
Beberapa saat yang lalu, ketika awal terbongkarnya kepura-puraan Devan,
.....
Setelah itu, Devan mengaktifkan magus di telapak tangan kanannya yang tengah memegang punggung lengan kanan iblis itu.
Iblis lelaki pendek itu pun perlahan matanya menjadi sayu, perlahan-lahan ia semakin mengantuk, ia terlutut, dan akhirnya ia terjatuh di atas awan itu.
Seketika setelah itu, Isla si kuda terbang mengangkat kedua kaki depannya seraya meringkih, Devan juga seketika jiwanya bergetar dan mata nya terbelalak, sebab saat itu ia merasakan ribuan mata tengah menatapnya.
Dan saat itu memang benar, seluruh malaikat yang ada di langit pertama, tengah memandang di titik Devan berada. Namun hal itu hanya sesaat, jiwa Devan tak lagi bergetar, perasaan ditatap ribuan mata yang dirasa oleh Devan, telah sirna.
Seluruh malaikat yang menjaga di langit pertama malam itu, mengabaikannya.
Kecuali, satu malaikat.
"Hm?. Aura itu....", ucap kecil malaikat itu di suatu titik di langit.
Malaikat itu pun mulai mengamati Devan dari kejauhan. Dari jauh, tampak setitik cahaya yang selalu mengikuti kemanapun Devan berlari.
Karena cahaya itu sangat kecil, sampai-sampai tak satupun menyadari diantara sekeliling Devan, bahwa Devan, tengah di ikuti.
***
Sekarang,
"Hiyahaha-, akhirnya kudapatkan kau. Hmm, aku berubah pikiran, daripada menculik engkau, lebih baik aku bunuh saja engkau di sini. Heee."
("Akupun sudah sangat geram dengan anak manusia ini. Lagipula, tak satupun malaikat yang akan menolongnya.")
Isla perlahan bangun, ia hanya mampu terlutut, sembari memegang uluh hatinya.
"De...Devan.."
Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan puluhan iblis kembali datang dari segala penjuru yang sebelumnya dipindahkan oleh Isla.
"Apa??, Cepat sekali!", ucap Isla. Ia melempar pandang ke segala arah dengan raut wajah tak menyangka.
"Memindahkan semua iblis dalam satu waktu memang kemampuan yang mengagumkan, tapi,,,, sangat tidak efisien untuk energi engkau. Lihat!, sia-sia bukan?. Membayar banyak energi sihir, hanya demi kesempatan sementara waktu.", ucap sinis Eris pada Isla.
Isla agak terganggu dengan perkataan Eris, ia menggenggam tangannya kuat. Meski begitu, ekspresinya tetap datar seperti biasa.
"Tak perlu merasa lemah. Engkau sebenarnya kuat, hanya saja salah memilih lawan. Engkau hidup memang sudah ribuan tahun, tapi aku, hidup sejak awal semesta ini tercipta. Karena itu, mustahil engkau menang dariku.", tambah Eris tanpa mengalihkan pandangannya pada Devan yang berada dalam cengkeramannya.
Kini, puluhan iblis telah mengelilingi mereka. Lagi-lagi, Devan terpengaruh dengan sihir hitam yang dibawa oleh sebagian iblis di sekelilingnya.
Devan tak bisa bergerak, terdiam, baik fisik maupun pikirannya. Gelang hijau yang ia kenakan pun perlahan kembali menghitam.
Eris yang mencengkeram dan mengangkat Devan ke atas pun berkata,
"Selamat tinggal, Devan"
("Aku harus menyelamatkannya.", bathin Isla.)
Isla pun memaksa dirinya berdiri seraya melebarkan sayap hitamnya.
Ia pun segera berteleportasi ke sisi Devan. Namun,
"Ha?", Isla hanya berpindah setengah jarak, setelah itu ia bertambah lelah.
("Cuma sampai disini?!"), hati Isla mulai merasa kesal.
__ADS_1
Isla pun terbang cepat, tapi untuk ukuran bagi penghuni langit pertama, terbangnya tidaklah cepat.
Sekejap kemudian,,
"PUMB!!!"
Isla mendarat keras ke bawah awan cumulus. Kepalanya di tendang keras oleh iblis lelaki yang sebelumnya ia lawan bersama Devan.
"Kerja bagus, Sharon", ucap Eris.
Sharon, adalah iblis bertanduk dua yang besar. Perawakannya muda, rambutnya lancip berwana merah padam, kulitnya merah keputihan. Giginya lancip, dan taringnya lebih panjang dari gigi lainnya.
Hidungnya mancung lancip, dagunya lancip, mata dan alisnya juga berujung tajam. Kuku jemari jempol, telunjuk dan kelingkingnya pun panjang lagi tajam.
Iblis itu mengenakan pakaian mewah dengan jas berwarna merah padam. Bagian atas jasnya tak berkancing pun tak berdasi, hingga tampak kaos hitam dibagian **********.
"Waktunya istirahat, gadis kuda.", ucap Sharon yang terbang ke bawah dengan sayap merah padamnya menuju ke Isla yang tersungkur di atas awan.
Sharon pun memegang kepala belakang Isla dengan tangan kirinya.
"Apa yang kau lakukan, Iblis sialan?", maki Isla datar seraya berusaha bangkit mengangkat dirinya dengan kedua tangannya.
"Berusahalah gadis kuda. Aku suka perempuan yang berusaha, gagal, kemudian ia depresi, kecewa, lalu menyerah. heee", ucap Sharon tersenyum lebar.
"Apa yang....", Isla pun perlahan bingung.
"Apa yang.... aku lakukan.....Aku....siapa?"
Sekejap kemudian Isla menggeleng kuat, melawan pengaruh Shaton. Namun Sharon tak melepas tangan kirinya dari kepala belakang Isla.
"Aku Isla....Aku Isla....Aku harus menolong Devan....haru menolong Devan---", Isla mengucap hal itu berulang-ulang.
"Aku....siapa...aku...---", mata Isla pun menjadi sayu, pikirannya terkekang. Ia pun terjatuh dalam keadaan linglung, tampak liur keluar dari salah satu sudut bibirnya.
Devan semakin meregang, cengkeraman Eris semakin kuat mencekik lehernya. Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba muncul suara dalam kepala Devan,
("Berdo'alah!---")
Lalu, Devan pun mendapatkan kembali kesadaran pikirannya.
"Hiyahaha---.", ia mendengar samar suara tawa Eris.
("Mintalah pertolongan Tuhan. Dia pasti akan menolongmu---.")
Devan membuka matanya, pandangannya gelap, hanya manis senyum Eris yang tampak jelas dalam pandangannya.
("Tuhan,,, tolong aku.", pinta Devan dalam hati).
("Bukan. Berdoa'lah---, seperti yang diajarkan padamu.", ucap suara yang terdengar dari dalam kepala Devan.)
Devan kembali memejam, dadanya semakin sesak, kesadarannya pun hampir menghilang, disaat kritis itu, muncul ingatan dibenaknya suatu kejadian dari masa lalu,
(Seorang bocah duduk di kursi pada sisi meja berbentuk persegi. Di hadapannya, tersaji roti gandum yang terletak atas piring.
Bocah itu hendak memakannya, namun sesaat roti itu hendak menyentuh bibirnya, wanita muda yang duduk di sisi meja dengan lembut menyela,
"Eeeii--, Devan, kamu belum berdo'a kan?"
"Hehe.", bocah itu tertawa kecil, lalu menaruh roti itu kembali di atas piring.
Kemudian, bocah itu menaruh kedua telapak tangannya di tengah dada, seraya mengucap do'a,
__ADS_1
"Tuhan, berkahilah makananku."
Bocah itu lalu cepat-cepat mengambil roti itu hingga selesai gigitan pertama.
"Haaa?, hmmm.", wanita muda itu hanya bergumam sembari tersenyum teduh, memaklumi tingkah laku bocah itu.
"Kenapa, ma?", tanya bocah itu, yang mulutnya tengah sibuk mengunyah roti yang ia makan.
"Hmm-", gumam wanita muda itu sembari menggeleng kepala.
"Devan, kamu tahu?, Tuhan itu sangat senang di puji lhoo. Kalau kamu mau minta apa-apa sama Tuhan, cobalah puji Dia dulu. Pasti yang kamu minta bakalan dikasih sama Tuhan."
"Benarkah?", bocah itu pun seketika berhenti mengunyah.
"Hm-hm.", gumam wanita muda itu sembari mengangguk dua kali.
"Apalagi kalau kamu mintanya sambil merendahkan diri, mungkin tuhan tidak enak untuk menolaknya.", ucap wanita muda itu seraya menutup sebelah matanya pada bocah itu.
Bocah itu diam sejenak, kemudian ia menelan roti yang ada dalam mulutnya, dan meletakkan lagi roti yang di pegangnya ke atas piring.
Bocah itu pun meletakkan lagi kedua telapak tangannya di tengah dadanya, dan berucap doa,
"Oh Tuhan yang sangat kaya, berilah uang yang banyak pada kami." ("Supaya mama bisa ikut makan juga denganku.", lanjut bocah itu dalam hati).
"Hm?, kenapa minta uang yang banyak?", tanya heran wanita muda itu.
"Soalnya-- Tuhan sangat kaya, Dia pasti tidak akan risih kalau aku minta banyak uangNya. Tidak seperti kakek apel, padahal aku hanya minta tambah satu apel yang kecil, dia langsung marah-marah tak membolehkanku memilikinya."
Wanita itu agak terkesima mendengar jawaban bocah itu, ia hanya tersenyum teduh memandangi bocah itu,
"Hmm. Iya-iyadeh. Lanjut gih, makannya."
Bocah itu pun kembali memakan roti itu, hingga ketika roti itu tersisa setengah kurang sedikit, ia berkata pada wanita muda itu,
"Ma, aku sudah kenyang. Mama mau?"
"Tidak boleh!, Habiskan!. Mama juga sudah kenyang.", ucap wanita muda itu dengan berpura-pura memasang ekspresi dan nada marah.
Bocah itu, adalah bocah yang pintar. Dari awal sebenarnya ia mengerti, bahwa wanita yang ia panggil mama itu, belum makan sama sekali, dan berbohong berkata bahwa dirinya sudah kenyang.
Tapi, bocah itu juga mengerti, sekalipun ia berkata bahwa dirinya sudah kenyang, bocah itu tetap tak diizinkan untuk membagi roti itu. Bocah itu tahu, betapa pedulinya wanita itu padanya, dan selalu mengutamakan dirinya.
Di suatu ruang pada sebuah meja persegi kecil, duduk seorang wanita muda bersama bocah yang sedang makan sebuah roti. Wanita itu tak ikut makan, ia hanya memandangi bocah itu, sembari bersandar lengan di atas meja, dengan tatapan serta senyum yang teduh.)
Tiba-tiba, air mata mengalir dari pipi Devan.
"Hm?", Eris yang tengah mencengkeramnya kuat pun bereaksi heran melihatnya.
("Wahai Tuhan yang maha penolong---, Tolonglah aku--- yang tak berdaya ini")
"DUAR!!!"
Seketika muncul petir dari atas samping, mengarah tepat diantara Devan dan Eris. Hampir saja petir itu mengenai lengan Eris, bila tak ia lepaskan seketika cengkeraman tangannya ke leher Devan. Devan pun jatuh tak sadarkan diri di atas pijakan awan.
Kemudian, tampak sebuah entitas perlahan turun dari ketinggian, membuat seluruh iblis yang berada di sekitar berlari menjauh kocar-kacir.
Kecuali Eris, ia tetap berada di situ, sembari memandang ke arah entitas itu, dengan raut wajah yang masih sangat terkejut.
"KAU.......!!"
"Do'amu telah Tuhan jawab, wahai kawan lama."
__ADS_1
***