Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 19: Bertemu Zivan


__ADS_3

Sachiel melayang di bawah awan-awan hitam, di antara petir-petir yang menggelegar, dan menyambar.


Daritadi Sachiel hanya mengawasi dari atas, melihat bagaimana ketiga pria itu berlari dan berusaha menghindari petir.


Suatu ketika ia melihat salah satu pria tiba-tiba berhenti berlari dan dua lainnya seketika masuk ke tubuh pria yang berhenti itu, tiba-tiba pria yang berhenti itu melompat menghindari sambaran petir.


Pria itu berlari lebih kencang dari sebelumnya, dibayangi oleh dua pria lainnya. Ia menghindari petir bahkan sebelum petir itu menyambar, seakan ia tahu kapan dan kemana petir itu akan menyambar.


Hal itu membuat Sachiel penasaran. Ia terbang kencang mengikuti arah lari pria itu. Hingga suatu saat, pria itu tiba-tiba berlari zig-zag dengan kencang, menghindari petir tanpa sedikitpun terhempas karena dampak sambaran.


Bibir Sachiel sedikit terbuka, ia bereaksi kecil melihat gerakan pria itu.


"DUM!!!....BUSH", pria itu melompat dan menabrak pilar bebatuan di depannya. Kedua pria yang bersamanya duluan keluar dari bayangnya.


Sachiel pun mendarat, dan menguncupkan sayap putihnya yang besar dan lebar, kemudian sayap itu perlahan tenggelam masuk ke dalam punggungnya.


Sachiel berdiri di dekat ketiga pria itu, namun tak satupun mereka menyadarinya. Sachiel hanya mengawasi dan mendengar percakapan mereka berharap ia mengetahui maksud kedatangan mereka kemari.


"Aku tarik kata-kataku tadi sore. Cerita yang dikatakan ketiga remaja itu bukanlah karangan.", ujar salah satu pria.


"Setelah mengalami hal ini aku jadi percaya dengan cerita yang dikatakan mereka.", ujar pria lainnya menambahkan.


"Sudah kubilang, biasanya cerita urban dari masyarakat tidak sepenuhnya salah, itu juga berarti tidak sepenuhnya benar.", jelas pria yang satunya lagi.


Sachiel terus mendengar lanjutan percakapan mereka. Namun karena pikirnya ia hanya mendengar sesuatu yang kurang berguna, ia pun menyela....


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


***


"Apa yang kalian lakukan di sini?.", tanya sesosok wanita dengan suara lembut, saat itu, hantaman halilintar pun perlahan mereda.


Devan, Morgan, dan Julian kemudian menoleh ke arah suara.


Sesosok wanita berdiri di samping mereka bertiga. Rambutnya putih panjang dengan poni menutup dahinya. Matanya yang kesayuan diperindah dengan kelentikan putih bulu mata serta alisnya.


Pakaiannya juga serba putih. Berbaju lebar berlengan panjang serta rok panjang. Ia memakai penutup kepala yang tersambung pada bajunya seperti jaket. Dalam penutup kepalanya nampak terang bola matanya yang hijau.


"Kami kemari untuk bertemu dengan seseorang.", jawab Devan.


Morgan dan Julian mengangguk membenarkan perkataan Devan.


Wanita itu hanya fokus memandang Devan. Ia tak beralih memandang yang lain.


Tiba-tiba wanita itu sudah berada dekat di hadapan Devan. Mereka bertiga tidak menyadari langkah wanita itu.


Wanita itu mengulurkan kedua tangannya di hadapan wajah Devan, mata sayunya melihat mata Devan.


"Beruntungnya kamuuu... Tuhan memberimu kesempatan. Takdir mengantar jiwamu pada manusia baik ini.", ujar lembut wanita itu sembari tersenyum.


"Percayalah potensi kebaikan yang ada padamu, sebab tuhan juga mempercayai potensi kebaikan itu.", tambah wanita itu, setelah itu uluran tangannya turun, dan senyumnya usai.


Keberadaan wanita itu memberikan aura tenang.Pembawaan dirinya membuat Devan dan yang lainnya bersikap segan, kemudian mempercayainya.

__ADS_1


Wanita itu mulai berjalan melewati depan mereka bertiga. Kemudian Ia berhenti. Kepalanya mendongak dan kedua tangannya mengulur lurus agak ke atas. Sesaat kemudian kedua tangannya membuka lebar.


Awan-awan hitam pun bergerak ke arah samping kiri dan kanan, seakan membelah. Kemudian nampaklah langit malam cerah saat itu, membentuk jalur lurus yang aman dari serangan petir.


Devan dan yang lain pun terkesima melihat fenomena itu.


Setelah itu, si wanita menurunkan kembali tangannya dan menoleh ke arah Devan dan yang lainnya. Ia mengangguk kecil memejam mata, isyarat agar mereka mengikuti dia. Wanita itu pun mulai memimpin jalan.


"Anda akan membawa kami kemana?.", tanya Devan segan.


"Bertemu Samael.", singkat wanita itu.


"Maaf, orang yang mau kami temui adalah Zivan."


Devan yang berada di belakang melihat wanita itu hanya mengangguk.


"Devan, ikuti saja.", ucap Julian.


Devan melihat ke Julian dan menurutinya.


Mereka pun berjalan diantara dua awan hitam. Tidak seperti sebelumnya, awan itu kini begitu tenang, tanpa ada suara dentuman yang menggelegar.


Mereka berjalan mengikuti panjang jalur langit yang tak tertutup awan. Sepanjang perjalanan, si wanita, Devan, dan yang lainnya diam tak berbicara. Sempat Devan mencoba untuk bertanya suatu hal pada si wanita, namun tampaknya ia terlalu segan untuk memulai pembicaraan lalu mengurungkan niatnya.


Waktu semakin malam. Kejinggaan di langit sudah tak nampak. Tak ada lagi kilat awan yang terkadang sesaat memberi terang. Walau begitu mereka tak berjalan dalam gelap. Itu karena aura putih yang terpancar dari si wanita mengeluarkan sinar, yang semakin terang, bila semakin malam.


Beberapa lama kemudian, mereka perlahan keluar dari lokasi awan hitam itu. Langit malam perlahan melebar tak tertutup awan, hingga mereka sepenuhnya keluar dari lokasi tersebut, tak satupun kepulan awan hitam menutupi langit cerah malam itu.


Kemudian mereka berjalan menapaki salah satu tebing bebatuan yang ada di lembah itu. Jalannya menanjak, jalurnya memutar, terkadang juga meraka berjalan di dataran yang datar.


Akhirnya mereka pun sampai pada dataran datar yang cukup luas. Di pinggir-pinggir dataran itu, berdiri lampu-lampu obor berwarna biru. Namun mereka masih belum berhenti. Wanita itu terus menuntun jalan dan berbelok menuju bebatuan yang curam.


Di tengah bebatuan curam itu, terdapat tangga agak lebar menuju ke atas. Mereka berjalan menuju ke sana, lalu menaikinya.


Tak ada pegangan di sisi tangga itu, hanya ada lampu-lampu obor biru yang menyala di sepanjang tangga, cukup terang, namun kalah terang bila dibandingkan sinar aura putih dari wanita itu.


Wanita itu berjalan agak berjarak di depan Devan dan yang lainnya. Perlahan ia semakin jauh, namun ia terlihat melangkah pelan.


Akhirnya, Devan, Morgan dan Julian pun sampai di balik ujung tangga. Devan memandangi sekitar dan melihat suasana yang familiar.


Sebuah dataran datar terhampar dengan rerumputan biru bintik hijau menyelimutinya. Di tengah-tengah terdapat kolam kecil yang di tengahnya berdiri pohon kecil yang dedaunannya berwarna biru gelap bersinar dengan corak bintik hijau.


Terdapat juga pepohonan dengan warna dan corak yang sama yang berdiri di beberapa titik dataran datar itu. Di tempat itu, malam terlihat terang dengan cahaya biru yang indah, dengan beberapa kunang-kunang terbang di udara.


"Tempat ini... terlihat seperti danau di bawah negeri awan.", ujar Devan kecil. Morgan dan Julian tak mendengar.


Namun, disaat yang sama mereka baru menyadari, si wanita yang menuntun mereka tak ada bersama mereka lagi.


Mereka bertiga melangkah maju, dan melihat seorang pria tengah berdiri di atas batu, sambil melihat ke atas langit. Mereka pun menuju ke arahnya.


“Akhirnya kalian sampai juga.”, ucap pria itu, ia menoleh ke arah Devan dan lainnya yang baru saja berhenti di dekatnya.


Pria itu berpakaian hanfu serba hitam dengan rambut dikuncir tengah belakangnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Julian dan Morgan bertekuk lutut di hadapannya.


“Lama tidak bertemu, ketua.”, ucap Julian.


Melihat hal itu, Devan juga turut bertekuk lutut di hadapan pria yang berdiri di atas batu itu.


Pria itu ternganga melihat sikap Devan terhadapnya, ia terdiam sejenak. Kemudian ia turun dari atas batu dan berdiri di tanah yang sejajar dengan mereka.


“Kalian tak perlu lagi berlutut seperti itu, aku bukan lagi ketua kalian. Terlebih kau, kenapa berlutut di depanku?.”, ucap pria itu kepada Devan dengan senyum ramahnya.


“Kupikir kau adalah orang penting, melihat mereka yang bersikap begitu kepadamu.”, jawab Devan.


“Heuuh, Kalau begitu, seharusnya mereka juga harus bersikap begitu kepadamu.”, tanggap pria itu.


Morgan dan Julian merasa bingung dengan tanggapan pria itu. Sementara Devan tak benar-benar menangkap maksud dari pria itu.


“Intinya, kalian tak perlu bersikap formal padaku. Panggil saja aku Zivan.”, tegas pria Bernama Zivan itu.


“Baiklah, ketua, maksudku Zivan.”, ucap Morgan.


Mereka bertiga pun mulai berdiri seperti biasa.


“Zivan, dirimu pasti tidak kenal dengan kami. Aku Julian, di sebelahku adalah Morgan. Kami berdua adalah bawahannya Aslan Era.”


“Oh Aslan, baik Lalu, dirimu yang di belakang?.”


“Namaku Devan Aria.”


“Aria?.”, tanya Zivan bingung.


“Itu adalah nama belakangku.”


Bibir Zivan tersenyum kecil mendengar jawaban Devan.


“Oh aku mengerti. Kau adalah manusia setengah fallen angel.”


“Ya. Itu juga yang dikatakan Aslan padaku.”


“Aku juga, sama seperti Aslan, dan sepertimu, setengah malaikat jatuh. Dan namaku Zivan Zora. Cukup panggil aku Zivan saja.”, ucap Zivan dengan wajah ramah.


“Baik. Zivan.”


“Jadi, ada keperluan apa kalian bertiga datang kemari?.”


“Kami berdua diberi misi oleh Aslan, untuk menemani Devan agar bisa bertemu dengan dirimu, Zivan.”, ucap Julian.


“Aslan memintaku untuk segera bertemu denganmu. Dia mengatakan bahwa dirimulah yang membantunya hingga ia mampu menguasai kembali magusnya. Sepertinya Aslan menyarankanku untuk meminta bantuanmu agar aku juga bisa menguasai kekuatanku.”, ujar Devan.


(“Sudah kuduga.”, ucap Zivan dalam hati.)


“Baiklah. Morgan, Julian, bisakah kalian meninggalkan kami berdua?. Disana ada rumah kecil tempat aku tinggal, kalian bisa menunggu disana.”, ucap Zivan, sembari wajahnya menghadapkan arah dimana rumah kecil itu berada.


Morgan dan Julian mengiyakan dan menuruti permintaan Zivan. Mereka pun pergi menuju ke tempat yang Zivan arahkan.

__ADS_1


(Sekarang bagaimana selanjutnya aku menilai?. Sampai saat ini aku memang tidak melihat kebohongan dan tanda permusuhan darinya. Tapi…”, pikir Zivan dalam hati, sesaat raut wajahnya menjadi serius, namun, saat itu Devan sedang tidak melihat ke arahnya.)


***


__ADS_2