
Devan seketika berlari melesat menyerang Zivan, dan Zivan pun juga melesat berlari kencang ke arah Devan. Sekejap kemudian keduanya berhadapan dengan tinjuan yang sama-sama melesat di wajah masing-masing.
Zivan dengan sigap memasang tangan kirinya di depan wajahnya untuk menepis tinjuan Devan. Sedangkan Devan sama sekali tak berniat untuk menepis serangan Zivan.
Devan dengan senyum percaya dirinya tetap melepas penuh tinjuan kanannya, hingga ketika kedua tinjuan mereka telah setengah jalan lewat sedikit, saat itulah Devan menggunakan magusnya…
Lingkaran putih dan titik di tengah pupil mata Devan sekejap bercahaya.
Zivan seketika tertidur, tinjuan dan tangkisan kedua tangannya merendah.
“PUM!!!”, Devan dengan telak mengenai hidung Zivan hingga membuatnya terhempas dan terseret di atas tanah.
Namun Zivan secepatnya bangun walau setengah berdiri dan segera mengembalikan perhatiannya pada Devan yang tahu-tahu telah melesat berlari, dan melompat ke arahnya.
Zivan pun segera bersiap menangkis serangan Devan yang datang.
Devan pun melepas tendangannya sekuat tenaga, dan ketika tendangannya sudah setengah jalan lewat sedikit, lagi-lagi ia menggunakan magusnya. Zivan pun seketika kembali tertidur.
“PUM!!!”, tendangan Devan lagi-lagi dengan telak mengenai kepala Zivan hingga membuatnya terhempas dan terpelanting beberapa kali di atas tanah.
Namun Zivan berhasil mengambil kembali keseimbangannya, dan segera menahan dampak hempasan dengan menguatkan pijakan kakinya hingga ia pijakanya terseret di atas tanah.
Kini Devan berhenti menyerang.
“Apa aku juga harus menunggumu menyembuhkan diri?, bagaimana, Zivan?”, ucap Devan masih dengan senyumnya yang percaya diri.
“Timingmu.,,begitu efektif!”
“Tentu saja. Kalau begitu mana mungkin aku bisa mengalahkanmu. Semua magus itu hebat, tergantung pilot yang menggunakan serta kecocokan lawan. Sayang sekali, Zivan. kau malah memulai konfrontasi denganku.”
“Maksudmu?. Memangnya kenapa kalau aku memulai konfrontasi denganmu?”
“Maksudku…kau adalah lawan yang hebat dan kuat. Maka dari itu di Delbora tak ada yang bisa mengalahkanmu, kecuali aku. Karena, magusku adalah kelemahanmu.”
Zivan tersenyum setelah mendengar itu. Ia pun bangkit dengan keadaannya yang hampir pulih.
“Jadi, maksudmu kau telah menang dariku bahkan sebelum pertarungan kita selesai?”
“Asal kau tahu saja, kalau aku mau, dari awal kau tak kuberi kesempatan menyerang. Aku hanya ingin bermain-main saja denganmu.”
“Kalau begitu, sekarang mari kita mulai serius. Dan juga terima kasih telah membiarkanku pulih, semoga kau tak menyesalinya.”, ucap Zivan masih tersenyum sembari menatap tajam Devan.
“Dengan sepenuh hati aku akan serius.”, ucap Devan yang juga menatap tajam Zivan sembari tersenyum.
“Siuu!!”, keduanya bersamaan berlari melesat saling menyerang.
Ketika mereka telah sama-sama berada dalam jangkauan. Mereka pun melepaskan tinjuan kuat menuju wajah mereka masing-masing. Sama seperti sebelumnya, Devan dengan senyum percaya dirinya tak berniat menangkis serangan lawan, sementara Zivan kali ini berbeda dari sebelumnya, ia juga tak berniat menangkis serangan lawan.
Hingga ketika tinjuan mereka telah setengah jalan lebih sedikit, Devan menggunakan magusnya, lingkarang dan titik kecil di tengah pupil matanya sekejap menyala.
“BUK!”, Devan terhempas ke belakang, pipi kirinya terkena tinjuan telak Zivan.
Sementara itu, dari celah kepalan tangan Zivan, muncul aura warna-warni terang menyebar pelan melebar di udara.
Devan yang tengah terhempas melayang sempat melihat aura itu.
(“Sihir….peri….”, bathin Devan.)
Devan pun terjatuh ke tanah namun tak sampai terseret. Jaraknya dengan Zivan masih terhitung dekat. Walau begitu wajahnya benar-benar terluka.
Sesaat kemudian tumbuhan-tumbuhan biru kecil yang ada di tepi-tepi gua bereaksi terhadap sihir peri itu, dan perlahan ia tumbuh dan merambat ke seluruh dinding-dinding gua, menjadikan gua itu lebih terang.
“Kau paham keadaan kita sekarang, Devan?”, ucap Zivan tersenyum jahat.
Devan kemudian bangkit berdiri setelah melihat sekelilingnya.
“Ya. Kau membuat situasi dimana kita berdua tak bisa menggunakan magus.”
“Tumbuhan kecil di sekeliling tepi goa ini tak cukup kuat untuk menahan magus kita yang kuat, tapi bila tumbuhan itu selebat sekarang, tidak hanya magus, bahkan kemampuan regenarasi kita juga akan di tekan.”
“Apa??”, Devan pun langsung memegang bagian wajahnya yang terluka, dan ia masih merasakan sedikit nyeri ketika menyentuhnya.
“Cih!, sihir Peri Artemis memang menyusahkan.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, seketika berubah raut wajah Zivan. Ia menatap Devan dengan tajam tanpa senyuman.
“Ooh, jadi seperti itu pendapatmu yang sebenarnya.”, ucap Zivan, dengan nada menekan.
“Hm?”, heran Devan, sesaat kemudian ia baru mengerti maksud perkataan dan perubahan suasana Zivan,
“Ahaha ahahaha ahahahaha!”
“Kenapa kau tertawa?”
“Oh, yaa aku teringat aku yang sebelumnya. Aku sungguh benar-benar ingin menolong Luna. Ahahaha. Bahkan karena alasan itu, aku memutuskan untuk melawanmu.”
“Lalu, apanya yang lucu?, mungkinkah, kau berbohong?”
“Kalau saat itu aku berbohong, tidak mungkin aku tertawa. Heeuh. Aku sebelumnya yang ingin menolong Luna, sebenarnya itu adalah tendensi keinginanku yang sekarang…
KALAU AKU AKAN MELENYAPKAN PUTRI ARTEMIS.”, ucap Devan dengan pandangan dingin.
“KAU!!!”, nada Zivan meninggi.
“Hmm..sekarang terjawab sudah pertanyaan bathinku, pantas saja aku merasa bingung sesaat ketika kau bertanya mengapa aku begitu ingin menolong Luna.”
Zivan menarik nafas mencoba menenangkan dirinya, namun tak sepenuhnya berhasil, ia tampak memandang Devan penuh amarah.
“Kalau begitu aku semakin yakin dengan keputusanku. Dengan tidak membiarkanmu bertemu dengannya dan mengakhirimu disini, adalah hal yang benar.”
“Haa aku juga baru ingat, karena itulah aku begitu tak terima dan memutuskan untuk melawanmu, ketika kau mencoba mengambil peranku untuk menolong Luna. Karena…kau mencoba menghalangiku dari rencanaku yang sebenarnya.”
“Devan…kau tak akan kubiarkan keluar dari goa ini!”
“Itu tergantung dari kemampuanmu.”
“Ku akui perkara magus aku kalah denganmu, tapi kalau pertarungan fisik murni aku berada diatasmu.”, ucap Zivan, ia langsung menuju Devan dan melepaskan tinjuan kuat.
“Kalau itu aku belum yakin…”, ucap Devan seraya menyambut serangan Zivan.
Tinjuan kanan Zivan datang mengarah ke bagian wajah Devan yang terluka, kemudian dengan lembut Devan menepis dengan punggung jemari tangan kanan yang terbuka dan rapat, kemudian pergelangan tangannya ia balik, lalu ia hentak dorong lengannya sehingga telapak tangannya mendorong tinjuan Devan keluar.
Kemudian Devan memutar balik tubuhnya hingga membuat Zivan tersungkur ke bawah tepat di sisinya.
“Apa?”, ucap Zivan yang tak menyangka ia dijatuhkan.
“Beberapa saat yang lalu, aku baru saja mengingat masa laluku sebagai manusia…..
Dan kau tahu?, aku adalah seorang andalan dari Corps Prajurit Keamanan Kerajaan di Kota Avalon, dan aku berguru langsung pada pemimpin Corps itu, Letnan Jenderal Catra Arkandza atau biasa dipanggil Letjen Catra.”
Zivan kemudian perlahan bangkit berdiri seraya menoleh dan menatap ke arah Devan yang tengah memasang kuda-kuda.
Kaki kanan Devan maju menyerong ke depan, kedua tangannya mekar dengan jemari yang rapat serta posisi telapaknya yang miring, tangan kirinya ia letak di depan dadanya, sementara tangan kanannya hampir lurus lebih jauh di depannya.
“Tadinya kupikir aku tak butuh kemampuan ini selama aku punya magus, tapi tak kusangka cepat sekali pikiranku dipatahkan dengan masuk pada situasi dimana magusku tak bisa digunakan.”
Zivan pun teringat beberapa saat yang lalu…
(…..Zivan membuka mata, namun yang ia lihat berbeda dari yang ia duga…
“Hm?”, heran Zivan.
Zivan memandangi gaya bertarung Devan berubah dari sebelumnya, ia begitu licin bergerak diantara mayat hidupnya. Gerakannya tampak teratur dan tak sia-sia….)
(“Jadi saat itu…..”)
“Cih!”, Zivan menatap Devan penuh kesal.
“Entah mengapa, Zivan. Aku merasa akan menang telak dengan situasi saat ini. Apalagi setelah aku menyungkurkanmu dengan sedikit tenaga.”, ucap Devan dengan senyum percaya diri yang mengembang.
(“Mantap juga kau, Devan Aria.”, ucap Devan dalam hati.)
Zivan terdiam tak mampu membalas Devan. Ia pun langsung maju dan melepas pukulan bertubi-tubi pada Devan.
Zivan meninju menggunakan kedua tangannya, dari samping-atas-bawah, sedangkan Devan selalu berhasil menangkis dan menghindarinya dengan lembut.
Hingga ketika Zivan melompat kecil lalu melepaskan tendangan lurus ke atas mengarah ke dagunya, Devan melihat celah…
__ADS_1
Devan seketika menangkap kaki kanan Zivan yang terangkat menggunakan tangan kirinya dan sekejap ia menghantam paha Devan dari atas menggunakan tangan kanannya yang seketika mengepal.
Zivan seketika meringis dan terlutut kaki kanannya. Sesaat kemudian Devan dengan cepat memposisikan kedua tangannya ke dua sisi pinggangnya. Lantas menghentak kuat ke depan, hingga ketika hentakan lengan itu hampir sampai mengarah ke dada Zivan, kedua tangan Devan seketika mengepal.
“PUM!!!”, Zivan terhempas kuat ke belakang hingga ia terseret jauh jatuh ke atas tanah. Setelah itu ia tak bergerak.
“Kau sudah kalah, Zivan.”
Zivan masih berusaha bangkit, namun ia tak mampu. Ia hanya berusaha untuk duduk dengan bertumpu ada salah satu lengannya sembari memegang dadanya yang terkena serangan.
“Hahahaha…Hmm…Sebelum aku akhiri, aku ingin berterima kasih dulu pada kau, Zivan….
Kau….menggunakan cara ini agar aku segera mampu mengendalikan magusku, kan?”
Zivan bereaksi kecil, ia seakan terkejut dengan ucapan Devan.
“Tapi…
Disaat yang sama, kau juga berniat membunuhku, karena kau dendam padaku di masa lalu…
Seandainya disaat kritis tadi aku tak segera mendapat ingatanku kembali, mungkin… aku sudah berakhir ditanganmu… disini…
Akan aku katakan juga pada diriku sendiri…
Zivan Zora adalah seorang pemimpin yang dikenal baik oleh para fallen angel di Delbora, sehingga banyak dari para malaikat jatuh bertanya-tanya, mengapa seorang Samael bisa jatuh…
Tapi aku mengetahui kejahatan apa yang ia perbuat, kebaikannya adalah kepura-puraan, untuk menutupi kejahatannya…
Dan sekarang, kau juga melakukan hal yang sama padaku, membuatku berfikir bahwa kau sengaja menjadi jahat demi membantuku…
Jadi yang mana sebenarnya kau…yang jahat itu kebohongan kah?... atau yang baik itu kebohongan?....”
Devan kembali mengingat beberapa saat yang lalu…
(…Zivan pun melangkah mendekati Devan yang tengah terlutut sembari bahunya diangkat oleh para mayat itu.
“Dan sekarang sebaiknya kita akhiri ini. Selamat tinggal, Devan.”
Zivan pun mulai mengancangkan tinjuannya. Ia menarik lengannya hingga sejajar dengan bahunya, Kemudian lengahnya perlahan-lahan diselimuti aura hitam. Setelah itu, ia pun segera melepas tinjuan akhir ke arah Devan…)
“Tapi satu yang pasti…kau jelas mencoba menghabisiku saat itu…
Jadi Zivan… aku juga tidak mempercayaimu…”
Perkataan Devan pun terbathinkan di benak Zivan…
(“Aku…yang mana sebenarnya aku?…yang mana bagian kebohongan diriku?… Jangan-jangan, selama ini aku tidak berubah?...”)
Tiba-tiba, tumbuhan yang merambat kebiruan di dinding perlahan memendek dan kembali mengecil.
“Gawat, sihir peri telah hilang, kalau begini Zivan akan segera beregenerasi.”
Devan segera berlari ke arah Zivan, tak lama kemudian perlahan-lahan magus Devan kembali menyelimuti tangan kanannya…
Sementara Zivan, ia melihat Devan berlari ke arahnya, ia masih tak dapat bergerak…
(“Sepertinya…aku akan berakhir…”)
Mata Zivan terbelalak, jantungnya berdetak tak karuan, ia ketakutan. Kemudian ia memejamkan matanya…
“Maafkan aku, Sachiel…”, bisik Zivan.
“Selamat tinggal, Zivan”, Devan segara melompat ke arah Zivan seraya mengancangkan lengan kanannya hingga sejajar dengan bahunya.
Tiba-tiba…
Datang dari atas Malaikat Sachiel yang sedang mendarat perlahan tepat di belakang Zivan yang tersandar duduk tak bergerak.
Devan sempat memandang malaikat itu, meski begitu…
“PUM!!!”, Devan masih tetap melepaskan tinjuannya.
***
__ADS_1