
Para peri yang datang kini satu per satu pergi. Beberapa diantara mereka, menyempatkan diri melambai tangan ke arah Bunda Peri Amaryllis. Bunda peri pun membalas lambaian mereka dengan senyum lembut.
Devan dan Alishia juga memandangi sekitarnya yang sempat ramai sesaat. Hingga setelah selang beberapa lama, ruang area perpustakaan tersebut kembali sepi, menyisakan Devan, Alishia, dan sang bunda peri.
Bunda Peri Amaryllis kini bangun dari lamunannya, membuka kelopak matanya, dan mengambil kembali gelang Devan yang terjatuh dengan memanggil beriak angin kecil melalui tangan kanannya yang menghadap bawah, sejajar pada posisi gelang Devan yang jatuh.
Gelang Devan pun melayang perlahan ke atas, menuju pada genggaman telapak tangan Bunda Peri Amaryllis.
"Kenapa?", tiba-tiba Alishia bertanya, seraya mengalihkan pandangannya menuju Devan.
"Apanya?", tanya balik Devan pada Alishia.
"Kena...kenapa kau punya pendant itu?", tanya Alishia agak terbata.
"'Kenapa' kau bilang?.. Memangnya kenapa kalau aku punya itu?"
"Habisnya itu aneh sekali!, bahkan mencurigakan!.", ucap Alishia sedikit menaikkan nada bicaranya. "Bagaimana bisa.....kau...makhluk..."
Alishia terbata-bata, sebab hatinya yang bercampur-aduk; kesal, sedih, dan bingung, setelah melihat warna pendant Devan yang sebenarnya.
Disaat yang sama, Bunda Peri Amaryllis melihat reaksi Alishia dari sisi. Tampak jelas dipandangannya raut kebingungan yang melekat pada wajah Alishia.
"Lishia...", panggil lembut Bunda Peri, menyela kalimat Alishia yg terbata-bata.
Seketika Alishia menoleh pada Bunda Peri Amaryllis, mata Alishia terbuka lebar hingga alisnya naik, nafasnya juga tampak berat.
"Bund..."
"Kedua tanganmu..."
"Haa.."
"Cobalah letakan tepat di tengah dadanya."
Alishia kemudian memandang sebentar pada Devan, lalu kembali menoleh ke arah Bunda Peri Amaryllis.
"Kenapa bunda?"
"Sudahlah, coba saja.", ucap lembut bunda peri seraya tersenyum kecil.
Alishia pun berjalan pelan menuju Devan. Saat itu Devan merasa cemas melihat Alishia yang berjalan ke arah. Devan pun beralih memandang Bunda Peri Amaryllis, dan melihat bunda peri yang tersenyum kecil padanya.
("Tidak apa-apa. Tenang saja.", tiba-tiba terdengar suara di kepala Devan.)
("Ini....Suara bunda.", Devan membathin.)
Devan berhenti cemas. Ia pun diam berdiri di tempatnya, membiarkan Alishia mendekatinya tuk melakukan sesuatu terhadapnya.
Sesaat kemudian, Alishia pun sampai di hadapan Devan. Saat itu hatinya jadi cemas, sebab ia mengerti apa yang hendak diperbuatnya.
Alishia pun mulai mengangkat kedua tangannya Lalu meletakkan telapak tangan kanannya pada dada Devan diikuti dengan tangan kiri Alishia diatas punggung tangan kanannya.
Saat itulah, Alishia merasakan tanda kemanusiaan pada diri Devan.
Alishia sesaat diam tuk memastikan, saat itu matanya benar-benar terbuka, lalu mengangkat matanya mellihat wajah Devan
"Ada...kemanusian..."
Sesaat kemudian, ia segera menarik kedua tangannya, sembari melihat Devan yang masih diselimuti aura hitam disekujur tubuhnya. Ia lalu menggeleng-geleng kepala seakan belum terima pada kenyataan di hadapannya.
Seketika Alishia berbalik badan hendak menuju Bunda Peri seraya berucap,
"Aku tidak mengerti...."
Alishia pun tiba-tiba menabrak pelan Bunda Peri Amaryllis yang telah sedari tadi telah berjalan mendekati Alishia.
"Apa Lishia... Juga akan menyangkal tanda kemanusiaannya?", ucap lembut Bunda Peri Amaryllis pada Alishia yang kini sangat dekat padanya.
"Bukan...begitu..bunda.", ucap Alishia sembari mengalihkan pandangannya ke bawah. Tampak sedikit raut rasa bersalah pada wajahnya.
"Lishiaa.... Apa kebencianmu pada Fallen Angel, membuatmu tak bisa melihat Devan secara adil?
Coba lihat, anak manusia itu..."
Alishia pun menggeser posisi tubuhnya dan perlahan menoleh ke arah Devan di belakang.
"Walau dari luar ia tampak seperti itu, apa ia pernah berbuat buruk pada peri?, apa ia pernah membahayakan negeri kita?, atau... apa ia pernah melakukan hal yang buruk padamu, Lishia?"
"Tidak pernah bunda.", jawab Alishia dengan wajah bersalah sembari meluruskan kembali lehernya, lalu menundukkan pandangannya sebab tak berani melihat Bunda Peri Amaryllis.
"Jadi, pantaskah makhluk seperti itu untuk kita perlakukan jahat?"
"Hm.hm.", Devan pun bergumam sembari mengangguk dua kali tuk mendukung pernyataan Bunda Peri.
Sementara Alishia, ia mencoba mencuri pandang melihat Devan, namun tak berani, akhirnya ia hanya melihat ke bawah di hadapan Bunda Peri Amaryllis dan berucap,
"Maafkan Lishia, Bunda."
Bunda Peri Amaryllis lalu dengan lembut menyentuh kedua sisi pipi Alishia, dan mengangkatnya perlahan.
"Bukan bunda yang seharusnya menerima maaf, kan?..",
Meski begitu, pandangan mata Alishia tetap melihat ke bawah dengan tatapan agak lesu. Ia masih tak melihat wajah bunda peri.
__ADS_1
Walau telah melihat dua kenyataan, serta dengan kalimat lembut yang di ucapkan bunda peri. Tetap saja masih membuat berat Alishia tuk mengakui salahnya pada Devan. Tapi untungnya, bunda peri menyadari hal itu. Ia mengerti perasaan malu yang dirasa Alishia, dan bunda peri pun mulai bercerita,
"Lishia tahu, dahulu bunda pernah membuat menangis seorang peri. Seorang peri putih, sama seperti Lishia."
Mendengar hal itu, Alishia perlahan mengangkat pandangan matanya, dan melihat wajah sang bunda peri, walau masih dengan tatapan agak lesu.
"Kala itu, bunda mengatakan sesuatu yang tidak baik padanya, dia tersinggung, kemudian menangis.
Setelah itu, tahu-tahu ada sesosok malaikat diantara kami, sesosok perempuan serba putih, kehadirannya membuat kami merasa tenang, bahkan si peri putih yang tengah terisak tangis itu, seketika menjadi tenang.
Si malaikat itu dengan suara lembutnya bilang pada kami,
'Tenang saja, tuhan sama sekali tak memandang warna, tuhan juga tak menilai dari kuat dan lemah. Kesungguhan hati kalian, itulah yang tuhan beli dengan harga mahal, sekalipun itu dari hasil kecil, yang kalian upayakan sepenuhnya.'
Mendengar hal itu, bunda jadi menyesali perkataan bunda, bunda merasa salah, dan meminta maaf pada si peri putih itu. Dan setelah kami berbaikan, si malaikat itu pun menghilang, dan tak nampak lagi di sisi kami..."
Bunda Peri Amaryllis mengakhiri ceritanya. Dilihatnya mata Alishia yang tak lagi lesu, bahkan cenderung cerah,
("Aku baru tahu, ternyata bunda juga pernah berbuat salah.", Alishia membathin.)
"Bunda pun hanya makhluk biasa, tentu bisa salah. Sama seperti Lishia juga.", ucap lembut Bunda Peri Amaryllis.
Setelah itu, Alishia berbalik, menghadap ke arah Devan.
"...eee...Devaan...Maaf... telah bersikap dan berprasangka buruk padamu."
Devan tersenyum simpul...
"Dimaafkan, Shia."
Dari belakang Alishia, Bunda Peri Amaryllis pun tersenyum manis, memandangi mereka yang mulai berbaikan.
"Baiklah, sebagai wujud maafku, aku bersedia mengantar kau, menuju Negeri Rayyana.", ucap Alishia, seraya tersenyum tipis.
"Huuuu, syukurlah.", ucap Devan lega. "Tadinya aku bingung sekali hendak membujukmu bagaimana."
"Heee benarkah?. Kalau begitu seharusnya kau berterima kasih pada bunda, yang secara tak langsung membujukku agar mengantarmu."
"Menuju Rayyana?", tanya bunda peri tiba-tiba.
"Iya bunda. Devan hendak menumpang padaku untuk pergi menuju Rayyana. Sebenarnya Dia di negeri ini hanya lewat saja."
"Begitu ya. Devan, apa dirimu tahu keadaan Rayyana sekarang?", tanya Bunda Peri Amaryllis pada Devan.
Mendengar hal itu, tiba-tiba Devan teringat dengan perkataan Alishia sebelumnya,
(...."HM!, aku baru ingat, kau daritadi buru-buru hendak ke Rayyana, padahal di sana sedang kacau setelah diserang oleh kalian."
"Diserang???", tanggap Devan tak menyangka.....)
"Hmmm.", Bunda Peri Amaryllis membuang nafas panjang, tampak sedikit raut berat pada wajahnya.
"Kalau boleh tahu, bunda....", ucap Devan. Lalu ia berhenti bicara sesaat dan menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya aku penasaran, dan ingin mengetahui keadaan Rayyana.", benah Devan.
"Tentu dirimu harus tahu, Devan, sebab dirimu hendak menuju ke sana.
Tapi satu hal yang harus dirimu tahu, Devan. Bahwa Negeri Rayyana saat ini......."
Dan Bunda Peri Amaryllis pun mulai menceritakan, tentang keadaan Negeri Rayyana pada Devan.
***
Dua hari yang lalu...
Pagi hari di Negeri Rayyana....
Setelah sehari sebelumnya Pemimpin Fallen Angel Istan Zora datang sendirian meninggalkan kerusakan di negeri Rayyana, Pagi ini Ratu Peri Aliya mengumpulkan seluruh penduduk Rayyana; para peri dewasa, di tengah-tengah negeri tersebut.
Mereka semua melayang di udara mengelilingi Ratu Peri Aliya yang melayang sedikit lebih tinggi, tepat di atas lingkaran lubang raksana yang dibuat oleh Istan Zora.
Hingga ketika waktu itu tiba, dimulailah musyawarah terbuka antara Ratu Peri Aliya, dengan penduduk negeri Rayyana.
"Wahai tuan-puan peri penduduk negeri Rayyana, sungguh telah datang kabar buruk untuk kita, pada hari ketika negeri ini dirusak oleh seorang Pemimpin Delbora.", ucap Ratu Peri Aliya, dengan nada suara yang sanggup menggema ke seluruh penduduk Rayyana.
Kedua tangan ratu peri membentang, seolah ia berusaha menggapai dan merangkul seluruh peri yang berkumpul saat itu.
Seluruh Penduduk Rayyana masih menghening, menunggu kelanjutan kalimat sang ratu peri.
"Dia telah mengetahui kabar tentang keselamatan Putri Artemis, aku sungguh khawatir, akan tragedi 10 tahun yang lalu yang kembali terulang."
Para peri pun bereaksi kecil, sedikit gaduh dan gumam kecemasan kecil-kecil terdengar, namun hanya sesaat, secepatnya suasana kembali hening, para peri masih mendengar sang ratu peri dengan seksama.
"Dia berhasil memasuki Rayyana, sebab dia memiliki pendant milik Bunda Artemis. Kemungkinan, angin milik bunda dalam pendant tersebut tengah disesatkan, hingga ia salah mengira siapa kawannya.
Tapi... Diriku masih belum memahami, mengapa dia bisa menemukan jalan negeri ini?, padahal ini adalah negeri yang tersembunyi dari balik awan-awan.
Adakah tuan-puan peri sekalian yang menemukan petunjuk ataupun kenyataan yang barangkali belum ku ketahui?"
Mulai terdengar bisik-bisik atau pun suara-suara kecil dari kumpulan peri di tiap sisi, sebentar kemudian, telah ada beberapa peri yang melayang lebih tinggi, yang mewakili tiap sisi.
Kemudian, semua peri yang melayang lebih tinggi itu saling mengangguk lalu melayang turun menyisakan satu peri laki-lakki yang terlebih dahulu melayang tinggi.
Satu peri itu pun berbicara kepada ratu, mewakili yang lain,
__ADS_1
"Wahai Ratu Aliya, beberapa hari yang lalu, diriku pernah melihat sesosok makhluk di pintu gerbang masuk sungai Rayyana, tengah duduk satu sampan bersama Putri Artemis."
"Benarkah itu, Tuan peri?"
"Sungguh, Ratu Aliya. Tapi,,, diriku tak bisa memastikan itu adalah siapa.", kemudian, si peri mulai melempar pandang ke seluruh peri lainnya sebagai tanda agar ada yang menambahkannya.
Tak lama kemudian, muncul satu peri yang terbang melayang lebih tinggi, dan memberi keterangan pada ratu peri. Ratu Peri Aliya pun beralih memandangnya,
"Diriku juga melihatnya, wahai Ratu Aliya. Di sekujur tubuhnya, tampak samar aura yang sangat kuat, namun diriku tak bisa melihat warnanya. Walau begitu, entah mengapa membuat diriku merasa membenci hal itu.
Tidak hanya diriku, peri yang lain juga merasa begitu. Seperti niat jahat yang tertahan atau tersembunyi. Dan kalau boleh diriku berkata gamblang, rasanya seperti diriku melihat seorang malaikat jatuh...
Ta..tapi diriku tidak bermaksud menuduh! wahai ratu, diriku hanya ingin menyampaikan apa yang kupikirkan saat itu."
Setelah mendengar hal itu, tiba-tiba Ratu Peri Aliya mengingat perkataan sang Pemimpin Delbora,
(...."Aku kemari untuk mencari kawan lamaku. Aku merasakan jejak auranya. Aku yakin ia pernah berada disini.", ucap Istan sembari memejamkan matanya merasakan energi di sekitarnya....)
"Haa!", tiba-tiba Ratu Peri Aliya bergumam kecil, ia baru saja mendapat pemahaman baru.
("Mungkinkah,,,, dia adalah 'kawan lama' yang dimaksud?", Bathin Ratu Peri Aliya.)
"Iya, tidak apa-apa puan peri, tidak perlu segan, diriku mengerti."
Tiba-tiba dari sisi lain melayang lebih tinggi sesosok peri perempuan berambut pony tail lebar bergelombang, yang tak lain ialah Yuna.
"Izin memberi pandangan wahai ratu peri.", ucap Yuna.
Ratu Peri Aliya yang beralih memandangnya kemudian mengangguk pelan padanya.
"Diriku ingin memperkuat pandangan sebelumnya, bahwa dalam hatiku juga timbul seperti penolakan atau ingin menjauhi dirinya ketika berada di dekatnya.
Tapi.....
Diriku juga hendak menyangkal dugaan bahwa dirinya adalah fallen angel, sebab kata Kakek Luna, dia adalah manusia, tapi bukan manusia biasa.
Hal itu pun dibuktikan lewat pertarungan yang diatur oleh Kakek Luna sendiri dengan seorang guru elemental akademiya, Guru Reynza."
"Siapa yang menang?"
"Yang menang adalah anak manusia itu."
Sesaat terdengar bisik-bisik gaduh, para peri beraksi kecil, namun secepatnya kembali menghening.
Ratu Peri Aliya menunduk sejenak seraya membathin,
("Dia seorang manusia, namun memiliki aura persis fallen angel....mungkinkah...reikarnator Fallen angel??")
"Dimana kah sekarang Guru Reynza?", tanya ratu peri.
Yuna menggeleng, namun sesaat kemudian, ada satu peri terbang melayang lebih tinggi, lalu berbicara pada Ratu Aliya,
"Wahai Ratu Aliya, Guru Reynza sedang berada di akademiya, sedang menjaga anak-anak peri kita di sana."
("Syukurlah, itu artinya dia baik-baik saja.", bathin Ratu Peri Aliya.)
Kemudian, Ratu Peri Aliya kembali mengalihkan pandangannya lagi ke Yuna,
("Yuna ya. Wajar saja dia tahu banyak.")
("Yuna, turunlah, nanti tolong bicarakan padaku lebih banyak ya.", terdengar suara Ratu Peri Aliya dalam kepala Yuna.)
("Baiklah, Ratu Aliya.", Yuna membathin.)
Setelah itu, Ratu Peri Aliya pun kembali berbicara, di hadapan seluruh penduduk Rayyana,
"Wahai Peri-peri Rayyana, sungguh keluguan hati Luna saat itu adalah kesalahan diriku. Waktu itu, seharusnya diriku yang turun untuk menjemput hati mendiang Elysia. Tapi justru diriku malah membiarkan Luna turun sehingga membahayakan dirinya sendiri, bahkan....."
Tampak raut penyesalan bercampur sedih pada wajah Ratu Peri, ia pun tak tahu apa yang harus dikatakan selanjutnya.
Saat itulah dari keramaian peri, datang sesosok Ibu peri melayang lebih tinggi lalu mendekati Ratu Peri Aliya,
"Kami disini mengerti perasaanmu wahai ratu peri muda. Luna adalah peri kesayangan Artemis, dan kesayangan kita semua, mana mungkin kami menyalahkannya.
Kami disini pun tak menyalahkan dirimu, Menjaga Luna, bukan tanggung jawab dirimu saja, tapi seluruh peri dewasa yang ada disini. Bunda Ratu Artemis, menitipkan Luna pada kita semua."
Mendengar hal itu, kedua tangan Aliya sedikit bergetar karena tersentuh. Kedua tangannya pun saling berpegang lengan satu sama lain, berusaha menyembunyikan reaksi kecilnya pada seluruh peri sekelilingnya.
"Terima kasih, puan peri.", ucap Ratu Peri aliya sembari tersenyum simpul.
"Sama-sama, Ratu Aliya. Kami disini selalu berdoa untuk Ratu kami, agar Tuhan menguatkan pundak Ratu Aliya, supaya mampu untuk terus memimpin kami."
Setelah itu, Aliya melempar pandangannya ke seluruh peri-peri disekeliling. Dilihatnya semua peri itu tersenyum lembut padanya. Hingga membuat dirinya turut tersenyum pula, seraya membathin,
("Hmmm, padahal seharusnya diriku yang menjadi sandaran kalian, wahai bangsa periku.")
Sesaat kemudian, tiba-tiba terbesit kalimat Istan dalam benak Aliya,
(....."Dirimu tidaklah sebijaksana Artemis....".....)
Senyum Aliya pun terputus, menyisakan rasa berat dihatinya.
Meski begitu, musyawarah terbuka tetap berjalan, membicarakan berbagai hal; soal penyembuhan, perbaikan, keluhan, anak-anak peri yang diamankan, dan lain sebagainya, hingga waktunya selesai.
__ADS_1
***