menggenggam tak bisa berbuat apa-apa.


“Tch!, aku kehabisan ide”, keluh Julian bersuara kecil.


Meski begitu Julian tetap berfikir, matanya melirik kesana-kemari mencari ide. Hingga tiba-tiba ia teringat…


(“Cooldown magus Morgan…”), Seketika Julian fokus memandang Morgan.


Morgan tampak diam memejam mata, tangannya merentang, sembari menahan beban mental dan fisik dari serangan Ireena, bathinnya menghitung…


(“Tujuh…”)


“Apa tujuan Devan kemari?”, tanya ulang Ireena.


(“Delapan…”)


“PUM!!!”, tinjuan kuat Ireena menghantam wajah Morgan.


(“Sembilan…”)


“Hey Morgan, mungkin kau benar-benar akan mati.”, ancam Ireena.


Ireena menarik tangan kanannya lagi ke belakang, bersiap untuk meninju Morgan sekuat tenaga. Kemudian ia laju hempaskan menuju wajah Morgan, hingga ketika bathin Morgan mulai hitungan ke sepuluh, seketika itu pula….


“PUMP!!!”, tangan Morgan menggapai dan mencengkeram leher Ireena, ia seketika bangun dan dengan mudah lepas dari Kuncian Ireena.


Saat itu, tak ada apapun yang bergerak kecuali Morgan sendiri. Tekanan rasa takut yang dirasa Morgan tiba-tiba sirna. Ia berdiri seraya mengangkat Ireena dengan mencengkeram lehernya.


Wajah lebam Morgan tampak seram diselimuti kemarahan.


“Mungkin kau yang benar-benar akan mati…”, ancam balik Morgan. Saat itu Morgan benar-benar mencekik Ireena sekuat tenaga.


Hingga dua detik kemudian...


Waktu kembali berjalan namun melambat. Tekanan rasa takut perlahan kembali menyelimuti diri Morgan.


Tanpa sadar membuat cengkeraman Morgan melemah, bahkan Morgan merasa seperti ada angin yang melemahkan cengkeramannya di sekitar leher Ireena.


Dengan perasaan takut cengkeraman Morgan pun lepas, namun karena tekanan mental tidak sekuat sebelumnya Morgan masih bisa melawan perasaannya.


Tangan kanan Ireena yang masih menempel di pipi Morgan serta tangan kiri Ireena yang masih menempel di leher Morgan, oleh Morgan pegang, kemudian ia melakukan sesuatu terhadapnya. Begitupun kaki Ireena yang lutut kirinya masih menempel di dada Morgan. Oleh Morgan juga melakukan sesuatu terhadapnya.


Dalam waktu yang melambat, Ireena tampak melayang di udara, kemudian Morgan melayangkan pukulan ke wajah Ireena di sisa waktu yang melambat itu, hingga ketka sampai pada detik ke lima…


“Krek!!!, PPUMP!!!”, Ireena terhempas ke belakang dengan hanya dua pukulan yang sempat Morgan lepaskan.


Namun tiba-tiba tampak angin yang begitu dingin dan deras di sekitar tubuh Ireena, hingga angin itu membawa debu dan tampak jelas di penglihatan Morgan dan Julian.


(“Itu,,, elemen magus perempuan itu adalah angin, yang menyerang mental kami.”, bathin Julian)


Angin itu mencegah Ireena terhempas ke tanah, dan menyeimbangkan kembali Ireena di udara.


“Aarhgmm!!...”, Ireena yang mengeram sakit seketika ia menunduk dan menggigit bibirnya hingga terluka agar tak mengeram.


Ireena berdiri melayang rendah di udara dengan angin dingin yang deras di sekitarnya. Tampak kedua tangan dan kaki kirinya terpelintir, dan wajahnya lebam akibat pukulan Morgan.


“Kau…!”, ucap Ireena seraya menegakkan kepalanya menatap tajam ke arah Morgan.


Morgan pun tengah menatap sembari melangkah ke arahnya dengan wajah yang marah dan menyeramkan.


Melihat hal itu, tatapan Ireena seketika pecah, sesaat raut wajahnya tampak ragu dan ketakutan melihat Morgan. Ireena pun segera meluaskan jangkauan anginnya, dan seketika kemarahan Morgan dikalahkan oleh rasa ketakutannya, Morgan pun langsung melompat mundur.


(“Sial…Aku salah mengira.”, Ireena membathin. “Kupikir magusnya berhubungan dengan kecepatan ruang, karena itu aku mengunci pergerakannya.")


Tiba-tiba Ireena menundukkan kepalanya sambil menggigit kuat bibirnya, kaki kiri serta tangan kirinya berputar perlahan beregenerasi, namun hal itu membuat Ireena merasakan sakit yang luar biasa.


("Tak salah lagi, Morgan... magusnya berelemen waktu.", Ireena membathin ketika ia tengah kesakitan.")


“Hey perempuan itu cepat sekali penyembuhan diri.”, ucap Julian yang masih terduduk sembari memeluk perutnya.


“Kecepatan regenerasi ini…hampir setara dengan Devan.”, ucap Morgan yang masih berdiri lesu. Ia masih merasakan sakit di sekitar uluh hatinya akibat tertekan lutut Ireena.


“Sebaiknya kita kabur, tinggalkan mobil. Kita juga tak bisa mendekatinya.”, ucap Julian yang mulai berdiri.


Morgan hanya mengangguk.


Mereka pun meluncur terbang agak tinggi melewati Ireena yang berada diantaranya. Ireena hanya bisa memandang tanpa bisa berbuat apapun.


Hingga sesaat kemudian, ketika tangan kiri serta kaki kirinya telah sedikit sembuh, ia langsung bergerak ke arah terbang mereka berdua, lalu tak sengaja ia melihat sebuah aliran sungai dangkal dan kecil yang airnya mengalir deras dari lembah.


“Kalau kalian bisa menghentikan waktu, maka aku akan membekukan waktu itu.”, ucap Ireena yang masih berniat mengejarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2