
“Sial sekali!, akhirnya kau bangun juga, Devan Zora.”
“Kau bicara seakan menyesalkan kedatanganku, tapi juga berharap kedatanganku. Yaa yang manapun itu aku tak peduli.”
Zivan kemudian berdiri, kulit dagu kanan yang sobek akibat tinjuan Devan mulai beregenerasi. Sedangkan Devan, pipi dagu kanannya telah sepenuhnya sembuh.
“Hm?.”, reaksi Devan, ketika perhatiannya teralihkan melihat puluhan mayat hidup itu segera berlari menghampiri Devan.
Devan memandang puluhan mayat itu dengan pandangan remeh, kepalanya memiring, matanya menyipit tersimpul senyum percaya diri di bibirnya.
“Raja tunggal yang dikepung pion musuh kaaaah…?”, ucap Devan sesaat setelah mengingat kalimat Zivan.
“Yaa aku memang raja tunggal, tapi.. aku tak selemah raja tunggal papan catur…”, ucap Devan.
Kemudian ia melempar pandangannya sekeliling ke seluruh mayat itu, hingga ketika mayat itu sudah mendekat dan mulai melepas serangannya, Devan berkata,
“Tidurlah!”, seketika puluhan mayat itu pun jatuh.
Setelah itu Devan berjalan perlahan mendekati Zivan.
“Raja tunggal catur hanya bisa memerintah pionnya sendiri. Tapi aku bisa memerintah pion musuh.”
Devan pun sampai di hadapan Zivan, dan kini mereka saling berhadapan.
“Tenang saja. Aku tidak akan tiba-tiba menyerang seperti tadi.”, ucap Devan sembari senyum percaya diri.
“Mau menyerang tiba-tiba pun tak masalah. Aku akan menepisnya hanya dengan jemari seperti tadi.”
“Oh ya?, sebaiknya kau tak bertindak remeh seperti sebelumnya. Karena… yang di hadapanmu sekarang, itu tak selemah yang tadi.”, ujar Devan mengembalikan kata-kata Zivan.
“Hmm…kalau diingat tadi rasanya aneh sekali, aku yang lupa bagaimana menggunakan kekuatanku sendiri.”, lanjut Devan.
“Kau…bisa-bisanya masih bersikap sombong. Padahal supremasimu telah berakhir.”
“Kalau bukan karena Amon, mustahil aku berakhir seperti ini. Tch!, Andai saja status malaikatku tidak jatuh, jangankan Amon, bahkan Raja Iblis sekalipun sanggup aku kalahkan.”
“Karena kesombongan itulah yang membuat kau jatuh. Tapi yaa, kalah adalah kalah, tidak peduli alasan. Begitu kan yang kau bilang, Devan?”, ucap Zivan bernada mengejek, matanya memandang sinis.
“Hey, bisakah kita sudahi pembicaraan ini?. Kupikir urusan kita belum selesai.”, ucap Devan dingin, begitupun raut wajahnya, ia agak terpengaruh dengan kalimat terakhir Zivan.
“Ya. Urusan kita memang belum selesai. Dan karena ingatanmu telah sepenuhnya kembali, berarti saatnya ronde kedua.”
“Oh ya?, kalau begitu biar aku tambah peraturannya. Kau bebas menggunakan trik licik atau curang apapun, dan aku tetap bertarung dengan adil.”
__ADS_1
“Sepertinya…aku diremehkan kah?”
“Soalnya…kau memang begitu, kan?.”
Tiba-tiba aura hitam keluar dari sekeliling pijakan Zivan seperti air yang menyembur ke atas, kemudian menyebar ke seluruh goa.
Tak lama kemudian, tulang-belulang mayat itu perlahan di tumbuhi daging dan kulit, hingga terbentuk tubuh manusia kembali.
“Nah kan?. Belum apa-apa sudah menggunakan kartu trikmu.”, ucap Devan sembari melirik ke arah salah satu dimana para mayat bangkit.
Para mayat hidup itu pun berdiri dengan tegak.
“Tapi ya… kartu yang sama mana mungkin mempan padaku.”, ucap Devan, seketika lingkaran putih serta titik di tengah pupil mata Devan bercahaya sesaat.
Para mayat itu pun mulai berjalan, namun mereka tidak berjalan mengarah ke Devan, melainkan mereka berjalan kembali ke kuburan mereka masing-masing.
“Apa??”, ucap Zivan tak menyangka, ketika ia memandang kejadian tersebut.
“Eh?..Jadi mereka kembali ke kuburan mereka ya. Heuh..kukira mereka akan menyerangku. Tapi Zivan… kenapa kau tampak begitu… mungkinkah…sekarang giliran kau yang lupa bagaimana mengendalikan magusmu?.”, sinis Devan
Zivan merasa agak kesal, ia pun memandang tajam Devan kemudian melesat berlari, melompat dan menghantam kuat Devan dengan lengannya.
Devan tak kalah cepat, ia segera menangkis dengan lengannya sehingga lengan mereka beradu.
“Akhirnya kau juga yang maju duluan.”, ucap Devan, ia tersenyum percaya diri menangkis hantaman Zivan.
“Apa??”, tiba-tiba lengan Devan termundur tak mampu menahan serangan hingga mengenai dadanya, ia pun terhempas mundur namun tetap dalam keseimbangan.
Ia mengurangi dampak hempasan dengan memperkuat pijakan kakinya hingga terseret, namun Zivan lanjut berlari mengejar Devan, melompat ke udara, lalu melepaskan tendangan kaki kanannya di udara mengarah ke kepala Devan…
“PUM!!!”, Devan menangkis tendangan Zivan dengan lengan kirinya yang ditekuk di sisi kepalanya, tangan kanan Devan pun melintang di depan wajahnya memegang dan menahan lengan kirinya agar membantu menahan serangan Zivan.
Tendangan Zivan pun berhasil ditangkis, namun tangan kirinya terkulai lemah. Devan seketika melompat mundur ke belekang, tapi Zivan tetap maju mendekat tak membiarkannya.
Zivan melepas dua tinjuan beruntun ke arah Devan, namun mampu di hindari, setelah itu dengan cepat Zivan berputar ke kanan dan langsung membentangkan tangan kanannya.
Devan berniat menangkisnya namun ia urungkan, dan secepat mungkin merundukkan badannya ke belakang hingga pukulan itu hanya menerbangkan rambutnya.
Ia secepatnya kembali tegak namun tangan kiri Zivan menghujam menyambut wajahnya, terpaksa Devan menepisnya dengan tangan kanannya agar arah tinjuannya berubah, namun tak cukup tenaga tangan kanan Devan.
“PUM!!”, Tinjuan Zivan mengena tepat di hidung Devan membuatnya terhempas ke tanah kemudian terpental sedikit ke atas.
Devan segera berguling dan bangkit walau setengah berdiri dan secepatnya mengembalikan pandangannya ke Zivan yang sedang mengancang kakinya dan melepaskan tendangan kuat ke kepala Devan.
__ADS_1
Devan dengan sigap melebarkan kakinya dan merendahkan tubuhnya seraya tangan kirinya menyentuh tanah menopang dirinya.
“Wuuushh!!!”, tendangan kuat Zivan melesat di atas kepala Devan membuat rambut Devan berterbang-acak terkena beriak angin yang ditimbulkan olehnya.
Devan langsung melompat kecil untuk merapatkan kedua kakinya dan seketika ia berdiri, lompat salto ke belakang, hingga kakinya hampir mengenai wajah Zivan bila ia tidak melompat mundur ke belakang.
Devan segera menyentuh tanah dengan kedua tangannya agar membantunya kembali berdiri semula, namun tiba-tiba tangannya terpeleset sebab tak mampu menahan beban dirinya.
“Sial!”, misuh Devan, ia segera merapatkan lengannya diatas kepala agar terlindung dari benturan, dan ia dorong kakinya hingga melengkung agar secepatnya tubuhnya kembali ke posisi ideal.
Kaki Devan pun berhasil mencapai tanah dahulu sebelum kepalanya, dan ia berhasil mendapat keseimbangannya.
Tapi saat Devan baru saja mengembalikan perhatiannya ke Zivan, tahu-tahu Zivan telah di hadapannya dan telah melepaskan tinjuan kuat ke wajahnya.
Saat itulah Devan menggunakan magusnya, lingkaran putih dan titik di tengah pupil matanya sesaat menyala. Zivan pun tertidur sesaat, saat itulah ia segera menepis tinjuan Zivan.
0,5 detik kemudian…
Zivan segera sadar dan tahu-tahu tinjuan tangan kanan Devan menghujam ke pipi kirinya.
“Buk!”, kepala Zivan hanya terpental sedikit dan Devan seketika melompat dan menerjangkan kedua kakinya ke dada Zivan.
Zivan pun termundur tak terlalu jauh ke belakang, sedangkan Devan terjatuh dan terseret mundur di atas tanah, lalu ia berguling belakang seraya bangkit setengah berdiri.
Dan kini keduanya pun berjarak.
“Cuma segitu?”, tanya remeh Zivan.
Ketika ia lihat Zivan berhenti menyerang ia pun memegang wajahnya yang terkena tinjuan Zivan.
“Magusmu…sangat merepotkan!”
“Hahaha!, kalau tidak begitu, mana mungkin aku menjadi raja.”
(“Setiap apapun yang bersentuhan dengan Zivan akan menyedot energi itu dan diserap olehnya. Aku lengah!. Aku sempat tidak kepikiran dengan magusnya. Menyerangnya ketika ia sadar, sama dengan membiarkan tenagamu diserap olehnya. Menangkis serangannya juga sama saja.”, bathin Devan.)
“Tapi, raja itu pun di kalahkan olehku, dan supremasinya berpindah ke tanganku sepenuhnya.”, ucap sinis Devan seraya tersenyum percaya diri.
“Tch!.”, desis Zivan kecil, lalu ia sedikit menarik nafas berusaha menahan diri agar tak terpancing.
“Jadi, kau sudah sembuh?. Aku sengaja menunggu agar kau punya waktu untuk menyembuhkan diri.”
Devan pun kembali tegak berdiri, luka di wajahnya telah hilang, tenaga di tubuhnya telah kembali, ia pun sepenuhnya pulih.
__ADS_1
“Akan aku buktikan di sini kalau kau, bukan makhluk yang pantas untuk meremehkanku!”, ucap Devan dengan senyum percaya diri.
...